
Perjalanan malam itu hanya mengandalkan cahaya sinar bulan purnama untuk menerangi jalan yang mereka lalui.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam, mereka pun memasuki sebuah hutan besar.
Karena untuk melewati hutan itu sangat gelap sebab sinar bulan tidak bisa menembus dedaunan pohon besar yang tumbuh dihutan tersebut, sehingga mereka bertiga memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan akan melanjutkan perjalanan saat fajar menyingsing.
Tidak ada hal yang terjadi saat mereka bertiga melewati malam dihutan tersebut.
Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka bertiga sarapan terlebih dahulu.
Perjalanan untuk menuju kota Pingyang tidak ada halangan sedikit pun.
Mereka bertiga akhirnya memasuki kota itu tetapi bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menjual kuda yang mereka gunakan karena sudah dipaksakan agar bisa secepatnya tiba di kota Pingyang.
Sehingga jika dipaksakan lagi untuk melanjutkan perjalanan, kuda yang mereka tunggangi itu pasti akan mati.
Setelah makan dan mendapatkan kuda terbaik untuk mereka bertiga tunggangi, akhirnya mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak ada hal yang spesial yang terjadi di kota Pingyang.
Kecepatan lari kuda yang mereka tunggangi sekitar 30 km per jam agar dalam dua jam saja, mereka bertiga bisa sampai di kota kecil yang akan mereka lewati dan beristirahat.
Xue Yunlei kini berpikir untuk segera tiba di kota Yin, sehingga dia terus memacu kuda yang dia tunggangi.
Saat malam hari tiba, mereka bertiga kembali beristirahat di salah satu kota kecil dan Xue Yunlei berpikir mereka bertiga bisa tiba di kota Yin keesokan harinya saat matahari akan tenggelam.
Keesokan harinya, saat hari telah senja, akhirnya mereka bertiga bisa tiba diluar kota Yin.
Xue Yunlei segera membuka topeng serta jubah yang biasa dia pakai agar orang - orang di kota Yin tidak akan mengenalinya.
Saat tiba di gerbang kota Yin mereka bertiga melewati pemeriksaan.
Bao Meng Ling segera menunjukkan pelat keluarga Bao yaitu penguasa kota Watlam.
Prajurit yang melihat pelat keluarga Bao segera mengijinkan mereka bertiga untuk memasuki kota Yin.
Xue Yunlei mulai teringat akan masa lalunya saat berada di kota tersebut.
Meskipun hari sudah malam, namun kota itu sangat dia kenali setiap jalanan serta lorong yang ada didalam kota tersebut.
"Ayo cari penginapan terlebih dahulu agar kita bisa secepatnya beristirahat". Ujar Bao Meng Ling kepada Xue Yunlei.
Xue Yunlei pun segera menunjukkan jalan untuk menuju ke penginapan terbaik di kota Yin.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk bisa menemukan penginapan terbesar di kota Yin.
Saat mereka bertiga sampai di penginapan tersebut dan selesai menambatkan tali kekang kuda yang mereka tunggangi, segera dilayani oleh petugas yang bekerja untuk merawat kuda di penginapan itu.
__ADS_1
"Tuan, nona, mari silahkan masuk". Sambut seorang pelayan.
" Apakah ada yang bisa saya bantu? ". Lanjut pelayan itu bertanya.
" Kami ingin memesan tiga kamar yang saling berdekatan ". Jawab Xue Yunlei.
" Mohon maaf tuan, saat ini tidak ada yang tersisa tiga kamar yang berdekatan seperti apa yang tuan inginkan ". Balas pelayan tersebut.
" Sudah, kami memesan dua kamar saja, apakah ada dua kamar yang saling berdekatan? ". Bao Meng Ling menimpali dan lanjut bertanya.
" Iya nona, untuk dua kamar yang saling berdekatan masih ada dan terletak ditingkat atas, apakah nona ingin memesannya?". Jawab pelayan.
"Iya, aku ingin memesannya! Cepat tunjukkan dimana letak kamar yang kamu maksudkan! ". Ujar Bao Meng Ling.
" Mohon maaf sebelumnya, tetapi nona terlebih dahulu harus menyelesaikan biaya sewanya ". Ucap pelayan.
Mereka bertiga segera diantarkan ke kasir untuk membayar biaya sewa mereka.
Xue Yunlei pun segera membayar biaya sewa mereka selama sepekan.
Bao Meng Ling yang mengetahui hal itu langsung tersenyum bahagia karena dia akan memiliki waktu yang cukup untuk bisa melihat - lihat pemandangan di kota Yin.
Setelah selesai membayar biaya sewa, mereka bertiga diantarkan oleh pelayan untuk menuju ke kamar yang akan mereka tempati.
Setelah pelayan itu pergi Xue Yunlei segera mengajak dua orang yang bersama dengannya untuk makan malam dilantai dasar penginapan itu.
Mereka bertiga segera memilih tempat yang berada di sudut ruangan agar bisa dengan mudah untuk bisa mengawasi semua orang yang ada di tempat itu.
Tuan, nona, apa yang ingin kalian pesan!? ". Tanya seorang pelayan.
" Cepat sediakan makanan dan minuman terbaik di penginapan ini". Jawab Xue Yunlei.
"Baik tuan, mohon tunggu sebentar". Balas pelayan tersebut.
Saat sedang menunggu hidangan yang telah mereka pesan, seorang pemuda segera memasuki penginapan tersebut bersama dengan tujuh orang lainnya.
Enam diantaranya adalah prajurit penjaga kota Yin.
Sedangkan yang satunya lagi dari pakaiannya terlihat seperti seorang pendekar.
"Minggir! Tempat ini adalah milikku". Ujar pemuda yang baru saja masuk.
" Maaf tuan muda Chen". Ucap pria yang diusir oleh Chen Chuan.
Chen Chuan sendiri adalah sepupu dari Chen Kaibo, sebagai jenius muda di klan Chen.
Xue Yunlei yang melihat pemuda itu hanya tetap bersikap santai seperti tidak mengenal pemuda itu.
__ADS_1
"Sepertinya keluarga Chen terlihat mulai bertindak seenaknya disaat klan mereka telah menjadi penguasa di kota Yin ini". Gumam Xue Yunlei.
" Apakah kamu mengenal pemuda itu? ". Tanya Bao Meng Ling.
" Kenapa kamu bertanya? Apakah kamu menyukainya? ". Balas Xue Yunlei bertanya kepada gadis itu.
" Sepertinya akhir - akhir ini, kamu terlihat mulai merasa bosan kepadaku, sebenarnya hal apa yang menyebabkan sehingga kamu bersikap seperti itu kepadaku? ". Bao Meng Ling mulai memprotes sikap Xue Yunlei terhadap dirinya.
Xue Yunlei hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Bao Meng Ling.
Akan tetapi suara gadis itu bisa didengar oleh Chen Chuan, sehingga pemuda itu merasa penasaran dan ingin mendekati gadis pemilik suara tersebut.
" Tunggu, sepertinya aku mendengar ada suara seorang gadis di penginapan ini". Ucap Chen Chuan dan mulai menyisir ruangan tersebut hingga akhirnya dia mendapati Bao Meng Ling.
"Tidak ku sangka jika malam ini aku bisa bertemu dengan seorang bidadari". Ucap Chen Chuan sambil mendekati Bao Meng Ling.
Tujuh orang lainnya segera mengikuti Chen Chuan dari belakang.
" Hai, nona cantik, apakah aku boleh mengetahui namamu? ". Sapa Chen Chuan dan langsung bertanya.
" Tuan muda, mohon maaf aku saat ini sedang tidak ingin diganggu ". Balas Bao Meng Ling.
" Apa katamu? Tidak ingin diganggu? Apakah aku tidak salah mendengarnya? ". Chen Chuan menanggapi.
" Yang harus kamu tahu, kami adalah penguasa di kota ini, jadi, apapun yang aku mau, itu harus bisa terpenuhi". Tutur Chen Chuan.
"Chen Chuan! Hentikan bualanmu itu sebelum lidahmu ku potong! ". Bentak Xue Yunlei yang membuat pemuda itu merasa sangat terkejut.
" Siapa kamu? Mengapa kamu mengetahui namaku? ". Tanya Chen Chuan heran.
" Sudahlah, namamu itu sudah sering aku dengar dari setiap penduduk di kota Yin ini bahwa kamu sering melakukan perbuatan yang tidak terpuji". Balas Xue Yunlei yang tidak ingin mengungkapkan identitasnya.
"Oh, jadi seperti itu!? Aku pikir kamu benar-benar mengenaliku". Chen dan menanggapi.
" Iya, memang aku sangat mengenal dirimu yang adalah sampah bagi klan Chen disegala bidang". Balas Xue Yunlei.
Wajah Chen Chuan langsung berubah menjadi merah padam karena merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Xue Yunlei.
"Apa benar yang aku katakan barusan? Jika benar, ternyata apa yang penduduk kota Yin katakan benar adanya".
" Dan itu menandakan bahwa mereka menganggapmu sebagai aib ditengah kota serta di tengah klan Chen sendiri ". Tutup Xue Yunlei sambil tersenyum mencela pemuda dihadapannya.
" Apakah kamu berani menyinggung klan Chen kami? Apakah kalian tahu jika sepupuku adalah salah satu jenius muda di sekte Tongtian? ". Balas Chen Chuan.
" Ha...ha...ha...ha...ha, apakah kamu berpikir sepupumu itu adalah jenius yang paling hebat di sekte Tongtian? Kamu benar-benar terlalu naif". Balas Xue Yunlei merendahkan.
"Jenius muda di sekte Tongtian adalah Xue Bang, apakah kamu pikir aku tidak tahu siapa jenius muda di sekte Tongtian? Kamu benar-benar merendahkan klan mu sendiri". Tutup Xue Yunlei.
__ADS_1
~Bersambung~