
Pagi hari telah tiba, di samping dirinya hanya ada guling, mama Lian tidak ada di kamar, kemana mama Lian?
Nyawa Natha masih belum terkumpul sepenuhnya, ia bangun dengan sempoyongan dan berjalan ke depan pintu. Berhenti sebentar lalu setelah di rasa sudah terkumpul semua nyawanya, akhirnya ia kembali berjalan ke ruang makan, siapa tau di sana ada mama Lian.
Benar saja, ada mama Lian di sana, bersama dengan Bibi Mela, dan juga Lea yang memasang dasinya sendiri.
"Mama kenapa gak bangunin adek? Mama masih ngerasa pusing? Sakit? Atau semacamnya?" tanya Natha,
"Lebay deh. Orang mama cuman kecapean semalem, makasih yaa, udah mau tidur bareng mama tadi malam." jawab Mama Lian mengusap kepala Natha dengan lembut.
"Cuci muka dulu, baru makan, adek..." ucap Mama Lian melihat Natha ingin mengambil ayam goreng.
"Eh? Hehe, okee!" jawab Natha, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya. Natha selesai mencuci muka, bukannya makan, ia malah berjalan ke kamar Keenan. Jam sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi, takutnya Keenan belum bangun karena tadi malam saja ia bergadang menyelesaikan tugasnya.
Natha ak mengetuk pintu kamar Keenan, ia langsung saja masuk ke dalam kamar Keenan. Terdapat Keenan yang masih setia rebahan di atas kasur king sizenya. Natha mencoba membangunkan Keenan, menggoyang-goyangkan badannya tak terlalu kencang.
"Abang, lo ngampus kaga? Udah mau jam tujuh ini." ucap Natha yang di balas deheman dari Keenan.
"Ngampus kaga, lo? Udah mau jam tujuh, lo belum mandi, makan juga belum, mau telat kah?" tanya Natha, Keenan menggeleng lalu mendudukkan badannya perlahan. Ia mengumpulkan tenaganya untuk mandi, makan dan segera pergi ke kampus.
"Gue ke bawah duluan, mau makan." ucap Natha yang langsung di angguki oleh Keenan.
Natha langsung saja mengambil nasi dan ayam goreng di saat ia sudah sampai di ruang makan.
"Bangun gak, abangnya?" tanya Mama Lian yang mengetahui Natha tadi dari kamar Keenan, Natha mengangguk mengiyakan pertanyaan Mama Lian.
***
Kini jam sudah menunjukkan jam sebelas siang, Mama Lian tidak masuk kerja pada hari ini. Di sini, di rumah yang lumayan besar, Natha dan Mama Lian duduk di ruang tamu menunggu Bunda Gita, Aksa dan Vio datang.
Setelah menunggu sepuluh menit, Aksa, Bunda Gita dan Vio tiba. Mereka langsung saja masuk di saat Mama Lian menyuruhnya masuk. Mendudukkan diri mereka di sofa yang terletak di ruang tamu itu.
"Apa kabar, Lian? Udah mendingan gak? Kata Natha tadi malam kamu gak enak badan ya?" tanya Bunda Gita ke Mama Lian. Mama Lian mengangguk, "Udah mendingan kok, kecapean doang kemarin tuh. Kamu sendiri gimana? Baik?" tanya sekaligus menjawab pertanyaan Bunda Gita.
"Baik kok. Oh ya, karena setelah ini kita mau berangkat ke bandara, kalau kalian mau jalan-jalan dulu silahkan, Bunda beri waktu satu jam deh." ucap Bunda Gita.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Aksa, Bunda Gita mengangguk.
Oh ya, tadi teman-temannya sudah bertemu di rumah Aksa, mereka semua tidak bisa ikut mengantarkan Aksa ke bandara, jadi mereka berpamitan di rumah Aksa untuk terakhir kalinya.
Natha dan Aksa keluar rumah untuk jalan sebentar, Vio? Vio tidak ikut. Ia hanya menunggu di rumah Natha, dan masih duduk di sofa bersama Bunda dan Mama. Tadi Natha sudah mengajak Vio, tapi ia menolaknya, ya sudah, Natha tidak ingin memaksa.
Kini Natha dan Aksa berada di taman, dekat kampusnya Keenan. Para mahasiswa-siswi sedang beristirahat di kampus, Keenan memberi tahu Natha, tadi.
[Lo lagi sama siapa, di taman?] - Keenan
[Aksa] - Natha
[Oh] - Keenan
[Dih, gak niat nanya ya lo?] - Natha
[Ya terus, gue harus jawab apa lagi? Aneh betul] - Keenan
[Udahlah, tai.] - Natha
"Siapa yang ngechat?" tanya Aksa lagi, gitu kek, nanya gak jelas banget.
"Oh, Keenan" jawab Natha, Aksa mengangguk.
***
Satu jam sudah terlewatkan, Natha dan Aksa sudah pulang ke rumah Natha. Aksa, Vio, Natha dan Bunda pamit untuk ke rumah Aksa, kenapa Natha ikut? Karena ia ingin mengantar Aksa, Vio dan Bunda Gita ke bandara. Ia tak sendiri, nanti ada Cakra, Gabriella dan Rafa yang bisa ikut mengantar, sisanya tidak bisa, kenapa? Karena mereka sibuk. Gibran sedang berada di rumah keluarganya, Laura sedang menemani nyokapnya yang tak enak badan, Kate sedang tak berada di rumah.
Kini mereka sudah dalam perjalanan untuk ke bandara. Mereka berfoto foto bersama, untuk di jadikan album pertemanan. Walaupun mereka akan berpisah, mereka tidak mungkin akan asing, bukan begitu? Tapi tidak tau nanti, apakah mereka bakalan asing? Ataukah tidak. Dan hubungan Vio dengan Gibran, apakah masih bertahan? Ataukah tidak? Karena mereka LDRan entah sampai kapan.
Kini, mereka sudah tiba di bandara, mereka menunggu pesawat mereka untuk di naiki. Setengah jam mereka menunggu, akhirnya pesawat yang akan di naiki oleh Bunda Gita, Aksa dan Vio tiba. Mereka berpisah, mereka berpelukan dulu sebelum naik ke pesawat.
Apalagi Aksa, ia sangat memeluk Natha dengan erat, rasanya, ia tidak ingin melepas pelukannya bersama Natha. Setelah itu, mereka berpisah, Aksa melepaskan pelukannya.
"Janji jangan asing, ya?" ucap Aksa sebelum pergi, Natha mengangguk lalu mengusap air mata Aksa yang sedang mengalir di pipinya.
__ADS_1
"I promise." jawab Natha tersenyum.
"Udah sana, nanti ketinggalan. See you, meet another time. never forget us, forever." Natha berucap, Aksa mengangguk lalu mereka berjalan ke arah pesawat. Natha, dan teman-temannya menunggu pesawat itu benar benar pergi, baru mereka akan pulang.
"Secepat itu?" ucap Gabriella meneteskan air matanya. Natha dari tadi menahan air matanya melihat Aksa yang menangis di depan matanya. Melihat Gabriella yang menangis, Natha tak kuat, ia juga meneteskan air matanya, tapi dengan cepat, ia menghapus air mata itu.
Mereka melambaikan tangannya di saat pesawat itu sudah terbang, banyak orang juga yang memberangkatkan keluarga dan teman mereka di sana.
Natha dan teman-temannya memutuskan untuk pulang. Mereka ke sini menggunakan dua buah mobil, Cakra, Rafa dan Gabriella yang membawa mobil Natha, dan yang di tumpangi oleh Natha, Vio, Aksa dan Bunda Gita adalah mobil Aksa, ang di bawa oleh supirnya.
Kini mereka sudah di dalam mobil, yang menyetir mobil adalah Cakra, di samping Cakra ada Gabriella. Di kursi tengah, ada Natha dan Rafa, mereka hanya diam diaman saja.
Natha menatap ke jendela saja sepanjang perjalanan, bahkan jika Cakra, Rafa dan Gabriella bertanya, ia hanya menjawab seadanya.
Natha yang masih belum bisa move-on dari Aksa, ia sangat tak menginginkan hal ini. Tapi dengan cara ini, Natha bisa perlahan melupakan Aksa, begitu juga dengan Aksa, ia pasti bisa melupakan Natha di sana.
/sampai di rumah.
Natha hanya termenung, ia duduk di ruang tamu, sendirian. Mama Lian izin untuk pergi ke rumah temannya, tidak tau untuk apa, Natha tidak bertanya, dan mama juga tidak memberi tahu.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang di ketuk, Natha berjalan ke arah pintu, membuka pintunya, terlihatlah cewek yang berdiri di depan pintu itu.
Natha tidak pernah melihat dia siapa, ini baru pertama kali Natha melihatnya. Siapa dia? Dia juga membawa koper yang besar.
"Siapa?" tanya Natha, "Aku Nada Azzola Pinata, panggil aja Ola. Aku anak dari Hermansyah, aku juga di suruh untuk menginap di rumah ini, selama papa aku tidak ada." jawabnya memperkenalkan diri.
"Om Herman? Bentar. Lo anak Tante Karin?" tanya Natha yang di angguki oleh Cewek itu. Ia hampir seumuran dengan Natha, tapi Natha lima bulan lebih muda darinya.
"Oh, ya. Tadi Tante Karin ada ngechat gue, tapi gue gak tau yang mana anaknya. Jadi katanya tunggu aja, nanti dia ke sini, ya udah. Masuk." ucap Natha mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumah.
Ia memiliki sepupu tapi ia tak tau, karena Om Herman dan Tante Karin tak berada di Indonesia, mereka berada di Singapur, sama seperti keluarga Aksa.
...***...
__ADS_1