Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Tidak Pernah Melihat Dunia Luar


__ADS_3

Xue Shan Shan berpikir di dalam hati. 'Aku ceroboh lagi!'


Penjepit arang ditukar dengan poin dari Grenie, sekarang tentu saja sudah dikembalikan ke ruang waktu.


"Oh, pagi hari ini aku membawanya sekalian ketika melewati dapur penginapan, tidak disangka akan sangat berguna. Saat bertarung tadi, aku tidak sengaja membuangnya." Xue Shan Shan sebisa mungkin mengarang alasan yang agak masuk akal.


"Shan Shan, setelah pulang nanti, bisakah kamu mengajariku seni bela diri? Aku ingin belajar juga." Fu Qingyue bertanya dengan sungguh, dia ingin belajar lebih banyak hal untuk memantapkan diri dengan Pangeran Keempat.


Di samping, Lei Zhen yang mendengar itu pun segera menimpali, "Nona Fu, kalau ingin belajar seni bela diri, datang saja ke aula seni bela diri milikku."


"Benarkah?" Fu Qingyue bertanya dengan tatapan berbinar.


"Tentu saja!" Lei Zhen mengangguk penuh keyakinan dan kepercayaan diri. "Barusan, apa kamu tidak melihat jurusku? Biarpun satu lawan lima, aku sama sekali tidak terengah-engah."


Lei Zhen juga semakin senang melihat kekaguman Fu Qingyue yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya, aku lihat. Setelah pulang, aku akan datang ke seni bela diri untuk mencarimu. Berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk itu?"


"Bagaimana mungkin aku menagih biaya darimu? Aku akan mengajarimu dengan gratis!"


"Baguslah!"


Melihat interaksi orang-orang di sekitarnya, tiba-tiba Babi Terbang Sakti ikut mengoceh. "Aku iri dengan kalian, aku juga ingin melihat dunia luar."


Sebagai binatang spiritual penjaga Gunung Wuxia, Babi Terbang Sakti sudah berada di sana sejak bayi.


Ia tidak pernah melihat dunia luar.


Xue Shan Shan langsung bersimpati pada Babi Terbang Sakti. "Memangnya, kamu tidak bisa memohon pada Ye ... Ketua Sekte Dugu untuk mengizinkanmu berjalan-jalan sebentar melihat dunia luar?"


"Aku pernah memohon, tapi laki-laki tua itu lebih keras kepala daripada keledai, orangnya kaku dan sangat disiplin. Dia menyuruhku untuk mengingat misiku sendiri dan Jangan memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan."


Xue Shan Shan menyentuh dagunya, yang dikatakan babi Sakti ini mungkin adalah Ketua Sekte Dugu yang sebelumnya.


Sekarang, yang ada di tubuh Ketua Sekte Dugu adalah Kakek Ye dari zaman modern, jadi tentu saja mereka memiliki karakter yang sangat berbeda.


Di luar dunia ilusi, Kakek Ye terus bersin. "Zaman sekarang, seekor babi pun pandai mengadu."


Saat rombongan itu sedang berjalan, Babi Terbang Sakti tiba-tiba berhenti.


Xue Shan Shan melihat ke depan sana yang terdapat lahan kosong besar dan di ujung sana ada sebatang pohon willow.


"Apa itu titik akhir?" Fu Qingyue tampak bersemangat.


"Betul," kata Babi Terbang Sakti mendengus.


Mendengar itu, Fu Qingyue segera berlari ke depan. Hanya saja, salah satu kakinya tiba-tiba tenggelam ke tanah saat dia baru saja berlari dua langkah .


Detik berikutnya, seluruh tubuhnya tenggelam dengan kecepatan yang sangat cepat.


Untungnya, Xue Shan Shan menariknya kembali tepat waktu.

__ADS_1


"Ini rawa," kata Xue Shan Shan dengan tenang.


Benar saja, mencapai titik akhir tidaklah mudah.


Dia melihat pohon willow di depannya, satu-satunya jalan di depannya ini tampak seperti rumput datar dan hijau, tetapi sebenarnya adalah rawa besar.


Jika lalai sedikit saja, maka akan mati tersedot di sini.


Terlebih lagi, area rawa sangat luas dan tidak mungkin untuk melewatinya dengan ilmu meringankan tubuh.


Ini sedikit merepotkan.


Pada saat ini, semua orang di belakang juga tiba satu demi satu.


Orang Sekte Qingquan telah menyerah di pagi hari, mereka sudah kembali ke dunia luar di Gunung Wuxia.


Barusan, Sekte Wanqian yang diserang oleh Ular Weling juga tidak punya pilihan selain menyerah.


Orang-orang ini melihat kelompok Xue Shan Shan berdiri di sana tanpa bergerak, mereka langsung mengerti bahwa ada masalah besar dengan lahan yang ada di depan sana.


Saat ini, Jing Fei melemparkan sarung pedangnya secara asal.


Dengan cepat, sarung pedang itu tenggelam ke tanah.


Semua orang juga mengerti bahwa itu adalah rawa, pantas saja Xue Shan Shan dan rombongannya berhenti.


Kalau tidak, mereka yang tidak tahu situasinya akan terus berjalan ke sana dan tersedot oleh rawa.


Selama mencapai titik akhir dan mematahkan ranting willow, dia bisa tinggal di Sekte Xingyun untuk kultivasi.


Pada saat itu, dia juga bisa berguru pada Liang Baiyao secara resmi, apa masih perlu takut pada Xue Shan Shan?


Tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan Qing Yuyao.


Bersamaan dengan itu, langit pun perlahan-lahan mulai gelap sehingga semakin sulit bagi mereka untuk mengambil tindakan.


Xue Shan Shan melirik orang-orang di sekitarnya, dia melompat turun dari Babi Terbang Sakti, lalu menemukan sudut dan duduk di sana. "Aku sangat lapar, aku harus makan sesuatu."


Setelah itu, dia mengeluarkan sebungkus biskuit terkompresi dengan rasa kenyang yang kuat dari satunya.


Dengan satu biskut itu, Xue Shan Shan benar-benar merasa kenyang seolah-olah dia sudah menghabiskan berbakul-bakul hidangan.


Hanya saja, Xue Shan Shan memang merasa kenyang, tetapi Xue Shan Shan sama sekali tidak merasa puas.


Bagaimanapun, dia harus benar-benar menyantap hidangan lengkap dimulai dari nasi, sup, daging dan kueh barulah bisa puas dan kenyang secara bersamaan.


Namun, saat ini sangat tidak memungkinkan untuk memuaskan dan mengenyangkan dirinya sendiri karena begitu banyak keterbatasan.


Lagipula, dia juga tidak bisa membuat orang-orang mencurigai dirinya hanya karena dia mengeluarkan begitu banyak makanan.


Jadi, dia hanya bisa makan apa yang ada di ruang waktu.

__ADS_1


Lei Zhen, Fu Qingyue, Minglang dan Qianning mengelilingi Xue Shan Shan.


Kelima orang itu duduk bersama, Xue Shan Shan dengan berat hati membagikan satu potong biskut untuk mereka masing-masing.


Setidaknya, dia tidak boleh membiarkan rekan-rekannya mati kelaparan.


Melihat Xue Shan Shan dan rombongannya makan, orang-orang di sekitar tiba-tiba merasa lapar.


Selain itu, langit sudah benar-benar gelap sehingga semakin sulit untuk melihat medan di depan.


Sepertinya, mereka harus menginap di sini untuk malam ini.


Hanya saja ....


Kecuali Xue Shan Shan, yang lainnya tidak membawa makanan.


Saat ini, mereka benar-benar merasa kelaparan dan panik begitu melihat Xue Shan Shan dan yang lainnya sudah kekenyalan setelah memakan satu buah biskut.


Di sisi lain, anggota Keluarga Kerajaan, terutama Putra Mahkota dan Pangeran Ketiga tidak menyangka bahwa sebagai pangeran yang bermartabat, mereka akan mengalami perasaan tertekan dan kelaparan.


Dia melihat dan menyadari bahwa ini adalah rintangan terakhir.


Selama bisa melewati rintangan ini, dia akan menjadi murid Ketua Sekte Dugu.


Semakin memikirkannya, Putra Mahkota semakin cemas, dia juga merasa tidak tenang.


Saat Putra Mahkota melihat ke samping, dia mendapati Xue Shan Shan dan yang lainnya sudah tertidur dengan bersandar di batang pohon seolah-olah tidak berniat menyeberangi rawa itu.


Kali ini, tampaknya Xue Shan Shan bahkan tidak memiliki kemampuan.


Pangeran Ketiga melambaikan tangannya pada Putra Mahkota, lalu berbicara dengan suara rendah. "Ke sini sebentar, ada yang ingin aku bicarakan."


Putra Mahkota melirik Pangeran Ketiga, lalu mengikutinya berjalan ke sudut.


"Sebenarnya, bukan tidak mungkin untuk menyeberangi rawa ini. Aku sudah memperkirakan jaraknya, selama kita mengorbankan 3 orang, maka kita akan bisa menyeberang." Pangeran Ketiga bicara sambil melirik jarak rawa.


Mendengar ini, Putra Mahkota tertegun sejenak, sebelum akhirnya dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Ketiga.


"Selama tiga orang dilempar ke sana, lalu kita segera menginjak punggung mereka, kita bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk melewati rawa itu," kata Pangeran Ketiga dengan ekspresi suram.


Mereka yang meraih prestasi besar seringkali tidak peduli dengan hal kecil, bahkan tidak apa-apa jika mengorbankan orang lain pada saat kritis.


"Namun, siapa yang harus kita korbankan? Tim Xue Shan lebih licik daripada yang lain, jadi tidak mungkin bisa mengincar mereka."


Kali ini, Putra Mahkota cukup tahu diri, meskipun dia sangat ingin melemparkan Xue Shan Shan.


Pangeran Ketiga tersenyum aneh dan memandangi Keluarga Qing. "Aku pikir, seseorang akan bersedia bekerja sama dengan kita."


Putra Mahkota mengikuti arah pandangan Pangeran Ketiga yang tengah menatap Qing Yuyao, senyum pun tiba-tiba meluap dari bibirnya.


Betul sekali, gadis bernama Qing Yuyao ini tampaknya memiliki dendam besar pada Xue Shan Shan.

__ADS_1


Jadi, dia pasti bertekad untuk memenangkan ujian ini.


__ADS_2