PENDEKAR AWAN MERAH

PENDEKAR AWAN MERAH
Bab 39. Mengalahkan Perampok


__ADS_3

Sebelum melanjutkan perjalanan mereka, Xue Yunlei mengajak mereka untuk kembali ke tempat dimana kelompok para perampok itu berada.


Tujuannya untuk mengambil kembali pedang milik ayahnya yang diambil oleh pemimpin perampok yang menyerang mereka.


Mengetahui tujuan Xue Yunlei, Xiangwei pun langsung angkat bicara.


"Jika hanya untuk mendapatkan kembali pedang milik penguasa, lebih baik menyiapkan kembali bahan - bahan yang terbaik dan segera dibawa kepada bangsa kurcaci untuk membuatkan senjata pusaka tingkat langit".


"Berbicara mengenai senjata pusaka, tidak ada yang bisa menandingi keahlian mereka".


Xiangwei terus memberikan penjelasan kepada Xue Yunlei tentang bagaimana mendapatkan senjata pusaka dengan kualitas terbaik.


Xue Yunlei telah mengetahui hal itu dari roh dewa yang adalah gurunya.


Remaja itu hanya menganggukkan kepala saat mendengar penjelasan dari Xiangwei.


Setelah peri itu selesai menjelaskan, Xue Yunlei pun berkata.


"Ini bukan bicara tentang pusaka dengan kualitas yang lebih baik, akan tetapi pedang itu adalah milik ayahku, sehingga pedang itu sangat berharga bagiku".


"Maafkan hamba karena telah lancang, hamba tidak bermaksud untuk tidak menghormati ayah penguasa, tetapi itu karena hamba tidak mengetahui jika pedang itu milik ayah penguasa". Kata - kata Xiangwei setelah mendengar penjelasan Xue Yunlei.


"Sudahlah, itu tidak menjadi masalah bagiku".


"Tetapi aku hanya meminta kepada kalian berdua untuk tidak memanggilku sebagai penguasa, karena jika orang lain mendengarnya, mereka bisa salah menilai posisi saya sebagai penguasa apa, serta bisa mengungkapkan identitas kalian berdua".


"Dan jika identitas kalian berdua diketahui oleh orang banyak, nyawa kalian akan berada dalam masalah yang sangat serius, sebab akan menjadi buruan para pendekar yang ingin menjadikan kalian sumber daya untuk meningkatkan kultivasi mereka".


Perkataan Xue Yunlei langsung membuat keduanya sadar bahwa tubuh mereka berdua sangat berharga bagi para kultivator yang sangat menginginkan diri mereka untuk bisa meningkatkan basis kultivasi dengan cepat.


"Jadi, sebutan apa yang pantas bagi kami sebagai hambamu untuk memanggil penguasa?". Tanya Xiangwei penuh harap agar mendapatkan kejelasan.


"Panggil saja aku dengan sebutan Tuan Muda". Jawab Xue Yunlei.


"Tidak hanya itu saja, jangan menyebut diri kalian juga sebagai hambaku, aku merasa risih dengan sebutan itu". Lanjut Xue Yunlei.


"Terima kasih Tuan Muda!". Ucap keduanya serentak sambil memberi hormat kepada Xue Yunlei.


"Untuk selanjutnya, aku tidak ingin juga kalian berdua bersikap formal seperti itu, ingat apa yang sudah aku katakan". Ujar Xue Yunlei.


"Baik Tuan Muda, kami akan selalu mengingatnya". Balas kedua peri itu menanggapi perkataan Xue Yunlei.


Remaja itu menginginkan hubungan mereka terlihat seperti biasanya, seperti bukan seorang hamba dan sebagai seorang atasan.


Mereka pun segera melesat kembali menuju kearah timur dimana para perampok itu berada.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka hingga bisa tiba ditempat dimana para perampok itu yang saat ini sedang terjadi pertempuran dengan pasukan biro pengawalan Weng Yang.

__ADS_1


"Kalian bertiga tetaplah disini, biar aku bersama mereka berdua yang akan membantu pendekar Weng Yang". Ujar Xue Yunlei.


Rui Lianjin, Xiao Lin Meng dan juga Xiao Ning Lan langsung mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Xue Yunlei.


Kini terlihat bangsawan Niu Gao juga ikut bertarung untuk memberikan perlawanan kepada para perampok yang ingin merampas barang dagangan mereka.


Dalam sekejap, Xue Yunlei segera melesat dan mulai menebas leher setiap anggota perampok yang ditemuinya sambil menuju kearah dimana pemimpin perampok itu berada dan sedang bertarung dengan Weng Yang.


Kedua peri itu juga tidak kalah hebatnya dengan Xue Yunlei dalam hal membunuh.


Dalam sekali tebasan dan juga tusukan pedang mereka, setiap anggota perampok yang diserang langsung kehilangan nyawa mereka.


Melihat kedatangan ketiga sosok yang membantu rombongan pedagang yang ingin dirampok mereka, membuat anggota perampok langsung merasa ketakutan.


Hal itu karena rekan mereka yang lain sudah kehilangan nyawa mereka hanya dalam sekali serang saja.


Sang pemimpin perampok belum menyadari hal itu, karena dirinya sedang disibukkan oleh Weng Yang.


Xue Yunlei dan dua peri yang bersamanya dengan cepat mulai membantai setiap anggota perampok yang masih hidup.


Para anggota perampok yang merasa ketakutan, segera melarikan diri tanpa dikomandoi oleh pimpinan mereka.


Hanya dalam hitungan menit saja, anggota perampok yang tersisa, kini semuanya sudah tidak bernyawa lagi.


Bunyi dentingan benturan senjata pun kini sudah tidak terdengar lagi selain dentingan senjata milik Weng Yang dan pemimpin perampok.


Akan tetapi hasilnya sangat diluar pemikirannya, karena kini sudah tidak ada lagi anggotanya yang masih berdiri.


Kesempatan itu tidak di sia - siakan oleh Weng Yang.


Pemimpin pasukan dari biro pengawalan itu segera menusuk perut pemimpin perampok yang sudah dalam posisi terbuka dan tidak terlindungi.


Mata pedang Weng Yang pun segera menerobos kulit luar pria yang menjadi lawannya itu dan masuk kedalam hingga tembus ke belakang.


"Ahhccckkk!".


Suara jeritan yang keluar dari mulut sang pemimpin perampok.


Weng Yang tidak menghentikan tindakannya, pria itu segera melanjutkan serangannya dengan menebas leher pria yang menjadi lawannya itu.


Sang pemimpin perampok kini tidak sempat lagi untuk menjerit, karena kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.


Xue Yunlei hanya menatap Weng Yang dengan senyuman.


"Tuan muda Xue, terima kasih karena telah datang membantu kami". Kata - kata yang keluar dari mulut Weng Yang.


"Sudahlah, sudah sepantasnya aku membantu pendekar Weng Yang". Balas Xue Yunlei masih dengan senyumannya.

__ADS_1


Dimana nona Xiao Ning Lan dan lainnya? Dan siapa kedua wanita itu?". Tanya Weng Yang penasaran.


"Mereka bertiga ada bersama denganku, namun tidak ikut bergabung karena aku sendiri yang memintanya".


"Sedangkan kedua wanita itu adalah kenalanku juga yang ingin bepergian bersama dengan kami".


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Xue Yunlei, sikap Weng Yang pun terlihat lega karena tidak terjadi sesuatu dengan tiga wanita yang bersama dengan pendekar muda didepannya.


Xue Yunlei pun segera mendekati tubuh sang pemimpin yang sudah terbujur kaku dan langsung mengambil pedang ayahnya.


Weng Yang pun merasa terkejut karena baru menyadari bahwa pedang milik Xue Yunlei berada ditangan pemimpin perampok itu.


"Tuan muda Xue, mengapa pedangmu berada ditangan pemimpin perampok ini?". Tanya Weng Yang penasaran.


"Awalnya kami juga telah diserang dan ditangkap oleh mereka, namun disaat kami berempat akan dibawa ke markas mereka, seorang pria yang tidak dikenal datang dan menolong kami".


"Itulah mengapa pedangKu berada ditangannya".


"Namun hal itu jugalah yang membuatku kembali kesini sehingga bisa membantu pendekar Weng".


Xue Yunlei menjelaskan kepada Weng Yang.


Pemimpin pasukan biro pengawalan itupun hanya bisa menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Xue Yunlei.


"Ternyata setiap kejadian ada hikmahnya juga". Ujar Weng Yang.


"Iya, aku juga merasa setiap apa yang terjadi, semua itu sudah ditakdirkan". Balas Xue Yunlei.


"Pendekar Weng, melihat kekuatan pasukan yang tersisa, sepertinya akan sangat sulit bagi kalian untuk melanjutkan perjalanan".


"Oleh karena itu, sebaiknya kita berangkat bersama hingga sampai dikota berikutnya, sebab jarak untuk bisa tiba di kota yang berada didepan, menurut apa yang aku dengar, masih berkisar 30 kilo meter lagi".


"Sehingga akan tidak baik jika ada lagi sekelompok perampok yang akan menghadang rombongan kalian".


"Terima kasih atas kebaikan tuan muda Xue, aku sangat berterima kasih karena sudah bersedia untuk pergi bersama dengan rombongan kami". Ucap bangsawan Niu Gao karena bisa mendengar perkataan Xue Yunlei.


"Sudahlah, tuan Niu Gao tidak perlu sungkan seperti itu".


"Tindakanku membantu rombongan tuan Niu, adalah suatu keharusan bagi kita yang sudah saling mengenal".


Balas Xue Yunlei dengan ramah menanggapi ucapan bangsawan Niu Gao.


Melihat situasi sudah aman, Rui Lianjin, Xiao Lin Meng dan juga Xiao Ning Lan segera keluar dan menghampiri Xue Yunlei.


"Nona Xiao, senang bisa bertemu lagi dengan kalian". Sapa Weng Yang menyambut kedatangan tiga wanita tersebut.


Setelah selesai membersihkan kekacauan yang terjadi ditempat itu, mereka pun segera melanjutkan kembali perjalanan.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2