
"Tadi malam, utusan Kerajaan Qin menyelinap masuk ke Kediaman Pangeran Ketiga dan baru pergi setelah tengah malam. Sekarang, orang-orang beserta dari sekelompok besar mereka sudah pulang, tetapi ada urusan Pangeran Ketiga di antara mereka."
"Oh, jadi mereka sudah mencari sekutu yang baru." Pangeran Li Xian tersenyum miring.
"Yang Mulia, saya pikir mereka mulai menyadari bahwa Putra Mahkota sudah tidak begitu berguna, apalagi setelah skandal memalukan terakhir kali yang tidak bisa ditutupi lagi."
Saat ini, utusan dari Kerajaan Qin memang tidak begitu berharap kepada Putra Mahkota lagi. Itu sebabnya, mereka beralih pada Pangeran Ketiga untuk bersekutu.
"Terus selidiki!"
"Baik, Yang Mulia."
Saat Xue Shan Shan berjalan memasuki Kediaman Perdana Menteri, dia mengambil arah ke tempat tinggal Nyonya Tua Lee dan bertemu dengan kakak sepupunya, Lee Yuyang.
"Shan Shan!" Lee Yuyang tampak berbinar, dia berjalan cepat untuk menghampiri dan merangkul bahu Xue Shan Shan. "Kediaman Xue akan disita, kemungkinan ayahmu juga akan dihukum mati."
Xue Shan Shan menganggukkan kepalanya, tetapi yang dia pikirkan adalah masalah Kediaman Xue sudah selesai.
Lagipula, apa yang bisa dimanfaatkan dari Kediaman Xue yang hanya tinggal puing-puing?
"Shan Shan? Shan Shan?" Lee Yuyang melihat Xue Shan Shan terdiam dan mengerutkan keningnya, seketika hatinya tenggelam. "Shan Shan, kamu jangan sedih."
Ini salahku karena asal bicara! Sejahat apa pun Xue Jinggou, dia tetaplah ayah Shan Shan.
Lee Yuyang rasanya sangat ingin memukul kepalanya sendiri karena terlalu ceroboh.
Xue Shan Shan tersadar, dia bertanya dengan bingung. "Kak Yuyang, kamu bilang apa?"
Lee Yuyang berbalik bertanya dengan hati-hati. "Kamu bukannya bersedih karena ayahmu?"
Xue Shan Shan memukul tangan Lee Yuyang yang merangkul bahunya dan berkata dengan kesal. "Untuk apa aku sedih? Itu salahnya sendiri!"
"Sudah, Kak Yuyang, kamu jangan cerewet lagi. Ayo, kita pergi ke tempat nenek. Entah makanan apa yang disiapkan dapur hari ini."
Setelah mengatakan itu, Xue Shan menarik Lee Yuyang untuk pergi ke tempat tinggal Nyonya Tua Lee.
Begitu mereka tiba, terdengar suara tawa dari dalam hingga membuat Xue Shan Shan tersenyum senang.
"Shan Shan sudah datang!" Nyonya Tua Lee tersenyum dan memanggil Xue Shan Shan untuk duduk di sisinya, lalu menggeser makanan ke arah sang cucu kesayangan.
__ADS_1
Xue Shan Shan mengangkat kepalanya sambil memakan makanan ringan, dia pun bertanya, "Bibi Ning, apa ibuku pergi bersama Bupati Li?"
Bupati Li adalah adik Kaisar yang pernah dan sampai sekarang masih menyimpan hati untuk Nyonya Diana, bahkan dia rela tidak menikah karena hanya ingin wanita itu menjadi istrinya.
Entah sejak kapan, tetapi Xue Shan Shan tahu bahwa hubungan ibunya dan Bupati Li semakin hari semakin baik.
Satu pertanyaan dari Xue Shan Shan membuat semua orang tercengang, Nyonya Ning menundukkan kepalanya dan menarik sudut baju Nyonya Cheng.
Nyonya Cheng berdehem dan melirik Nyonya Tua Lee, dia berniat meminta bantuan. Akan tetapi, wanita tua itu pun tampak panik dan tidak tahu harus berkata apa.
Melihat ekspresi aneh dari para ketua, Lee Yuyang bertanya dengan bingung. "Kalian kenapa?"
"Jangan-jangan, kalian menyembunyikan sesuatu dar kami." Lee Yuyang bertanya dengan nada bercanda. "Apa kalian melakukan hal-hal buruk?"
Mendengar itu, Nyonya Cheng langsung memarahinya. "Bocah, asal bicara apa kamu?"
Lee Yuyang menciutkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan. "Ibu, aku hanya bercanda. Lagipula, kenapa kalian harus gugup seperti itu?"
"Apakah sangat jelas?" Nyonya Ning bertanya dengan suara rendah.
Lee Yuyang menganggukkan kepalanya. "Sangat jelas!"
"Apa?" Lee Yuyang terkejut. "Bagaimana bisa?"
Detik berikutnya, Lee Yuyang seakan baru tersadar dan segera berkata, "Pantas saja Bupati Li terus mengirimkan hadiah untuk kita. Ternyata, semua itu demi bibi!"
Nyonya Cheng memelototi Lee Yuyang, lalu tersenyum pada Xue Shan Shan dan bertanya, "Shan Shan, bagaimana menurutmu?"
"Bagus," sahut Xue Shan Shan sambil mengunyah makanan ringannya.
Selama Bupati Li bisa membahagiakan dan menjadi sumber kebahagian untuk ibunya, maka Xue Shan Shan akan setuju juga menyetujui hubungan mereka.
Mendengar itu, ketiga tetua yang ada di sana langsung menghela nafas lega.
Tentu saja, mereka ingin Nyonya Diana bahagia, tetapi takut Xue Shan Shan tidak menerimanya.
Sepertinya, mereka terlalu banyak berpikir.
"Nyonya, Anda tidak perlu khawatir lagi. Saya lihat, Bupati Li sangat baik dengan nona kita, Kaisar dan Ibu Suri juga sepertinya tidak keberatan. Bagaimanapun, mereka pasti senang karena Bupati Li akhirnya bersedia menikah." Pelayan Tua di samping mencoba menghibur Nyonya Tua Lee.
__ADS_1
Pada akhirnya, Nyonya Tua Lee merasa batu besar yang menghimpit hatinya sudah terangkat sepenuhnya.
"Hanya saja, jika ibu menikah, apa dia akan menikah dari Kediaman Perdana Menteri?" Xue Shan Shan bertanya dengan bingung.
"Tentu saja!" Nyonya Ning menjawab dengan cepat. "Nona dari Kediaman Perdana Menteri tentu saja harus menikah dari Kediaman Perdana Menteri! Kita akan mempersiapkan segalanya dalam beberapa hari ini."
"Adik ipar, kamu jangan terburu-buru. Bupati Li belum datang meminang." Nyonya Cheng berbicara sambil tertawa. "Namun, aku rasa akan terjadi dalam beberapa hari ini. Jadi, kita siapkan barangnya dulu, tapi jika ada yang bertanya, kita jangan katakan apa pun."
Nyonya Ning mengangguk setuju dan menepuk kepalanya sambil berkata, "Kakak Ipar benar, lihatlah aku ini."
"Kamu itu terlalu senang." Nyonya Tua Lee tertawa.
Seketika, ruangan itu menjadi ramai.
Di sisi lain, Lee Yuyang merasa pembicaraan para tetua mulai membosankan sehingga membawa Xue Shan Shan berjalan keluar untuk bermain.
"Bocah ini, sudah besar begini masih tau main. Kapan KDI dewasanya?" Nyonya Cheng menatap punggung Lee Yuyang dan berkata tanpa daya.
"Membicarakan anak-anak ini, tidak tahu bagaimana dengan Yufeng. Sekarang, dia juga sudah dewasa dan sudah saatnya mencari istri."
Nyonya Tua Lee menghela nafas dan menatap Nyonya Ning sambil berkata, "Bisa mendapatkan gadis yang baik saja sudah cukup."
Senyum Nyonya Ning sedikit menghilang. "Ibu, aku juga khawatir. Namun, Anda pun tahu bagaimana dengan mereka semua yang memiliki pendirian teguh."
"Jangan terburu-buru, ini masih dalam masa kritis." Nyonya Cheng menambahkan, "Pelan-pelan saja."
Kemudian, mereka saling bertatapan dan mengangguk mengerti.
Bagaimanapun, Keluarga Perdana Menteri sebaiknya tidak terlalu mencolok untuk saat ini.
Selama beberapa hari berikutnya, orang-orang masih membicarakan tentang Kediaman Xue.
Setelah api Kediaman Xue padam, sudah tidak ada lagi yang tersisa.
"Aku dengar, istri dan selir Xue Jinggou mati terbakar!"
"Benar, aku juga melihat mayatnya. Menyeramkan sekali!"
***
__ADS_1
Guys, jangan heran kalau saya akhir² ini jadi lebih rajin update, lagi kau bayar utang di awal bulan yang jarang up wkwkwk