
"Dengarkan aku, hal pertama yang menjadi keberuntungan Tuan Xue adalah karena mendapatkan dukungan dari Perdana Menteri." Suara pendongeng menghentikan bisik-bisik para pengunjung yang saling bertukar pendapat.
"Kalian seharusnya tahu bahwa Tuan Xue pernah menyelamatkan Perdana Menteri di medan perang. Saat itu, Perdana Menteri dalam keadaan koma sehingga tidak bisa mengenali orang di depannya dengan jelas. Ketika Perdana Menteri bangun dan melihat Tuan Xue ada di hadapannya, dia mengira bahwa orang yang menyelamatkannya adalah Tuan Xue."
"Memangnya bukan?" Seseorang bertanya dengan heran.
"Tentu saja bukan!" Pendongeng pun menceritakan ulang secara singkat berita yang dia ketahui. "Jasa baik itu dilakukan oleh teman sekampung Tuan Xue, tetapi dia malah menyamar menjadi teman sekampungnya dan menikmati berkah besar! Bahkan, dia juga dengan tega membunuh anggota keluarga temannya itu yang berjumlah ratusan orang hanya demi menjaga rahasia ini agar tidak bocor."
"Apa?!" Semua orang tersentak kaget.
"Apa yang tidak diduga oleh Tuan Xue adalah temannya memiliki seorang putra bungsu. Saat kejadian naas itu terjadi, putra bungsu temannya pergi keluar kota demi mencari obat untuk neneknya. Karena itu, dia bisa terhindar dari tragedi tersebut. Sekarang, putra bungsu temannya itu sudah menemukan bukti dan akan menggugat Tuan Xue ke pengadilan."
Awalnya, Xue Shan Shan juga tidak tahu bahwa Minglang adalah putra bungsu teman ayahnya.
Namun, setelah menyelidikinya dengan jelas, Xue Shan Shan akhirnya tahu.
Itu sebabnya, dia tanpa ragu memberikan Minglang bukti kejahatan Xue Jinggou yang terdapat pada buku besar.
Bu Nan duduk sambil meraih gelas teh di atas meja dan menyesapnya sedikit, lalu kembali bercerita. Kalian cukup tahu hal ini sampai di sini saja, sekarang mari kita bicarakan tentang hal kedua."
"Ada lagi?" Seseorang kembali bertanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Hal kedua adalah korupsi dan penyuapan!"
Sekali lagi, semua orang dibuat terkejut oleh cerita Bu Nan.
"Bu Nan, kamu jangan asal bicara. Kata-katamu sama saja dengan rumor, dan bisa dihukum mati."
"Benar, jangan asal bicara hanya karena ingin menarik perhatian kami."
"Jangan khawatir." Bu Nan melambaikan tangannya. "Apa yang aku katakan adalah fakta."
__ADS_1
"Siapa di antara kalian yang mengetahui tentang Keluarga Hue?"
Begitu mendengarkan pertanyaan Bu Nan, seorang pria paruh baya yang berpakaian seperti pengusaha bertanya dengan ragu. "Apakah itu Keluarga Hue yang berkecimpung dalam seni pewarnaan kain?"
"Iya, Tuan ini benar!" Bu Nan membuka kipasnfk tangannya dengan diiringi suara jepret, sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman tak terduga. "Kepala Keluarga Hue tidak pernah berkonflik dengan orang lain, dia hanya tertarik pada kain di tangannya. Setiap hari, dia menjadi kasihkan waktunya mempelajari berbagai jenis kain."
"Pada akhirnya, dia mengembangkan banyak teknik pewarnaan yang dapat disebut sebagai berkah bagi kerajaan kita."
"Namun, Tuan Xue malah menerima suap dari Keluarga Ding untuk mencelakai Keluarga Hue. Karena memiliki tujuan yang sama dengan Keluarga Ding, Tuan Xue dengan senang hati menjatuhkan Keluarga Hue yang telah berjasa menyelamatkan Perdana Menteri saat dalam perjalanan bisnisnya."
"Pada akhirnya, seluruh Keluarga Hue dibantai hingga hanya menyisakan Hue Minglang, putra bungsu yang sebelumnya menjadi pengawal bayangan Pangeran Li Xian dan sekarang menjadi pengawal Putri Changning."
Mendengar kenyataan itu, semua orang semakin terkejut.
Pria yang berbicara itu menghentikan kata-katanya sambil menatap Bu Nan. "Pengawal Pangeran Li Xian, lalu berubah menjadi pengawal Putri Changning. Apakah ...."
"Jika kamu menduga Hue Minglang memiliki tujuan dengan menjadi pengawal Putri Changning, maka dugaanmu benar. Bahkan, Hue Minglang sempat berpikir ingin mencelakai Putri Changning dan seluruh Keluarga Xue demi membalaskan dendam keluarganya."
"Astaga, Tuan Xue hampir saja mencelakai putrinya sendiri dan Keluarga Perdana Menteri."
"Tuan Xue sangat kejam!"
"Iya, dia tidak ada bedanya dengan sampah!"
Bu Nan tersenyum sambil menepuk meja. "Semuanya, harap tenang ... jangan panik dulu. Mari kita selesaikan pembicaraan tentang Tuan Xue yang telah mencuri jasa militer."
Seiring dengan kata-kata Bu Nan, Kedai Teh Ruyi menjadi hening.
Tidak lama kemudian, Fu Qingyue menatap Xue Shan Shan dan memecah keheningan dengan berkata, "Semua hal ini sangat mengejutkan, tapi Tuan Xue pasti tidak menduga bahwa kejahatannya akan terbongkar."
"Hal ini membuktikannya sesuatu." Xue Shan Shan mengangkat kepala dengan sudut bibir yang terangkat sebelah, lalu berkata dengan perlahan. "Kalau rumput tidak dibersihkan sampai ke akar-akar, maka rumput itu akan tumbuh lagi suatu hari nanti ...."
__ADS_1
Fu Qingyue tersenyum halus. "Kata-katamu cukup masuk akal."
"Dia pantas menerima akibat seperti ini, bahkan semesta pun tidak boleh diam lagi! Jika tidak, orang-orang yang tidak bersalah itu akan mati sia-sia karena perbuatannya." Fu Qingyue bicara dengan nada marah, lalu dia mengangkat kepalanya untuk menepuk pelan kepala Xue Shan Shan sambil menghibur. "Shan Shan, kamu tidak perlu merasa sedih atau pun bersalah, masalah ini tidak ada hubungannya denganmu."
Xue Shan Shan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum sambil menikmati makanan ringannya.
Detik selanjutnya, dia melirik Bu Nan dengan ujung matanya.
"Tadi, aku mendengar bahwa ayahku memohon untuk menemui Kaisar." Fu Qingyue berbicara lagi saat teringat ayahnya yang merupakan walikota memohon izin untuk bisa bertemu dengan Kaisar. "Mungkinkah ini alasannya?"
"Bisa jadi," sahut Xue Shan Shan tak acuh.
"Shan Shan, jika ini benar, reputasimu mungkin ...."
"Ayah seperti ini sungguh menyulitkannya putrinya!" Xue Shan Shan masih saja bersikap masa bodoh. "Namun, aku sama sekali tidak peduli pada reputasiku."
"Baguslah kalau kamu berpikir demikian, lagipula orang-orang juga akan segera melupakan masalah ini." Fu Qingyue masih mencoba menghibur Xue Shan Shan yang bersikap biasa saja.
Di sisi lain, walikota sedang membungkusambil menyerahkan satu per satu bukti yang ada di tangannya.
Suasana di sana sangat tegang, bahkan Kasim Han sampai menyeka keringatnya berkali-kali sambil melirik Kaisar dengan hati-hati.
Kemudian, dia menatap walikota dengan wajah serius.
Pada akhirnya, Kasim Han memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa, selain menghela nafas dengan kasar.
Tadi, baru saja terjadi hal yang kurang menyenangkan. Sekarang, lagi-lagi ada yang menantang kesabaran Kaisar.
Plak!!!
Kaisar menggebrak meja sambil berdiri dengan agresif, lalu menyipitkan matanya sambil berkata dengan marah. "Bagus, bagus, bagus sekali! Korupsi dan penyuapan! Pembunuhan brutal, bahkan pencurian jasa militer! Bagus, nyali Xue Jinggou sungguh besar!"
__ADS_1