
"Shan Shan sudah tidur, aku pergi dulu."
Saat Liu Jili berjalan keluar dari kamar Xue Shan Shan, terlihat Pangeran Li Xian hanya memasang wajah datar.
Pangeran Li Xian memang cukup penasaran, tetapi dia tidak berniat mencari tahu apa yang Liu Jili dan Xue Shan Shan bicarakan hingga hampir tengah malam perbincangan di antara mereka berakhir.
Jadi, wajar saja jika saat ini Xue Shan Shan sudah tertidur.
Pangeran Li Xian membiarkan saja Liu Jili, dia sudah tidak memiliki urusan lagi dengan wanita itu karena kondisi Xue Shan Shan juga sudah membaik.
Pada saat bersamaan, Wei Shu datang dari luar dan berkata dengan datar. "Yang Mulia, ada perkembangan."
Pangeran Li Xian melirik Wei Shu, sebelum akhirnya mereka berjalan ke samping.
"Mereka adalah orang dari Organisasi Xing, tapi setelah hamba selidiki, orang yang menghasut mereka sudah mati. Kemudian, hamba kembali menyelidiki dan mendapatkan petunjuk bahwa orang itu adalah kakak dari pria yang digantung di Gunung Salju."
"Dia mau menutupi kebenaran, tapi malah ketahuan." Pangeran Li Xian tersenyum dingin, ekspresinya pun berubah menjadi masam.
Wei Shu mengerti maksud Pangeran Li Xian.
Organisasi Xing ini adalah organisasi yang secara khusus menerima uang untuk membunuh orang.
Seorang pengikut seperti kakak dari pria yang digantung di Gunung Salju tidak mungkin memiliki kemampuan yang begitu hebat, jadi dia pasti hanya korban saja.
"Kalau begitu, apa maksud Yang Mulia?"
"Hukum dia sesuai perbuatannya!" Pangeran Li Xian berbicara dengan tenang, sementara Wei Shu hanya mengangguk dengan patuh.
...
Saat fajar, Lu Qinwen dari Kediaman Bangsawan Di tiba-tiba merasakan dirinya tidak bisa bergerak. Tidak hanya itu, dia merasa mual dan pusing
Bahkan, Selir Ding yang ada di sampingnya sampai bergidik ngeri saat menyadari keanehan Lu Qinwen.
"Tuan, kenapa tubuhmu menggelap?" Selir Ding tampak panik.
Lu Qinwen terkejut, sebelum akhirnya Selir Ding berlari keluar untuk mencari tabib.
Tak lama kemudian, seorang tabib memeriksa Lu Qinwen dan menarik sebuah kesimpulan.
Lu Qinwen diracuni!
Seketika, Kediaman Bangsawan Di menjadi kacau dan tidak ada yang tahu bagaimana Lu Qinwen bisa diracuni.
Di antara mereka, Selir Ding adalah orang yang paling sial.
__ADS_1
"Dasar jalangg! Kamu yang sudah meracuni Tuan, kan?" Nyonya Kediaman Bangsawan Di, Nyonya Ling menampar Wajah Selir Ding dengan keras.
Selir Ding berlutut sambil memohon pengampunan. "Hamba difitnah, hamba tidak tahu apa-apa. Tuan masih baik-baik saja sebelum tidur tadi malam."
"Jadi, apa kau mau mengatakan bahwa Tuan diracuni saat dia tidur?!" Nyonya Ling bertanya dengan sinis, tatapannya tampak begitu kejam seperti seorang yang haus darah.
"Semalam kau makan dan tidur bersama Tuan, tapi kenapa kau baik-baik saja sementara Tuan jadi begini? Dasar wanita jalangg, berani-beraninya kau berbohong!"
Sejak awal, Nyonya Ling memang tidak menyukai Selir Ding yang berpenampilan menggoda dan selalu mengganggu, juga menempel pada Lu Qinwen.
Sekarang, dia akhirnya memiliki kesempatan untuk melampiaskan amarahnya.
Selir Ding benar-benar difitnah, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangis dan memohon pengampunan.
Entah sudah berapa banyak tabib yang datang dan memeriksa Lu Qinwen, tetapi mereka semua menggelengkan kepala, sama seperi yang dilakukan dan dikatakan oleh Tabib Lee.
"Racun ini sangat aneh hamba belum pernah melihat dan mengatasinya, jadi mohon Nyonya Ling memanggil tabib lain yang lebih hebat."
Mendengar hal itu, Nyonya Ling langsung menggenggam tangan Tabib Lee dengan erat. "Bagaimana ini? Apa tidak ada cara lain?"
Di sisi lain, pengawal pribadi Lu Qinwen merasa ada yang janggal dengan kejadian ini.
Dia menyadari racun ini dimiliki oleh Organisasi Xing.
Awalnya, orang yang diracuni akan merasa pusing dan lemas. Setelah racunnya menyebar ke seluruh tubuh, orang itu akan mati dan membusuk.
Entah kenapa, Cheng Peng tiba-tiba saja teringat kejadian saat dirinya mengutus seorang dari Organisasi Xing untuk membunuh Xue Shan Shan.
Jangan-jangan ....
Melihat Tabib Lee benar-benar tidak berdaya, Cheng Peng pun melangkah maju dan menatap Nyonya Ling. "Lapor kepada Nyonya Ling, hamba mendengar bahwa beberapa hari ini Yang Mulia Pangeran Li Xian sedang berada di Kota Gu bersama seorang gadis kecil. Dia adalah murid tabib hebat yang melegenda, Liu Jili. Mungkin, gadis itu bisa menyelamatkan Tuan Lu."
Saat mendengar hal itu, wajah Nyonya Ling berseri-seri dan langsung berkata, "Kalau begitu, kenapa kamu masih berdiri di sana? Cepat panggil gadis itu ke sini!"
"Tapi ...." Cheng Peng tampak ragu.
Semua pembunuh kemarin memang sudah mati, tetapi sulit untuk memastikan apakah Pangeran Li Xian menyadari hal itu.
Jika Pangeran Li Xian sudah mengetahui segalanya, bukankah sekarang mereka sudah masuk ke jebakannya?
Begitu memikirkan hal itu, Cheng Peng tiba-tiba merasakan hawa dingin di punggungnya.
Tiba-tiba, Cheng Peng mengerti kenapa Lu Qinwen bisa diracuni.
Mereka sudah masuk jebakan!
__ADS_1
"Cheng Peng, kenapa diam saja? Kamu mau mati, ya? Cepat panggil gadis itu ke sini!" Nyonya Ling melangkah maju, lalu mendorong Cheng Peng yang berdiri diam.
Karena tidak punya pilihan, Cheng Peng akhirnya pergi setelah menjawab iya pada Nyonya Ling.
Sementara itu, demam Xue Shan Shan sudah mereda, dia sangat lapar dan tidak bisa berpura-pura mati lagi.
Jadi, dia diam-diam mengganti pakaiannya dan turun dari ranjang.
Xue Shan Shan membuka sedikit pintu hanya untuk mengintip keluar, dia langsung keluar begitu memastikan tidak ada Pangeran Li Xian di luar.
Namun, di luar ada Lin Mei yang setia menjaga dan terbelalak kaget saat melihatnya. "Nona, kamu sudah sadar?"
"Ssssttttt, jangan bicara keras-keras." Xue Shan Shan bergegas menutup mulut Lin Mei. "Aku lapar sekali, cepat ambilkan sesuatu untuk kumakan."
"Makanan untukmu sudah disiapkan, aku akan pergi mengambilnya."
Selesai berbicara, Lin Mei langsung hilang ke dapur, sedangkan Xue Shan Shan hanya duduk menunggunya.
Tak lama kemudian, Xue Shan Shan mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia pun langsung berbicara tanpa menoleh. "Cepat berikan padaku, sekarang aku sangat kelaparan hingga rasanya aku sanggup makan seekor sapi."
"Apa?" Orang di belakang Xue Shan Shan mengeluarkan suara dingin yang terdengar terkejut.
Setelah mendengar suara itu, Xue Shan Shan segera menelungkupkan kepalanya di atas meja. "Kenapa kepalaku masih pusing? Tubuhku juga tidak bertenaga."
Pangeran Li Xian berjalan mendekat, dia mengulurkan tangan dan mengetuk kepala Xue Shan Shan saat melihat gadis itu tidak bergerak. "Jangan berpura-pura lagi!"
Xue Shan Shan cemberut, dia bergumam di dalam hati. 'Apa aktingku sangat buruk?'
Setelah memikirkannya kembali, Xue Shan Shan duduk tegak sambil tersenyum lebar pada Pangeran Li Xian. "Selamat pagi, Yang Mulia. Cuaca hari ini sangat bagus, mataharinya juga cukup cerah."
Pangeran Li Xian menatap badai salju di luar pintu.
Bersamaan dengan itu, Lin Mei kembali dengan semangkuk mi sup polos.
Ketika melihat Pangeran Li Xian juga ada di sana, dia berkata sambil tersenyum. "Nona, kamu harus berterima kasih Yang Mulia Pangeran Li Xian. Saat kamu pingsan kemarin malam, Yang Mulia Pangeran Li sangat mengkhawatirkanmu. Dia tidak hanya menjagamu, tapi juga memanggil Guru Liu."
"Benarkah?" Xue Shan Shan membelalakkan matanya seolah-olah tidak percaya dengan informasi yang disampaikan oleh Lin Mei.
Kemarin malam, dia memang seperti melihat gurunya, Liu Jili. Bahkan, dia juga merasa mereka berbicara banyak. Namun, dia pikir semua itu hanya mimpi karena dirinya tidak bisa mengingat dengan jelas apa saja yang dibicarakan dengan gurunya.
"Diam!" Pangeran Li Xian menatap dingin pada Lin Mei yang langsung menutup rapat-rapat mulutnya.
Pangeran Li Xian bukan ingin menyembunyikan kebenaran tentang kedatangan Liu Jili, tetapi dia hanya merasa tak nyaman karena rasa khawatir dan perhatiannya diperbincangkan.
Xue Shan Shan menatap Lin Mei dengan pandangan yang mengatakan, 'Kamu bercanda?'
__ADS_1
Saat ini, Xue Shan Shan suda bisa mempercayai ingatannya tentang Liu Jili, tetapi agak meragukan kata-kata Lin Mei yang mengatakan Pangeran Li Xian mengkhawatirkannya dan menjaganya.
Lin Mei mengangguk pada Xue Shan Shan, lalu berkata dengan tatapannya juga. 'Semua yang kukatakan benar. Kapan saya pernah membohongimu?'