
Bukankah itu hanya sutra berumbai yang berbentuk bulat seperti bola?
Setelah sadar, barulah Gu Lingling menyadari yang dia pegang adalah sutra berumbai yang berbentuk seperti bola.
Sialan, dia sangat terkejut karena mengira yang dipegang adalah kepala orang.
Segera, Gu Lingling menatap Putri Amber dengan rasa bersalah. "Maaf, Tuan Putri Amber, saya sudah bersikap tidak sopan. Harap Tuan Putri memaafkan saya."
Putri Amber tersenyum. "Tidak apa-apa, inilah bagian yang paling menyenangkan dari permainan ini."
Ibu Pelayan Wu juga ikut berkompetisi. "Nona Gu memang beruntung mendapatkan bola berumbai yang dilengkapi dengan dua permata bernilai seratus teal."
"Terima kasih, Tuan Putri Amber." Gu Lingling kembali ke tempat duduknya dengan senang sambil memegang dan memainkan bola berumbai tersebut.
Saat duduk di tempatnya, Gu Lingling menatap Xue Shan Shan dan bertanya, "Nona Xue, bagaimana penampilanku tadi?"
Xue Shan Shan hanya menjawab seadanya. "Cukup bagus "
Meskipun reaksi dan tanggapan Xue Shan Shan biasa saja, Gu Lingling tetap tersenyum senang.
Dengan Gu Lingling sebagai contoh, nona bangsawan lainnya pun mulai tertarik untuk maju ke depan.
Xu Miaohua berhasil mendapatkan giliran kedua, dia pun memilih kotak nomor satu tanpa ragu.
Dia pikir, kotak nomor satu tidak akan terdapat kesialan karena hari itu adalah hari ulang tahun Putri Pertama.
Kenyataannya, tebakan Xu Miaohua memang benar.
Dia mendapatkan seuntai manik-manik batu koral yang senilai enam ratus teal.
Melihat Xu Miaohua mendapatkan ratusan teal secara cuma-cuma, Xue Shan Shan yang mata duitan mengeluh di dalam hatinya. 'Cantik sekali, aku juga menginginkannya.'
Sementara itu, Selir Agung Mei yang berada di sebelah Xue Shan Shan tentu saja memperhatikan ekspresi sang calon menantu dan berusaha mengingat hal ini di dalam hatinya.
'Aku harus meminta bocah tengik itu memberikan seuntai manik koral untuk istrinya.'
Kemarin, Selir Agung Mei segera menggelengkan kepalanya. 'Tidak! Tidak hanya seuntai, tapi satu keranjang dengan model yang berbeda-beda.'
Setelah Xu Miaohua, kini giliran Guo Yangyang.
Tanpa pikir panjang, dia langsung memilih kotak nomor dua karena melihat Xu Miaohua dan Gu Lingling yang mendapatkan keberuntungan.
Lagipula, Pangeran Li Xian adalah Pangeran Kedua, maka angka dua pasti akan memberikannya keberuntungan.
Melihat Guo Yangyang memilih nomor dua, ekspresi Putri Amber menunjukkan sedikit rasa jijik, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya.
Setelah memasukkan tangannya ke dalam, Guo Yangyang meraba-raba untuk beberapa saat. Akan tetapi, yang didapatkan hanyalah selembar kertas.
Guo Yangyang mengerutkan keningnya dan membaca dengan keras kata-kata yang tertulis di kertas tersebut. "Menggonggong sebanyak tiga kali!"
Dalam sekejap, suara tawa terdengar bergema di telinga Guo Yangyang hingga membuat wajahnya memerah.
Ekspresi Selir Agung Mei juga berubah, dia tahu alasan Guo Yangyang memilih nomor dua.
Namun, dia tidak mempermasalahkannya.
Bagaimanapun, dia tidak bisa mengatur dan menghentikan hati seseorang untuk menyukai putranya yang menawan.
Hanya saja, isi di dalam kotak tersebut membuatnya tersenyum sinis pada Putri Amber.
Sangat kekanak-kanakan!
Seketika, Xue Shan Shan memahami teori di dalam permainan ini.
Dia pun menyadari ada dendam terpendam antara Putri Amber dan Pangeran Kedua.
Namun, Guo Yangyang ini benar-benar tulus pada Pangeran Kedua.
Sebelumnya, dia mencoba menyebarkan desas-desus tentang Xue Shan Shan. Sekarang, dia justru memilih angka enam.
__ADS_1
Xue Shan Shan tidak tahu ketulusan seperti ini dapat meluluhkan hati Pangeran Kedua atau tidak.
Saat melihat Guo Yangyang hanya berdiri dalam diam, Ibu Pelayan Wu mendesaknya. "Nona Guo, kamu harus mengaku kekalahan. Silahkan."
Guo Yangyang menggigit bibirnya, merasa dirinya benar-benar sial. Padahal, yang dia pilih adalah nomor kesukaannya.
Jika dia melaksanakan hukuman sesuai yang tertera di kertas, bukankah ini akan mempermalukan Kediaman Sekretariat Agung?
Mengingat Kediaman Sekretariat Agung, Guo Yangyang menatap Selir Agung Mei yang merupakan putri sah kakeknya.
Tentu saja, Guo Yangyang mengharapkan bantuan dari Selir Agung Mei.
Namun, dia diabaikan.
Jadi, dia tidak punya pilihan selain menggonggong sebanyak tiga kali sesuai yang tertera pada kertas.
Lagipula, Putri Amber juga menatapnya dengan tatapan yang tidak memberikan toleransi atau keringanan.
Mana mungkin dia bisa mengelak!
Setelah selesai menggonggong, suara tawa sekali lagi bergemuruh.
Bahkan, para dayang juga tidak bisa menahan tawa mereka.
Guo Yangyang merasa sangat malu, dia pun hanya bisa menundukkan kepalanya setelah kembali ke tempat duduknya.
Pada saat ini, hukuman Guo Yangyang membuat nona bangsawan yang sebelumnya ingin mencoba menjadi ragu-ragu.
Bersamaan dengan itu, Putri Amber juga menatap ke arah Xue Shan Shan. "Apa Nona Besar Xue tidak berniat bermain?"
Xue Shan Shan langsung mendongak dan menatap Putri Amber begitu namanya disebut tiba-tiba, dia juga sudah tidak bisa mengelak lagi.
Hanya saja, dia merasa seolah-olah ada jebakan yang sedang menunggunya.
Setelah apa yang terjadi, Xue Shan Shan dapat menyimpulkan bahwa Putri Amber sangat sensitif dengan sesuatu yang berhubungan dengan Pangeran Kedua.
"Apa Nona Besar Xue merasa takut?" Putri Amber bertanya dengan nada meremehkan yang menanyakan.
Meski demikian, Xue Shan Shan tidak bisa menahan diri.
"Kalau begitu, biarkan saya mencobanya."
Setelah tersenyum pada Selir Agung Mei, Xue Shan Shan berdiri dan berjalan dengan santai menuju deretan kotak-kotak itu.
Sekarang, tiga angka sudah terpilih dan hanya tersisa tujuh yang bisa dia pilih.
Setelah terdiam dan berpikir sejenak, akhirnya Xue Shan Shan memilih nomor sepuluh karena tidak ada pangeran atau putri ke sepuluh yang bisa dihubung-hubungkan dengan perasaan pribadi.
Karena Xue Shan Shan sudah memilih angka, Putri Amber melirik Ibu Pelayan Wu yang juga membalas lirikannya.
Tanpa menghiraukan tatapan yang dipenuhi makna Antara Putri Amber dan Ibu Pelayan Wu, Xue Shan Shan mengulurkan tangannya ke dalam kotak nomor sepuluh.
Melihat Xue Shan Shan, Selir Agung Mei tidak bisa tidak merasa cemas.
Entah kenapa, dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Terlebih, saat melihat ekspresi Xue Shan Shan menegang.
Xue Shan Shan menatap Putri Amber setelah menyentuh benda di dalam kotak, dia berbicara dengan nada yang aneh. "Tuan Putri Amber sangat perhatian."
Seketika, Putri Amber langsung mengernyitkan keningnya.
Apa yang terjadi?
Selir Agung Mei dan nona bangsawan yang ada di sana juga ikut menjulurkan kepala, mereka semua ingin tahu apa yang Xue Shan Shan dapatkan.
Namun, mereka malah mendapati tangan Xue Shan Shan yang berada di dalam kotak sama sekali tidak bergerak.
Xu Miaohua yang melihat kejadian itu segera berkomentar sambil tertawa. "Apa mungkin tangan Nona Besar Xue tersangkut? Hukuman ini benar-benar menyenangkan!"
__ADS_1
Setelah paranormal bangsawan yang berada di sekitar mendengar perkataannya Xu Miaohua, mereka benar-benar mengira tangan Xue Shan Shan memang tersangkut dan tidak bisa dikeluarkan hingga mereka tertawa keras.
Selir Agung Mei tentu saja tidak senang, dia membungkam semua orang hanya dengan tatapan tajam dan aura dingin yang bahkan bisa membekukan siapa dan apa pun juga.
Xue Shan Shan tersenyum miring, dia mengayunkan tangannya yang ada di dalam kotak untuk mengeluarkan makhluk hidup yang bertubuh ramping dan panjang.
"Ahhhhh!!!"
"Ular! Kenapa ada ular?"
Ketika mereka semua melihat Xue Shan Shan mengeluarkan seekor ular yang masih bergerak-gerak di tangannya, semua nona bangsawan langsung berteriak ketakutan.
Bahkan, mereka semua refleks mundur ke belakang.
Bagaimana tidak?
Saat ini, Xue Shan Shan memegang seekor ular sepanjang satu meter tepat di jantungnya. Tubuh dan ekor ular itu meronta-ronta seperti bisa lepas dan akan menyerang kapan saja.
Ular itu sangat ganas!
"Nona Xue ... kamu ...." Fu Qingyue sangat ketakutan sehingga dia tidak bisa berkata-kata hingga tubuhnya gemetaran.
Ular adalah hewan yang paling Fu Qingyue takuti di dunia.
Dia benar-benar tidak menyangka Xue Shan Shan berani menangkap ular dengan tangan kosong.
Belum lagi, ular itu sangat panjang dan besar!
Fu Qingyue merasa dirinya akan pingsan saat itu juga.
"Tuan Putri Amber pasti sudah menghabiskan banyak biaya untuk mendatangkan ular kobra yang sangat bermanfaat untuk dijadikan obat ini." Xue Shan Shan berbicara sambil mengayunkan ular di tangannya yang dikenal juga dengan sebutan raja kobra.
Itu adalah jenis ular yang bisanya paling berbahaya di dunia!
Kelihatannya, Putri Amber hari ini berniat membunuh Xue Shan Shan.
Jika bukan karena gelang giok hijaunya mendeteksi dan menekan bahaya yang ada di dalam kotak, Xue Shan Shan pasti akan mati sebelum dirinya bisa menyentuh ular tersebut.
Putri Amber tentu saja sangat terkejut, dia menatap Xue Shan Shan dengan ekspresi tak percaya.
"Ada apa dengan gadis ini? Bisa-bisanya dia memegang ular berbisa dengan santai begitu." Putri Amber yang terkejut hanya bisa membatin di dalam hatinya.
Brak!
Gebrakan meja yang dilakukan oleh Selir Agung Mei dengan keras, menyadarkan semua orang dari keterkejutan.
Selir Agung Mei berdiri dan memelototi Putri Amber. "Apa maksud Tuan Putri melakukan hal ini? Ingin membunuh seseorang?"
Selir Agung Mei mengeraskan rahangnya.
Sudahlah berniat membunuh, Putri Amber bahkan menetap menantu kesayangannya sebagai target.
Bagaimana dia bisa diam saja?
Di sisi lain, Permaisuri Xuan juga terkejut dan tak percaya dengan apa yang tengah terjadi.
Permainan Xuan menatap Putri Amber dan bertanya dengan lembut, tetapi nada suaranya mengandung aura dingin. "Amber, ada apa ini?"
Meski sangat mencintai putra dan putrinya, dia tidak bisa mengabaikan moralitas.
Terlebih, ini menyangkut sebuah nyawa!
"Ibu, Ibu Mei, kalian jangan salah paham." Putri Amber dengan gugup menatap Permaisuri Xuan dan Selir Agung Mei secara bergantian. "Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada ular di kotak itu."
Detik berikutnya, dia menatap Ibu Pelayan Wu. "Siapa yang sudah menyiapkan kotak-kotak itu?"
Mengerti kode dari tatapan Putri Amber, Ibu Pelayan Wu pun paham. Dia segera berlutut untuk memohon ampun. "Permaisuri Xuan, Selir Agung Mei, Tuan Putri, maafkan kelalaian hamba. Kotak-kotak itu disediakan oleh dayang-dayang lain "
Xue Shan Shan memutar bola matanya, dia sudah terlalu malas melihat orang-orang yang bersandiwara dan saling melemparkan kesalahan pada orang lain.
__ADS_1
Dengan masih memegang ular di tangannya, Xue Shan Shan berjalan menghampiri Selir Agung Mei sambil berkata, "Ibu, ayo kita pergi. Empedu ular ini sangat bernutrisi, kita bawa pulang saja agar bisa dimasak dan dijadikan obat untuk menutrisi tubuh Pangeran Kedua."