
Xue Yuwen kembali menundukkan kepalanya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berkata dengan air mata uang sudah membanjiri pipinya. "Semuanya sudah terjadi, memang saya yang terlalu ceroboh. Demi menebus kesalahan ini dan menutupi rasa malu, izinkan saya mati saja."
Setelah bicara, Xue Yuwen ingin menabrakkan dirinya ke dinding.
Melihat pertunjukan itu, Xue Shan Shan hampir saja berseru kagum.
Ternyata, kemampuan bersandiwara seseorang memang harus dipancing terlebih dahulu.
Sebelum Xue Yuwen menabrakkan dirinya ke dinding, Xue Shan Shan dengan baik hati mencoba menghentikannya. "Adik, jangan bertindak gegabah. Ini bukan salahmu, kamu hanyalah korban. Lagipula, kamu mati, bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah?"
Mendengar itu, Selir Agung Mei pun tersenyum sinis dan mendengus. "Huh, jangan coba-coba berpikir untuk mati demi lari dari masalah hari ini karena mulai detik ini juga, hidup dan matimu hanya bisa ditentukan olehku!"
Kata-katanya yang diucapkan Selir Agung Mei dengan ekspresi tak bersahabat dan aura membunuh, membuat suasana di sana menjadi sangat hening seperti di kuburan.
Jangankan bersuara, semua orang bahkan tidak berani bernafas karena khawatir akan menjadi sasaran kemarahan Selir Agung Mei.
Bersamaan dengan itu, Xue Yuwen yang menjadi tersangka utama juga tidak tahu harus melakukan apa selain hanya berdiam diri.
Dia benar-benar belum siap mati, apalagi mati di tangan Selir Agung Mei.
Detik berikutnya, Selir Agung Mei melirik Ibu Pelayan Chu yang setia berdiri di sisinya. "Tutup acara perjamuan hari ini dan minta semua orang pergi!"
Saat melihat Xue Shan Shan yang ingin beranjak pergi, Selir Agung Mei segera berkata, "Shan Shan, kamu tetap di sini."
"Baik, Ibu," sahut Xue Shan Shan dengan patuh.
Begitu saja, Ibu Pelayan Chu menerima dan melaksanakan titah dari Selir Agung Mei hingga satu per satu tamu undangan pergi dari istana.
"Kamu jelaskan kenapa kamu bisa ada di kamar ini!" Selir Agung Mei menatap Xue Yuwen dengan tatapan membunuh.
Xue Yuwen yang sebelumnya sudah mengatakan bahwa dia mendapatkan pesan dari Kaisar untuk memintanya datang, tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi kepada Selir Agung Mei.
Lebih tepatnya, dia takut salah bicara.
__ADS_1
Lagipula, tidak akan semudah itu meyakinkan Permaisuri Xuan, Kaisar, terutama Selir Agung Mei.
Xue Yuwen menggigit bibirnya, lalu berkata dengan perlahan. "Selir Agung, saya sedang menikmati hidangan di Taman Istana saat tiba-tiba seorang pelayan menyampaikan pesan bahwa saya sedang di tunggu di Taman Rong."
"Karena penasaran, saya langsung datang ke sini. Namun, ternyata ...." Xue Yuwen tidak melanjutkan, membiarkan semua orang menyambungkan kata-katanya dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Selir Agung Mei langsung menatap Kaisar dengan tajam seolah-olah tatapannya itu terdapat belati yang mampu menembus jantung Kaisar. "Apa ada yang ingin kamu jelaskan, Kaisar? Selain titah langsung darimu, tidak akan ada yang berani menggunakan namamu untuk melakukan hal menjijikan seperti ini."
Kaisar benar-benar ketakutan dengan kharisma yang dibawa oleh Selir Agung Mei, tetapi dia tetap berusaha bersikap tenang. "Kasim Han, cari pelayan itu! Tangkap dan jangan biarkan dia melarikan diri setelah dengan beraninya mencoba menjebakku!"
Tanpa menunggu lama lagi, Kasim Han langsung beranjak pergi untuk melaksanakan perintah tak terbantah dari Kaisar.
"Mei-mei, aku bersumpah bahwa aku tidak pernah memanggilnya datang." Kaisar dengan cepat mengangkat tangannya, sebelum akhirnya menjelaskan panjang-lebar. "Tadi aku ingin menunggumu di Istana Bunga Persik, tapi kakiku terkilir. Karena itu, Kasim Han membawaku untuk beristirahat di Taman Rong. Aku benar-benar tidak tahu kenapa Nona Kedua Xue bisa datang. Bahkan, dia berani merayuku."
Melihat aura dan tatapan Selir Agung Mei semakin menyeramkan, Kaisar dengan cepat melanjutkan penjelasannya. "Namun, kamu tenang saja ... aku tidak menyentuhnya sedikitpun. Dia saja yang terus mencoba mendekatiku."
"Kalau begitu, kenapa pakaian kalian berantakan?" Selir Agung Mei menyipitkan matanya.
"Aku tidak tahu, dia ... dia membuka pakaiannya sendiri dan menggelinjang seperti cacing kepanasan." Saat menjelaskan, Kaisar tidak peduli pada Xue Yuwen.
"Jelaskan!" Pandangan Selir Agung Mei beralih pada Xue Yuwen yang hanya diam saja.
Melihat kebungkaman Xue Yuwen, Xue Shan Shan segera membujuk. "Adik, cepat jelaskan. Jika tidak, kamu benar-benar akan disalahkan dalam masalah ini. Sebelum menangkap pelakunya, kita harus lebih dulu membuktikan bahwa kamu benar-benar tidak bersalah."
Xue Yuwen menggigit bibirnya lagi, merasa tidak mungkin untuk mengatakan bahwa dia sengaja meminum ramuan cinta, bahkan menyemprotkan minyak pemikat pada tubuhnya agar percintaannya dengan Putra Mahkota bisa sangat menggelora.
Pada saat itu, tujuannya jelas ingin membuat Putra Mahkota selalu teringat dan ketagihan pada tubuhnya.
Namun, tidak disangka dia justru bertemu dengan Kaisar yang terlalu lihai mengendalikan diri.
Padahal, minyak wangi yang dia semprotkan sangat banyak hingga bisa membuat orang kehilangan akal sehat mereka.
Saat ini, Xue Yuwen sangat menyayangkan nasibnya sendiri.
__ADS_1
Seandainya saja Kaisar berhasil dia taklukkan, maka posisi Selir Sanding Putra Mahkota pun tidak dia inginkan lagi.
Setidaknya, menjadi selir Kaisar akan lebih menguntungkan baginya.
"Adik ...." Xue Shan Shan memasang ekspresi cemas saat mencoba menyadarkan Xue Yuwen dari lamunannya. "Jangan diam saja."
Khawatir Xue Yuwen akan mengatakan hal-hal yang membuatnya dirugikan, Kaisar segera membuka mulutnya.
"Mei-mei, dengarkan aku saja ... aku belum selesai bicara." Kaisar menatap Selir Agung Mei, lalu beralih pada Permaisuri Xuan yang hanya diam memantau situasi.
Selir Agung Mei tidak mengatakan apa-apa, tetapi tidak juga mencegah Kaisar yang masih ingin membuktikan dirinya sendiri.
"Xuan'er, Mei-mei, ketahuilah bahwa aku sudah berusaha keras menekan diriku agar tidak terpesona olehnya. Kalian tahu sendiri bagaimana pengendalian diriku, tapi tidak tahu kenapa hari ini aku hampir saja tergoda olehnya."
Kaisar tahu pengakuannya bisa saja menjadi boomerang untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan diri memang dibutuhkan kejujuran.
"Kalian percayalah padaku ... aku tidak mungkin mengkhianati kalian berdua."
Tanpa diyakinkan, Permaisuri Xuan tentu saja percaya bahwa Kaisar tidak akan mengkhianatinya.
Lebih tepatnya, Kaisar tidak mungkin mengkhianati Selir Agung Mei.
Bahkan, menikahi dan menjadikannya permaisuri pun terpaksa Kaisar lakukan demi kemakmuran Negara Yuzhou.
Pada saat bersamaan, Selir Agung Mei juga percaya pada Kaisar.
Hanya saja, dia merasa bingung kenapa Kaisar bisa hampir tergoda oleh pesona Xue Yuwen.
Karena tidak bisa menahan diri, Selir Agung Mei pun kembali bertanya dengan tatapan menyelidik. "Apa yang membuatmu terpesona olehnya?"
***
Maaf ya semuanya, saya emang lagi mabok habis liburan, ini juga masih goyang² kepala ... jadi izin promo novel hehehe
__ADS_1
Btw, tetap like dan komen ya biar aku tetap semangat nulis cerita ini sampai tamat meski gak ada peng hasilan nya huhuhu