PENDEKAR AWAN MERAH

PENDEKAR AWAN MERAH
Bab 217. Mengorbankan Dan Melarikan Diri


__ADS_3

Kekacauan itu semakin membuat raja iblis tidak bisa lagi berpikir panjang untuk menentukan langkah lain yang harus dia lakukan selain melarikan diri bersama keempat pendekar dewa bumi.


"Cepat tinggalkan tempat ini!" Teriak raja iblis kepada keempat pendekar dewa bumi.


Dirinya mencoba untuk membawa salah satu pendekar dewa surgawi yang saat itu sedang berkultivasi.


Keempat pendekar dewa bumi itu segera pergi untuk menerobos dinding yang tercipta dari air danau yang membeku.


Dua pendekar dewa bumi terus menghadapi lima penatua dan para komandan pasukan peri yang terus menghindari serangan formasi pertempuran serta secara bergantian terus melepaskan serangan balasan kearah mereka.


Jika serangan formasi pertempuran bisa mereka patahkan seperti yang dilakukan oleh jenderal Nu Fang, maka sudah bisa dipastikan bahwa keempat pendekar dewa bumi itu pasti sudah tidak bernyawa lagi.


Dua pendekar dewa bumi lainnya kini sedang berusaha menghancurkan dinding yang tercipta dari air danau itu agar mereka bisa melarikan diri dari tempat tersebut.


Raja iblis tetap mempertahankan posisinya untuk melindungi ke-enam bawahannya itu sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Saat dinding air itu hancur, kedua pendekar dewa bumi segera melesat keluar dari tempat itu untuk melarikan diri.


Namun nasib kedua pendekar dewa bumi yang lain tidak seberuntung kedua rekannya itu, sebab untuk melindungi kedua rekan mereka, keduanya terkena serangan milik para komandan pasukan peri.


Melihat situasi itu, raja iblis segera membuka portal ruang dan waktu dan menghilang dari tempat itu sambil membawa seorang pendekar dewa surgawi yang sedang berkultivasi.


Setelah kepergian raja iblis, para prajurit segera membabibuta menyerang lima sosok yang tersisa dan sedang berkultivasi.


"Jangan menyerang mereka dari dekat!" Teriak raja peri dan langsung menciptakan formasi pelindung diikuti oleh yang lain.


Namun semua itu terlambat mereka sadari, teriakan raja peri sedikit terlambat saat terjadi lima ledakan yang sangat kuat hingga menyebabkan goncangan yang sangat kuat dan terasa sampai di radius dua puluh kilometer dari tempat itu.


Tubuh para prajurit yang berada didekat tubuh lima pendekar dewa yang sedang berkultivasi itu langsung menghilang akibat ledakan energi yang berasal dari tubuh kelima pendekar dewa itu.


Dinding air yang menyelimuti tempat itu langsung hancur setelah ledakan itu terjadi.


Tubuh pasukan peri langsung terhempas sejauh puluhan meter sampai ratusan meter karena dampak dari ledakan itu meskipun mereka telah menciptakan formasi pelindung.


Sedangkan kedua pendekar dewa bumi yang terluka, kini sudah tidak bernyawa lagi dan posisi tubuhnya tidak berada di tempat semula.


Raja peri, jenderal Nu Fang, para penatua dan juga para komandan pasukan peri hanya bisa menatap kehancuran yang terjadi serta korban yang berjatuhan dipihak mereka.


Kejadian tersebut tidak diperhitungkan sebelumnya oleh mereka saat merencanakan penyerangan.


Jenderal Nu Fang terlihat bersedih saat melihat banyak korban yang berjatuhan dipihak mereka akibat ledakan itu.

__ADS_1


"Jenderal Nu Fang, tidak perlu kau bersedih, semua itu diluar perkiraan kita." Ucap sang raja peri menghibur Nu Fang.


"Yang Mulia, aku tidak berpikir jika prajurit kita akan bertindak seperti itu...mereka sendiri sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika energi yang ada didalam tubuh seseorang tidak bisa dikendalikan." Balas Nu Fang.


"Mereka terlalu bersemangat sehingga melupakan hal itu...jadi sebaiknya kita segera membersihkan kekacauan ini dan mengumpulkan inti jiwa mereka yang telah menjadi korban." Ucap sang raja peri.


Sang raja segera memerintahkan para komandan pasukan untuk mengumpulkan inti jiwa milik peri yang telah tewas.


Sedangkan para prajurit bertugas untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang ada.


Setelah dikumpulkan, ada lima puluh lebih inti jiwa milik para prajurit peri yang tewas serta dua inti jiwa milik kedua pendekar dewa bumi yang telah tewas.


Semuanya diserahkan kepada raja peri.


***


Disuatu hutan sepuluh kilometer dari tempat pertarungan ledakan kembali terjadi dan kembali membuat keheningan hutan itu terusik.


Ledakan itu disebabkan oleh energi qi milik pendekar dewa surgawi yang diselamatkan oleh raja iblis.


Saat memasuki portal ruang dan waktu yang dia ciptakan, aturan ruang dan waktu mengganggu konsentrasi pendekar dewa surgawi itu saat mengolah energi yang berasal dari inti jiwa seorang peri.


Untung saja raja iblis dengan cepat melesat menjauh dari tubuh bawahannya itu, sehingga tidak terkena dampak dari ledakan tersebut.


"Jika aku sudah selesai menyerap energi yang terkandung didalam inti jiwa peri tua bangka itu serta selesai menyerap darah kehidupan miliknya, aku akan kembali untuk menghancurkan mereka semua." Gumam raja iblis.


"Bagaimana dengan nasib mereka berdua? Apakah mereka berhasil melarikan diri? Ataukah mereka juga telah tewas ditangan para peri itu?" Pertanyaan yang muncul dibenak raja iblis.


***


Di atas udara terlihat dua sosok pria sepuh terus melesat terbang menuju kearah timur dan terlihat seperti sedang tergesa-gesa.


Keduanya adalah bawahan raja iblis yang berpikir sedang melarikan diri dari kejaran para peri.


Akan tetapi mereka saat itu berlari tanpa dikejar oleh siapa pun, sebab raja peri melarang para komandan pasukannya serta para penatua untuk mengejar mereka.


Keduanya kini menuju ke tempat dimana ledakan terjadi untuk memastikan apakah itu adalah leluhur mereka atau bukan.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka berdua tiba di tempat dimana ledakan itu terjadi. Namun yang mereka temukan hanya sisa-sisa kehancuran akibat ledakan itu.


"Apakah raja iblis telah tewas bersama dengan saudara kita?" Tanya seorang kepada yang lain.

__ADS_1


"Sepertinya tidak...raja iblis tidak mudah dihancurkan oleh ledakan itu." Jawab yang satunya lagi.


"Bagaimana jika kita secepatnya kembali ke kota Rehe untuk membuktikan kebenarannya? Karena menurutku, kemungkinan terbesar raja iblis akan kembali ke kota Rehe sebelum pergi ke markas kita."


"Baiklah...ayo kita buktikan."


Keduanya pun segera melesat untuk menuju ke kota Rehe agar bisa membuktikan apakah raja iblis masih hidup atau tidak.


Itulah mengapa keduanya kini telah berani menyebut leluhur mereka itu dengan sebutan raja iblis.


***


Didalam dunia yang diciptakan oleh leluhur agung bangsa peri penguasa danau, Yao Laohu, Langren dan Gai Bian bisa merasakan getaran akibat ledakan yang terjadi didunia manusia.


Meskipun dunia itu diciptakan oleh leluhur bangsa peri, namun posisi letaknya masih berada di dunia manusia, sehingga apa yang terjadi di dunia manusia seperti ledakan yang baru saja terjadi itu, memberikan dampak juga meskipun tidak seperti getaran yang dirasakan di dunia manusia.


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi diluar dunia ini...apakah telah terjadi pertempuran yang sangat besar?" Pikir Yao Laohu.


"Iya, apa yang raja Yao Laohu pikir rkan itu ada benarnya juga, sebab sikap orang tua itu menurutku sangat mencurigakan." Langren menanggapi.


"Benar...terus nona Huaxianzi saat ini apa yang sedang dia lakukan setelah leluhur itu mengajaknya?" Sambung Gai Bian.


Ketiga raja siluman itu segera beranjak dari tempat mereka berada dan berjalan menuju ke arah yang sering di kunjungi oleh leluhur bangsa peri itu.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya mereka tiba disebuah dinding tebing yang berdiri tegak didepan mereka bertiga.


Yao Laohu segera mengaktifkan teknik yang dia miliki untuk menemukan pintu masuk yang terdapat di dinding tebing itu.


"Sepertinya aku tidak bisa menemukan dimana pintu masuk yang tersembunyi di tebing ini. Ternyata teknik formasi pengabur milik leluhur itu benar-benar sangat tinggi tingkatannya." Tutur Yao Laohu.


"Apakah kita akan tetap menunggu mereka berdua di dunia ini? Bagaimana jika mereka berdua telah terbunuh?" Tanya Gai Bian.


"Apakah kamu pikir leluhur itu tidak akan membunuh kita bertiga juga jika dia telah membunuh mereka berdua?" Balas Yao Laohu.


"Ayo kita kembali dan berkultivasi, mumpung dunia ini memiliki energi alam yang sangat tebal." Lanjut Yao Laohu menyarankan.


"Baiklah...ayo kita kembali." Ucap Gai Bian.


Langren hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi sikap Gai Bian.


Mereka bertiga kini sudah tiba ditempat semula dan langsung mengambil sikap meditasi untuk berkultivasi.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2