
Mendengar jawaban Huaxianzi, pria yang berasal dari bangsa peri penguasa danau itu terdiam sesaat dan langsung tersenyum penuh arti.
"Mengapa anda tersenyum? Apakah aku sedang memberitahukan kepada kalian tentang sebuah lelucon?." Huaxianzi bertanya dengan heran.
"Ha...ha...ha...ha...ha...sebelumnya aku sangat percaya dengan apa yang telah kau sampaikan, tetapi setelah aku mendengar jawabanmu barusan, sepertinya ada yang salah dengan niat kalian menyampaikan hal ini kepada kami." Balas pria itu dengan tatapan curiga.
"Kenapa? Apa yang salah dengan jawabanku?." Tanya Huaxianzi.
"Hutan Ilusi berada di barat daya dari danau ini, tetapi kau menjawab akan pergi ke arah utara, bukankah itu terlalu mencurigakan bagiku?." Ucap pria itu sambil tersenyum sinis menatap Huaxianzi.
"Tuan, mohon maaf sebelumnya, memang aku berasal dari Hutan Ilusi...jika kami pergi ke arah barat daya, bukankah itu akan mengungkapkan sebenarnya dimana kami berada?." Balas Huaxianzi.
Senyum pria itu dalam sekejap berubah menjadi serius setelah mendengar penjelasan Huaxianzi.
"Sepertinya alasan yang dia katakan sangat masuk akal...apakah niat mereka benar-benar tulus kepada kami?." Pikir pria itu.
"Jika tuan mencurigai kami, aku harap tuan tidak akan menyesali jika musibah itu menimpa bangsa peri di danau ini." Ujar Huaxianzi.
"Ayo kita pergi...!" Lanjut Huaxianzi.
Langren segera melangkah berjalan untuk meninggalkan tempat itu dan diikuti oleh Gai Bian serta Yao Laohu.
"Tunggu! Apakah kalian bisa seenaknya datang dan pergi sesuka hati kalian di wilayah kekuasaan kami ini?." Tutur pria itu.
"Tuan, mohon maaf jika kami telah mengganggu ketenangan kalian, akan tetapi niat kami sangat tulus kepada kalian." Ucap Xue Yunlei.
"Dengan kata maafmu itu, apakah bisa untuk mengembalikan ketenangan kami saat ini? Benar-benar naif." Balas pria itu.
"Sepertinya peri ini ingin mencari gara-gara dengan kita...aku harus berusaha untuk menghindari pertikaian dengan mereka, jika tidak, sudah pasti Raja Iblis bisa menemukan kita disini." Pikir Xue Yunlei.
Pemuda itu kini sangat berhati-hati untuk mengambil setiap keputusan, sebab jika mereka salah melangkah, masalah yang mereka hadapi akan semakin bertambah.
Xue Yunlei telah mendapatkan pelajaran yang sangat berarti disaat dirinya dengan begitu percaya diri ingin menguji kekuatan yang dia miliki saat itu. Namun dia tidak menyangka jika lawan yang akan dia hadapi memiliki basis kultivasi yang jauh berada diatasnya.
Itulah yang membuat pemuda itu tidak ingin lagi bertindak gegabah dengan pria yang adalah bangsa peri penguasa danau tersebut.
__ADS_1
"Tuan...saat ini kami sedang menghadapi masalah yang sangat serius...awalnya kami hanya ingin terus melanjutkan perjalanan kami, namun karena dia merasa musuh yang mengejar kami akan mendatangkan masalah yang serius bagi kalian, sehingga ia berinisiatif untuk memberitahukan hal itu agar kalian bisa mencegahnya sebelum terjadi." Xue Yunlei kembali mencoba untuk menjelaskan.
"Hmmmmphh...mendengar dari nada bicaramu, aku merasa kau hanya ingin mengelabui kami agar mendapatkan pengasihan...sepertinya kau juga sangat berbakat dalam berakting." Balas peri itu tidak mau mempercayai apa yang disampaikan oleh Xue Yunlei.
"Tuan...kami hanya berniat baik kepada kalian, jadi tolong jangan mempersulit perjalanan kami jika kalian tidak ingin mendengarkan apa yang telah kami sampaikan." Xue Yunlei mulai terbuka menanggapi sikap peri itu.
"Apakah kau sedang mengancamku?." Tanya pria itu dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku tidak sedang mengancammu, tetapi aku hanya sedikit mengingatkan...kami akan melanjutkan perjalanan kami saat ini...anggap saja kami tidak pernah bertemu..." Ucap Xue Yunlei dengan hati yang sudah jengkel.
"Ayo kita pergi." Teriak pemuda itu.
Yao Laohu, Langren dan Gai Bian pun segera berlari untuk meninggalkan tempat itu dan bergerak menyusuri wilayah sekitar danau.
Tindakan Xue Yunlei semakin membuat peri itu merasa sangat geram kepada kelompok mereka sambil melepaskan kata-kata umpatan "Bajingan itu sepertinya tidak merasa takut kepada kita...apakah dia berpikir bisa bertindak sesuka hatinya di wilayah kekuasaan kami ini?."
"Sepertinya mereka terlihat sangat tulus." Ucap seorang wanita yang berdiri disampingnya.
"Apakah kau sedang berpihak kepada mereka?." Ucap pria itu menanggapi.
Awalnya wanita itu tidak ingin membantah setiap kata-kata yang diucapkan oleh pria disampingnya itu karena dirinya ingin menjaga reputasi mereka dihadapan kelompok Xue Yunlei agar tidak dianggap remeh, tetapi setelah kelompok Xue Yunlei telah pergi barulah wanita itu membantahnya.
Mereka berdua sama-sama adalah pemimpin pasukan peri wanita dan pasukan peri pria, sehingga kedudukan mereka berdua setara.
Itulah mengapa wanita itu berani angkat bicara untuk memberikan tanggapannya atas sikap yang ditunjukkan oleh kelompok Xue Yunlei.
"Siapa yang ingin memberi mereka pelajaran, ayo ikut denganku..." Ajak pria itu.
"Siapa yang ingin mendatangkan masalah bagi bangsa kita, mereka harus siap untuk menerima hukuman." Tutur wanita itu menimpali ajakan pria itu.
"Kau..." Pria itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya sambil menunjukkan jarinya kearah wanita disampingnya.
"Apa yang ingin kau katakan? Ayo katakan...aku ingin mendengarnya." Tantang wanita itu.
Pria itu hanya bisa mengibaskan tangannya menanggapi tantangan wanita itu.
__ADS_1
"Jika kalian tidak ingin menimbulkan masalah bagi bangsa kita, ayo ikut aku untuk melaporkan apa yang mereka sampaikan kepada raja." Ucap wanita itu.
Sebuah pusaran air nampak terlihat diatas permukaan danau itu sebelum beberapa sosok tersebut hilang kedalamnya.
Pria itu hanya bisa menggertakkan giginya karena menahan emosi.
"Jika bukan karena putri dari jenderal utama, pasti sudah kubungkam mulut wanita ****** ini." Pikir pria itu sambil menatap sinis kearah wanita yang dia maksudkan.
Mereka pun segera berjalan memasuki istana bangsa peri penguasa danau yang berada didalam dunia yang mereka ciptakan didasar danau tersebut.
"Hormat kepada Yang Mulia!" Ucap mereka serentak memberi hormat kepada sosok yang duduk diatas singgasana.
"Silahkan berdiri...ada urusan apa sehingga kalian datang menghadap?" Tanya sang raja.
Pria itu dengan cepat segera berkata "Yang Mulia, kami baru saja bertemu dengan orang-orang yang mencurigakan, akan tetapi komandan Nu Xiannu melarang ku untuk menghentikan mereka."
"Apakah benar seperti itu?" Tanya sosok yang adalah raja mereka sambil menatap ke arah Nu Xiannu.
"Tidak seperti itu Yang Mulia...menurutku mereka memiliki niat baik untuk menghindarkan kita dari masalah..."
"Apa katamu? Menghindarkan kita dari masalah? Mereka itulah yang membawakan masalah kepada kita." Pria itu memotong penjelasan Nu Xiannu.
"Diam..!!! Aku sedang bertanya kepada Xiannu, jadi kau jangan pernah memotong penjelasannya." Bentak sang raja.
"Ampun Yang Mulia..." Balas pria itu dan segera menundukkan kepalanya.
"Lanjutkan..." Ucap sang raja.
"Awalnya seorang pendekar muda tidak mau mengganggu ketenangan kami, namun karena salah satu diantara mereka adalah seorang peri yang berasal dari Hutan Ilusi, sehingga dia berpikir akan tidak baik jika kita mendapatkan masalah...untuk itu dia sengaja memanggil kami untuk menyampaikan hal itu agar kita bisa mengantisipasinya."
"Langsung saja ke pokok permasalahannya...aku tidak ingin terlalu berbelit-belit kau menjelaskan." Tutur sang raja.
"Mereka mendapatkan masalah dan sedang dikejar oleh para pendekar dewa yang dipimpin oleh seorang pendekar ranah saint serta memiliki teknik formasi pertempuran...peri itu memberitahukan jika mereka tanpa sengaja tiba di wilayah kita ini...dia juga mengungkapkan jika dirinya bisa merasakan keberadaan kita serta sang naga yang menjadi pelindung kita...itulah alasannya sehingga dia memberitahukan kepada kita." Tutup Nu Xiannu.
"Sepertinya masalah ini tidak sederhana, aku harus meminta pendapat para petinggi bangsa peri penguasa danau ini agar bisa memutuskan apa yang harus kita lakukan." Pikir sang raja peri.
__ADS_1
~Bersambung~