
Di tempat kejadian dimana Xue Bang dan Xue Beng diserang, dua sosok pemuda nampak terlihat baru saja tiba.
Keduanya adalah Xue Zhao dan Chen Kaibo yang ingin mencari keberadaan Xue Beng yang telah hilang tanpa jejak.
Xue Zhao yang kini telah dikuasai oleh roh dewa itu hanya diam sejenak seraya menutup matanya dan dengan mulut yang terlihat seperti sedang komat-kamit merapalkan sebuah doa.
Tiba-tiba bumi yang mereka pijak pun bergetar hebat seperti sedang terjadi gempa bumi namun tidak terjadi ditempat lain.
Chen Kaibo menjadi bingung dengan apa yang sedang terjadi saat itu "Apa yang tuan muda Xue Zhao lakukan? Mengapa tiba-tiba bumi ini bergetar hebat seperti ini?"
Setelah beberapa saat kemudian, permukaan tanah pun seperti bangkit untuk berdiri di hadapan keduanya.
Dan membentuk menjadi sesosok pria sepuh sambil memegang tongkat kayu ditangannya serta langsung berkata "Siapa kalian yang telah berani manggil diriku?"
"Mohon maafkan atas kelancanganku karena telah mengganggu ketenangan mu...akan tetapi pada saat ini aku membutuhkan bantuanmu untuk mengidentifikasi suatu hal." Balas Xue Zhao.
"Hei bocah...! Sepertinya kau tidak sesederhana dengan apa yang terlihat...apakah kau berpikir bisa untuk mengelabui ku?" Tanya sosok pria sepuh itu yang adalah dewa Bumi.
"Mohon maafkan aku jika telah menyinggung mu...tetapi apakah kau bersedia untuk membantuku?" Ucap Xue Zhao lagi.
Aura seorang dewa sejati langsung bisa dirasakan oleh dewa bumi itu dan baru menyadari jika sosok didepannya itu juga adalah seorang dewa sejati.
Dan dengan kekuatan yang dia miliki, sehingga bisa memanggil dewa bumi untuk datang kepadanya.
Sang dewa bumi segera mendapatkan pesan dari roh dewa untuk tidak membocorkan identitasnya dan juga akan menjaga identitas sosok pria sepuh itu.
Sang dewa bumi pun langsung menyetujuinya dan berkata "Apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong kau identifikasi kejadian yang terjadi ditempat ini beberapa tahun yang lalu." Tutur Xue Zhao.
Sang dewa bumi segera melakukan sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti oleh Chen Kaibo dan kemudian langsung berkata "Sepertinya ditempat ini pernah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh para perampok kepada dua sosok pria yang berbeda usia."
"Sepertinya mereka membawa tubuh pria yang lebih tua itu ke arah utara, sedangkan tubuh pemuda itu mereka hanya meninggalkannya."
"Apakah kau bisa mengetahui dimana mereka membawa pria tua itu?" Tanya Xue Zhao lagi.
"Aku akan mencobanya." Jawab Sang dewa bumi.
Setelah terdiam beberapa saat akhirnya dewa bumi itu pun kembali berkata "Mereka membawanya ke salah satu hutan yang berada di dekat kota Chengqu sebelum kota Yuci... disana terdapat markas para perampok itu." Tutur dewa bumi memberitahukan.
"Baik...terima kasih atas bantuannya." Balas Xue Zhao.
__ADS_1
"Apakah sudah tidak ada lagi yang akan ditanyakan?" Tanya dewa bumi.
"Sudah cukup...silahkan pergi...sekali lagi mohon maaf karena saya sudah mengganggu pekerjaanmu." Ucap Xue Zhao.
Bumi yang mereka pijak pun kembali bergetar diikuti sosok pria sepuh yang awalnya berdiri di hadapan kedua pemuda itu segera menghilang.
Karena merasa penasaran, akhirnya Chen Kaibo pun melontarkan pertanyaan kepada Xue Zhao "Tuan muda Xue Zhao...siapa sosok yang baru saja kau panggil itu? Sepertinya dia memiliki kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh siapapun."
"Dia hanyalah sosok yang memiliki kemampuan untuk bisa mengidentifikasi setiap kejadian yang terjadi meskipun itu sudah terjadi beberapa waktu yang lalu." Jawab Xue Zhao sekenanya saja.
"Ayo kita pergi ke kota Chengqu..." Ajak Xue Zhao.
Chen Kaibo pun menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Xue Zhao.
Sedetik kemudian keduanya pun langsung menghilang dari tempat itu dan langsung berada di jalanan umum diluar kota Chengqu.
"Tuan muda Xue Zhao, aku sangat mengagumi teknik perpindahan dari tempat satu ketempat yang lain milikmu ini...apakah aku boleh untuk mempelajarinya?" Tanya Chen Kaibo.
"Bisa...tetapi jika itu jika kau sudah menerobos ke ranah saint...jika tidak, kau belum bisa untuk mempelajari teknik ini." Balas Xue Zhao.
Keduanya pun segera melesat terbang memasuki hutan yang berada di dekat kota Chengqu itu untuk mencari keberadaan markas para perampok.
Xue Zhao tidak ingin bertindak gegabah saat menyambangi markas para perampok itu, sebab hal tersebut bisa mendatangkan hal yang buruk bagi Xue Beng.
"Sepertinya ada yang mendiami hutan ini...itu ada asap yang mengepul...apakah itu markas para perampok yang dimaksudkan oleh pria sepuh tadi?" Tutur Chen Kaibo.
"Hmmmphhh...sepertinya itu memang adalah markas mereka...ayo kita pergi untuk memeriksa apakah ayahku berada ditempat itu." Balas Xue Zhao.
"Jangan bertindak sebelum aku memastikan jika ayahku benar berada di tempat itu." Lanjut Xue Zhao mengingatkan kepada Chen Kaibo.
"Baik tuan muda Xue Zhao." Balas Chen Kaibo.
Keduanya pun segera mendekati tempat dimana asap itu berasal.
Mereka berdua pun kini bisa melihat seperti sebuah perkampungan yang terpampang dihadapan mereka dan dijaga ketat oleh beberapa pendekar.
Xue Zhao pun segera menggunakan kekuatan jiwanya untuk mencari keberadaan Xue Beng jika pria tua itu ditahan di tempat itu.
Xue Zhao menemukan tempat yang terlihat seperti penjara namun ruangannya menuju ke arah bawah tanah.
Akhirnya kekuatan jiwanya menelisik tempat itu dan mulai melihat ada beberapa orang yang terlihat sudah tidak terurus dan tetkurung didalam tempat itu.
__ADS_1
Kekuatan jiwanya mulai mengidentifikasi setiap orang yang ditahan di tempat itu hingga akhirnya samar-samar bisa mengenali sosok pria yang dia cari.
"Sepertinya ayah pemuda pemilik tubuh ini benar ditangkap dan ditahan ditempat ini...aku akan menolongnya sebagai bayaran atas tubuhnya yang telah aku kuasai ini." Pikir roh dewa.
Akhirnya Xue Zhao membuka matanya dan berkata kepada Chen Kaibo "Aku telah menemukan tempat dimana ayahku ditahan, ayo kita pergi untuk menyelamatkannya."
"Baik..." Jawab singkat Chen Kaibo.
Keduanya pun segera melesat turun dan langsung disambut oleh para perampok sambil bersiap untuk menyerang.
"Siapa kalian? Berani-beraninya kalian datang kesini." Teriak seorang pria menyambut kedatangan keduanya.
"Dimana pemimpin kalian? Jika tidak, aku akan meratakan tempat ini dengan sekali serang saja." Tutur Xue Zhao.
Keduanya terus melangkahkan kakinya dengan tenang untuk memasuki markas para perampok itu tanpa terlihat takut sedikitpun.
"Panah mereka...!" Teriak pria yang menyambut keduanya.
Puluhan anak panah langsung melesat kearah mereka berdua namun langsung disambut dengan lambaian tangan Xue Zhao dan segera membalikkan anak panah itu kepada setiap orang yang melepaskannya.
Tubuh puluhan anggota perampok yang melepaskan anak panah kearah keduanya kini menjadi korban dari panah milik mereka sendiri.
Melihat lawan mereka begitu mudahnya mengatasi serangan puluhan anak panah dan menggunakannya untuk membunuh rekan mereka, membuat anggota perampok yang lain sangat ketakutan.
"Apakah mereka adalah seorang dewa? Mengapa mereka dengan mudah bisa menahan dan mengembalikan serangan kita?"
"Ayo kita pergi untuk melaporkan hal ini kepada ketua."
Beberapa diantara mereka masih bersikap seperti akan menghalangi jalan kedua pemuda itu meskipun pikiran mereka telah dipenuhi dengan rasa takut.
Xue Zhao dan Chen Kaibo tetap melangkahkan kaki mereka berdua dengan tenang dan tanpa ada rasa gentar sedikitpun menuju ke tempat dimana Xue Beng ditahan.
Hingga saat mereka berdua tiba di depan pintu masuk ruangan bawah tanah yang mengurung Xue Beng, terdengar dari belakang, ada suara yang menghentikan langkah keduanya.
"Berhenti...! Siapa kalian yang telah berani membuat kekacauan di markas kami ini?" Teriak seorang pria bertubuh kekar dan memiliki jenggot yang tebal didampingi oleh puluhan pendekar yang lainnya.
"Ha...ha...ha...ha...ha...sepertinya ketua para perampok datang juga...senang bisa bertemu dengan mu...tetapi saat ini aku sedang tidak ingin diganggu." Tutur Xue Zhao menyambut kedatangan ketua perampok itu.
"Kau bersama anak buahmu tunggu disini, aku akan menyelesaikan urusan ku terlebih dahulu." Lanjutnya lagi.
"Chen Kaibo, temani mereka disini...jika mereka mau mencoba untuk mengganggu urusanku, bunuh saja mereka...tetapi kau harus meninggalkan para petinggi mereka...sebab aku masih ingin bermain-main dengan mereka." Tutup Xue Zhao dan melanjutkan langkah kakinya.
__ADS_1
~Bersambung~