PENDEKAR AWAN MERAH

PENDEKAR AWAN MERAH
Bab 218. Situasi Setelah Kedatangan Raja Iblis


__ADS_3

Di kota Rehe, raja iblis yang datang sendiri membuat penguasa kota serta jenderalnya merasa bingung.


Wajah raja iblis terlihat sangat muram saat memasuki aula utama balai kota Rehe.


"Ada apa leluhur? Apa yang telah terjadi?" Tanya penguasa kota Rehe penasaran.


Raja iblis tidak menjawab pertanyaan penguasa kota Rehe, dia hanya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Meskipun merasa sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi, namun sang penguasa kota tidak ingin lagi untuk bertanya karena takut Raja Iblis akan merasa tersinggung dengan pertanyaannya.


Para petinggi kota Rehe yang hadir di aula utama balai kota hanya bisa terdiam melihat tingkah leluhur agung sekte Gunung Kepala Putih itu.


Pria sepuh dengan wajah yang terlihat garang itu kini hanya berjalan bolak-balik di tengah-tengah ruangan aula itu menambah ketegangan bagi semua yang hadir di tempat itu.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya pria sepuh itu pun angkat bicara "Jika kedua tetua lainnya datang kesini, katakan kepada mereka berdua bahwa aku telah kembali ke sekte untuk berkultivasi."


"Dan jangan lupa untuk menyuruh mereka berdua agar menyusul ku kesana." Tutup Raja Iblis dan segera menghilang dari dalam ruangan itu.


Setelah kepergian Raja Iblis, ruangan itu langsung bergemuruh karena mereka saling berbisik satu dengan yang lain.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"


"Mengapa leluhur agung hanya datang sendiri? Bukankah saat itu dia pergi bersama dengan sepuluh pendekar yang lain?"


"Iya, mengapa leluhur agung hanya memberitahukan dua tetua lainnya akan datang? Apakah delapan pendekar dewa yang lain telah mendapatkan masalah yang serius?"


"Hentikan ocehan kalian itu...jika leluhur agung mendengarnya, pasti nyawa kalian akan menjadi taruhannya." Tutur penguasa kota Rehe mengingatkan.


Ruangan itu pun kembali menjadi hening karena tidak ada lagi yang berani mengeluarkan satu kata pun.


"Penguasa, sepertinya kita harus merahasiakan situasi yang baru saja terjadi dan menghentikan pemikiran setiap orang tentang leluhur agung yang kembali sendiri ke kota Rehe ini." Tutur sang jenderal memecah keheningan saat itu.


"Mengapa jenderal berpikir seperti itu?" Tanya penguasa kota Rehe.


"Itu agar para pendekar yang berasal dari suku bar-bar tidak mengetahui hal itu...jika mereka mengetahuinya, itu akan berdampak buruk bagi posisi kita di kota Rehe ini." Jawab sang jenderal menjelaskan.


Penguasa kota Rehe langsung terdiam dan sejenak berpikir "Benar apa yang dipikirkan oleh anda, kita harus menutupi masalah ini." Ucap penguasa kota setelah sedikit berpikir.

__ADS_1


"Kita belum mengetahui dengan pasti situasi yang telah terjadi, untuk itu aku mengingatkan kalian untuk tidak menyebarkan berita ini dengan sembarangan...jika berita ini tersebar, nyawa kalian semua yang akan menjadi taruhannya." Tutur penguasa kota mengingatkan kepada seluruh yang hadir di dalam ruangan itu dengan sedikit ancaman.


Semua yang hadir di ruangan itu langsung mengiyakan apa yang disampaikan oleh penguasa kota itu.


"Pertemuan kita saat ini telah selesai, untuk urusan yang awalnya akan kita bicarakan, nanti dilanjutkan dilain waktu dan kesempatan saja...silahkan kalian kembali ke tempat kalian masing-masing." Tutur penguasa kota.


"Jenderal Yan Rui, kau tetap tinggal." Tutup Yan Xu yang adalah penguasa kota Rehe.


Selain Yan Rui, semua yang hadir di ruangan itu segera keluar dan kembali ke tempat mereka masing-masing.


Setelah tinggal mereka berdua diruangan itu, Yan Xu segera mengajak Yan Rui keruangan pribadi miliknya.


"Saudara Rui, ayo kita lanjutkan pembicaraan kita diruang pribadiku." Ajak Yan Xu yang memiliki ikatan darah dengan sang jenderal.


Keduanya sama-sama berasal dari klan Yan yang berada di kota Rehe itu.


Saat keduanya baru saja hendak pergi ke ruang pribadi yang dimaksudkan oleh Yan Xu, keduanya dikejutkan dengan kedatangan dua tetua sekte Gunung Kepala Putih yang dimaksudkan oleh Raja Iblis.


"Tetua, bagaimana keadaan kalian? Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Yan Xu menyambut kedatangan kedua tetua itu.


Keduanya tidak langsung menjawab pertanyaan Yan Xu, namun salah satu diantaranya balik bertanya kepada penguasa kota Rehe itu "Apakah leluhur agung telah kembali ke kota ini?" Dengan tatapan yang penuh harap.


"Apakah dia terlihat sedang terluka?" Tanya tetua itu lagi.


"Aku tidak melihatnya seperti sedang terluka, tetapi sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya...itulah mengapa aku langsung menanyakan kepada tetua tentang apa yang telah terjadi." Jawab penguasa kota panjang lebar.


Keduanya hanya bisa terdiam dan tidak segera menanggapi perkataan Yan Xu.


Melihat sikap kedua tetua itu yang terlihat seperti sikap leluhur agung mereka, membuat Yan Xu pun langsung merubah topik pembicaraan serta langsung mengajak keduanya keruang pribadi miliknya.


Mereka berempat pun segera pergi ke tempat yang dimaksudkan oleh Yan Xu.


Setelah tiba dan duduk serta menikmati teh terbaik di kota itu, akhirnya kedua tetua itu pun segera menceritakan apa yang telah mereka alami.


Yan Xu dan Yan Rui hanya bisa terdiam setelah mendengar cerita salah satu tetua.


"Pantas saja sikap leluhur agung terlihat sangat terpukul...benar-benar suatu musibah yang sangat merugikan bagi sekte Gunung Kepala Putih." Ucap Yan Xu.

__ADS_1


"Saudara Rui, karena kita telah mengetahui kejadian yang sebenarnya, kita harus menutupi cerita ini dari orang luar...tidak hanya itu saja, kita juga harus selalu mengawasi pergerakan para pendekar yang berasal dari suku bar-bar."


"Setiap pergerakan mereka, pasti akan memberitahukan kepada kita jika mereka telah mengetahui berita ini...dan yang bertanggung jawab atas hal itu adalah semua yang hadir di aula utama pada hari ini."


"Baik...pasti aku akan melakukannya dengan sangat cermat dan berhati-hati." Balas Yan Rui.


"Tetua, leluhur agung telah berpesan, jika kalian berdua telah kembali, kalian berdua harus segera menyusulnya untuk kembali ke sekte." Lanjut Yan Xu lagi.


"Jika itu pesan dari leluhur agung, kami berdua tidak akan berlama-lama lagi disini...tuan Yan, terima kasih karena kau akan membantu kami untuk tidak menyebarluaskan berita ini." Ucap salah satu tetua.


"Tetua tidak perlu berkata seperti itu...sebagai anggota sekte Gunung Kepala Putih, sudah menjadi kewajibanku untuk melakukan hal itu." Balas Yan Xu dan diiyakan oleh Yan Rui.


Setelah selesai berpamitan, kedua tetua itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke sekte Gunung Kepala Putih.


Yan Rui segera berpamitan juga dengan Yan Xu untuk menjalankan tugas barunya itu dalam mengawasi setiap pergerakan para pendekar dari suku bar-bar.


Jenderal kota Rehe itu segera memerintahkan beberapa prajurit kepercayaannya untuk menyamar dan mulai mengawasi setiap pergerakan para pendekar yang berasal dari manapun di kota itu.


Hanya dalam jangka waktu sehari saja, rumor tersebut ternyata telah beredar di seluruh wilayah kota Rehe serta sudah menjadi perbincangan hampir seluruh penduduk kota itu.


Seluruh prajurit yang Yan Rui perintahkan untuk menyamar, kini telah kembali menghadap dirinya untuk melaporkan hal itu.


Setelah selesai melaporkan, Yan Rui merasa sangat geram dan langsung pergi menemui Yan Xu untuk membicarakan hal itu.


"Saudara Xu, sepertinya rumor tersebut telah tersebar di seluruh wilayah kota Rehe ini...apa yang akan kita lakukan?" Tanya Yan Rui setelah bertemu dengan Yan Xu.


"Apa katamu? Berita itu telah tersebar di seluruh wilayah kota Rehe ini? Siapa yang telah berani menyebarkan berita ini?" Balas Yan Xu setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Yan Rui.


"Saudara Xu, jika mendengar dari apa yang disampaikan oleh para prajurit yang telah aku utus, rumor yang beredar itu hanya sebatas situasi yang terjadi saat leluhur agung tiba... Sehingga aku menyimpulkan, hal itu telah disebarkan oleh salah seorang diantara yang hadir pada saat itu." Yan Rui coba memberitahukan apa yang dia pikirkan.


"Jika menurut saudara Rui seperti itu, cepat perintahkan untuk menangkap mereka semua dan lakukan introgasi dengan sangat kejam, agar mereka akan mengakui perbuatan mereka itu." Perintah Yan Xu.


"Baik...aku akan melakukannya." Balas Yan Rui.


Sang jenderal segera memerintahkan beberapa prajurit untuk menuju ke setiap gerbang kota Rehe agar memberitahukan kepada para komandan yang bertugas untuk tidak membiarkan orang-orang yang masuk dalam daftar nama yang telah dia tentukan keluar dari kota Rehe.


Sang jenderal juga secara bersamaan memerintahkan kepada beberapa komandan pasukan untuk menangkap orang-orang yang masuk dalam daftar itu dan membawa mereka ke penjara untuk di introgasi.

__ADS_1


Situasi di kota Rehe kini semakin memanas setelah berita tentang kembalinya leluhur agung sekte Gunung Kepala Putih tanpa sepuluh pendekar dewa yang adalah para petinggi dari sekte tersebut.


~Bersambung~


__ADS_2