
Ketika Pangeran Li Xian mendengar kata-kata Yan Shu, tangannya yang membalik buku pun berhenti sejenak. Dia melirik Yan Shu dengan muram saat berkata, "Apa aku terlihat santai?"
Seketika, mulut Yan Shu terasa tersumpal hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Yan Shu, kalah ya kalah, itu bukan hal yan memalukan. Belum lagi, kalah dan menang adalah hal yang biasa dalam urusan militer." Lin Mei dengan baik hati menghibur Yan Shu.
"Siapa yang baru saja cemas dengan kekalahannya dan mencari bantuan?" Yan Shu mencibir sambil menggertakkan giginya dan menatap tak senang pada Lin Mei.
Mendengar itu, Lin Mei langsung tidak senang. "Kamu tidak akan pernah menyerah, kan? Baik, ayo lomba saja keahlianmu."
"Kamu mengajaknya berlomba sesuai keahliannya, bagaimana kalau dia mengajakmu bertarung? Apa kamu sanggup melawannya?" Xue Shan Shan menatap Lin Mei dengan sinis, lalu mengangkat sebelah alisnya saat kembali bertanya, "Kamu tidak mungkin menyuruhku bertarung dengannya, kan?"
Lin Mei tertawa canggung sambil menjawab, "Hehehe, aku memang tidak bisa melawannya dan berencana memintamu menggantikanku."
"Kalau kamu berani mengajak orang lain bertarung, maka kamu saja yang bertarung, jangan suruh aku. Aku lelah dan ingin tidur."
Seketika, Lin Mei memasang ekspresi cemberut. "Yan Shu, kita sudahi saja permainannya dan pergi dari sini. Jangan ganggu Putri dan Yang Mulia lagi."
Detik berikutnya, Lin Mei sudah menarik Yan Shu keluar dari kereta kuda.
Begitu Yan Shu dan Lin Mei pergi, kereta kuda Pangeran Li Xian kembali sunyi dengan keheningan yang aneh sebelumnya.
Karena takut Pangeran Li Xian memikirkan apa yang membuat kecanggungan di antara mereka beberapa saat lalu, Xue Shan Shan pun mengangkat topik pembicaraan. "Yang Mulia, buku apa yang sedang kamu baca? Boleh pinjamkan untukku?"
Xue Shan Shan menyadari bahwa semenjak dirinya naik ke kereta, Pangeran Li Xian sudah disibukkan dengan buku bacaannya.
Bahkan, beberapa kali juga dia melihat Pangeran Li Xian membaca buku ketika dirinya pergi ke Istana Wanshou.
"Apa kamu yakin mau melihatnya?" Pangeran Li Xian mendongak dan melirik Xue Shan Shan dengan penuh arti.
Xue Shan Shan mengangguk dan berkata, "Sebenarnya, sebagai seorang Putri Sah Kediaman Xue, aku tidak begitu peduli dengan apa pun. Namun, aku tidak boleh mempermalukan Kediaman Perdana Menteri sehingga aku biasanya membaca beberapa buku untuk meningkatkan kualitas sastraku."
Ketika kata-kata itu diucapkan, buku di tangan Pangeran Li Xian sudah berpindah pada Xue Shan Shan.
"Terima kasih, Yang Mulia." Xue Shan Shan tersenyum pada Pangeran Li Xian, tetapi senyumannya langsung sirna begitu melihat untaian padat karakter klasik di buku.
Apa yang ditulis di buku ini?
"Aku kebetulan agak bingung dengan isi buku ini, bagaimana kalau kamu menjelaskannya padaku?" Pangeran Li Xian bercanda.
Seketika, Xue Shan Shan menyesali keputusannya untuk memulai pembicaraan dengan Pangeran Li Xian mengenai buku yang dia baca
Itu hanya mempermalukan dirinya sendiri!
__ADS_1
Isi buku ini sangat sulit untuk dibaca, apalagi dijelaskan. Selain itu, ketika huruf-huruf digabungkan, dia sama sekali tidak bisa mengenali mereka semua . Rasanya, telinga juga tiba-tiba menjadi tuli.
Meski demikian, dia masih tetap membaca beberapa kata dengan cermat.
"Hahaha, makanya jangan sok hebat!" Suara Grenie yang mencemooh, membuat Xue Shan Shan kehilangan fokus.
Walaupun dicemooh, Xue Shan Shan masih bisa merasakan kebahagiaan.
Di dalam hati dia bergumam, "Hahaha, aku memang tidak bisa, tapi bukankah Grenie bisa?"
Dalam sekejap, Xue Shan Shan menggunakan pikirannya untuk berbicara dengan Grenie. "Grenie, aku tahu kamu adalah si imut yang tahu astronomi dan geografi, jadi majikan kecilmu ini sangat membutuhkan bantuanmu."
"50 poin akan dikurangi hanya untuk menerjemahkan satu kalimat. Aku juga mengingatkan kamu bahwa kamu hanya memiliki 550 poin."
Di dalam hati, Xue Shan Shan memarahi Grenie sebagai penipu.
Pada akhirnya, Xue Shan Shan memutuskan untuk menerjemahkan tiga kalimat saja.
Di bawah pengawasan Pangeran Li Xian, Xue Shan Shan memasang ekspresi sombong sambil menunjuk satu kalimat.
"Dalam pemahaman pribadiku, aku pikir yang tertulis di dalam kalimat ini bahwa sejak seorang dilahirkan, semuanya telah diatur takdir. Termasuk hina atau mulianya seseorang, itu juga sudah ditentukan takdir."
"Ting Ting, koin berkurang 50." Suara Grenie yang memberitahukan berkurannya poin miliknya, membuat Xue Shan Shan sakit hati.
Dia melirik Pangeran Li Xian yang duduk dengan wajah muram, tidak tahu emosi apa yang ada di dalam diri pria itu.
"Lanjutkan."
Xue Shan Shan kembali meminta Grenie untuk menerjemahkan kalimat lainnya dengan hati yang berdenyut nyeri.
Mengumpulkan satu poin saja dia harus menahan dinginnya salju, tetapi kenapa untuk menghabiskan 50 poin begitu mudah?
"Hina atau pun mulia adalah takdir. Bahkan, jika kamu adalah seorang yang berpenyakit kronis atau kurang cerdas, jika kamu ditakdirkan untuk menjadi mulia, maka kamu pasti akan hidup mulia. Sebaliknya, jika kamu ditakdirkan untuk menjadi orang hina, usaha sebesar apa pun juga akan sia-sia ...."
"Ih, puih! Teori macam apa yang ditulis buku ini?"
Saat menjelaskan, Xue Shan Shan merasa ada yang salah.
Teori sesat apa ini?
Menyerahkan semuanya pada takdir, jadi untuk apa orang-orang berusaha?
"Apa menurutmu teori ini salah?" Mata hitam pekat milik Pangeran Li Xian menatap penuh pada Xue Shan Shan.
__ADS_1
"Meski takdir bisa dibantah, bukankah juga ada kalimat lain? Takdirku tergantung pada diriku, bukan pada langit! Buku ini hanya cocok dibaca oleh orang kaya yang santai, jika dibaca oleh orang miskin, dunia ini akan kacau."
Jika orang-orang miskin berhati lemah yang membacanya, mereka akan mengambil tali untuk gantung diri.
Apa gunanya hidup?!
"Siapa yang menulis buku ini? Jangan membacanya Yang Mulia. Buku ini sangat menyesatkan, bukan?" Xue Shan Shan mengomel sembari menatap Pangeran Li Xian.
Bibir tipis Pangeran Li Xian terbuka sedikit. "Oh, ayahku yang menulisnya."
Dalam hitungan detik, Xue Shan Shan sudah membeku.
'Apa aku masih sempat menelan racun untuk menjadi bisu?'
Xue Shan Shan mengangkat kepalanya, menatap Pangeran Li Xian dengan mata bulatnya seperti seekor kelinci yang masuk jebakan pemburu. "Yang Mulia, anggap saja aku tidak mengatakan kata-kata sampah itu tadi."
Kemudian, Xue Shan Shan berpura-pura menguap. "Aku pasti salah bicara karena mengantuk. Kalau begitu, aku tidur dulu, kamu lanjutkan saja membacanya, Yang Mulia."
Detik berikutnya, buku itu kembali berpindah tangan kepada pemiliknya yang tengah tersenyum tipis. Saking tipisnya, senyuman Pangeran Li Xian hampir tidak terlihat.
Dasar penakut!
Pada saat bersamaan, di Istana Matahari, Kaisar Li Zhuang yang terobsesi dengan buku tengah duduk di meja kerjanya sambil bersin beberapa kali dengan anggun.
Ketika mendengar suara bersin Kaisar Li Zhuang, Kasim Han yang senantiasa berdiri di sebelah, segera mengenakan jubah pada pria agung itu. "Kaisar, tolong jaga tubuhmu."
"Haha ... satu buku lagi selesai. Han Xi, coba kamu lihat, bagaimana isi buku ini?" Kaisar menyerahkan buku yang batu ditulisnya kepada Kasim Han seolah sedang menyerahkan harta karun.
Kasim Han melirik sekilas dan mendapati huruf-huruf yang digabungkan dari sana ke sini.
Sebagai kasim dengan pendidikan tertinggi di Istana, Kasim Han tercengang karena tidak bisa mengerti sepatah kata pun.
"Karya yang bagus, hamba sangat terkesan dengan bakat Anda, Yang Mulia."
"Baguslah, saat tintanya kering, kamu suruh pelayan untuk mengantarkan buku ini pada Pangeran Kedua. Minta dia ceritakan kesan buku ini ketika bertemu denganku nanti."
"Hamba menerima perintah."
Kembali ke kereta kuda Pangeran Li Xian, Xue Shan Shan tampak sudah membaringkan dirinya. Akan tetapi, gadis itu jelas menunjukkan ketidaknyamanannya hingga menarik perhatian sang pangeran.
Saat ini, Xue Shan Shan memang mengantuk, tetapi tempatnya berbaring tidak memberikannya kenyamanan.
Seolah bisa membaca pikiran Xue Shan Shan, Pangeran Li Xian bergeser sedikit dan langsung meletakkan kepala Xue Shan Shan ke atas pahanya.
__ADS_1
Tentu saja, Xue Shan Shan terkejut dengan tindakan Pangeran Li Xian hingga menatap pria itu dengan tercengang. "Yang Mulia—"
"Tidurlah."