
Setelah menghabiskan waktu bersama dengan kelompok Xue Yunlei di kota Rong Cheng, Yu Fei masih tetap tinggal satu hari lagi untuk menikmati kesenangan yang dia dapatkan dari fasilitas yang diberikan oleh Zou Wenli.
Sedangkan Ming Chuan sendiri pergi meninggalkan kota Rong Cheng sehari setelah kelompok Xue Yunlei meninggalkan kota itu.
Namun Ming Chuan sendiri memiliki tujuan terselubung untuk merampas peta yang dimiliki oleh Yang Jinceng.
Pendekar dewa bumi itu dengan cepat melesat menuju ke arah timur laut dimana jalur yang akan dilalui oleh para pendekar yang berasal dari sekte Angsa Putih untuk kembali ke markas mereka yang berada puluhan kilometer di sebelah selatan kota Chang'an.
Ming Chuan pun bisa menyusul rombongan sekte Angsa Putih saat mereka sudah bergerak keluar dari jalan utama untuk menuju ke markas mereka yang terletak di arah timur dari jalan itu.
Pria sepuh itu kini sudah memakai pakaian serba hitam agar dirinya tidak bisa dikenali oleh para pendekar dari sekte Angsa Putih.
Markas sekte Angsa Putih yang masih berjarak seratus kilometer lebih itu membuat Ming Chuan mengambil kesempatan emas tersebut untuk menghadang rombongan mereka.
"Siapa kamu? Mengapa menghadang jalan kami?." Teriak Yang Jinceng kepada sosok yang berpenampilan serba hitam itu.
"Siapa aku itu saat ini tidak penting. Yang terpenting adalah pikirkan keselamatan seluruh anggota sekte mu itu." Balas sosok berpakaian serba hitam tersebut.
"Dan jika kau dan juga seluruh anggota sektemu tidak mau kehilangan nyawa kalian, lebih baik cepat serahkan peta yang diberikan oleh Hua Qiangu kepadamu." Lanjutnya.
"Ketua, apa yang harus kita lakukan?." Tanya seorang tetua.
"Sepertinya dia adalah seorang pendekar dewa bumi. Dan pendekar dewa bumi yang mengetahui jika peta yang satunya diberikan kepadaku adalah Dewa Pencuri Ming Chuan." Pikir Yang Jinceng sebelum menjawab pertanyaan tetua tersebut.
"Para leluhur sekalian, bagaimana ini? Apakah aku harus memberikan peta ini kepada pria itu?." Yang Jinceng balik memberikan pertanyaan kepada para leluhur untuk mendapatkan persetujuan.
"Sepertinya untuk menghindari pertumpahan darah, ada baiknya berikan saja peta itu kepadanya." Jawab seorang leluhur.
Leluhur itu menyetujui untuk memberikan peta itu kepada sosok berbaju serba hitam dengan menutup sebagian wajahnya, karena dia juga mengetahui basis kultivasi pria yang menghadang mereka.
Karena Ming Chuan telah menunjukkan aura seorang pendekar dewa bumi dengan mengeluarkan aura intimidasi dari tubuhnya untuk menekan para pendekar dari sekte Angsa Putih.
"Sebaiknya seperti itu, apa lagi kita mendapatkan peta itu tanpa pertarungan, sehingga berikan saja kepadanya." Sambung seorang leluhur yang lainnya juga.
"Ternyata kalian sangat pintar. Aku sangat senang dengan keputusan kalian itu, sebab kalian lebih mengutamakan keselamatan kalian dari pada peta tersebut." Balas Ming Chuan sambil tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan menyerahkan peta ini kepadamu, tetapi mohon tarik kembali aura intimidasi yang kau keluarkan." Ujar Yang Jinceng.
__ADS_1
"Ayo, datanglah kesini dan serahkan peta itu." Balas Ming Chuan yang telah menarik kembali aura intimidasi yang dia keluarkan.
Yang Jinceng segera melangkah maju dan ditangannya telah memegang gulungan peta yang diberikan oleh Hua Qiangu kepadanya.
Ming Chuan sendiri tidak ingin kecolongan jika Yang Jinceng memiliki rencana yang bisa merugikan bagi dirinya, sehingga pria sepuh itu tetap siap dengan kemungkinan yang akan terjadi.
Ketua sekte Angsa Putih saat itu juga tidak ingin bertindak ceroboh untuk membahayakan dirinya, oleh karena itu dia tidak memiliki niat untuk menyerang atau pun ingin melakukan gerakan yang mencurigakan.
Saat sudah berada didekat Ming Chuan, akhirnya Yang Jinceng segera menyerahkan gulungan peta yang berada ditangannya.
Dengan cepat Ming Chuan segera mengambil gulungan peta itu dan langsung menyerang Yang Jinceng dengan telapak tangannya kearah dada Ketua sekte Angsa Putih itu.
Duuuaaarrr
Tubuh Yang Jinceng langsung terpental kebelakang saat terkena serangan telapak tangan Ming Chuan.
Keempat leluhur yang ada langsung menangkap tubuh Yang Jinceng yang terpental ke arah mereka.
Sedangkan Ming Chuan sendiri langsung melesat terbang meninggalkan tempat itu setelah menyerang Yang Jinceng.
Para pendekar dari sekte Angsa Putih hanya bisa mengutuki perbuatan sosok yang menghadang rombongan mereka dan yang tega melukai Yang Jinceng setelah mendapatkan gulungan peta yang dia inginkan.
Yu Fei sendiri saat Ming Chuan meninggalkan kota Rong Cheng telah membuntutinya dari jarak yang jauh agar tidak diketahui oleh Dewa Pencuri itu.
"Hmmm...ini akan menjadi pertunjukan yang besar dikemudian hari. Aku sendiri merasa penasaran dengan rencana Hua Qiangu itu." Gumam Yu Fei setelah melihat Ming Chuan pergi meninggalkan rombongan sekte Angsa Putih.
Pengemis tua itu kemudian mengikuti arah dimana Ming Chuan pergi agar bisa mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Dewa Pencuri itu selanjutnya.
Kini Yang Jinceng telah diberikan pil oleh salah satu leluhur untuk menyembuhkan luka dalam yang dia alami saat terkena serangan telapak tangan Ming Chuan.
Mereka juga menyalurkan energi qi kedalam tubuh Ketua sekte Angsa Putih itu untuk memberikan pertolongan agar tidak kehilangan nyawanya.
"Kejadian ini harus dirahasiakan agar orang diluar sekte kita tidak mengetahuinya." Ucap Bian Que mengingatkan kepada seluruh anggota sekte Angsa Putih yang ada.
"Benar apa yang dikatakan oleh tetua Bian. Dan untuk masalah ini biarkan kami yang akan menghadap leluhur agung untuk menyampaikannya setelah dia selesai berkultivasi." Sambung seorang leluhur.
Dan leluhur agung yang dimaksudkan itu adalah seorang pendekar dewa bumi yang juga adalah ayah dari Yang Jinceng yaitu Yang Zengxin yang dijuluki Dewa Pedang.
__ADS_1
Leluhur agung sekte Angsa Putih itu tidak ikut pergi ke markas partai Qing Ceng sebab saat itu dirinya masih berkultivasi untuk mencapai tahap puncak pendekar dewa bumi.
Setelah merasa bahwa nyawa Yang Jinceng tidak lagi dalam keadaan bahaya, sehingga rombongan anggota sekte Angsa Putih segera melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju ke markas mereka.
***
Setelah selesai menikmati makanan yang telah beberapa kali dipesan, Xue Yunlei dan juga Huaxianzi segera bersiap untuk pergi meninggalkan kota Chang'an.
Namun sebelum mereka pergi meninggalkan restoran Wenchang, pemuda itu melihat salah satu kelompok yang baru saja memasuki restoran itu.
Terlihat ada dua sosok yang dikenalnya berjalan disamping seorang pria yang terlihat berpenampilan seperti seorang bangsawan.
Kedua sosok tersebut adalah Zhao Ning seorang pendekar wanita yang memiliki basis kultivasi sebagai pendekar suci tahap awal dan Wen Liu yang memiliki basis kultivasi sebagai pendekar petapa suci tahap akhir.
Kedua pendekar itu adalah tetua dari organisasi Awan Merah yang didirikan oleh Xue Yunlei.
Karena tidak ingin mengungkapkan penyamarannya, sehingga Xue Yunlei tidak mau menegur keduanya.
Keinginan Xue Yunlei untuk meninggalkan restoran itu langsung diurungkan setelah melihat kehadiran kedua bawahannya itu.
Kelompok kedua tetua itu pun memilih tempat yang tidak jauh dari tempat Xue Yunlei dan Huaxianzi tempati.
"Tuan, kapan kita akan kembali ke kota Yenan?." Tanya Zhao Ning kepada pria yang terlihat seperti seorang bangsawan yang duduk tidak jauh darinya.
"Kita akan beristirahat terlebih dahulu selama satu hari lagi sebelum kembali ke kota Yenan. Namun jika pendekar Zhao dan juga pendekar Wen mau melanjutkan pengawalan hingga sampai ke kota Watlam, aku akan menambahkan bayaran kalian sebesar seratus keping emas lagi." Jawabnya.
"Bagaimana pendekar Zhao? Apakah kau menyetujuinya?." Lanjut pria itu bertanya kepada Zhao Ning.
"Menurutku, penawaran tersebut nanti kita bicarakan lagi saat sudah tiba di kota Yenan, sebab meskipun aku adalah wakil tetua penegak hukum, akan tetapi aku tidak bisa mengambil keputusan diluar tetua Aula Misi." Jawab Zhao Ning.
"Pendekar Wen, sepertinya anda bisa membicarakan tawaranku ini dengan pendekar Zhao." Ucap pria itu lagi.
"Tuan, apa yang tetua Zhao katakan, itu sudah menjadi aturan organisasi kita, sehingga aku juga menyetujui perkataannya itu." Balas Wen Liu menanggapi perkataan pria itu.
Saat mereka sedang berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka, beberapa orang terlihat memasuki restoran Wenchang dan langsung berjalan menuju ke tempat dimana Zhao Ning dan yang lainnya berada.
"Dilihat dari motif pakaian yang kalian gunakan sepertinya kalian berasal dari organisasi Awan Merah. Apa benar tebakanku?." Tanya sosok yang baru saja tiba itu.
__ADS_1
~Bersambung~