
"Xue Jingguo benar-benar kejam!" Suara Grenie terdengar di benak Xue Shan Shan yang menatap tidak jauh sambil mengeluarkan makanan yang ada di tasnya.
"Sangat menakutkan, terlalu menakutkan! Aku harus makan ...."
Untuk sesaat, Grenie tertegun.
"Shan Shan, kalau mau makan, silahkan makan saja. Jangan malu-malu."
"Aku adalah seorang wanita! Tentu saja aku takut berhadapan dengan mayat seperti ini!" Xue Shan Shan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya tanpa mengedipkan mata.
Grenie terdiam.
Bisa-bisanya seorang gadis yang berdiri di tengah tumpukan mayat yang terbakar sambil makan dengan tenang mengatakan bahwa dia takut berhadapan dengan mayat.
Grenie tidak bisa menemukan orang lain seperti ini.
Setelah menghabiskan makanan penutupnya, Xue Shan Shan baru berjongkok dan menusukkan jarum perak pada mayat yang sudah hangus itu.
Kemudian, dia juga menuangkan bubuk do tangannya ke atas tubuh si mayat.
"Bukan orang kita." Xue Shan Shan membuang harum peraknya, lalu berjalan ke dalam tempat tinggal.
Setelah melihat ke sekeliling, Xue Shan Shan mengulurkan tangan dan menyentuh bubuk yang melekat di gagang pintu.
"Bukan obat yang aku buat."
"Apa maksudmu, mereka membakar sendiri?"
Xue Shan Shan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Orang yang membakar tempat ini untuk memusnahkan jejak mayat. Tadi orang kita mengatakan bahwa kedua orangtua Keluarga Chu dibunuh karena melarikan diri. Dengan begitu, seandainya mereka mati pun pasti akan mati di luar."
"Orang-orang yang dikirim oleh Xue Jingguo hanyalah orang biasa yang tidak memiliki ilmu bela diri terlalu tinggi. Kalau aku tidak salah tebak, orang-orang ini dibunuh oleh orang-orang dan karena kalah jumlah, mereka semua binasa."
Xue Shan Shan yang masih berpikir pergi ke halaman belakang, di mana dia menemukan dua mayat lagi.
"Apa menurutmu, orang yang masih hidup yang membakarnya?"
"Bukan." Xue Shan Shan mengecap bibirnya yang kering. "Yangtao."
"Ha? Mana mungkin." Grenie merasa dirinya tidak terlalu pintar dan bersemangat memecahkan misteri ini. "Shan Shan, cepat katakan."
Xue Shan Shan tidak melepaskan apa pun yang mencurigakan di sekitarnya, tetapi tetap menjawab pertanyaan Grenie meski dengan suara sinis. "Memangnya, kamu tidak bisa menggunakan sedikit otakmu?"
__ADS_1
Jangan hanya tau cara menipu orang!
Xue Shan Shan masih kesal pada Grenie karena terakhir kali dia hanya mendapatkan 1 poin setelah susah payah membuat boneka salju di tengah salju.
"Bukan orang Xue Jingguo yang menyalakan api." Xue Shan Shan mulai menjelaskan, "Saat kita masuk, ada bubuk di atas tanah. Bubuk itu adalah obat yang aku berikan pada Yangtao sebagai senjata rahasia. Jika orang menghirupnya, maka mereka akan kehilangan tenaga dan mati rasa."
"Bubuk itu ditaburkan sampai ke jalan kecil yang berada di sisi kanan dan artinya, orang-orang Xue Jingguo tidak menghirup bubuk itu. Mereka pergi mengejar Yangtao sekeluarga."
"Mereka adalah pengawal, bukan pembunuh terlatih. Kalau gagal, mereka akan mati. Tentu saja, mereka tidak akan kembali untuk membakar mayat-mayat ini."
"Kalau mereka masih hidup, mereka pasti akan segera melapor pada Xue Jingguo alih-alih membakar semua mayat ini."
"Jadi, tempat ini pasti dibakar oleh Yangtao untuk menghilangkan jejak dan bukti bahwa dia pernah tinggal di sini! Meskipun Xue Jingguo merasa ada yang janggal, dia tidak akan mendapatkan apa-apa."
"Bukankah Xue Jingguo hanya ingin nyawa Yangtao? Apa yang mau dia cari?" Grenie bertanya dengan curiga.
Xue Shan Shan tersenyum miring. "Dalam tangan Yangtao pasti ada sesuatu yang membuat Xue Jingguo takut."
Detik berikutnya, Xue Shan Shan sudah berjongkok untuk mencabut rumput dan matanya langsung bersinar saat melihat jejak darah. "Kenapa aku begitu pintar?"
"Berhentilah bersikap narsistik!" Grenie berbicara dengan sinis.
Xue Shan Shan mengupas lima buah kue ketan yang ada di dalam tas dan mengunyahnya dengan perlahan.
Begitu kue terakhir masuk ke dalam mulut Xue Shan Shan, Minglang datang mendekat bersama anak buahnya. "Nona, kamu tidak apa-apa?"
Dia menatap Xue Shan Shan dengan sedikit tertegun, dia berpikir Xue Shan Shan dalam bahaya sehingga melemparkan sinyal padanya. "Jadi, untuk apa kamu melemparkan sinyal?"
"Pulang," sahut Xue Shan Shan sambil tersenyum tanpa dosa.
"Kita belum menemukan Yangtao, tapi orang-orang yang mati di sini bukan orang-orang kita."
Tentu saja, Minglang yang berotak tajam juga memiliki pemikiran seperti Xue Shan Shan.
"Iya, aku tahu. Perintahkan seseorang untuk mengubur mereka baik-baik, semoga di kehidupan selanjutnya, mereka bisa terlahir di keluarga yang baik-baik. Mengenai Yangtao, tidak perlu mencarinya lagi." Xue Shan Shan menepuk debu di pakaiannya. "Ayo, kita pergi."
Begitu Xue Shan Shan ingin pergi, sebuah suara berisik terdengar dari rerumputan di belakang.
Semua orang menghentikan langkah, tetapi Xue Shan Shan sama sekali tidak berbalik. "Aku kira kamu tidak akan keluar."
"Nona Besar, jika kamu sejak awal tahu aku ada di sini, untuk apa bersikap seperti ini?"
__ADS_1
Semua orang memandang Yangtao sambil menarik nafas dalam-dalam.
Xue Shan Shan menoleh ke arah Yangtao, netranya langsung menangkap goresan memanjang di wajah wanita itu dengan darah yang masih mengalir keluar.
Saat ini, wajah Yangtao sudah rusak.
Yangtao berjalan dengan kelelahan, kedua matanya dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan.
Aura membunuh yang kuat juga memancar dari tubuh Yangtao.
"Nona, hati-hati." Minglang bergegas melindungi Xue Shan Shan di belakang tubuhnya.
Namun, gadis itu malah maju ke depan "Tidak apa-apa."
Yang mengejutkan semua orang, tiba-tiba saja Yangtao berlutut di hadapan Xue Shan Shan, sebelum akhirnya memohon dengan menyedihkan dan sungguh-sungguh. "Nona, tolonglah aku! Aku ingin balas dendam. Aku ingin membalaskan dendam ayah dan ibuku."
Xue Shan Shan menatap Yangtao dalam-dalam. "Kamu adalah orang pintar."
Yangtao tertegun sejenak, lalu mengulurkan tangannya yang berlumuran darah ke dalam pakaiannya. Kemudian, dia mengeluarkan gulungan buku besar dan berkata, "Ini adalah bukti suap yang dilakukan oleh Xue Jingguo."
Xue Shan Shan masih menatap Yangtao. "Tidak disangka, ternyata kamu memiliki barang seperti ini juga."
Harus diakui, dulu Xue Jingguo sangat menghargai Yangtao.
Apa alasannya?
Yangtao mendengus dingin. "Dulu, waktu Xue Jingguo bertemu dengan pembunuh di luar, aku yang menyelamatkan nyawanya."
"Sebenarnya, aku juga tidak ingin menyelamatkan Xue Jingguo. Namun, entah bagaimana tiba-tiba aku menghalangi pedang yang dihunuskan untuk Xue Jingguo."
"Karena itu, dia sangat mempercayaiku."
Xue Shan Shan mengambil buku besar itu dan melemparkannya ke arah Minglang, lalu berkata pada Yangtao. "Aku bisa saja membantumu, tapi kamu harus mendengarkan aku!"
"Minumlah!"
Tanpa mengatakan apa pun, Yangtao langsung mengambil obat yang diberikan oleh Xue Shan Shan dan meminumnya.
Setelah beberapa saat, Yangtao tiba-tiba saja pingsan hingga membuat semua orang kembali terkejut dan menatap Xue Shan Shan dengan tatapan yang rumit.
"Bawa dia ke Jalan Utara."
__ADS_1