
'Mereka semua kenapa? Gue ada salah?' batin Natha setelah berjalan berbarengan dengan Vio.
'Gimanapun caranya, gue harus cari cara agar kita semua tetap bersama.' batin Vio.
'Sebaik dia lo sakitin, dasar brengsek.' batin Cakra.
Mereka semua telah berbaris di lapangan, Kelas Natha dan Kelas Aksa berbaris bersampingan. Natha berbaris berdua dengan Vio, tetapi di samping kirinya ada Aksa yang berbaris di barisan kelas mereka. Karena jarak mereka tak jauh, Aksa bisa menggenggam tangan Natha, Natha hanya membalas genggaman tangan Aksa.
Vio yang sadar karena Natha dan Aksa sedang berpegangan tangan, ia langsung menegur Natha dengan berbisik di telinga Natha.
"Di belakang ada guru." ucap Vio berbisik, Natha melepaskan genggaman tangan Aksa, tetapi Aksa tak ingin melepaskannya. Sampai di mana telapak tangan Natha mulai berkeringat karena genggaman Aksa, baru Aksa melepaskan tangan Natha.
Mereka telah selesai upacara, kini Natha, Vio, Cakra dan Gibran sedang berada di kelasnya, Natha yang awalnya duduk tenang jadi merasa gelisah karena hp satunya yang berada di dalam tas Natha selalu bergetar, karena ia penasaran.
Natha mengambil hp itu tetapi dengan cara, ia mengeluarkan buku tulis sekaligus hpnya, lalu di taruhnya di saku seragam sekolah.
"Gue mau ke toilet dulu," ucap Natha, ia menaruh buku tulis tadi ke atas mejanya.
"Mau gue temani?" tanya Vio, Natha menggeleng, kalo ia di temani oleh Vio, ia tidak bisa membuka hpnya.
"Gue sendiri aja." jawab Natha, Vio hanya mengangguk. Natha langsung saja keluar dari kelas, di depan pintu kelas, ia tak sengaja tertabrak dengan Dera yang hendak masuk ke dalam kelas.
"Yah, maaf Der," ucap Natha, Dera mengangguk,
"Gak apa kok," jawab Dera, Natha mengangguk lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke toilet. Sebenarnya ia tak pergi ke toilet melainkan pergi ke perpustakaan, mereka juga tak diberi tugas dan guru pengajar tidak masuk, jadi mereka jamkos.
Natha mendudukkan dirinya di pojokan pepustakaan, ia mengeluarkan kedua hpnya dari saku seragamnya. Natha membuka hp yang dari tadi bergetar, dari nomor tak di kenal, tapi bentar, Natha sepertinya kenal dengan akhiran nomor ini.
__ADS_1
Ia membuka hp yang sering ia gunakan untuk mencek siapa pemilik nomor telepon ini, dan ketemu, pemilik nomor itu adalah Laura. Natha tak menjawab telepon dari Laura, ia menolak telepon itu, lalu ia membalas dengan chat saja.
[Siapa?] bohong Natha pura-pura tidak tahu siapa pemilik nomor ini.
[Gue di depan perpus.] - Laura. Seketika Natha terkejut, yang benar saja. Mengapa Laura berada di depan perpustakaan? Apa dia tahu bahwa ini nomor miliknya yang baru beberapa minggu lalu ia beli?
[Natha.] - Laura.
Deg! Jantung Natha berdegup lebih kencang dari biasanya, bagaimana ia tahu? Apakah yang lain juga tahu bahwa ia memiliki nomor yang sekarang sedang di hubungi oleh Laura. Natha memberanikan diri untuk keluar dari pepustakaan, di depan perpustakaan, ia tak melihat di mana keberadaan Laura. Sebentar, mengapa Rafa dan Cakra berada di depan perpustakaan? Hah?! Apa ini?! Pikir Natha.
Rafa dan Cakra menatap Natha yang sedang berdiri di ambang pintu perpustakaan, Natha yang merasa di tatappun berjalan mendekati dua teman cowoknya itu.
"Lo yang pake hpnya Laura?" tanya Natha, Rafa maupun Cakra tak menjawab, melainkan mereka berdua menarik Natha untuk pergi ke belakang perpus.
"Apa?! Kenapa sih?!" tanya Natha, ia benar-benar bingung, kenapa semua temannya jadi berubah seperti ini.
"Tau apa?" asli, sekarang Natha merasa pusing dengan keadaan ini.
"Lo dengan Kate selalu nyelidiki Debby, mengapa lo bisa tidak tau?" tanya Cakra.
"Hah?!" kagetnya, mengapa ia bisa tau bahwa Natha dan Kate sering menyelidiki Debby? Sungguh plot twis.
"Tanya saja Kate, ia hanya tak ingin menyakiti hati lo, tapi menurut gue, mending diungkapin sekarang dari pada lama-lama, lo bakal lebih sakit. Bilang Kate, ajak dia untuk ke rumah gue nanti pulang sekolah." ucap Cakra lalu pergi meninggalkan Natha yang masih berdiri di belakang perpus, ia frustasi.
"Apasih tolol." kesalnya, ia berjalan untuk kembali ke dalam perpustakaan. Ia hanya ingin berada di perpustakaan sementara waktu, ia tak ingin kembali ke dalam kelas. Ia tak peduli guru pengajar masuk ke dalam kelas atau tidak, intinya ia tak ingin kembali kedalam kelas.
***
__ADS_1
Jam istirahat pertama sudah tiba, Natha masih setia berada di dalam pepustakaan. Dari tadi, hpnya mendapatkan notif dari Vio yang memberitahukan bahwa guru pengajar telah masuk ke dalam kelas, tapi hanya di baca saja oleh Natha.
Natha sekarang memutuskan untuk kembali ke kelasnya, ia dari tadi di dalam perpus hanya memikirkan,
'Darimana Cakra dan Rafa menemukan nomor hp satunya? Apa yang Kate sembunyikan? Mereka semua kenapa? Kenapa tak langsung memberitahukan semuanya saja? Kenapa harus membuatnya menjadi kepikiran seperti ini.'
Begitulah dari tadi yang di ada di pikiran Natha, Natha mencoba menghubungi Kate, tapi nomornya tidak Aktif.
Natha telah sampai di kelas, di dalam kelas ada teman-temannya yang sedang duduk di belakang kelas, tempat Natha, Vio, Cakra dan Gibran. Natha menarik nafas lalu menghembuskannya kasar, ia berjalan ke tempat duduknya, lalu mendudukkan dirinya. Ia tak ingin menghadap teman-temannya, ia hanya menghadap papan tulis dan memainkan hpnya.
"Lo kenapa lagi?" tanya Laura, pertanyaan yang dilontarkan Laura memancing emosinya yang dari tadi ia tahan.
"Hah? Lo nanya gue kenapa? Seharusnya gue yang nanya lo semua. Lo semua kenapa? Gue bingung, tadi pagi, Gabriella dan Vio, tadi gue di perpus, Cakra sama Rafa. Lo semua yang kenapa?!" jawabnya dengan nada tinggi, berdiri menghadap ke arah teman-temannya, ia benar-benar tak bisa menahan emosinya. Teman-temannya terkejut dengan Natha yang sedang meneteskan air matanya.
"I'm fine. Really!" jawab Natha lagi, ia bahkan sudah menangis sekarang.
"Gabriella, Vio? Cakra, Rafa? Kenapa? Gue dari tadi pagi cuman di ruang osis dan baru istirahat ini balik ke kelas." tanya Laura,
"Tenangin diri kamu, ay," Aksa mencoba menenangkan Natha, Gabriella bangkit dari duduknya,
"Cowok gila!" umpat Gabriella kepada Aksa lalu berjalan keluar kelas dan di susul oleh Cakra yang menatap sinis Aksa. Tenyata tak hanya Natha yang bingung dengan keadaan ini, bahkan Laura juga sedang kebingungan.
"Harapan gue cuman satu diantara kita ber delapan. Semoga kita masih bisa berkumpul seperti pertama berteman." ucap Vio yang mementingkan pertemanan, ia juga pergi dari dalam kelas menarik lengan Gibran.
"Penyesalan selalu di akhir, dan lo, mungkin akan menyesal suatu saat nanti."
...***...
__ADS_1