Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Nasib Putri Amber


__ADS_3

Setelah tiba di Kediaman Perdana Menteri, Xue Shan Shan langsung memasuki kamarnya. Sebelum itu, dia berpesan kepada Lin Mei agar tidak mengganggu dirinya yang ingin beristirahat.


Bukannya istirahat seperti yang dikatakan, Xue Shan Shan malah mengikat rambutnya menjadi ekor kuda, lalu mencari pakaian hitam dari dalam lemari.


Setelah selesai, Xue Shan Shan melompat keluar dari Kediaman Perdana Menteri melalui jendela belakang.


Seperti biasa, Xue Shan Shan bisa saja menghindari semua pelayannya. Akan tetapi, dia tidak akan bisa menghindari Minglang yang sudah sangat hapal dengan tabiatnya.


Mengabaikannya Minglang yang terus mengikutinya, Xue Shan Shan pergi membeli sebuah topi hitam dan memakainya.


"Menyamarlah juga jika kamu ingin mengikutiku."


Tidak banyak yang Minglang katakan, dia hanya mengangguk setuju dan mengikuti arahan Xue Shan Shan untuk menyamar.


Bahkan, Minglang juga tidak berniat bertanya ke mana sang nona akan pergi, meski dia sendiri sangat penasaran.


Bagaimanapun, nanti juga dia akan tahu.


Setelah membantu Minglang menyamar dengan pakaian orang biasa, Xue Shan Shan membawanya pergi ke wilayah paling kacau di ibukota.


Pasar gelap, disebut juga sebagai pasar budak yang sudah ada sejak dahulu kala.


Tempat itu penuh dengan pertumpahan darah dan kekerasan.


Beberapa orang dijual karena jatuhnya keluarga mereka, beberapa lainnya diculik dan dijual ke sini.


Intinya, tempat itu adalah tempat untuk menemukan harta karun bagi Xue Shan Shan.


Sepanjang jalan berjalan hingga hutan gelap, Xue Shan Shan jelas merasa suhu udara di sekitarnya menjadi lebih rendah.


Dari atas kepalanya juga terdengar suara burung gagak, jelas sekali hutan ini sangat berbahaya dan menakutkan.


Beruntung, Minglang menemaninya. Jika tidak, dia mungkin akan merasa hutan ini jauh lebih menakutkan.


"Nona, untuk apa kamu ke tempat seperti ini?" Minglang tidak bisa menahan diri dari rasa penasarannya, dia juga bisa merasakannya apa yang Xue Shan Shan rasakan.


"Mencari harta Karun," sahut Xue Shan Shan apa adanya hingga membuat Minglang tercengang, tetapi pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi meski merasa sang nona agak aneh.


Harta Karun apa yang ada di hutan gelap seperti ini?


Minglang mengikuti langkah Xue Shan Shan, mereka memasuki hutan.


Setelah berjalan cukup lama, selain suara kaki yang menginjak daun kering, bahkan puntung rokok juga tidak terlihat.


Xue Shan Shan merasa terstimulasi sehingga mempercepat langkah kakinya.


Entah sudah berapa lama berjalan, Xue Shan Shan merasa dia telah meremehkan hutan itu.


Sekarang, dia berada di ambang di mana dirinya tidak bisa melihat ujung jalan di depan, juga tidak bisa melihat lagi jalan yang telah dia lewati sebelumnya.


Dia dan Minglang benar-benar dikelilingi hutan itu.


"Koak, koak ...."


Saat ini, dia atas kepalanya ada seekor burung gagak hitam besar yang menerjang ke atas Xue Shan Shan.


Tentu saja, Minglang langsung sigap melindungi sang nona.


Bersamaan dengan itu, Xue Shan Shan juga segera mengeluarkan cambuknya sambil mengumpulkan kekuatan di pergelangan tangannya.


Dalam sekejap, cambuk pendek berubah menjadi cambuk panjang seperti naga yang menari dan langsung menyerang ke arah gagak hitam itu.


Seketika, gagak hitam yang sedang lengah itu langsung terkapar di hadapan Xue Shan Shan.


"Makan apa kamu hingga bisa tumbuh sebesar dan segemuk ini?" Xue Shan Shan sedikit kehilangan kata-kata saat memandang gagak hitam itu, sedangkan Minglang justru terkejut dengan aksinya.


Dia tidak menyangka Xue Shan Shan bisa menguasai Cambuk Abadi itu hanya dalam waktu singkat.


Sungguh luar biasa!

__ADS_1


Namun, tindakan Xue Shan Shan sepertinya telah membuat gagak lain marah.


Tiba-tiba, kumpulan gagak hitam datang dan langsung menyerang Xue Shan Shan.


"Astaga, kenapa begitu banyak gagak? Kalian ini ingin aku sial terus, ya?" Xue Shan Shan dengan kesal mengayunkan cambuknya lagi.


"Nona, hati-hati!" Minglang segera membantu Xue Shan Shan.


Untuk kali ini, Cambuk Abadi yang memiliki aura dewa itu sepertinya bisa merasakan bahaya tuannya sehingga langsung menyapu ke arah kawanan gagak setelah dikibas dua kali oleh Xue Shan Shan.


Cambuk itu penuh dengan cahaya ungu muda dan ke mana pun cambuk itu melayang, langsung berubah menjadi angin kencang yang tak terhitung jumlahnya.


Bhammm!!!


Koak, koak ....


Cambuk Abadi itu berputar dan melindungi Xue Shan Shan di tengahnya sehingga Minglang tidak perlu mengeluarkan tenaga penuh untuk melawan mereka semua.


Ketika kawanan gagak yang terakhir kali menyerang, cahaya ungu muda langsung melebar menjadi ungu yang menawan.


Plak! Plak!


Gagak hitam itu satu per satu jatuh ke tanah dengan mengepakkan sayapnya beberapa kali, sebelum akhirnya tidak bergerak sama sekali.


Cahaya cambuk juga pelan-pelan menghilang, berubah menjadi cambuk sependek lengan.


Minglang tampak takjub, sementara Xue Shan Shan sangat gembira melihat cambuk di tangannya.


Benar-benar luar biasa!


Aku bahkan belum turun tangan, tapi cambuk ini sudah berhasil membereskan masalahku.


Seketika, Xue Shan Shan berpikir ketika bertemu dengan Pangeran Li Xian nanti, dia harus menci umnya!


Setelah membereskan kawanan gagak itu, Xue Shan Shan dengan diikuti oleh Minglang mempercepat langkah mereka.


Bersamaan dengan itu, Wei Shu mendapatkan laporan dari rekannya tentang Xue Shan Shan.


"Yang Mulia, Putri Changning pergi ke pasar budak."


Mendengar kabar itu, Pangeran Li Xian langsung mengibaskan lengan bajunya dan segera naik ke kereta kuda.


Perdana Menteri dan kedua putranya yang melihat Pangeran Li Xian tampak terburu-buru seperti itu, tentu saja merasa heran.


Hanya saja, mereka memilih tak acuh dan tidak ingin ikut campur dengan urusan sang pangeran.


Sementara itu, Xue Shan Shan akhirnya melewati hutan gak dan tiba di pasar budak yang bersejarah.


Begitu masuk, Xue Shan Shan dan Minglang bisa mencium aroma darah yang menyengat di udara, disertai dengan suara keras dan raungan yang menusuk hati.


Xue Shan Shan mengambil langkah masuk dan baru menyadari bahwa tempat itu jauh berbeda dari pemikirannya.


Ternyata, di sana tidak hanya ada kedai teh, restoran, balai seni bela diri, tetapi juga ada tempat judi dan rumah bordil.


Intinya, tempat ini terdapat apa pun yang ada di ibukota.


Hanya saja, di sini versi gelapnya.


Pada saat ini, di salah satu area di jalanan pasar budak, telah banyak orang yang berkumpul.


Xue Shan Shan dan Minglang mendekati kerumunan.


Di pintu balai seni bela diri terdapat arena bela diri, di sana ada seorang pria dan wanita yang sedang bertarung dengan sengit.


Sang pria terlihat kuat dan besar, sedangkan si wanita terlihat lemah lembut.


Hanya sekilas, perbedaan kekuatan sudah bisa dilihat.


Di atas arena, wanita itu dipukul sampai babak belur oleh sang pria. Wajahnya sudah berlumuran dengan darah sehingga penampilan aslinya tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Penonton yang sedang bersorak di bawah arena kebanyakan adalah laki-laki.


Pada saat ini, seorang yang terlihat seperti bos balai seni bela diri sedang berjongkok di sebelah wanita itu sambil berbicara dengan suara pelan. "Gadis kecil, kamu masih bisa berdiri, tidak? Jika kamu sudah tidak sanggup berdiri, nanti kami akan ke kandang singa."


"Roarrr!"


Seiringan dengan raungan singa yang sepertinya memahami katanya sang bos, Xue Shan Shan langsung melihat ke arah kandang singa di samping arena.


Ada singa putih yang sedang berjongkok di depan pintu, sementara di dalam sana terdapat beberapa potongan tubuh yang tidak habis dikoyak dan dimakan oleh sang singa.


Sepertinya, itu adalah potongan tubuh orang yang telah kalah sebelumnya.


Tina, Xue Shan Shan merasa tidak nyaman.


Benar-benar sangat kejam!


Namun, dia juga tiba-tiba terpikirkan Putri Amber.


Lihatlah, ikatan batinnya dengan Putri Amber begitu kuat.


Baru saja melihat beberapa kejadian mengerikan sejak memasuki pasar gelal, dia sudah teringat pada Putri Amber.


Kira-kira, bagaimana nasib wanita jahat itu jika aku membuangnya ke hutan gelap ini?


"Hehe, dia pasti tidak akan disia-siakan." Xue Shan Shan tiba-tiba saja tertawa dan bergumam hingga membuat Minglang yang setia berada di sisinya tampak kebingungan.


"Nona, ada apa?" Ingkang bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Bukan apa-apa, aku hanya berpikir ingin mengajak Putri Amber bersenang-senang di sini," sahut Xue Shan Shan tanpa beban dosa.


Tentu saja, Minglang tampak terkejut hingga dia menganga dengan ekspresi tak percaya.


Bersenang-senang apanya?


Jika Putri Amber benar-benar dibawa ke hutan gelap, dia bahkan belum tentu bisa selamat dari kawanan gagak sebelumnya.


Kalau pun selamat, masih banyak rintangan yang akan dilalui oleh Putri Amber. Terlebih, sang putri tidak memiliki kemampuan apa pun, selain berpikiran jahat.


Sementara Minglang tengah membayangkan nasib Putri Amber yang tidak akan lepas dari rencana 'baik' Xue Shan Shan, wanita di atas arena justru bangkit berdiri secara perlahan dengan mata yang menyiratkan pantang menyerah dan keras kepala.


Padahal, semua orang berpikir bahwa wanita itu akan dilemparkan ke kandang singa.


Melihat wanita itu, Xue Shan Shan merasa sedikit tidak tega. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukan apa pun.


Bagaimanapun, dia tidak tau asal-usul wanita itu, juga tidak tahu dengan jelas apakah wanita itu orang baik atau bukan.


Adakalanya, apa yang terlihat di depan mata bukanlah hal yang sebenarnya.


"Wanita itu lumayan hebat juga!" Minglang baru tersadar dan memuji wanita di atas arena dengan tulus.


Xue Shan Shan masih melihat ke atas sana, wanita yang terlihat lemah tadi sudah menyerang si pria kuat itu. Dia melompat dengan satu kaki lalu naik ke atas bahu sang pria.


Tidak peduli seberapa kuatnya pria itu berayun, dia tidak bisa menyingkirkan wanita itu.


Pada akhirnya, siku wanita itu menghantam kepala sang pria dengan kuat.


Bhammm!!!


Keduanya jatuh bersamaan, tetapi pria kuat itu sama sekali tidak bergerak lagi.


Pada akhirnya, kemenangan telah ditentukan.


Dengan mata kepalanya sendiri, Xue Shan Shan melihat pria itu dilemparkan ke kandang singa.


Sekali lagi, Xue Shan Shan teringat pada Putri Amber. Bahkan, membayangkan sang putrilah yang saat ini sedang dikoyak-koyak oleh singa putih itu.


Seketika, Xue Shan Shan juga teringat pada adiknya yang entah bagaimana jasadnya sekarang di kuburan massal.


Sayang sekali, ....

__ADS_1


Seharusnya, Yuwen dibuang ke kandang singa saja ... pasti dagingnya tidak akan terbuang sia-sia.


__ADS_2