
Setelah kondisi kesehatan Han Minxi sudah stabil, Xue Shan Shan dan Pangeran Li Xian pun meninggalkan Kediaman Bangsawan Agung dan kembali ke kediaman mereka.
Begitu tiba di kediaman, Pangeran Li Xian berjalan menghampiri Yan Shu dan Wei Shu yang sedang berbincang bersama Lin Mei.
"Sudah waktunya kita pergi," ucap Pangeran Li Xian pada kedua ajudannya.
"Baik, Yang Mulia."
Yan Shu dan Wei Shu langsung terlihat serius, mereka pun langsung mengikuti Pangeran Li Xian.
Ketika melihat mereka berjalan keluar, Xue Shan Shan menduga Pangeran Li Xian hendak membawa antek-anteknya pergi melihat tambang emas.
Seketika, Xue Shan Shan langsung merasa penasaran dan ingin ikut melihat tambang emas.
Namun, setelah berpikir bahwa meskipun dirinya pergi melihat pertambangan emas bersama Pangeran Li Xian, tambang emas tersebut tetap bukan miliknya, tetapi milik orang lain.
Jadi, untuk menghindari dirinya merasa iri setengah mati, Xue Shan Shan memilih untuk tidak pergi ke sana.
Sebelum benar-benar pergi, Pangeran Li Xian melirik Xue Shan Shan, dia gadis itu hanya duduk diam dia belajar Lin Mei.
Jadi, dia pun langsung berjalan keluar tanpa niat menawarkannya pergi bersama.
Ketika naik ke kereta kuda, Pangeran Li Xian melihat jubah merah tergeletak di atas tempat duduk.
"Wei Shu, berikan ini pada Xue Shan Shan," ucap Pangeran Li Xian sembari menyerahkan jubah itu.
"Baik." Wei Shu dengan patuh mengambil jubah merah itu dari tangan Pangeran Li Xian, sebelum akhirnya kembali masuk ke kediaman.
Setelah Wei Shu pergi, Lin Mei menatap bayang-bayangnya yang berjalan menjauh. "Setiap hari Yang Mulia Pangeran Li Xian bersikap misterius, entah ke mana dia pergi kali ini."
Setelah menyesap tehnya, Xue Shan Shan pun menjawab dengan tenang. "Seharusnya dia pergi ke pertambangan emas untuk memeriksa hasil tambang emasnya."
"Apa? Tambang emas? Yang Mulia Pangeran Li Xian punya tambang emas?" Reaksi Lin Mei sama seperti reaksi Xue Shan Shan sebelumnya, mengira dia salah dengar.
Xue Shan Shan mengangguk dengan serius. "Iya, dia bahkan punya dua tambang emas."
Setelah selesai berbicara, Xue Shan Shan melihat Lin Mei menatap ke arah luar seolah-olah sedang berteriak meminta Pangeran Li Xian mengajaknya pergi bersama.
Kemudian, Lin Mei menatap Xue Shan Shan dengan tatapan sedih. "Nona, kenapa kamu tidak mengikuti Yang Mulia Pangeran Li Xian? Bagaimana jika dia nanti digoda gadis lain?"
Di dalam hati, Lin Mei sangat berharap bisa melihat tambang emas, bahkan jika harus dijadikan penambang emas yang hanya dikasih makan dan tempat tinggal tanpa gaji, dia rela.
Tentu saja, Xue Shan Shan bisa membaca isi pikiran Lin Mei karena bagaimanapun, gadis pelayan itu adalah cerminan dirinya.
Dia memutar bola matanya dan mendengus sinis. "Cih, gadis mana yang berani mendekati raja neraka?"
Kemudian, Xue Shan Shan menarik tangan Lin Mei sembari menyeretnya berjalan keluar. "Ayo, ikut aku saja. Kemarin aku menghadiahkan banyak uang, aku akan membawamu bersenang-senang hari ini."
"Kamu menipu siapa lagi?" Lin Mei menatap Xue Shan Shan dengan tatapan menyelidik yang dipenuhi dengan rasa curiga.
Xue Shan Shan berhenti melangkah, dia menatap Lin Mei dengan tatapan tidak senang.
Memangnya, tampangku terlihat seperti seorang penipu?
"Hal ini tidak bisa dikatakan menipu, aku katakan padamu ...."
Pada akhirnya, Xue Shan Shan menelan kekesalannya dan dengan senang hati menceritakan pengalamannya mendapatkan uang pada Lin Mei.
Ketika Xue Shan Shan dan Lin Mei berjalan menjauh, tiba-tiba muncul beberapa orang pria.
Pimpinan orang-orang itu berkata dengan suara rendah. "Pangeran Li Xian sedang tidak ada dan gadis sialan itu hanya ditemani oleh seorang pelayan yang lemah. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk bertindak!"
Setelah sampai di jalan besar, Xue Shan Shan dan Lin Mei yang merasa kedinginan langsung mencari sebuah kedai teh untuk duduk di sana.
Di dalam kedai teh, setiap ruang elegan diberi penghangat. Begitu masuk, Xue Shan Shan bisa merasakan tubuhnya menghangat sehingga dia melepaskan mantelnya.
"Nona, mantelmu ini dibuat dengan sangat bagus," Lin Mei berbicara sambil menunjuk ke arah mantel Xue Shan Shan.
"Ini pemberian neneknya Yang Mulia," sahut Xue Shan Shan dengan bangga.
Lin Mei mengangkat alisnya. "Sepertinya, keluarga Yang Mulia Pangeran Li Xian sangat menyukaimu. Hanya saja, pemikiran Yang Mulia tidak bisa ditebak."
"Apa yang bisa ditebak? Hanya karena aku bisa menawari racunnya, jadi dia membiarkan aku berada di sisinya dan menjadi istrinya."
Selama ini, Xue Shan Shan berpikir pernikahan yang diajukan Pangeran Li Xian pada Kaisar hanyalah sebuah kesepakatan.
Dia tidak berani berpikir pria itu memiliki pemikiran lain terhadapnya.
Meski begitu, dia akan tetap berusaha membuat hubungan yang semula hanyalah sebuah kesepakatan menjadi serius.
"Aku merasa tidak seburuk yang kamu kira. Meski sikapnya datar, tapi Yang Mulia Pangeran Li Xian sangat menjagamu."
Meski Lin Mei biasanya menundukkan kepala saat berada di dekat Pangeran Li Xian, tetapi dia bisa menilai bahwa sang pangeran tidak jahat seperti yang dirumorkan.
__ADS_1
"Hmmmm, kemarin dia memang membantuku." Xue Shan Shan bercerita tentang dia menipu Lu Qinwen sebanyak lima ribu tael saat di Kediaman Bangsawan Agung.
Setelah mendengarnya, Lin Mei mengelus dada. "Aduh, aku tidak sanggup lagi. Apa kamu bodoh? Dia sudah punya tambang emas, tapi kamu masih memberikan uang padanya. Bahkan, sebanyak dua ribu teal, itu sudah bisa beli paviliun besar di ibukota. Nona, kenapa kamu tidak jadi Budha saja?"
Xue Shan Shan melirik Lin Mei.
Apakah ada pelayan yang lebih tidak sopan daripada Lin Mei?
Bisa-bisanya dia membodohi majikannya sendiri, bahkan menganjurkannya menjadi Budha.
Namun, dia tidak marah dan justru merasa sakit hati begitu mengingat uang dua ribu tealnya masuk ke saku Pangeran Li Xian. "Aku juga baru tahu setelah uangku diambil olehnya, bahkan aku tidak mengira dia akan menerima pemberianku."
Detik berikutnya, Xue Shan Shan memasang ekspresi cemberut. "Padahal, aku hanya berbasa-basi saja."
Tepat setelah Xue Shan Shan selesai bicara, pintu ruang elegan yang ditempatinya diketuk pelan.
Dua orang pelayan masuk dengan membawa teh dan camilan.
"Silahkan menikmati."
Setelah menyajikan teh dan camilan, salah satu pelayan membantu menuangkan tehnya.
Begitu aroma teh tercium, raut wajah Xue Shan Shan yang mengangkat gelas teh langsung berubah.
Dia menendang pelan kaki Lin Mei hingga membuat gadis pelayan itu terkejut.
Sebelumnya, Lin Mei memang sangat polos dan sedikit lambat dalam berpikir, serta bertindak.
Namun, dia cukup cepat belajar.
Jadi, setelah memperhatikan ekspresi Xue Shan Shan, Lin Mei langsung mengerti dan berlagak meminum teh itu.
Begitu teh itu dihabiskan, wajah kedua pelayan toko itu langsung berubah, lalu mereka pun menghunuskan pedang ke leher Xue Shan Shan dan Lin Mei.
"Ap—apa ... yang kalian lakukan?" Lin Mei tetap saja menjadi orang yang penakut.
"Nona, salahkan saja dirimu yang keluar bersama Xue Shan Shan. Sekarang, kami hanya bisa mengantarkan kalian ke alam baka!"
Kedua pelayan toko itu langsung melepaskan pakaian semaran mereka hingga menampakkan pakaian hitam seorang pembunuh.
Masing-masing dari mereka menahan pedang panjang yang berkilau di leher Xue Shan Shan dan Lin Mei.L dengan ekspresi garang.
Xue Shan Shan tidak menduga kedua orang yang menyamar itu datang untuk menyerangnya.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba sebuah nama muncul di benak Xue Shan Shan.
Dia tersenyum miring.
Oh, Lu Qinwen tidak ikhlas memberikan lima ribu teal padaku, ya?
Xue Shan Shan mengedikkan bahunya tak acuh sembari mencebikkan bibirnya saat bergumam di dalam hati. 'Baiklah, alasan untuk membunuhku kali ini bisa dimaklumi.'
Aku juga akan membunuh siapa pun orang yang menipu uangku seperti ini.
Lin Mei tetap dengan ekspresi ketakutan. "Kenapa kalian melibatkan aku? Kalau ada dendam, kalian cari saja dia. Aku tidak bersalah!"
Saat ini, Lin Mei bersikap seolah-olah dia bukanlah pelayan yang setia dan tidak rela mati demi Xue Shan Shan.
"Hehe ... Nona Kecil, kamu sudah melihat kami. Menurutmu, apa kami akan membiarkanmu pergi hidup-hidup? Sebaiknya, kamu mati saja!" Pembunuh itu berbicara dengan senyum dingin.
Setelah pembunuh itu selesai berbicara, Xue Shan Shan langsung memukul meja dengan keras.
Seketika, meja kayu merah di hadapannya langsung hancur.
Selanjutnya, dia dengan cepat merebut pedang dari tangan pembunuh, lalu menariknya ke belakang dan menahan tubuhnya ke dinding.
Kemudian, Xue Shan Shan membentaknya dengan marah. "Dasar bajingann, bisa-bisanya kalian menindas gadis lemah seperti kami. Jika memang hebat, kenapa kalian tidak melawan Yang Mulia Pangeran Li Xian saja?"
Pembunuh terlihat menyedihkan seperti anak ayam yang tertahan di dinding dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Di dalan hati, dia mencerna kembali kata-kata Xue Shan Shan yang menyebut dirinya gadis lemah.
Apakah mungkin seorang gadis lemah bisa mengintimidasi pria bertubuh besar sepertinya?
Lagipula, bukannya kedua gadis ini tidak punya kekuatan?
Siapa yang menyebarkan berita palsu ini?
Jangankan kekuatan fisik, bahkan kata-kata yang dia sebutkan tentang melawan Pangeran Li Xian saja sudah lebih kuat dari kekuatan apa pun yang ada di dunia.
"Baiklah, izinkan aku yang lemah ini membiarkan kalian merasakan rasanya menjadi orang lemah."
Begitu kata-katanya dilontarkan, Xue Shan Shan langsung mengerahkan tenaganya untuk memukul kepala pembunh itu.
__ADS_1
Dalam sekejap, pembunuh itu menjadi lemas, sebelum akhirnya mati.
Sementara itu, pembunuh lain yang masih menekan leher Lin Mei dengan pedang panjang menjadi sangat ketakutan karena melihat kejadian ini.
Kemudian, baru bereaksi setelah beberapa saat. "Kenapa kalian tidak keracunan?"
Xue Shan Shan hanya tersenyum miring, dia tidak mungkin berbaik hati memberitahu bahwa dirinya dan Lin Mei diam-diam sempat meminum penawar racun yang mereka bawa ke mana-mana.
"Kamu ... jangan mendekat. Jika kamu mendekat, akan kubunuh dia!" Pembunuh itu tiba-tiba gemetaran saat melihat Xue Shan Shan semakin mendekat.
Sebagai seorang pembunuh, ini pertama kalinya dia merasa datang untuk mengantarkan nyawa, bukannya membunuh.
"Bunuh saja, jangan sungkan. Aku tidak butuh seorang yang tidak setia." Xue Shan Shan menggerakkan dagunya memberi isyarat pada pengguna untuk cepat.
Mendengar kata-kata dan melihat ekspresi Xue Shan Shan, Lin Mei semakin ketakutan seolah-olah merasa majikannya benar-benar tidak memperdulikan hidup dan matinya.
'Nona, aku bukannya tidak setia.' Lin Mei menatap sedih pada Xue Shan Shan. 'Aku hanya mengikutimu bersandiwara.'
Karena kejadian sebelumnya di gunung salju, Xue Shan Shan mengajarkan Lin Mei sebuah taktik agar bersikap tak acuh padanya ketika situasi bahaya datang.
Jadi, kali ini Lin Mei benar-benar mengikuti saran Xue Shan Shan.
Namun, tidak disangka dirinya malah akan diantarkan ke pintu neraka oleh majikannya sendiri.
"Nona ...." Lin Mei sudah menangis dan memohon. "Ampuni aku, aku mengaku salah. Tolong selamatkan aku ...."
Pembunuh itu mengabaikan raungan Lin Mei, dia berkata, "Kalau begitu, aku akan membunuhnya ...."
Begitu selesai berbicara, pembunuh itu langsung mengayunkan pedangnya dengan kuat.
Uhm?
Kenapa tidak bergerak lagi?
Saat menundukkan kepalanya, dia melihat Lin Mei sudah berdiri di belakang Xue Shan Shan yang sedang menahan pedangnya dengan sebelah tangan.
Begitu Xue Shan Shan mengerahkan tenaganya, seiring dengan suara patahan yang jelas, pedang di tangan pria itu sudah terbagi dua.
"Mereka bahkan belum tahu keadaan lawan, tapi sudah meminta kalian datang untuk membunuhku. Kalian ini gabungan organisasi apa? Bukankah ini sama saja dengan menipu kalian?" Xue Shan Shan mengangkat alisnya dan berbicara dengan sinis.
Pembunuh yang masih hidup itu merasa putus asa.
Saat dia ingin meniupkan peluit untuk meminta bantuan, Xue Shan Shan sudah lebih dulu mengeluarkan jarum perak dan melemparkannya ke arah pria itu.
Salah hitungan detik, pembunuh itu kehilangan nyawanya.
Di luar ruangan, beberapa orang yang merupakan kelompok kedua pembunuh itu sedang menunggu dengan gelisah.
Mereka memikirkan berbagai kemungkinan yang menyebabkan kedua rekannya tidak kunjung keluar, padahal hanya menghadapi dua gadis lemah.
Pada akhirnya, sekelompok orang itu menerobos masuk ke ruangan dan terkejut melihat rekan mereka sudah terkapar.
Melihat jarum perak tertancap di kepala anak buahnya, seorang pria yang merupakan pemimpin geng langsung bergetar ketakutan. Dia pun segera membuat keputusan dadakan. "Bubar! Sekte Xiangyue, mereka adalah Sekte Xianyue! Bubar semuanya!"
Detik berikutnya, semua orang juga bergetar ketakutan dan ikut berlarian keluar dari ruangan hanya untuk menyelamatkan nyawa masing-masing.
Xue Shan Shan tidak berniat mengejar, dia hanya melihat mereka semua dengan tatapan dingin sedingin udara yang berhembus hingga membuat hati mereka ikut terasa dingin.
"Sungguh tidak berperasaan, mati pun tidak ada yang mengurus jasad mereka." Lin Mei mengeluh sembari menatap dua mayat di hadapannya dengan tatapan iba.
Xue Shan Shan juga terdiam.
Dunia sudah dipenuhi kekacauan.
Jika seseorang sudah menaruh perhatian padanya, maka kejadian hari ini pasti tidak akan hanya terjadi sekali saja.
Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Li Xian sebelumnya, dia harus terbiasa.
Saat ini, Lin Mei mendekati Xue Shan Shan yang masih termenung. Dia pun berbicara dengan ekspresi cemberut, bahkan hampir menangis. "Nona, saya pikir kamu akan membiarkanku mati di tangan mereka."
Mendengar itu, Xue Shan Shan tersenyum tipis. "Mana mungkin aku membiarkanmu mati sia-sia."
Bagaimanapun, dia sudah berjanji dan bertekad di dalam hati untuk melindungi Lin Mei, gadis pelayan yang paling setia baik di kehidupan lalu, maupun kehidupan sekarang.
"Shhhhh ...." Saat hendak beranjak pergi, Xue Shan Shan tiba-tiba merasa tangannya perih.
Saat mengangkat tangan, dia baru menyadari ternyata tangannya terluka.
Pasti tidak sengaja terluka saat memegang pedang.
"Nona, tanganmu ...."
"Ayo, kita pulang dulu."
__ADS_1