
"Kenapa Selir Agung Mei tiba-tiba mencariku?"
Meski sedang bergumam, Minglang jelas masih bisa mendengar kata-kata yang diucapkan Xue Shan Shan.
"Bukankah wajar jika ibu mertua mencari menantunya?" Minglang menanggapinya dengan tak acuh.
"Ibu mertua." Xue Shan Shan kembali bergumam dan berbicara di dalam hatinya. 'Kira-kira, pertemuan ibu mertua dan menantu malam ini adalah permulaan hubungan yang baik atau buruk?'
Xue Shan Shan tidak bisa memprediksi masa karena dia tidak tahu kepribadian Selir Agung Mei, dia juga tidak bisa mendapatkannya lebih banyak informasi dari kehidupan masa lalunya tentang wanita itu.
Jadi, dia benar-benar tidak tahu apakah Selir Agung Mei menerimanya sebagai menantu, atau tidak.
Memang, sikap Selir Agung Mei saat di perjamuan istana cukup baik. Namun, siapa yang tahu itu hanya topeng karena ada begitu banyak orang di sekitar mereka.
Bagaimanapun, kehidupan istana yang tampak indah di luar, belum tentu indah juga di dalam.
"Putri Changning, silahkan." Salah satu pengawal yang menunjukkan ekspresi datar di wajahnya, kembali bersuara hingga menyentak Xue Shan Shan dari lamunannya.
Seketika, Xue Shan Shan merasa dia akan pergi dihukum mati.
'Ah, sudahlah. Ikuti saja dulu.' Xue Shan Shan pun pergi mengikuti pengawal utusan Selir Agung Mei, sementara Minglang senantiasa menemaninya.
Tidak lama kemudian, Xue Shan Shan tiba di Istana Bunga Persik, tempat tinggal Selir Agung Mei.
Belum Xue Shan Shan berjalan jauh, dia sudah mencium aroma bunga persik. Sekarang masih bulan September dan belum waktunya musim bunga Persik, tetapi sebidang bunga Persik di sini malah mekar dengan begitu indahnya.
Rasanya, Xue Shan Shan saat ini seperti berada di surga.
Setelah memasuki Istana Bunga Persik, Xue Shan Shan melihat Selir Agung Mei yang tampak seperti seorang Dewi berbaring di kursi Selir Pertama dengan mata tertutup.
Di sampingnya, ada seorang pelayan istana yang sedang berlutut memijat kaki Selir Agung Mei.
"Yang Mulia, Nona dari Keluarga Xue sudah tiba." Ibu Pelayan Chu yang ditugaskan untuk menjemput Xue Shan Shan di depan gerbang, langsung berbicara ketika memasuki pergola.
Selir Agung Mei perlahan-lahan membuka mata dan menatap Xue Shan Shan.
"Hamba Xue Shan Shan, putri dari Keluarga Xue, memberi salam kepada Selir Agung Mei." Xue Shan Shan dengan hormat memberi salam.
Selir Agung Mei mengangkat tubuhnya dan menatap Xue Shan Shan dari atas sampai bawah dengan tatapan puas, lalu berkata, "Jangan berdiri di sana. Ayo, duduk."
__ADS_1
Xue Shan Shan berterima kasih pada Selir Agung Mei, lalu duduk di sampingnya.
"Xiao Hai, tuangkan teh." Selir Agung Mei berkata pada pelayan istana yang tadi memijat kakinya.
Xiao Hai menganggap dan segera menuangkan secangkir teh untuk Xue Shan Shan.
Aroma teh meluap yang membuat Xue Shan Shan tersenyum ketika mencium aroma yang dikenalnya, tetapi dia tidak berani meminumnya.
Dia yakin, teh inilah yang sering kali dia nikmati di Istana Wanshou ketika berkunjung.
"Kenapa kamu tidak meminumnya? Kamu tidak haus?" Selir Agung Mei melihat Xue Shan Shan duduk tak bergerak, nada suaranya menjadi sedikit menggerutu.
Xue Shan Shan dengan canggung mengambil cangkir teh dan meminumnya.
Saat teh masuk ke dalam rongga mulut dan mengenai lidahnya, Xue Shan Shan dapat merasakan adanya campuran teratai salju yang merupakan tanaman langka.
"Aku dengar kamu sangat mencintai Putra Mahkota dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu tidak akan menikahi pria lain." Selir Agung Mei berkata dengan dingin sehingga membuat Xue Shan Shan tersedak.
"Uhuk, uhuk, uhuk ...."
Setelah menenangkan diri, Xue Shan Shan langsung melambaikan tangannya. "Tidak, tidak. Itu karena dulu Hamba masih kecil dan bodoh, suka bicara sembarangan."
Itu jugalah yang membuat reputasi Xue Shan Shan menjadi sangat buruk.
Bagaimanapun, tidak ada gadis bangsawan yang akan begitu tidak tahu malu mengakui perasaannya di depan umum.
Sementara itu, Selir Agung Mei bukannya ingin membangkitkan kenangan percintaan antara Xue Shan Shan dan Pangeran Mahkota.
Dia hanya tidak suka dan ingin memastikan bahwa tidak ada lagi Pangeran Mahkota di hati Xue Shan Shan.
Hanya putranya yang boleh mengisi hati gadis itu!
Begitu mendengar pengakuan Xue Shan Shan, ada binar bahagia di mata Selir Agung Mei. Dia pun langsung berkata, "Benar, kau saat itu pasti sangat bodoh."
Selir Agung Mei menambahkan di dalam hatinya. 'Ada Pangeran Li Xian yang jauh lebih baik, kenapa harus jatuh hati pada Pangeran Mahkota?'
Mendengar penuturan Selir Agung Mei, Xue Shan Shan hampir saja tersedak lagi. Dia menatap sangat selir dengan tatapan tak percaya.
Tidakkah Selir Agung Mei terlalu jujur?
__ADS_1
"Apa kamu merasa sedih karena tidak jadi menikahi Pangeran Mahkota dan justru mendapatkan dekret pernikahan dengan Pangeran Kedua dari Kaisar?"
Xue Shan Shan menelan ludahnya, merasa pertanyaan Selir Agung Mei agak menjebak.
Sebenarnya, jawaban seperti apa yang diinginkan oleh Selir Agung Mei.
Xue Shan Shan bertanya-tanya di dalam hatinya, lalu menjawab dengan pelan. "Aku memang sedikit sedih, tapi kesedihanku itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan dekret yang diberikan Kaisar. Aku senang mendapatkan anugerah pernikahan dengan Pangeran Kedua yang baik hati dan berbudi luhur."
Xue Shan Shan pikir, jika mengatakan dia sama sekali tidak sedih karena batal menikah dengan Selir Agung Mei, bukankah itu terlalu tidak masuk akal?
Bagaimanapun, dia di masa lalu begitu tergila-gila pada Pangeran Mahkota.
Pada saat bersamaan, dia juga tidak bisa mengatakan bahwa dirinya tidak senang atas dekret yang diterimanya bener hati lalu.
Bagaimanapun, Selir Agung Mei adalah istri Kaisar dan ibu Pangeran Li Xian. Jadi, dia tidak mungkin mengatakan tidak senang, atau dirinya akan memikul tanggung jawab tidak mematuhi perintah Raja!
Lagipula, sekarang dia benar-benar senang atas pernikahan itu karena banyak manfaat yang akan dia terima setelah menikah.
Mulanya, Selir Agung Mei merasa kecewa karena Xue Shan Shan bersedih atas pembatalan pernikahannya dengan Pangeran Mahkota.
Namun, dia langsung tersenyum cerah begitu mendengar kata-kata Xue Shan Shan yang selanjutnya.
Terlebih, saat mendengar Xue Shan Shan mengatakan putranya baik hati dan berbudi luhur.
Itu artinya, putranya yang tengik tahu bagaimana harus bersikap pada calon istrinya sehingga dia tidak perlu melakukan terlalu banyak untuk mempertahankan menantu kecilnya itu.
Hari ini, Selir Agung Mei memanggil Xue Shan Shan karena mendengar kabar dari Pengawal Cao bahwa gadis itu sering pergi ke Istana Wanshou. Jadi, dia ingin memastikan apakah hubungan Xue Shan Shan dan putranya mengalami kemajuan.
Karena pengakuan Xue Shan Shan, Selir Agung Mei yakin dan percaya bahwa dia akan segera menimang cucu.
Saat Selir Agung Mei sedang membayangkan Istana Bunga Persik dipenuhi bayi-bayi mungil yang menggemaskan, tiba-tiba terdengar suara ringan dari arah belakang yang membuat khayalannya buyar seketika.
"Apa kamu terburu-buru ingin pergi dari Istana Wanshou karena ingin menemui ibuku?"
Xue Shan Shan terkejut, dia pun mengerutkan keningnya saat menyadari suara Pangeran Li Xian seperti menyiratkan ketidaksenangan.
Apa dia tidak suka aku bertemu dengan ibunya?
Detik berikutnya, Xue Shan Shan merasa suhu di ruangan itu tiba-tiba turun beberapa derajat celsius ketika netranya tanpa sengaja melihat Selir Agung Mei dan Pangeran Li Xian saling melemparkan tatapan sengit.
__ADS_1
Ya, ampun. Situasi macam apa ini?