Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Apa Aku Terlalu Kejam?


__ADS_3

"Baiklah, kamu adalah pembicara utama hari ini. Jadi, kamu duduk di kursi utama, sementara aku akan duduk di kursi samping bersama Selir Agung dan Permaisuri." Kaisar memerintahkan Xue Shan Shan, lalu menatap Pangeran Li Xian. "Pangeran Kedua, kamu juga duduklah dan dengarkan apa yang akan dikatakan oleh istrimu."


Pangeran Li menahan diri untuk tidak tertawa, dia hanya berjalan ke tempat duduknya dan duduk.


Di atas panggung, Xue Shan Shan duduk dengan gemetar dan membuka buku pertama di depannya.


"Kakak Ipar, saya agak bingung dengan bab pertama ini. Tolong jelaskan maknanya." Pangeran Keenam yang merupakan putra bungsu Selir Agung Mei dan masih berumur sembilan tahun tersenyum sedikit, tampak rendah hati.


Xue Shan Shan merasa hidupnya akan segera berakhir.


Adik kecil, kamu adalah pangeran, tidak perlu terlalu sungkan padaku.


Sementara itu, Pangeran Keempat yang merupakan putra Selir Agung Mei dan seorang sastrawan, juga merasa keberadaan Xue Shan Shan adalah hal baik.


Selama ini, dia selalu ingin belajar beberapa puisi dari sudut pandang orang biasa. Akan tetapi, karena perbedaan status, dia hanya bisa mengurungkan niatnya.


Kali ini, dia berniat menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.


Sebaliknya, pemikiran Putra Mahkota dan Pangeran Ketiga justru berbeda.


Putra Mahkota masih memiliki dendam terakhir kali yang tidak bisa dia lampiaskan, sementara Pangeran Ketiga berpikir bahwa Xue Shan Shan adalah kelemahan Pangeran Li Xian.


Senyum sinis muncul di wajah Pangeran Ketiga.


Putri Kedua dan Putri Ketiga selalu lemah dan sakit-sakitan sehingga mereka jarang muncul, hari ini kesehatan mereka sudah membaik dan langsung dipanggang untuk ikutan hadir.


Setelah Xue Shan Shan dengan hati-hati membaca artikel yang tidak dipahami Pangeran Keenam, beberapa kali justru dirinyalah yang merasa tidak mengerti.


Namun, berdasarkan gaya tulisan dan kebiasaan Kaisar yang dikenalnya, Xue Shan Shan merasa dia sehari tidak salah lihat.


Jadi, setelah batuk ringan dia pun mulai menjelaskan.


"Artikel pertama ini mengatakan bahwa sekarang musim gugur, musim gugur adalah musim panen. Rakyat bisa hidup berkecukupan, bekerja dengan damai dan puas sehingga pengadilan kerajaan juga bisa lebih tenang. Namun, pada saat yang sama dengan musim panen, jangan lupakan pahlawan hebat lainnya, yaitu ...."


Xue Shan Shan menelan ludah dan melirik Kaisar yang terlihat puas dan memberi isyarat padanya untuk melanjutkan.


"Sapi yang membajak tanah. Selama setahun ini, sapi telah bekerja keras tanpa mengeluh. Mereka adalah teman baik kita. Jika tidak ada mereka, dikhawatirkan hasil panen kita akan berkurang setengahnya. Terima kasih kepada para sapi dan aku mendukung mereka semua."

__ADS_1


Setelah selesai membaca bab pertama, Xue Shan Shan menarik nafas dalam-dalam.


Oke, aku baik-baik saja, aku masih hidup.


Pangeran Li Xian sudah terbiasa, tetapi yang lainnya malah tercengang dan mengira bahwa Xue Shan Shan sedang bermain-main.


Namun, begitu melihat ekspresi Kaisar, sepertinya Xue Shan Shan memang menyampaikan apa yang ditulis oleh sang penguasa negeri.


Pangeran Keempat yang awalnya sudah menyiapkan pena dan kertas untuk menulis, tidak mengerti apa pun dan mengira ada yang salah dengan telinganya.


Apa-apaan ini?


Berterima kasih kepada sapi?


Bukankah ayah tadi malam baru saja makan daging sapi?


Saat ini, hanya Pangeran Keenam yang memikirkannya secara hati-hati. "Jadi, ternyata Ayah memang lebih bijaksana daripada apa yang dipikirkan kebanyakan orang. Setelah mendengarkan dengan seksama, karya Ayah memang sangat masuk akal."


Xue Shan Shan menatap Pangeran Keenam dengan iba dan bergumam di dalam hati. 'Adik kecil, bangunlah. Jangan mengambil jalan yang sesat ini!'


Xue Shan Shan takut jika Pangeran Keenam berpotensi menjadi penguasa negeri, dia akan mendengarkan dan memerintah negara dengan cara ini.


Xue Shan Shan mencoba membayangkan dirinya saat ini sedang berada di sebelah sapi yang sedang membajak sawah. "Sapi, semangat! Kamu yang terbaik, kamu benar-benar luar biasa!"


Xue Shan Shan tiba-tiba menggigil dan menyentuh lengannya yang merinding.


"Lanjutkan bab dua." Kaisar menatap Xue Shan Shan.


"Baik," sahut Xue Shan Shan pasrah.


Setelah dua jam, kelas kecil Xue Shan Shan akhirnya berkahir.


Sebelum pergi, Kaisar sepertinya baru teringat akan sesuatu. Jadi, dia mengacungkan jempol pada Xue Shan Shan. "Kamu yang memotong kaki Putri Kerajaan Qin, kan? Kamu melakukan pekerjaan dengan baik."


Bukan hanya tidak disalahkan, Kaisar dan Selir Agung Mei bahkan Permaisuri tampak bangga pada Xue Shan Shan.


Xue Shan Shan menatap semua orang dengan bingung.

__ADS_1


Aku tidak memotongnya.


Jangan-jangan, wanita itu sengaja menuduhku!


Kemudian, tatapan Xue Shan Shan beralih pada Pangeran Li Xian yang terlihat memasang ekspresi masa bodoh seperti biasa.


Tidak mungkin dia yang menuduhku, kan?


"Lihat ekspresimu. Apa bukan kamu yang melakukannya?" Kaisar dapat melihat sedikit keanehan di wajah Xue Shan Shan.


"Tidak." Xue Shan Shan menggelengkan kepalanya, lalu menjelaskan. "Aku memang datang untuk memotong kakinya, tapi aku mengurungkan niatku mengingat dia adalah anak perempuan dan hampir seumuran denganku. Jadi, aku melepaskannya."


"Namun, ada prajurit rahasia yang datang melaporkan kepadaku bahwa kaki Qin Luoran putus. Kalau bukan kamu, apa jangan-jangan ...." Kaisar langsung menatap Pangeran Li Xian dengan penuh curiga, sementara orang yang ditatap malah memasang wajah tanpa ekspresi.


Pangeran Ketiga tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kakak Kedua, apa kamu yang melakukannya?"


"Ya," sahut Pangeran Li Xian tanpa beban dosa.


Xue Shan Shan tidak terkejut, dia sudah tahu sejak awal dan berpikir bahwa tindakan Pangeran Li Xian adalah hal yang wajar.


Bagaimanapun, pria itu telah membalaskan dendam ibunya sendiri.


Di sisi lain, Kaisar dan Selir Agung, serta Permaisuri Xuan tidak mempermasalahkan hal itu.


Begitu mereka semua pergi, Pangeran Li Xian menatap Xue Shan Shan dan menanyakan pendapatnya. "Apa menurutmu aku kejam?"


Bagi Pangeran Li Xian, pendapat Xue Shan Shan sangat penting.


Dia ingin tahu Bagaimanapun gadis itu menilainya.


"Tidak." Xue Shan Shan menggelengkan kepalanya, lalu menambahkan dengan nada memaklumi. "Aku tidak bisa menilai orang jika tidak tahu kepahitan orang itu."


Setidaknya, kekurangan Selir Agung Mei adalah kepahitan bagi Pangeran Li Xian yang telah disentuh oleh Qin Luoran.


Pangeran Li Xian tersenyum puas, dia mengulurkan tangan untuk menggandengan tangan Xue Shan Shan, sebelum akhirnya membawa gadis itu berjalan keluar.


Xue Shan Shan menunduk, memandang tangannya yang digandeng erat-erat oleh Pangeran Li Xian, tanpa peduli pada keadaan sekitar.

__ADS_1


Pada akhirnya, Xue Shan Shan juga tidak peduli bagaimana orang-orang menatapnya dan Pangeran Li Xian yang saling bergandengan tangan.


Setelah mengantarkan Xue Shan Shan sampai di depan gerbang Kediaman Perdana Menteri dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam, Pangeran Li Xian bertanya pada Wei Shu dengan nada dingin. "Di mana orang-orang dari Kerajaan Qin?"


__ADS_2