
Di Kedai Teh Ruyi, pendongeng berjalan keluar sambil membuka kipasnya dan berkata, "Hari ini, aku akan kembali bercerita tentang Tuan Xue."
"Akhirnya, dimulai juga."
"Benar, seharusnya di sana juga sudah memulai pengadilan."
"Belum, seseorang baru saja datang dari sana dan mengatakan bahwa sekeliling tempat itu sudah penuh. Untungnya, aku mendapat tempat kosong di sini."
"Dengar-dengar, sewaktu Xue Jinggou ditangkap, dia sedang berada di kamar selirnya. Wajahnya sangat pucat karena terkejut."
"Hahaha ...."
Saat ini, Xue Jinggou yang sudah bergetar seluruh tubuhnya tampak sedang berlutut di tanah sambil menatap Tuan Fu.
Ketika mendengarkan Tuan Fu menyebut satu demi satu kesalahan beserta semua bukti nyata lengkap dengan saksi, tubuh Xue Jinggou semakin bergetar tak terkendali.
Di dalam benaknya ada suara yang terus berteriak, 'Gawat! Gawat!'
Bammmm!!!
Kayu dibanting ke tanah dengan keras bersamaan dengan suara Tuan Fu yang penuh wibawa. "Xue Jinggou, apa lagi yang ingin kamu katakan?"
Xue Jinggou mengangkat kepalanya, menunjukkan wajah pucat dengan bibir berkerut berkali-kali.
Di sampingnya, sudah berdiri Minglang yang merupakan putra bungsu dari teman sekampungnya.
Minglang tampak penuh dendam, dia sama sekali tidak berniat melepas Xue Jinggou dengan alasan apa pun.
Bagaimanapun, dosa Xue Jinggou sudah benar-benar tidak termaafkan lagi.
Tidak masalah jika Xue Jinggou ingin menerima berkah dari ayah Minglang, tetapi tidak seharusnya dia menjebak sampai membunuh seluruh keluarga temannya hingga tidak berniat menyisakan satu nyawa pun demi menjaga rahasianya.
Dengan semua dosa Xue Jinggou, bahkan neraka saja sepertinya tidak sanggup menampungnya.
"Tolong, ampuni saya, Tuan."
Pada saat, Xue Jinggou mau tidak mau hanya bisa meminta ampun.
Dia sudah tidak bisa mengelak, apalagi membela diri.
Tuan Fu menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas, dia tahu bahwa Xue Jinggou memiliki niat untuk mengungkit jasa penyelamatan yang pernah pria itu lakukan untuknya beberapa waktu lalu.
Jika saja kesalahan Xue Jinggou tidak sampai merenggut nyawa ratusan orang, Tuan Fu mungkin saja masih bisa meringankan hukumannya.
Namun, kesalahan Xue Jinggou benar-benar tidak bisa ditolerir lagi.
__ADS_1
Jika tidak, maka Tuan Fu yang akan menjadi sasaran kemarahan rakyat karena tidak menegakkan keadilan untuk para korban.
Karena itu, Tuan Fu hanya bisa mengabaikan hutang budinya terhadap Xue Jinggou dan berjanji membalasnya di lain kesempatan.
Kali ini, dia harus bersikap tegas dan adil sebagai seorang walikota, bukan sebagai Fu Qingran yang berjasa pada Xue Jinggou.
Sementara itu, Yangtao dan Yura Chen yang berada di Kediaman Xue juga telah mendengar hasilnya.
Mereka dengan cepat membubarkan para pelayan Keluarga Xue, lalu duduk di aula.
Dalam sekejap, perasaan campur aduk bergejolak di hati masing-masing.
Pada saat ini, Sera datang mendekat sambil berkata "Nyonya Zhang, Selir Chen, ayo ikut denganku."
Yangtao dan Yura Chen beridir dengan patuh, lalu menyusul langkah Sera.
"Meski waktu interaksi kita singkat, aku tetap sangat senang. Setelah berpisah nanti, kita mungkin tidak akan bertemu lagi." Yura Chen berbicara sambil menghela napas berat. "Aku harap, kita semua baik-baik saja."
Yangtao hanya mengangguk sambil tersenyum, sebelum akhirnya naik ke kereta kuda yang berbeda dengan Yura Chen.
Setelah kereta kuda yang ditumpangi oleh Yura Chen dan Yangtao menjauh, Sera bersiul.
Dalam sekejap, api menelan Kediaman Xue.
Yangtak memandangi cahaya api di kejauhan itu dengan sudut bibir terangkat, dia pun mendengar samar-samar suara teriakan orang.
"Kebakaran!"
"Kebakaran!"
"Sepertinya, Tuhan pun marah pada mereka!"
"Tentu saja, orang-orang di Keluarga Xue melakukan begitu banyak hal jahat. Mereka pantas dibakar!"
Di antara kerumunan, Xue Shan Shan dan Pangeran Li Xian yang sudah berpenampilan santai dan tidak mencolok sedang menyaksikan lenyapnya Kediaman Xue.
Sebelumnya, mereka ingin pergi menghadap Kaisar. Akan tetapi, keduanya berbalik arah ketika mendengar apa yang terjadi pada Kediaman Xue.
Seperti kembali ke kehidupan sebelumnya, di mana dia menyaksikan kebakaran.
Hanya saja, kebakaran waktu itu terjadi pada Kediaman Perdana Menteri yang sudah menjadi lautan darah dengan ratusan orang tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.
"Xue Shan Shan." Pangeran Li Xian menggenggam tangan Xue Shan Shan dan menggoyangkannya sedikit hingga membuat gadis itu tersadar.
Xue Shan Shan berkedip, dia menatap Pangeran Li Xian sambil berkata, "Aku hanya merasa sedikit sayang."
__ADS_1
"Sayang apa?" Pangeran Li Xian menaikkan sedikit alisnya.
"Sayang sekali masih banyak barang bagus di dalam, tapi sudah terbakar habis." Xue Shan Shan menurunnya tatapannya, menyembunyikan kilatan senyum di matanya.
Kediaman Xue akhirnya hancur!
Xue Jinggou, Putra Mahkota, kalian tidak akan bisa menghindari takdir kematian dariku!
Tunggu saja pembalasanku!
***
Pangeran Li Xian dan Xue Shan Shan bersama-sama memasuki istana dan berjalan menuju aula besar tempat para Pangeran dan Putri belajar.
"Ada apa ini?" Xue Shan Shan memiliki firasat buruk.
Pangeran Li Xian sudah bisa menebak, dia menyentuh kepala Xue Shan Shan dengan simpati. "Mungkin, Kaisar ingin memintamu menunjukkan ... pengetahuanmu."
Mendengar itu, Xue Shan Shan hampir menangis.
Kaisar, bukankah Anda seharusnya membujuk Selir Agung alih-alih merepotkan aku?
Saat ini, Xue Shan Shan tentu saja tidak tahu bahwa Selir Agung Mei sudah berhasil ditaklukkan oleh Kaisar.
Karena itu, sang kaisar memiliki suasana hati yang baik untuk membuat orang lain menerima pengetahuan dari Xue Shan Shan.
Ketika tiba di aula tempat belajar, Xue Shan Shan terkejut menemukan ada banyak orang di sana.
Tidak hanya ada Kaisar, tetapi juga para pangeran dan putri yang tidak dikenalinya. Bahkan, Permaisuri Xuan dan Selir Agung Mei juga ada di sana.
Tentu saja, Kaisar ingin menyenangkan hati Selir Agung Mei dengan mengundang Xue Shan Shan dan membiarkannya memberikan pengetahuan untuk para pangeran juga putri.
"Pangeran Kedua, kamu sudah datang." Kaisar yang duduk di kursi utama menyapa Pangeran Li Xian, tetapi dia langsung mengabaikan putranya dan tersenyum saat melihat Xue Shan Shan.
Pertama-tama, Xue Shan Shan membungkuk pada Kaisar sebagaimana mestinya. Kemudian, dia menatap semua orang dengan bingung.
"Kaisar, Anda meminta hamba datang adalah untuk?"
"Oh, di seluruh dunia ini, sepertinya tidak ada yang lebih memahamiku selain kamu. Jadi, aku sengaja mengundang semua pangeran dan putri untuk kamu berikan pelajaran dan membiarkan mereka tahu kerisauanku." Kaisar menunjuk beberapa orang di bawahnya.
Orang-orang di bawahnya sangat kasihan, mereka semua adalah tokoh terkemuka dari Negara Yuzhou. Bahkan, Pangeran yang sudah berusia dewasa tidak hanya harus datang ke tempat belajar anak-anak, tetapi juga mendapatkan teguran dari ayah mereka.
Pada saat ini, Xue Shan Shan barulah merasakan penyesalanku yang sangat mendalam.
Dia menyesal karena sebelumnya terlalu memamerkan kemampuannya.
__ADS_1
Alhasil, dia mendapatkan masalah yang tidak terburu jumlahnya.