My Putih Abu-Abu

My Putih Abu-Abu
Bab 124


__ADS_3

"Gue ngaku, gue pacaran sama Saddam hanya untuk membuat Aksa jauh dari gue, tapi perasaan gue gak bisa bohong, gue gak mau dia jauh dari gue. Saddam juga mau kenapa? Karena dia mau bikin mantannya biar gak gangguin dia, sekarang mantannya udah gak gangguin dia, jadi gue udah gak ada ala apa sama Saddam." jawab Natha dengan mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Dia mau karena dia suka sama lo, Tolol!" ucap Vio dengan nada yang marah, baru kali ini Natha melihat Vio seperti ini. Natha mwrasa takut, ia hendak menangis, walaupun ia dari tadi sudah menangis.


"Dia suka sama lo, dia berharap lo bisa ngelupain Aksa agar dia bisa dapetin lo. Tapi, lo gak bisa lupain Aksa, sekarang lo tau? Lo sama aja kayak nyakitin hatinya Saddam." jawab Vio tegas, Natha sekarang sudah menangis, ia benar benar tidak tau jika Saddam menyukai dirinya. Jika Natha tau, ia tidak akan berbuat seperti ini, menyesal? Iya, Natha menyesal.


"G-gue gak tau, gue beneran gak tau, sekarang gue harus apa?" tanya Natha gugup, menangis. Gabriella datang, sendirian, ia kelihatan bingung saat melihat Natha menangis, ia tak ingin menghampiri mereka brdua dulu. Ia ingin mendengarkan sebentar apa yang dibicarakan mereka berdua.


"Gue gak mau ikut campur. Selesain masalah lo sendiri, karena lo juga, Aksa sekarang di rumah sakit, u know?!" jawab Vio yang membuat Natha makin menangis dan bingung.


"Gara-gara lo, dia jarang makan, jarang tidur, dan minggu kemarin, dia jalan sendirian menggunakan mobil. Dia dari rumah cuman diem, sudah di larang sama Bunda buat jangan jalan dulu, pikirannya kosong, dia tabrakan bangsat! Sudah satu minggu dia koma, sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Itu semua gara gara lo, gara gara perbuatan lo, lo udah nyakitin banyak orang." jawab Vio lagi,


"Vi? G-gue g-" belum sempat Natha menyelesaikan ucapannya, Vio lebih dulu memotong pembicaraan Natha.


"Gue benci lo, mulai sekarang, jangan anggap gue temen lo, anggak saja kita tak saling kenal." ucap Vio lalu membalikkan badannya hendak kembali ke kelas. Ia terkejut dengan keberadaan Gabriella yang sedang menatap mereka berdua, ia tak menghiraukan nya, ia tetap pergi lalu menarik lengan Gabriella agar ikut pergi dari sini.


Natha? Ia menangis kencang. Ia tidak tau berbuat apa sekarang, Apakah ini salahnya? Ia juga tidak tau.


Di sisi lain, Gabriella dan Vio.


"Vi, lo apa apaan sih?!" tanya Gabriella setelah mereka menuruni anak tangga, "Lo ada masalah apa sama Natha?" tanya Gabriella lagi.


"Jangan pura pura bodoh. Lo tau Aksa di rumah sakit gara-gara Natha, dan sekarang dia nyakitin hatinya Saddam. Lo masih belain dia? Kalau lo mau belain dia, silahkan." jawab Vio, Gabriella menepis tangan Vio yang memegang tangannya.


"Lo jangan ambil satu pihak gitu lah, belum tentu Natha salah. Dia gak bakalan kayak gitu kalau bukan Aksa yang duluan memulai. Lo cuman mikirin perasaan Aksa, Saddam dan perasaan lo sendiri tanpa memikirkan perasaan Natha seperti apa. Lo kenal sama Natha baru di kelas sebelas, gue udah kenal Natha dari Satu SMP. Gue bakal belain Natha, dan sekarang, sama seperti yang lo bilang ke Natha, Gue benci lo, mulai sekarang, jangan anggap gue temen lo, anggap saja kita tak saling kenal." ucap Gabriella panjang lebar, ia meninggalkan Vio yang masih terdiam di atas tangga, Gabriella kembali ke rooftop untuk menyusul Natha.


"Ta! Udah Ta, lo jangan pikirkan ucapan si bodoh tadi. Lo gak salah, gue di sisi lo, gue bakal belain lo. Jangan nangis, nanti gue ikutan nangis nihh" ucap Gabriella yang benar-benar mulai berkaca kaca matanya.

__ADS_1


"Gabriella, gue salah. Gue tolol, gue bego, gue brengsek. Gara gara gue pertemanan kita hancur, Gabriella, yang di ucapin Vio bener, gue nyakitin hati orang orang. Gue Brengsek, gue Bodoh, gue gak tau harus ngapain lagi." ucap Natha menangis kencang di dekapan Gabriella.


"Udah udah, Ta. Lo gak sepenuhnya salah, Ta, jangan nangis terus, gue gak bisa kalau lo nangis gini, gue gak mau lo nangis. Gue gak mau lo kepikiran terus menerus gara-gara ucapan Cewek tadi. Udah bel, mau ke kelas? Atau tetap mau di sini? Kalau tetap mau disini, gue temenin." jawab Gabriella,


"Gak, lo kembali ke kelas aja, Gab, biar gue sendirian disini." jawab Natha "Gak ya, gue bakal disini, tetap disini bersama lo." jawab Gabriella yang membuat Natha senyum. Gabriella mengusap air mata Natha di pipinya, ia tidak tega jika melihat Natha menangis seperti ini.


***


Mereka telah pulang sekolah, Natha membereskan barang-barangnya. Ia sekarang tak duduk bersama Vio lagi, ia duduk bersama Cakra, dan Vio bersama Gibran, di pojok kanan, jauh dari dirinya. Dibelakangnya ada Nana dan Fera, Cakra tidak tau apa apa, jadi ia hanya mengikuti apa kata Vio.


Natha berjalan ke parkiran, bersama dengan Gabriella, Teman-teman yang lain? Jangan tanyakan, mereka sudah pecah, tak semua, hanya Natha, Vio dan Gabriella. Yang lain masih belum tau masalah ini, jika mereka tau, mungkin mereka benar benar pecah.


"Guys! Hati-hati pulangnya yaa! Gue rapat OSIS, jadi gak bisa pulang bareng!" teriak Laura yang berjalan bersama Rafa ke arah ruangan osis kepada Natha dan Gabriella.


"Iyaa! Semangat!!" jawab Gabriella, Natha hanya tersenyum. Gabriella sudah bilang kepada Cakra bahwa hari ini ia akan pulang bersama Natha, jadi tadi Cakra sudah pulang lebih dulu.


"Gue aja yang bawa, sini." ucap Gabriella di saat Natha hendak menyalakan mesin motornya.


"Ke rumah gue dulu ya? Minta izin sama Mami, sama mau ngambil baju, buku pelajaran dan uang." ucap Gabriella lagi yang dibalas nggukan oleh Natha.


Kini mereka telah sampai di rumah Natha setelah selesai dari rumah Gabriella. "Hai, Leaa, tambah lucu ajaa, lama udah gak ketemu Lea nih kaka." ucap Gabriella melihat Lea duduk di sofa ruang tamu dengan makan ciki-cikian.


"Hehe, maacih kaka, kaka juga tambah cantik." jawab Lea, "hehe, makasih Lea. Ya udah, Kaka mau ke kamar kak Natha dulu ya, dadahh~" ucap Gabriella hendak menyusul Natha yang sudah dari tadi berjalan ke kamar. Lea sudah sekolah TK, jadi ia sudah lumayan lancar untuk berbicara.


"Masuk aja, Gab, ngapain lo berdiri depan pintu gitu?" ucap Natha melihat Gabriella yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Gue kayak baru pertama kali ke rumah lo, di cat ulang kah ini kamar lo?" tanya Gabriella, Natha bingung, apa yang di Cat ulang? Perasaan tetap sama saja seperti dulu. Ia tak pernah merenovasi kamarnya.


"Hah? Apanya? Dari dulu kamar gue emang warna putih gini perasaan." jawab Natha. "Loh? Bukannya dulu kamar lo warnanya abu ya?" tanya Gabriella menatap mata Natha yang sembab karena menangis.

__ADS_1


"Mata lo kali yang aneh. Dari dulu kamar gue warnanya putih ege, gak ada yang abu, kalau warna abu tuh, kamar Keenan." jawab Natha, "Oh, iyakah, hehe, gak tau gue, lupa, udah lama gak ke rumah lo, sih." jawab Gabriella juga, ia masuk dan mendudukan dirinya di samping Natha, di tepi kasur.


"Udah heh, lo pasti mikirin itu itu terus, udah ya?? Gue gak mau lo sedih terus kayak gini." ucap Gabriella menenangkan Natha.


"Enggak, gue mau ganti baju dulu." ucap Natha kepada Gabriella, ia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah lemari baju, lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai Natha menggantikan pakaiannya, ia kembali ke kasur untuk menghampiri Gabriella yang sedang rebahan.


"Gab, makan dulu ayo. Gue masakin, tapi nasi goreng doang, mau gak? Kalau gak mau, kita makan di luar aja." ucap Natha mengajak Gabriella. Gabriella menggeleng, "Makan di rumah lo aja, gue udah lama gak makan masakan dari lo, haha!" jawab Gabriella, Natha mengangguk.


Kedua gadis itu berjalan keluar kamar hendak berjalan ke arah ruang makan yang disana ada Bibi Mela sedang mencuci piring. Di rung tamu ada Kenaan dengan Jaden, Keenan menatap Natha dengan teliti, mata yang masih terlihat jelas sembapnya.


"Nangis kenapa, lo?" tanya Keenan, Natha tak menghiraukan tanyaan Keenan, ia hanya terus berjalan ke ruang makan.


"Bi, biar Natha aja yang masak buat malam ini ya? Natha mau masak nasi goreng. Boleh ya, bi? Bibi istirahat aja." ucap Natha kepada Bibi Mela.


"Iya, nanti kalau butuh bantuan panggil Bibi ya? Bibi udah selesai nyuci piring. Bibi mau ngangkat jemuran dulu ya." jawab Bibi Mela yang di angguki oleh Natha. Keenan yang masih bisa mendengar pembicaraan Natha dan Bibipun berucap.


"Sekalian ya, Ta! Buatin gue berdua, haha!" ucap Keenan, Natha menatap ke arah Keenan dengan sinis. "Buat sendiri." jawab Natha, ia mengambil bahan bahan untuk membuat nasi goreng. Di dalam kulkas ada telur ayam, dan daging ayam, Natha memakai daging ayam saja.


***


Natha selesai memasak nasi goreng, ia mengambil empat buah piring kosong, menaruhnya di atas meja makan. Jam sudah menunjukkan jam lima sore, Bibi Mela juga sedang berjalan ke luar untuk mengajak Lea ke taman.


"Bang, lo mau makan sekarang atau nanti?" tanya Natha, "Sekarang aja, gue udah laper." jawab Keenan, ia bangkit dari duduknya sekalian mengajak Jaden.


Mereka duduk bersama di meja makan, Natha berhadapan dengan Keenan, dan Jaden berhadapan dengan Gabriella. Keenan mengambil nasi goreng yang Natha masak lalu menaruhnya di piring kosong.


"Lo nangis kenapa?" tanya Keenan lagi, Natha menghela nafasnya, jika tidak ada Jaden di sini, mungkin ia sudah menangis di situ juga.

__ADS_1


"Gak apa. Udah makan aja, banyak bacot lo." jawab Natha sembari mengisi piring kosongnya dengan Nasi goreng.


...***...


__ADS_2