
Xue Zhao segera menyuruh Yi Feng untuk membawa tubuh Huanglong agar mereka bisa tiba dengan cepat ketempat tujuan mereka.
Saat Xue Zhao melihat benda yang melilit tubuh Huanglong, dirinya merasa penasaran dan berkata.
"Sepertinya ini adalah benang sutra emas milik ulat sutra emas yang berasal dari dunia bangsa para dewa, bagaimana caranya dia bisa memperoleh benda ini selain dengan membunuh makhluk itu?"
"Dan untuk membunuhnya, itu bukanlah suatu pekerjaan yang sangat mudah, sebab tubuh makhluk itu meskipun terlihat sangat rentan terhadap serangan senjata tajam, namun kenyataannya senjata tajam didunia manusia ini, tidak ada yang bisa untuk melukainya." Lanjut Xue Zhao.
"Tuan muda! Bagaimana? Apakah lilitan benang sutra emas ini bisa terlepas atau bisa diputuskan?" Tanya Cui Zhiyu penasaran.
"Aku akan mencobanya. Namun yang aku ketahui, selain pemiliknya sendiri yang melepaskannya, tidak ada yang bisa untuk melepaskan lilitan benang sutra emas ini."
"Tetapi aku akan mencoba menggunakan teknik tingkat dewa milikku untuk melepaskan lilitan benang sutra emas ini." Tutup Xue Zhao dan segera mengaktifkan teknik tersebut.
Sebuah cahaya kuning keemasan mulai dilepaskan dari jari telunjuk Xue Zhao dan mengenai benang sutra emas itu.
Semakin Xue Zhao meningkatkan kekuatannya, Huanglong semakin mengerang karena merasa kesakitan.
Akhirnya Xue Zhao menghentikan tindakannya itu dan berkata.
"Sepertinya aku tidak bisa untuk membantu untuk melepaskan lilitan benang sutra emas ini, karena semakin aku memaksakan diri untuk melepaskannya, lilitan benang sutra emas ini akan semakin kuat melilit tubuhnya."
Cui Zhiyu langsung merasa sedih setelah mendengar penjelasan Xue Zhao dan hanya bisa diam.
Begitu juga dengan Huanglong, pria sepuh itu tidak bisa berkata-kata setelah merasakan sakit yang sangat.
"Sebenarnya saat ini, kemana tujuan kalian?" Lanjut Xue Zhao bertanya.
"Kami akan menuju ke arah barat dimana kota Sungai Perak berada untuk meminta bantuan adik seperguruan ayahku." Jawab Cui Zhiyu.
"Jika tujuannya untuk melepaskan lilitan benang sutra emas ini, itu hanyalah sia-sia, karena sudah bisa dipastikan jika adik seperguruan ayahmu itu, tidak akan bisa untuk melepaskannya." Tutur Xue Zhao.
"Tuan muda, jika demikian, biarkan kami tetap pergi kesana untuk bisa meminta bantuan adik seperguruan ku itu untuk melindungi anggota suku Hushi yang telah menyelamatkan diri mereka untuk bisa kembali ke markas suku kami yang berada di kota Danau Bayan." Ucap Huanglong memaksakan diri.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kalian sampai ke kota Sungai Perak." Ucap Xue Zhao.
"Tuan muda, apakah kau bisa membantuku bersama dengan putraku untuk mengantar kami ke gunung Kongtong?" Pinta Huanglong.
"Untuk apa kesana?" Tanya Xue Zhao penasaran.
"Disanalah guruku berada, mudah-mudahan dia memiliki jalan keluar untuk melepaskan lilitan benang sutra emas ini." Jawab Huanglong.
__ADS_1
"Hmmm...sepertinya kekuatan kami bisa bertambah lagi jika mereka sama-sama memusuhi Xue Yunlei. Untuk itu aku harus membantunya agar mendapatkan keuntungan dari apa yang akan aku lakukan." Pikir Xue Zhao.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kalian." Jawab Xue Zhao setelah memikirkan keuntungan yang akan dia peroleh.
Akhirnya kelompok Xue Zhao yang membawa Huanglong dan Cui Zhiyu tiba di gerbang kota Sungai Perak.
Akan tetapi kelompok mereka langsung menarik perhatian dari komandan yang bertugas di gerbang kota Sungai Perak dan segera mendapatkan pemeriksaan dari prajurit yang berjaga.
"Sepertinya kedua orang ini berasal dari suku Hushi...dan jika dilihat dari keadaan pria sepuh ini, sepertinya kalian baru saja mendapatkan masalah." Pikir komandan pasukan penjaga gerbang kota Sungai Perak.
"Tuan, kami ingin bertemu dengan leluhur agung kalian untuk bisa meminta bantuan darinya." Ucap Xue Zhao.
"Siapa kalian yang ingin bertemu dengan leluhur agung kami?" Tanya komandan itu dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Aku adalah kakak seperguruan Qingxu Daode!" Jawab Huanglong dengan suara yang pelan.
"Apakah anda leluhur agung suku Hushi Huanglong?" Tanya sang komandan merasa sangat terkejut.
Huanglong hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin seorang pendekar diranah Xian bisa terluka parah seperti ini? Pasti lawan mereka jauh lebih kuat hingga bisa melukainya." Sang komandan bergumam didalam hatinya.
Xue Zhao yang mengetahui pikiran komandan itu hanya tetap diam dan menunggu keputusannya.
"Jika aku bisa menggunakan kekuatan spiritual ku, tentu aku tidak membutuhkan bantuan kalian untuk bisa berkomunikasi dengan adik Qingxu." Ucap Huanglong memaksakan diri.
"Senior, kita ikuti saja permainan mereka, jika mereka mencoba untuk mempermainkan kita, pasti aku akan membuat perhitungan dengan mereka." Xue Zhao memberitahukan kepada Huanglong lewat kekuatan spiritualnya.
Huanglong hanya bisa menatap Xue Zhao seakan memberikan isyarat untuk tidak melakukan apa yang pemuda disampingnya itu pikirkan.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar darimu. Dan saya harap penguasa kota Sungai Perak ini akan mengijinkan kami untuk bisa masuk serta bertemu dengan leluhur agung kalian." Balas Xue Zhao.
Sang komandan pasukan penjaga gerbang kota yang adalah seorang pendekar petapa itu, segera pergi meninggalkan mereka.
Akan tetapi aktivitas pemeriksaan di gerbang kota Sungai Perak tetap berjalan seperti biasanya.
Di balai kota Sungai Perak.
Akhirnya sang komandan pasukan penjaga gerbang tiba di balai kota.
"Aku ingin bertemu dengan penguasa kota." Ucap komandan itu kepada prajurit yang berjaga.
__ADS_1
"Silahkan masuk." Balas prajurit yang berjaga.
"Hamba menghadap penguasa kota!" Ucap komandan itu sambil mengambil sikap hormat.
"Ada masalah penting apa sehingga kau datang menghadap ku?" Tanya sang penguasa kota Sungai Perak.
"Di gerbang kota timur, ada sekelompok orang yang ingin memasuki kota...dua diantaranya berasal dari suku Hushi dan seorang pria sepuh itu mengaku jika dirinya adalah leluhur agung suku Hushi." Sang komandan melaporkan.
"Apa katamu? Leluhur agung suku Hushi? Bagaimana mungkin dia begitu mudahnya untuk bisa ditemui seperti itu?" Penguasa kota menanggapi dengan terkejut.
"Itulah yang membuatku merasa curiga sehingga datang melaporkan hal itu kepada penguasa."
"Dia juga mengaku jika dirinya ingin bertemu dengan leluhur agung suku kita." Lanjut sang komandan.
"Ha...ha...ha...ha...ha...benar-benar sangat menggelikan...jika dirinya adalah leluhur Huanglong, dia bisa pergi sendiri menemuinya, mengapa memohon ijin kepadaku terlebih dahulu!?"
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" Tanya sang komandan.
"Jangan biarkan mereka masuk." Perintah penguasa kota.
"Baik, aku akan pergi untuk mengusir mereka." Ucap komandan itu dan segera pergi meninggalkan aula utama balai kota.
Sesaat kemudian, akhirnya sang komandan pun tiba di gerbang bagian timur kota Sungai Perak.
"Bagaimana komandan? Apakah kami diijinkan masuk oleh penguasa kota ini?" Tanya Xue Zhao menyambut kedatangan komandan itu.
"Mohon maaf tuan, sepertinya hal itu sangat sulit untuk bisa terealisasi, sebab penguasa kota tidak memberikan ijin kepada kalian untuk bisa masuk, apa lagi untuk bisa bertemu dengan leluhur agung suku kami." Jawab sang komandan.
"Tuan, sampai usia ku sudah seperti ini, aku pun belum pernah melihat apa lagi bertemu dengan leluhur agung kami." Lanjut sang komandan.
"Meskipun demikian, ijinkan kami untuk bisa memasuki kota Sungai Perak ini." Ucap Xue Zhao memohon.
"Tuan, maafkan kami karena tidak bisa mengijinkan kalian untuk bisa memasuki kota kami ini, karena kami tidak ingin musuh kalian datang ke kota kami ini dan akan membuat masalah." Balas sang komandan.
"Komandan, apakah anda sedang mempermainkan kami?" Tutur Xue Zhao dengan nada suara yang terdengar sedikit mengancam.
"Apakah tuan sedang mengancamku di kota kelahiranku ini?" Balas sang komandan.
"Apakah kau pikir aku takut untuk bisa menghancurkan kota ini ataupun untuk bisa menghadapi leluhur agung kalian?" Xue Zhao kembali berkata.
Sang komandan itu pun terkejut dengan pernyataan Xue Zhao yang sangat berani itu.
__ADS_1
~Bersambung~