
Saat melihat ekspresi Xue Shan Shan yang tidak mempermasalahkan ular di tangannya, Selir Agung Mei memiliki perasaan campur aduk.
Jika gadis lain, Selir Agung Mei yakin bahwa mereka tidak hanya menjerit, tetapi juga pingsan saat menyentuh ular berbisa.
Bahkan, gadis-gadis yang hanya melihat ular di tangan Xue Shan Shan saja sudah menjerit dan bergerak mundur karena ketakutan.
Namun, Xue Shan Shan malah dengan santai memegang ular di tangannya seolah-olah hewan itu adalah mainan yang menggemaskan.
'Shan Shan, dalam situasi seperti ini pun kamu masih bisa memikirkan bocah tengik itu. Kamu benar-benar tulus mencintainya.' Selir Agung Mei membatin dengan perasaan sayang yang semakin mengembang untuk Xue Shan Shan.
Kemudian, semua orang melihat Xue Shan Shan merangkul Selir Agung Mei dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya dia gunakan untuk memegang ular kobra berbisa sambil berjalan keluar dari aula perjamuan.
Pemandangan itu benar-benar sangat menakutkan!
Setelah mereka naik ke kereta kuda, Xue Shan Shan menatap Selir Agung Mei sambil berkata, "Ibu, bagaimana kalau kita ke Istana Wanshou? Aku ingin segera memasak ular ini untuk dijadikan obat Pangeran Kedua."
Selir Agung Mei juga membalas tatapan Xue Shan Shan, dia benar-benar terharu akan kasih sayang dan perhatian Xue Shan Shan untuk putranya. "Baik."
Mulanya, Selir Agung Mei sedikit heran saat Xue Shan Shan ingin mengobati putranya karena tidak menduga gadis itu akan mengetahui penyakit yang diderita sang putra.
Bagaimanapun, Pangeran Kedua bukan tipe orang yang akan mengumbar perasaan, apalagi penyakitnya.
Bahkan, Selir Agung Mei yang merupakan ibu kandungnya saja bisa mengetahui penyakit Pangeran Kedua setelah dua tahun sang pangeran menderita dengan penyakitnya itu.
Namun, mengingat Xue Shan Shan dan Pangeran Kedua sebentar lagi akan menjadi pasangan suami-istri, Selir Agung Mei membuang jauh-jauh keraguannya.
Dia yakin, Xue Shan Shan pasti tidak akan mencelakai putranya.
Sebaliknya, sang putra pasti akan dirawat dengan baik oleh Xue Shan Shan.
Setelah terdiam beberapa saat, Selir Agung Mei sudah memerintahkan kusir membawa mereka ke Istana Wanshou.
Tidak lama kemudian, kereta kuda pun berhenti di depan pintu Kediaman Pangeran Kedua.
Ketika para pengawal yang berjaga di depan melihat kereta kuda Selir Agung Mei berhenti didepan gerbang, mereka semua berjalan maju hendak menyambutnya.
Namun, saat melihat Xue Shan Shan turun dengan membawa ular berbisa di tangannya, para pengawal yang pernah mendapat pelatihan khusus itu tiba-tiba terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Bahkan, mereka tidak bisa beraksi tepat waktu ketika melihat Selir Agung Mei menyusul turun.
"Yang Mulia ada di dalam?"
Suara Xue Shan Shan menyadarkan mereka. "Hormat pada Selir Agung Mei."
Setelah mendapatkan perintah dari Selir Agung Mei untuk berdiri tegap, salah satu dari mereka menatap Xue Shan Shan dan berkata, "A—ada ...."
"Kalau begitu, aku akan pergi menemuinya."
Selir Agung Mei hanya mengikuti di belakang sambil menatap Xue Shan Shan yang berjalan di depannya, lalu mengalihkan tatapannya pada Ibu Pelayan Chu. "Menurutmu, apakah menantuku terlalu berani?"
Ibu Pelayan Chu bergumam di dalam hatinya. 'Sepertinya, dia tidak hanya berani.'
Namun, Ibu Pelayan Chu berpikir dia tidak harus mengiyakan pertanyaan Selir Agung Mei. Jadi, dia menjawab, "Sepertinya, Putri Changning sangat tulus pada Pangeran Kedua. Meski harus mengambil resiko mempertaruhkan nyawanya, Putri Changning tetap ingin mengambil empedu ular untuk meneliti tubuh Pangeran Kedua."
"Benar!" Selir Agung Mei segera menimpali, "Xue Shan Shan memang sangat baik. Aku merasa bocah tengik itu sudah sangat diuntungkan karena mendapatkan gadis sebaik Shan Shan."
Ibu Pelayan Chu terdiam, tidak lagi menanggapi kata-kata Selir Agung Mei yang begitu menyanjung Xue Shan Shan.
Di sisi lain, Pangeran Li Xian sedang duduk sembari membaca buku kuno dan menikmati teh.
Saat itu, Wei Shu mendekati Pangean Li Xian dengan ekspresi aneh. "Pangeran, Putri Changning sudah datang."
"Hmmmm." Pangeran Li Xian hanya berdehem tanpa mendongak.
Dia tampak tak peduli, bahkan jika kedatangan Xue Shan Shan belum cukup satu minggu dari waktu yang mereka janjikan untuk pengobatan.
Lagipula, Xue Shan Shan sudah sering datang tanpa memperdulikan waktu dan tujuan yang jelas. Gadis itu bahkan bisa datang hanya untuk menumpang makan.
__ADS_1
Melihat Pangeran Li Xian diam saja, Wei Shu pun lanjut berkata, "Putri Changning juga membawa sesuatu."
Begitu mendengar kata-kata Wei Shu yang tersirat keraguan, Pangeran Li Xian mendongak.
Detik berikutnya, dia melihat sesuatu yang menggeliat di hadapannya hingga membuat ekspresinya berubah.
Xue Shan Shan melepaskan ular kobra di tangannya, lalu berkata sambil tersenyum cerah. "Pangeran, aku datang."
Pangeran Li Xian melirik Xue Shan Shan, lalu melihat ular yang berada di genggaman gadis itu. Kemudian, dia menutup buku kuno di tangannya sembari berkata dengan suara berat. "Apa yang ingin kamu lakukan? Ingin membuat atraksi?"
Xue Shan Shan mengerjapkan matanya dengan lugu, lalu mengayunkan ular di tangannya sembari berkata, "Tidak, hari ini aku menangkap seekor ular di Kediaman Putri Amber. Aku berencana membuatkan obatmu dengan menggunakan ular ini."
Pangeran Li Xian tertegun, sebelum akhirnya dia berkata dengan suara datar. "Ular itu berbisa."
"Aku tahu." Xue Shan Shan tersenyum semakin lebar. "Kamu tenang saja, aku akan menanganinya dan aku jamin, kamu tidak akan keracunan ...."
"Bukan itu maksudku." Pangeran Li Xian segera menyela.
Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa kesal. "Xue Shan Shan, lain kali jangan melakukan hal berbahaya seperti ini lagi!"
Eh?
Kali ini, malah Xue Shan Shan yang tertegun.
Pangeran Li Xian sedang mengkhawatirkan dirinya, kah?
Kelihatannya, Pangeran Li Xian tidak jahat dan masih memiliki hati nurani.
Setelah memuji Pangeran Li Xian dengan tulus, pria itu justru mengucapkan kata-kata lain yang membuat Xue Shan Shan seperti disiram air dingin.
"Kalau kamu mati, tidak ada lagi orang yang bisa menghilangkan racun di tubuhku."
Xue Shan Shan. "...."
Dia bergumam di dalam hati. 'Aku menarik kembali penilainku padanya tadi.'
Beruntung, Selir Agung Mei yang baru saja berjalan masuk dengan Ibu Pelayan Chu, tidak mendengar kata-kata Pangeran Li Xian.
Selir Agung Mei menatap Xue Shan Shan yang masih memegang ular, lalu berkata, "Aduh, Shan Shan, cepat tangani ular itu. Melihat kamu terus memegangnya sepanjang perjalanan dari Kediaman Putri Amber, Ibu benar-benar ketakutan sampai jantung Ibu rasanya hampir berhenti berdetak."
Begitu mendengar kata-kata Selir Agung Mei, Pangeran Li Xian mengerutkan alisnya sembari menatap Xue Shan Shan.
"Baiklah, aku akan mengatasi ular ini dulu."
Setelah selesai berbicara, Xue Shan Shan mengeluarkan kotak kecil dari lengan baju dan memberikannya pada Pangeran Li Xian sambil berkata, "Ini adalah Pil Kehidupan yang sebelumnya pernah aku berikan padamu. Makan dulu pil ini, aku akan kembali sebentar lagi."
Setelah Xue Shan Shan pergi, Pangeran Li Xian membuka kotak kecil itu dan melihat pil berwarna hitam di sana.
Karena sudah menderita penyakit cukup lama, Pangeran Li Xian sudah terbiasa dengan obat-obatan. . Namun, obat yang diberikan Xue Shan Shan memiliki aroma khas yang menenangkan dan setidaknya, ada puluhan campuran obat herbal di dalam pil itu.
Seperti sebelumnya, Pangeran Li Xian mengernyitkan keningnya saat rasa pahit dari pil hitam itu menyebar ke seluruh rongga mulutnya.
"Apa yang Shan Shan berikan padamu?" Selir Agung Mei bertanya dengan rasa ingin tahu, dia benar-benar tidak menaruh rasa curiga pada calon menantunya itu.
"Obat," jawab Pangeran Li Xian seadanya.
Selir Agung Mei terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku tidak menduga Shan Shan akan menjadi murid Liu Jili dan memahami ilmu pengobatan."
"Hmmmm." Pangeran Li Xian hanya berdehem dan mengangguk sebagai tanggapan.
Sebelumnya, Selir Agung Mei sudah tahu bahwa Liu Jili memiliki kemampuan dalam bidang pengobatan. Hanya saja, dia belum ingin berkonsultasi dengan Liu Jili yang merupakan tangan kanannya untuk mengatasi racun di tubuh Pangeran Li Xian.
Selir Agung Mei harus berhati-hati demi keselamatan putranya!
Lagipula, akhir-akhir ini juga ada beberapa orang yang diam-diam mengikuti dan mengawasi Liu Jili karena terlalu dekat dengannya.
Bagaimanapun, Liu Jili adalah satu-satunya orang di luar istana yang memiliki hubungan baik dengan Selir Agung Mei.
__ADS_1
Padahal, Selir Agung Mei terkenal sulit bergaul dengan orang lain.
Terlepas dari Xue Shan Shan adalah murid Liu Jili, Selir Agung Mei memiliki harapan di hatinya.
'Semoga Shan Shan adalah penyelamat yang akan mengubah nasib Xian'er.'
Bagi seorang ibu yang sudah melakukan berbagai cara untuk kesembuhan putranya, Selir Agung Mei tentu saja memiliki secercah harapan, meskipun dia hanya memiliki sedikit peluang.
Setelah cukup lama terdiam dengan pemikirannya sendiri, Selir Agung Mei menatap Pangeran Li Xian. "Hari ini, Shan Shan terus memikirkanmu. Ular sebesar itu dia tangkap dengan tangan kosong agar bisa menggunakan empedunya untuk menutrisi tubuhmu."
Ekspresi Pangeran Li Xian berubah, dia pun bertanya dengan dingin. "dari mana dia mendapatkan ular itu?"
Membahas masalah asal-usul ular itu, ekspresi Selir Agung Mei juga berubah masam. "Hari ini, Li Xuanji si putri ****** itu menyiapkan beberapa kotak yang telah ditaruh jebakan dan menggunakan alasan permainan untuk menjebak keluarga kita."
Meski hubungannya dengan Permaisuri Xuan sangat baik, Selir Agung Mei tidak bisa bersikap baik juga pada putra-putri sang permaisuri yang tidak tahu diri.
Mereka bisa saja terlahir dari rahim ibu negara, tetapi sama sekali tidak memiliki tata krama!
"Namun, tidak kusangka Shan Shan sangat berani." Selir Agung Mei memuji Shan Shan lagi. "Meski kita meminta pertanggungjawabannya hari ini, dia pasti sudah menyiapkan kambing hitam."
Mata indah Pangeran Li Xian perlahan menjadi semakin dingin, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu sembari mengetukkan jemarinya di tas meja.
"Tenang saja, Ibu pasti akan menuntut keadilan untuk Shan Shan." Selir Agung Mei sudah bertekad, dia tidak akan melepaskan Putri Amber begitu saja.
Kali ini, Putri Amber menyiapkan ular untuk Shan Shan, tidak tahu kelak apa lagi yang bisa dilakukan oleh jalanng itu.
"Oh, iya!" Selir Agung Mei sangat memahami sifat putranya, jadi dia berhenti membahas hal ini dan mengganti topik pembicaraan yang lebih santai.
"Shan Shan sangat menyukai manik-manik batu koral, jadi mintalah seseorang mencari batu koral dan berikan padanya sebagai hadiah. Bagaimanapun, dia sangat menyukaimu. Kamu tidak boleh membiarkan seorang gadis terus berinisiatif lebih dulu, kan?" Selir Agung Mei mengangkat alisnya sembari tersenyum tulus.
"Di rumahnya ada manik-manik batu koral juga." Pangeran Li Xian yang masih memikirkan masalah ular dari Kediaman Putri Amber, menjawab dengan santai.
Selir Agung Mei memutar bola matanya, dia tahu putranya pernah memberikan manik koral sebagai mahar. "Hadiah dan mahar adalah dua hal yang berbeda!"
'Bagaimana anak sialann ini bisa mendapatkan seorang istri?' Selir Agung Mei mengeluh tanpa daya di dalam hatinya.
"Baik, aku mengerti." Pangeran Li Xian menjawab dengan patuh, dia tidak ingin mendengarkan lebih banyak keluhan sang ibu.
Pada saat ini, kekesalan yang Pangeran Li Xian rasakan karena Xue Shan Shan memegang ular berbisa, sudah berkurang sedikit dan berganti dengan kesejukan yang menyeruak di dalam hatinya.
Seketika, Pangeran Li Xian merasa lebih santai.
Di dapur ....
Saat melihat Xue Shan Shan membawa seekor ular, semua orang terkejut dan refleks berdiri sejauh mungkin, sampai-sampai ada yang bersandar di dinding atau pun tiang.
Tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekat.
Xue Shan Shan melirik ular kobra di tangannya dengan ekspresi tak berdaya, lalu dia memegang kepala dan ekor ular dengan kedua tangan sambil berkata, "Sobat, maafkan aku."
Setelah selesai berbicara, Xue Shan Shan langsung menekan jantung ular kobra dengan kuat.
Raja kobra yang tadinya masih meronta-ronta, langsung diam tak berkutik.
Begitu membunuh raja kobra, Xue Shan Shan membersihkan tubuh ular dengan hati-hati, lalu mengeluarkan empedunya.
Tidak berselang lama, Xue Shan Shan datang dengan membawa semangkuk obat yang mengeluarkan uap putih dan meletakkannya di hadapan Pangeran Li Xian.
Saat itu, Selir Agung Mei sudah kembali ke Istana Bunga Persik untuk beristirahat, jadi hanya tinggal Pangeran Li Xian di sana.
Tentu saja, Selir Agung Mei sudah memberikan peringatan tegas pada Pangeran Li Xian untuk bersikap baik pada Xue Shan Shan.
Melihat obat yang mengepul di hadapannya, Pangeran Li Xian mengerutkan keningnya lagi.
"Minumlah, obat ini juga untuk detoksifikasi." Xue Shan Shan berbicara sambil menunjuk pada mangkuk obat yang berisi sup empedu ular.
Pangeran Li Xian masih tetap diam.
__ADS_1
Xue Shan Shan juga masih berdiri di tempat yang sama sembari terus mendesak Pangeran Li Xian. "Cepatlah minum. Setelah itu, aku akan melakukan akupuntur lagi pada tubuhmu."
Setelah terdiam sejenak, Xue Shan Shan kembali berkata, "Aku bisa mendetoksifikasi racun di tubuhmu, tapi itu membutuhkan waktu lama dan usaha keras. Jadi, kamu harus mengikuti metode pengobatanku."