
Setelah beberapa saat kemudian, He Jing pun tersenyum dan langsung melompat naik ke atas panggung arena untuk menghadapi Xue Bang.
"Aku merasa sangat tersanjung dengan keberanianMu karena telah menantang diriKu untuk bisa merebut posisi jenius nomor satu yang sudah empat tahun ini telah aku sandang". Tutur He Jing dengan sikap yang sedikit sombong.
"Aku tidak berpikir tentang posisi jenius yang kamu sandang, akan tetapi aku merasa tertarik untuk menguji sejauh mana perkembanganKu setelah berlatih beberapa tahun ini". Balas Xue Bang.
"Apa kataMu? Untuk menghadapiKu, kamu hanya ingin menguji perkembanganMu, apakah kamu yakin sudah bisa mengalahkanKu?". Ujar He Jing yang lanjut melontarkan pertanyaan.
"Kita lihat saja nanti hasilnya jika aku bisa mengalahkanMu atau tidak". Balas Xue Bang.
"Apakah kalian berdua sudah siap?". Tanya tetua yang bertanggung jawab.
"Iya, aku sudah siap!". Jawab keduanya secara serentak.
"Baiklah, ingat aturan dalam pertarungan, jangan saling membunuh satu dengan yang lain, jika salah satu sudah terjatuh dari panggung arena ini, dia akan dinyatakan kalah". Ujar tetua untuk mengingatkan.
Setelah memberikan penjelasan, sang tetua pun segera mempersilahkan keduanya untuk saling bertarung.
Xue Bang dengan goloknya sudah bersiap untuk bertarung.
Golok miliknya kini sudah diselimuti oleh petir merah yang berderak - derak, begitu juga dengan He Jing dengan tombaknya.
Keduanya pun segera melancarkan serangan satu dengan yang lain.
Serangan tombak He Jing membuat Xue Bang merasa sangat tertantang, sebab jurus tombak milik keluarga He sangat terkenal.
Xue Bang sendiri memiliki jurus pedang andalan dari klan Xue, meskipun saat itu senjata yang dia gunakan adalah sebuah golok.
Namun Xue Bang sendiri selalu mengingat petunjuk dan trik yang diberikan oleh Xue Yunlei, sehingga itu akan menjadi serangan kejutan bagi lawannya.
Xue Bang terus menggunakan jurus - jurus golok untuk menghadapi He Jing.
Sesekali putaran tombak He Jing yang membentuk perisai pertahanan mampu membendung serangan golok Xue Bang.
"Tak Ku sangka, ternyata Si Gendut ini mampu membuat diriKu merasa kelabakan juga". Gerutu He Jing di dalam hatinya.
"Ternyata generasi muda dari kota Yin ini selalu memberikan kejutan". Kata - kata yang keluar dari mulut ketua sekte karena merasa terkejut dengan kemampuan Xue Bang.
"Aku tidak menyangka perkembangan mereka begitu pesat". Lanjutnya lagi.
"Tetua Pangzi, ternyata anda kali ini tidak salah dalam memilih seorang murid, sehingga bisa memiliki murid yang jenius". Tutup ketua sekte memuji tetua Pangzi.
Memang selama ini, selain Xue Bang tetua Pangzi belum pernah sekali pun mendapatkan seorang murid jenius.
Apa lagi tetua Pangzi adalah tetua utama yang paling rendah kemampuannya di antara sembilan tetua utama lainnya.
"Permainan tombaknya sangat sulit untuk bisa dipatahkan, sepertinya aku tidak boleh bertarung jarak jauh dengannya, itu akan memberikan keuntungan kepadanya, aku harus bertarung dengannya dari jarak dekat". Pikir Xue Bang.
__ADS_1
Pria gendut itu pun segera mengingat trik dan teknik dalam menghadapi setiap lawannya dengan berbagai senjata yang mereka gunakan.
Xue Bang langsung menangkis dan juga menghindari serangan tombak milik He Jing.
Mata tombak He Jing beberapa senti melewati leher Xue Bang.
Tubuh pria gendut itu pun kini mulai berputar dengan cepat dan mendekati tubuh He Jing.
Merasa terancam dengan gerakan yang ditunjukkan oleh lawannya, He Jing pun segera memukulkan tombaknya kearah samping.
Namun hal itu tidak memberikan dampak yang berarti, sebab golok Xue Bang masih tetap menempel di badan tombak tersebut.
Saat itu, He Jing merasa bahwa kekuatannya berada di bawah Xue Bang, sehingga dirinya tidak sanggup mendorong batang tombaknya kearah samping.
"Sial, rupanya dia memiliki kelebihan lain yang sesuai dengan tubuhnya". Gerutu He Jing lagi sambil mencoba untuk keluar dari jangkauan serangan lawannya.
Namun tindakannya sedikit terlambat, sebab mata golok Xue Bang sendiri kini telah mengarah ke tangan yang memegang tombak.
He Jing segera melepaskan salah satu tangan yang menggenggam tombak yang selanjutnya memukulkan telapak tangannya ke batang tombak miliknya.
Hal tersebut agar golok milik Xue Bang terdorong kesamping dan tidak bisa melukai tangan yang satunya lagi.
Tindakannya itu pun berhasil, sehingga golok Xue Bang tidak mengenai sasarannya.
Akan tetapi serangan Xue Bang selanjutnya tidak bisa di antisipasi oleh He Jing.
Dan itu salah satu trik yang diajarkan oleh Xue Yunlei.
He Jing sendiri tidak menyangka jika lawan yang menggunakan golok, bisa menggunakan teknik pedang secara bersamaan.
Meskipun He Jing mencoba untuk menciptakan perisai pertahanan, namun hal itu tidak bisa mengubah situasi yang dia alami.
Tubuh sang jenius pun langsung terdorong ke samping dan hampir terjatuh dari panggung arena saat terkena hantaman sisi golok milik Xue Bang.
Ketua sekte dan juga para tetua berdecak kagum dengan teknik yang dikeluarkan oleh Xue Bang.
Mereka semua tidak menyangka jika hal itu bisa dilakukan oleh seorang yang ahli menggunakan golok.
"Uhuk...uhuk...uhuk, Sialan, mengapa aku bisa terkecoh dengan trik miliknya?". Gerutu He Jing setelah terbatuk akibat menerima serangan tamparan golok Xue Bang.
"Jika dia menggunakan mata goloknya, aku tidak tahu apa hasilnya". Lanjut He Jing berpikir.
"Apakah pertarungan kita masih akan dilanjutkan?". Tanya Xue Bang sambil menatap ke arah He Jing.
Mendapatkan pertanyaan dari lawannya, He Jing pun kembali berdiri untuk melanjutkan pertarungan.
He Jing pun segera menggunakan teknik tertinggi jurus tombak miliknya.
__ADS_1
Melihat keseriusan lawannya, Xue Bang pun segera bersiap untuk menggunakan teknik yang diajarkan oleh Xue Yunlei agar bisa menyudahi pertarungan itu.
Petir yang menyelimuti tombak milik He Jing kini mulai berderak hebat.
Hal itu karena He Jing telah berniat untuk melepaskan serangan terakhirnya untuk mengalahkan Xue Bang.
Pria gendut itu tetap santai seperti tidak memiliki masalah serius didepannya.
Golok milik Xue Bang sendiri tidak terlihat seperti sebelumnya.
Kini dirinya tidak menggunakan energi petir untuk menyerang He Jing.
Dirinya hanya menggunakan energi qi miliknya untuk menghempaskan tubuh He Jing dari atas panggung arena.
Sang jenius nomor satu sekte Tongtian segera melesat cepat menyerang Xue Bang.
Pria gendut itu hanya tetap berdiri diam tanpa mengubah sedikit pun posisi tubuhnya.
Tindakan Xue Bang membuat He Jing merasa sangat mudah untuk menjatuhkannya dengan serangan pamukasnya tersebut.
Akan tetapi saat serangan He Jing tinggal sedikit lagi mengenai tubuh Xue Bang.
Dengan cepat tubuh pria gendut itu menghilang dari hadapannya.
Sedetik kemudian, He Jing tersadar bahwa tubuhnya kini sudah terhempas keluar dari atas panggung arena pertarungan dengan rasa sakit di dadanya.
Gerakan golok milik Xue Bang ternyata hanya menjadi pengalihan saja.
Sedangkan untuk menyerang He Jing, Xue Bang menggunakan tinjunya yang telah di pusatkan sebagian energi qi miliknya.
"Sangat ceroboh!". Kata yang keluar dari mulut seorang pria yang duduk disebelah kanan ketua sekte.
Pria tersebut adalah tetua agung sekte Tongtian yang juga adalah guru dari He Jing.
Pria paruh baya itu merasa sangat kecewa dengan penampilan muridnya.
Hal itu juga sekaligus membuat dirinya malu karena muridnya bisa dikalahkan oleh murid dari tetua Pangzi yang selama ini tidak pernah memiliki murid yang jenius.
Seorang tetua segera mengumumkan bahwa Xue Bang adalah pemenang serta murid yang paling jenius di sekte tersebut menggantikan He Jing.
Mendengar pengumuman sang tetua, Zhang Mingmei segera bertepuk tangan dan tersenyum menatap ke arah Xue Bang.
Pria gendut itu segera membalasnya dengan senyuman juga, meskipun dirinya tidak terlalu memperdulikan dengan apa yang baru saja diraihnya.
Keinginannya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak boleh di pandang sebelah mata oleh orang lain seperti sebelumnya.
~Bersambung~
__ADS_1