Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Kau Berani Memukulku?


__ADS_3

Tanpa rasa bersalah, Selir Agung Mei menatap Permaisuri Xuan dan berbicara dengan datar. "Permaisuri, maaf. Tuan Putri Amber sudah sangat keterlaluan, aku hanya mewakilimu untuk mendisiplinkannya dengan baik."


Permaisuri Xuan tidak mengatakan apa pun, dia hanya menundukkan pandangannya karena sadar putrinya memang bersalah.


"Kau berani memukulku?" Putri Amber menatap Selir Agung Mei dengan penuh kebencian sembari memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri.


Selir Agung Mei mengalihkan tatapannya yang tajam ke arah Putri Amber. "Di perjamuan ulang tahunmu, kau mencoba mencelakai Shan Shan dengan meletakkan ular di dalam kotak permainan. Apakah menurutmu aku tidak seharusnya memukulmu?"


Bagaimana mungkin dia bisa diam saja melihat menantunya ditindas?!


Detik berikutnya, Selir Agung Mei kembali menatap Kaisar dan Permaisuri Xuan secara bergantian. "Permaisuri, Kaisar, apa kalian tidak terima aku memukul putri kalian?"


"Hehehe ...." Kaisar tertawa canggung, sebelum akhirnya berkata, "Selir Mei, bagaimanapun juga Ji'er adalah putrimu, jadi kamu tentu saja bisa mendisiplinkannya."


Permaisuri Xuan tidak menanggapi, dia sudah terlalu terkejut mendengar kenyataan yang disebutkan oleh Selir Agung Mei.


Pada saat bersamaan, dia juga tidak menduga hari itu dirinya akan menerima kejutan bertubi-tubi yang membuat kepala dan dadanya berdenyut nyeri. "Ji'er, apa benar yang dikatakan Selir Agung Mei?"


Putri Amber langsung berteriak untuk menyangkal. "Omong kosong! Siapa yang punya bukti?!"


"Aku punya." Suara lembut Xue Shan Shan yang datang dari arah luar menjawab pertanyaan Putri Amber.


Semua orang melirik ke arah pintu, melihat Xue Shan Shan berjalan masuk dengan perlahan.


Begitu tiba di hadapan Kaisar, Permaisuri Xuan dan Selir Agung Mei, dia langsung memberi hormat.


Kemudian, Xue Shan Shan menatap Putri Amber dengan datar. "Tuan Putri, apa aku perlu menggali dan mengambil bangkai ular dari halaman belakang Istana Wanshou untuk dijadikan bukti bahwa kau mencoba mencelakai aku?"


"Jangan sembarangan bicara!" Putri Amber berteriak, nafasnya tampak turun naik bersamaan dengan rasa gugup yang dirasakannya.


Xue Shan Shan tersenyum datar. "Sembarangan atau tidak, kau yang paling jelas tahu di dalam hatimu."


"Memang benar aku yang mengajukan untuk bermain memilih kotak misteri, tapi aku sama sekali tidak meletakkan ular di sana untuk mencelakaimu." Putri Amber mencoba berkilah.


"Semua kotak itu disiapkan oleh pelayanku, lagipula jika aku berniat mencelakaimu, aku seharusnya tahu kau akan menebak nomor berapa. Dengan begitu, aku bisa meletakkan ular pada kotak yang kau pilih."


"Nyatanya, aku sama sekali tidak menduga kau akan memilih nomor sepuluh. Jadi, kau tidak bisa menyalahkan aku!"


Meski jelas salah, Putri Amber sama sekali tidak merasa bersalah hingga membuat Permaisuri Xuan merasa putrinya sangat mengerikan.


Jika orang lain, mungkin saja mereka bisa mempercayai alibi Putri Amber.


Namun, bagaimana mungkin Permaisuri Xuan bisa mempercayainya.


Bagaimanapun, sangat mustahil seorang majikan tidak tahu apa yang pelayannya lakukan. Lebih mustahil lagi jika ada pelayan yang bertindak sendirian tanpa perintah!


Xue Shan Shan berlutut di hadapan Kaisar dan Permaisuri. "Kaisar, Permaisuri, memang benar aku yang mengirimkan pelayan itu untuk meracuni Putri Amber."


"Bagaimana? Dia sudah mengakuinya, dialah pelakunya!" Putri Amber menatap Xue Shan Shan dengan penuh kebencian.


"Kaisar, Permaisuri, aku bersedia menerima hukuman." Xue Shan Shan dengan patuh menundukkan kepalanya. "Namun, aku memiliki alasanku sendiri."


"Awalnya, aku memang ingin membalas perbuatan Tuan Putri Amber karena berniat mencelakaiku dengan meletakkan ular pada kotak yang aku pilih. Namun, aku tidak ingin membuat kekacauan hingga menimbulkan masalah bagi Selir Agung Mei. Jadi, aku berpikir untuk membalasnya pada keesokan harinya. Namun, siapa sangka kediaman Tuan Putri terbakar begitu perjamuan selesai diadakan."


Memang benar, Xue Shan Shan tidak tidak berniat membalas Putri Amber lagi setelah Kediaman sang putri hangus terbakar.


Lagipula, alat yang digunakan oleh Putri Amber untuk mengintimidasinya, ternyata adalah sesuatu yang sangat berguna.


Hanya saja, ....


Xue Shan Shan menggelengkan kepalanya seolah-olah sangat menyayangkan sikap Putri Amber. "Karena itu, aku mengurungkan niatku untuk membalas. Sayangnya, Tuan Putri masih belum bertobat dan kembali berulah."


Bersamaan dengan itu, Selir Agung Mei juga sangat marah. Hanya saja, dia masih ingin memberi muka pada Permaisuri Xuan dengan tidak menghukum Putri Amber di khalayak ramai.


Bahkan, sampai hari ini dia belum bertindak pada Putri Amber karena ingin fokus dulu pada misinya untuk menanam benih-benih cinta di antara Pangeran Li Xian dan Xue Shan Shan.

__ADS_1


Namun, sepertinya Putri Amber memang tidak sabar menerima kemurkaannya.


"Pagi ini, Tuan Putri membayar seorang pelayan untuk meracuni makananku." Xue Shan Shan menatap Putri Amber dari ujung kaki sampai ujung kepala, di dalam hati dia merasa bersyukur karena bisa mendeteksi racun di dalam makanannya hingga dirinya tidak bernasib sial seperti sang putri. "Untunglah aku memiliki Giok Anti Racun, jika tidak, wajah dan tubuhku pasti akan jadi sepertimu."


Kemudian, Xue Shan Shan menaikkan sebelah alisnya. "Putri, apa kau ingin aku tetap diam setelah mengetahui niat jahatmu? Tidakkah menurutmu aku terlalu mudah ditindas?"


"Aku hanya mengirimkan kembali pelayan beserta racun yang kau kirimkan ke kediamanku, apa itu salah?"


Ketika berbicara, tatapan tajam Xue Shan Shan layangkan pada Chun Tiao yang menunduk ketakutan dengan tubuh bergetar.


Dia tidak menyangka segalanya akan menjadi semakin rumit.


Jika sudah begini, nyawanya benar-benar tidak bisa diampuni lagi!


Saat ini, Xue Shan Shan tidak meminta Chun Tiao bersaksi untuknya. Dia tahu bahwa gadis pelayan itu tidak akan melakukannya karena lebih merasa terintimidasi oleh status dan kekejaman Putri Amber.


Di sisi lain, Selir Agung Mei sebenarnya sudah mengetahui perihal Xue Shan Shan hendak diracuni melalui salah satu mata-mata yang dia selipkan ke Kediaman Perdana Menteri untuk memantau menantu kesayangannya.


Sekarang, setelah mendengarnya dari mulut Xue Shan Shan sendiri, dia semakin merasa sakit hati.


Selir Agung Mei menatap Putri Amber dengan aura membunuh yang menguar dari sekujur tubuhnya. "Tuan Putri sudah dua kali menindas Shan Shan, jadi bisa dimaklumi jika Shan Shan membalasnya hari ini."


Tatapan Selir Agung Mei semakin lama semakin terlihat kejam hingga membuat siapa pun yang ada di sana bergidik ngeri, tidak terkecuali Kaisar yang sudah hapal bagaimana watak sang selir.


"Kalau aku adalah Shan Shan di masa muda, maka aku pasti akan membalas lebih kejam daripada itu."


Sebenarnya, Xue Shan Shan juga merasa pembalasannya terlalu lembut. Akan tetapi, dia kembali memikirkan perasaan Permaisuri Xuan jika dirinya bersikap terlalu kejam pada Putri Amber.


"Shan Shan, tenang saja ... Ibu pasti akan mendapatkan keadilan untukmu!" Selir Agung Mei mendekati Xue Shan Shan, dia membantu gadis itu berdiri dan mengelus lembut punggung tangan sang menantu kesayangannya. "Bahkan, jika kamu ingin membalas Tuan Putri dengan lebih kejam lagi, Ibu pasti akan membantumu."


"Ibu, kamu tidak perlu mengotori tanganmu sendiri untuk membalasnya." Pangeran Li Xian yang baru saja tiba di Istana Angin, ikut menimpali dengan suara datar. "Biarkan aku yang melakukannya untukmu."


Mendengar dan melihat ketegasan Pangeran Li Xian, Selir Agung Mei tersenyum senang dan merasa tindakan sang putra bukan demi dirinya, melainkan demi Xue Shan Shan.


"Dasar bajingan, beraninya kamu menggigitku seperti ini!" Putri Amber menatap tajam pada Pangeran Li Xian yang memasang ekspresi dingin di wajahnya.


"Ji'er, kamu sudah sangat keterlaluan!"


Kaisar benar-benar geram, tetapi dia hanya bisa berteriak marah karena tidak ingin bersikap kejam pada darah dagingnya sendiri di depan banyak orang.


Terlebih, di sana masih ada orang luar.


"Ayah, aku bukan membicarakanmu." Putri Amber membela diri, lalu berbalik menatap Pangeran Li Xian. "Aku membicarakannya!"


"Kakak apanya?" Putri Amber menatap sinis pada Pangeran Li Xian yang masih saja memasang ekspresi datar dan menguarkan aura dingin di sekujur tubuhnya. "Ibunya hanyalah seorang selir rendahan, tetapi bersikap seperti seorang permaisuri."


Selir Agung Mei yang dibicarakan hanya tersenyum dengan tenang, dia menggelengkan kepalanya pada Pangeran Li Xian agar tidak merealisasikan niat yang tersimpan di dalam hatinya.


Sebagai seorang ibu, mana mungkin dia tidak tahu bahwa saat ini Pangeran Li Xian sangat ingin membunuh Putri Amber.


Di sisi lain, Permaisuri Xuan dan Kaisar juga sangat marah hingga mereka tidak bisa berkata-kata lagi.


Putri Amber kembali menatap Kaisar. "Ayah, aku adalah putri sah Istana Angin, mana boleh kamu berpihak pada orang-orang kotor ini dan menyalahkan aku! Mana ada perkataan jujur dari orang rendahan seperti mereka!"


Tentu saja, kata-katanya itu tidak hanya tertuju pada Xue Shan Shan, tetapi juga Pangeran Li Xian dan Selir Agung Mei.


"Cukup!" Kaisar berteriak lebih keras lagi, raut wajahnya juga terlihat semakin menyeramkan.


Pada saat bersamaan, Permaisuri Xuan yang sejak tadi diam, akhirnya berteriak juga. "Cukup!"


Putri Amber terbungkam, dia menatap ibunya dalam diam.


"Waktu muda, hidupku tidak bahagia. Jadi, aku memanjakan anak-anakku agar kalian hidup dengan lebih nyaman. Tidak disangka, itu malah membuatmu tidak tahu diri!"


Meskipun marah, Permaisuri Xuan masih terlihat anggun dan lemah lembut.

__ADS_1


"Kau tidak berperasaan pada saudara sendiri, bersikap tidak sopan pada Selir Agung, juga tidak hormat pada ayahmu sendiri dan bisa-bisanya kau mencelakai orang lain di perjamuan ulang tahunmu, bahkan masih ingin mencoba meracuninya di kediamannya sendiri."


Permaisuri Xuan menarik nafas dalam-dalam, wajahnya yang memerah sudah membuktikan betapa marahnya dia saat ini. "Sekarang, bahkan jika ayahmu mengampunimu, aku tidak akan mengampunimu juga!"


"Pelayan!" Permaisuri Xuan berteriak keras, mengabaikan rasa sakit di dada yang dirasakannya.


Detik berikutnya, Putri Amber sudah berlutut di hadapan Permaisuri Xuan. "Ibu, aku adalah darah dagingmu sendiri. Bagaimana kau bisa ...."


Putri Amber berhenti sejenak, Permaisuri Xuan mengatur nafasnya sembari membuang pandangannya ke samping.


"Ayah, Ibu, Xue Shan Shan hanya anak seorang pejabat kelas lima, mana bisa dibandingkan dengan aku yang merupakan seorang putri. Jadi, tidak masalah jika dia mati dan aku sebagai seorang putri, jika membunuh seseorang sama saja seperti membunuh semut. Bagaimana nyawa mereka bisa dianggap sebagai nyawa?"


"Ayah, Ibu, kenapa kalian malah membela orang luar dan tidak membela anak kalian sendiri?"


"Seharusnya bukan hanya kediamanmu yang kubakar, tapi kau juga!" Pangeran Li Xian menggeram, dia sungguh menyesal karena tidak membakar Putri Amber bersama kediamannya yang kini sudah menjadi abu.


"Ayah, tidak bisa hanya membicarakan aku. Li Xian juga sudah bertindak kejam padaku, dialah yang sudah membakar kediamanku. Bukankah seharusnya dia juga dihukum?"


Pangeran Li Xian sama sekali tidak takut, dia justru menimpali dengan tak acuh. "Hukum saja, apa masalahnya?"


"Li Xian, seharusnya aku juga meracunimu agar tidak ada tersisa nyawa rendahan yang menghinaku!"


"Kau berani meracuni putraku?" Suara Selir Agung Mei lembut saja, tetapi tersirat kekejaman dan ancaman di dalamnya. "Lakukan saja jika kau berani, maka aku tidak akan sungkan meski kau adalah putri sah Istana Angin!"


Kaisar dan Permaisuri Xuan memegang dada mereka, merasa patah hati karena memiliki putri yang tidak bermoral dan sangat kejam, juga tidak punya hati nurani.


Kaisar mengacungkan jari telunjuknya pada Putri Amber, menatap sang putri dengan tatapan terluka. "Kau sudah gila!"


"Kau sungguh gila!" teriak Kaisar lagi. "Apa kau masih layak menjadi seorang anak? Apa kau masih layak memanggil permaisuri sebagai ibumu?"


"Kau memperlakukan Xue Shan Shan seperti ini, tapi dia masih bersabar dengan tidak membalasmu. Namun, bagaimana denganmu? Kau bahkan berniat meracuni saudaramu juga."


Saat Kaisar memarahi Putri Amber, tubuh Permaisuri Xuan yang lemah hampir saja ambruk jika tidak ditahan oleh Ibu Pelayan Chen.


"Permaisuri." Ibu Pelayan Chen tampak khawatir, begitu pun Kaisar dan Selir Agung Mei.


Permaisuri Xuan menatap Putri Amber dengan tatapan terluka, dia berbicara dengan suara pelan. "Keluar dari Istana Angin!"


"Pergi saja ke kediaman putrimu yang sudah jadi abu itu!" Permaisuri Xuan mengamuk, mengabaikan kondisinya yang tidak stabil. "Jika kau masih ingin menyisakan hubungan ibu dan anak, maka pergilah!"


"Pengawal!" Suara Kaisar terdengar lagi. "Seret Putri Amber ke makam kekaisaran, biarkan dia introspeksi diri selama tiga hari! Setelah itu, baru izinkan dia kembali ke kediamannya. Mulai sekarang, jika tanpa izin dariku, jangan harap bisa keluar dari kediaman sedikitpun!"


Putri Amber tentu saj terkejut dan tidak menerima hukuman dari Kaisar.


Dia pun mendekati Kaisar dengan lututnya dan menyentuh kaki sang ayah saat berkata, "Ayah, aku tidak bersalah. Aku difitnah."


"Ibu ...." Putri Amber menatap Permaisuri Xuan dengan tatapan memelas.


"Usir keluar!" Kaisar berteriak lebih keras.


Sementara itu, Selir Agung Mei yang tahu kondisi Kaisar juga tidak stabil, mencoba menenangkannya dalam diam.


"Ayah!"


"Ibu!"


"Xue Shan Shan, Li Xian, aku tidak akan mengampuni kalian!"


Putri Amber terus berteriak saat dirinya diseret paksa oleh dua pengawal untuk keluar dari Istana Angin.


"Permaisuri!" Ibu Pelayan Chen terkjut saat melihat Permaisuri Xuan pingsan di dalam pelukannya.


"Permaisuri."


Selir Agung Mei dan Kaisar, bahkan Xue Shan Shan juga terkejut dan langsung mendekati Permaisuri Xuan.

__ADS_1


Kaisar menggendong tubuh lemah Permaisuri Xuan sambil menatap semua orang. "Keluar! Pergi kalian semua!"


__ADS_2