Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Kamu Masih Hidup?


__ADS_3

Tidak peduli di mana dan butuh waktu berapa lama, dia ingin Liu Jili datang hanya untuk memeriksa keadaan Xue Shan Shan.


Bukan hanya memastikan racun dan luka saat ini tidak berbahaya, Pangeran Li Xian juga ingin Liu Jili menangkal racun yang sudah bersemayam belasan tahun di tubuh Xue Shan Shan.


Bagaimanapun, dia tahu bahwa hanya Liu Jili yang bisa mengobati Xue Shan Shan.


Yan Shu memutar bola matanya sambil bergumam di dalam hati. 'Masih bilang tidak khawatir? Masih tidak mengakuinya juga?'


Rasa pusing itu dirasakan Xue Shan Shan selama dua belas jam dan dia perlahan sadar saat tengah malam.


Ketika bangun, tubuhnya terasa sangat dingin dan dia juga menyadari bahwa dirinya sedang demam.


Xue Shan Shan memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Setelah segalanya melintas di kepalanya, Xue Shan Shan merutuk, "Sungguh memalukan!"


Dia bahkan mengaku sebagai tabib hebat, tidak disangka malah bermasalah dengan keahliannnya sendiri.


Bersamaan dengan itu, dia mendengar suara yang samar-samar ....


"Yang Mulia, Putri Changning sudah sadar. Hanya saja, sekarang tubuhnya masih lemah, perlu istirahat dua hari."


Mendengar suara yang tak asing, Xue Shan Shan langsung membuka lebar matanya.


Guru ....


"Ya." Pangeran Li Xian menanggapi dengan singkat, sebelum akhirnya bertanya, "Bagaimana dengan racun lamanya, apa bisa disembuhkan?"


"Pangeran, racun kali ini memang tidak memicu racun lama di tubuh Putri Changning, tapi juga harus segera diatasi. Hanya saja, saya masih membutuhkan beberapa bahan lagi untuk membuat penawar racunnya." Liu Jili yang ditemukan di gunung salju bagian Utara, menjelaskan dengan lembut dan serius.


Kemudian, dia dengan cepat menambahkan. "Namun, Pangeran tenang saja. Saya pasti tidak akan terlambat menyembuhkan Putri Changning."


Saat Pangeran Li Xian mengangguk, suara lemah Xue Shan Shan terdengar dari dalam kamar.


"Guru ...."


Tiba-tiba, Xue Shan Shan seperti melihat ada bayangan hitam di samping kasurnya.


Karena pandangannya masih kabur, bayangan orang itu langsung berubah menjadi tiga orang yang sedang memandanginya.


"Xue Shan Shan, kamu masih hidup?" Pangeran Li Xian mengarahkan pandangannya ke bawah untuk melihat Xue Shan Shan.

__ADS_1


Untuk sesaat, Xue Shan Shan seperti lupa pada sosok guru yang dia dengar suaranya beberapa menit lalu.


Dia melihat bayangan Pangeran Li Xian dalam cahaya lilin yang redup, bagaikan dewa yang turun dari langit.


Tanpa sadar, Xue Shan Shan berkata, "Kamu sangat tampan."


Pangeran Li Xian mendengus, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.


Sepertinya, gadis itu sudah tidak memilik masalah selain pada otaknya.


Saat Pangeran Li Xian merasa sedikit senang atas pujian Xue Shan Shan, gadis itu tiba-tiba berkata lagi. "Apa dewa kematian juga setampan dirimu?"


Detik berikutnya, Xue Shan Shan bisa dengan jelas mendengar suara gertakan gigi. "Xue Shan Shan, kamu ingin mati?"


Suara geraman itu membuat Xue Shan Shan sadar kembali, dia pun langsung teringat pada kata-kata yang baru saja dimuntahkannya.


Seketika, kepala Xue Shan Shan langsung terkulai lemah saat dia berpura-pura pingsan.


Apakah sekarang ada cara yang lebih berguna daripada berpura-pura mati?


Tidak ada!


Melihat Xue Shan Shan berpura-pura mati, Pangeran Li Xian yang semula marah pun jadi tertawa.


"Putri Changning, apa yang kamu rasakan saat ini?"


Beruntung, suara lembut dan penuh kasih Liu Jili segera menyadarkannya.


Saat itu, Xue Shan Shan baru sadar masih ada orang lain di sana.


Bahkan, dia juga baru teringat pada suara tak asing yang didengar sebelumnya.


Xue Shan Shan pun langsung menoleh dan mendapati Liu Jili, wanita yang selalu bersikap lemah lembut padanya sedang berdiri di hadapannya.


"Guru ...." Melihat Liu Jili berdiri di hadapannya tanpa kekurangan apa pun, Xue Shan Shan merasa bersyukur jauh di lubuk hatinya.


Dia juga tidak bisa menahan cairan bening untuk tidak berkumpul di pelupuk matanya karena rasa haru.


Sebelumnya, dia sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari tahu tentang Liu Jili dan keberadaannya.


Namun, tak satu pun dari orang-orang itu bisa memberikannya jawaban yang memuaskan.

__ADS_1


Tak disangka, wanita itu kini sudah berdiri di hadapannya.


Dia yakin, hanya Pangeran Li Xian satu-satunya orang yang bisa menemukan dan membawa Liu Jili ke hadapannya.


Tahu begitu, sejak awal dia pasti sudah meminta bantuan Pangeran Li Xian untuk menemukan Liu Jili.


Meski sedikit terlambat, Xue Shan Shan juga tidak masalah.


Setidaknya, Liu Jili masih hidup dan mereka bisa bertemu lagi.


Melihat ekspresi Xue Shan Shan yang sayu saat melihat Liu Jili, Pangeran Li Xian berpikir bahwa gadis itu sedang merindukan sang guru.


Bagaimanapun, mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Dia juga yakin bahwa ada banyak hal yang ingin Xue Shan Shan bahas bersama Liu Jili.


Terutama, tentang racun di tubuh Xue Shan Shan!


Karena itu, Pangeran Li Xian berniat memberikan ruang dan waktu untuk mereka berdua saling bernostalgia atau pun bertukar cerita.


"Xue Shan Shan, aku akan mengingat hutangmu kali ini, aku akan menagihnya nanti saat kamu sudah sembuh."


Setelah selesai berbicara, Pangeran Li Xian berbalik dan meninggalkan kamar Xue Shan Shan.


Setelah melihat Pangeran Li Xian hilang di balik pintu, Xue Shan Shan kembali menatap Liu Jili.


Memang banyak hal yang ingin Xue Shan Shan bicarakan dengan Liu Jili, tetapi dia tidak tahu harus memulai dari mana.


Jika diingat dan dipikirkan kembali, hal-hal yang Liu Jili lakukan di kehidupan sebelumnya seperti sebuah pengingat bagi Xue Shan Shan untuk apa yang terjadi di kemudian hari.


Di mulai dari tentang betapa biadapnya Xue Jingguo sampailah pada Gelang Giok Hijau pemberian Liu Jili, Xue Shan Shan merasa segalanya bukanlah sebuah kebetulan.


Namun, Xue Shan Shan tidak bisa begitu dengan pemikirannya sendiri karena tidak memiliki cukup bukti.


Jika memang benar Liu Jili bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan hingga memutuskan untuk memberikan Gelang Giok Hijau pada Xue Shan, bukankah itu artinya dia bukanlah manusia biasa?


Xue Shan Shan menggelengkan kepalanya, menyudahi pemikiran yang tidak ada habisnya.


Daripada terus berpikir dan menduga-duga, lebih baik langsung tanyakan saja kepada orang yang menanamkan benih keingintahuan di dalam hatinya.


"Guru, kamu ke mana saja?"


***

__ADS_1


Guys, maaf banget ya ini bukan update bab baru, tapi edit dari bab sebelumnya dipisah jd dua karena terlalu panjang. Terima kasih atas pengertiannya


__ADS_2