
Setelah drama pertunjukan mencabik bebek panggang selesai, Xue Shan Shan kembali melanjutkan perjalanan bersama Pangeran Li Xian, Lin Mei dan Wei Shu.
Mulanya, Xue Shan Shan meminta izin pada Pangeran Li Xian agar perjalanan bisa berada di kereta kuda yang sama dengan Lin Mei sehingga dirinya tidak perlu merasa bosan seperti sebelumnya.
Namun, Pangeran Li Xian malah menatapnya dengan tatapan membunuh seolah-olah dari netranya itu menghunuskan pedang panjang yang berkata, 'Coba saja kalau kau berani!'
Ketika mereka keluar dari restoran, waktu sudah berlalu dua jam hingga perjalanan terus dilanjutkan, tetapi masih tidak berhenti meski sudah memasuki kota kecil.
Bahkan, saat langit sudah gelap, mereka juga tidak berhenti untuk beristirahat dan makan malam.
Xue Shan Shan cemberut, dia tidak bisa terus diam seperti patung hidup. "Pangeran, apa kita tidak akan berhenti dan makan malam?"
"Tidak." Pangeran Li Xian menjawab dengan singkat, padat dan jelas sehingga Xue Shan Shan tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mengomentari sikap sang pangeran.
"Putri, kota yang kita lalui ini agak rawan bagi pendatang baru seperti kita. Jadi, kita tidak akan berhenti dan beristirahat di sini." Suara Wei Shu terdengar dari luar, dia bicara hanya untuk memberi penjelasan. "Harap Putri Changning bisa bersabar sedikit lagi dan jika Anda benar-benar lapar, makan dulu saja makanan penutup yang Anda bungkus sebelumnya."
Begitu Wei Shu selesai bicara, Xue Shan Shan membuka sedikit tirai. Ternyata, mereka saat ini sudah berada di hutan tua yang tampak gelap dan terasa sunyi hingga suara berbagai hewan terdengar nyaring.
Memang agak menakutkan!
Pada akhirnya, Xue Shan Shan hanya bisa pasrah mengigit dan menelan makanan penutup yang dia bungkus dari restoran tadi.
Karena merasa makanan penutup yang dia bungkus tidak cukup bahkan untuk dirinya sendiri, Xue Shan Shan tidak berniat mengajak Pangeran Li Xian makan bersama walau hanya untuk berbasa-basi.
Setelah beberapa saat, Xue Shan Shan merasa agak lelah dan sedikit kedinginan karena saat itu memang sudah hampir larut.
"Aku ingin tidur sebentar," ucap Xue Shan Shan sambil menyilangkan tangannya di depan dada, lalu mengatur posisi duduk yang nyaman dan memejamkan mata.
"Pakai ini." Pangeran Li Xian melemparkan jubahnya ke arah Xue Shan Shan hingga gadis itu terperanjat dan segera membuka mata.
Xue Shan Shan menatap Pangeran Li Xian dengan tatapan tak senang, jantungnya sudah dibuat bekerja lebih keras dari biasanya.
Pada saat yang sama, dia juga tidak langsung mengambil jubah pemberian Pangeran Li Xian dan hanya menatap sang pangeran dengan tatapan seolah-olah sedang menanyakan fungsi jubah tersebut.
"Pakailah agar kau tidak mati kedinginan," ucap Pangeran Li Xian dengan datar.
Meski kata-kata Pangeran Li Xian agak terdengar kasar, tetapi setelah menembus gendang telinga Xue Shan Shan l, dia justru merasa seperti ada kehangatan.
"Pangeran, kamu mengkhawatirkan aku?" Xue Shan Shan segera mengambil jubah milik Pangeran Li Xian dan memakainya sembari menatap sang pangeran dengan tatapan berbinar.
Pangeran Li Xian mendengus. "Aku hanya tidak ingin direpotkan dengan membawa mayatmu kembali ke ibukota."
Detik berikutnya, Xue Shan Shan cemberut.
Namun, itu hanya berlangsung beberapa saat, sebelum akhirnya dia kembali tersenyum.
Di dalam hati, Xue Shan Shan merasa itu adalah bentuk kasih sayang pangeran untuknya.
Bagaimanapun, setiap orang punya cara yang berbeda untuk menunjukkan perasaan mereka, kan?
Lagipula, Pangeran Li Xian adalah jenis pria yang dingin. Jadi, mana mungkin dia akan mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.
Baru saja Xue Shan Shan menutup matanya lagi, kereta kuda tiba-tiba bergetar dan berhenti bersamaan dengan suara raungan kuda yang terdengar cukup keras.
Tidak hanya Xue Shan Shan, bahkan Pangeran Li Xian juga sedikit terkejut.
"Ada banyak orang yang datang." Xue Shan Shan menatap Pangeran Li Xian sembari fokus menajamkan pendengarannya untuk menangkap suara tapak kaki yang berjalan mendekat.
Pangeran Li Xian hanya diam, dia juga bisa merasakan hawa membunuh yang semakin mendekat.
Bahkan, suara pertarungan pun sudah terdengar.
Xue Shan Shan melirik keluar melalui tirai di sebelahnya, dia melihat Wei Shu sedang bertarung dengan beberapa pria berjubah hitam di dalam kegelapan.
"Astaga, kita bertemu pembunuh!" Xue Shan Shan terkejut karena bagaimanapun, ini pertama kalinya dia menghadapi hal ini setelah bangun dari kematian.
Sebelumnya, dia pernah mengalaminya dan itulah yang menjadi penyebab dirinya mengalami koma selama tiga hari.
Xue Shan Shan mengamati orang berjubah hitam, mereka terlihat sangat ganas dan ada penyergapan lainnya juga.
Sekarang sudah larut malam dan mereka pun berada di dalam hutan, semua itu sudah cukup membuktikan bahwa para pembunuh itu sudah menyusun strategi.
Kondisi di mana musuh menyerang secara diam-diam adalah yang paling berbahaya.
Xue Shan Shan melirik Pangeran Li Xian dengan alis sedikit berkerut. "Kamu tidak keluar?"
"Tidak," sahut Pangeran Li Xian santai sekolah mereka tidak sedang dalam pertempuran yang menentukan hidup dan mati.
__ADS_1
"Apa kamu akan membiarkan mereka membunuhmu?" Xue Shan Shan bertanya lagi, dia benar-benar tidak bisa memahami isi pikiran sang pangeran.
"Aku tidak akan mati di tangan mereka." Sekali lagi, Pangeran Li Xian bersikap masa bodoh seperti nyawanya ada di tangannya sendiri.
"Pangeran, apa kamu tidak akan membantu Wei Shu menghadapi mereka semua?" Setelah melirik Pangeran Li Xian sedikit, Xue Shan Shan melemparkan tatapannya ke arah luar di mana Wei berada.
Xue Shan Shan tidak bisa tidak merasa khawatir saat melihat Wei Shu tampak sudah kewalahan melawan para pembunuh yang tidak sedikit jumlahnya.
"Untuk apa aku membayarnya jika aku harus turun tangan menghadapi para bedebah itu?" Entah sejak kapan, aura di sekujur tubuh Pangeran Li Xian menjadi sangat dingin hingga membuat Xue Shan Shan bergidik ngeri.
Padahal, Pangeran Li Xian hanya diam. Akan tetapi, dia merasa pria itu seperti sedang membunuh ribuan orang.
'Mungkinkah racunnya kambuh?' Xue Shan Shan mengerutkan keningnya, mencoba melihat wajah Pangeran Li Xian hanya dengan bantuan sinar bulan.
Namun, dia tidak merasa ada tanda-tanda kambuhnya racun di tubuh sang pangeran.
Begitu memikirkan kemungkinan ini, Xue Shan Shan tidak ingin duduk diam lagi. Dia segera meraih pergelangan tangan Pangeran Li Xian dan meraba nadinya yang baik-baik saja.
"Racunmu tidak kambuh," ucap Xue Shan Shan dengan kebingungan.
"Siapa bilang racunku kambuh?" Pangeran Li Xian mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau tidak kambuh, kenapa kamu tidak bertindak?" Xue Shan Shan merasa gemas, rasanya dia ingin memukul kepala Pangeran Li Xian agar pria itu segera sadar bahwa mereka saat ini sedang berada di medan pertempuran yang sangat berbahaya.
"Hanya tidak ingin." Lagi dan lagi, Pangeran Li Xian hanya memasang sikap tak peduli seolah-olah masalah kali ini tidak ada hubungan dengannya.
"Kalau begitu, biar aku saja yang keluar dan membantu Wei Shu."
Xue Shan Shan sudah beranjak, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Pangeran Li Xian.
Detik berikutnya, dia melihat seberkas cahaya pedang melintas dari balik tirai pintu kereta yang terbuka sedikit karena hembusan angin.
Sebelum Xue Shan Shan bisa bereaksi, sebuah belati sudah lebih dulu menembus jantung pria berjubah hitam yang ingin menyerangnya.
Seketika, orang berjubah hitam itu merasa organ dalamnya hancur berkeping-keping.
"Kamu baik-baik saja?" Pangeran Li Xian menarik Xue Shan Shan hingga gadis itu kembali duduk di sisinya.
Tidak bisa dipungkiri, Pangeran Li Xian sangat terkejut saat sebuah pedang hampir melukai Xue Shan Shan.
Kini, masih tersisa rasa khawatir di benaknya. "Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakan padamu agar tidak pergi dan bertindak sembarangan?"
Xue Shan Shan cemberut, dia tidak menyadari kekhawatiran tersembunyi dari Pangeran Li Xian. "Aku hanya tidak ingin kita mati sia-sia."
"Kita tidak akan mati!"
Cara Pangeran Li Xian bicara yang terdengar meyakinkan seperti dia sedang mengucapkan segugus janji pada Xue Shan Shan.
"Jangankan jasad, roh mereka pun akan hancur sebentar lagi!"
Kenapa dia begitu percaya diri?
Merasakan aura yang kejam dari Pangeran Li Xian, Xue Shan Shan merasa mungkin inilah salah satu alasan yang membuat pria itu mendapatkan julukan Raja Neraka Hidup.
Hanya duduk diam saja Pangeran Li Xian bisa terlihat begitu kejam, bagaimana jika dia sudah bertindak?
Xue Shan Shan menghela nafas kasar, dia melirik keluar lagi dan mendapati Wei Shu sudah berhasil menyingkirkan sebagian besar pria berjubah hitam.
Meski demikian, masih ada beberapa orang yang tidak berhenti menyerang.
Saat ini, Xue Shan Shan sangat ingin menggunakan jarum beracun yang ada di dalam ruang dan waktu Giok Hijau l, tetapi stoknya tidak banyak.
Jadi, tentu saja jarum-jarum itu harus dia pergunakan di saat yang paling tepat dan benar-benar genting.
Bukan apa-apa, Giok Hijau yang dia kenakan sepanjang waktu belum terisi daya selama dirinya di dalam kereta.
Bagaimanapun, dia tidak ingin terlalu mencolok selama berada di dekat Pangeran Li Xian.
Lagipula, dia tidak tahu apakah besok masih memungkinkan baginya untuk mengisi daya gelang Giok Hijau itu agar bisa digunakan sepuasnya seperti biasa.
Ketika sedang berpikir, salah seorang pria berjubah hitam melihatnya dengan tatapan mengejek dan terbang ke arahnya pada detik berikutnya.
Karena Xue Shan Shan adalah seorang wanita, pria berjubah hitam itu menganggapnya remeh.
Xue Shan Shan yang memiliki harga diri setinggi langit tentu saja tidak senang, jadi dia membentak. "Sialan, beraninya kau menatapku dengan tatapan seperti itu!"
"Kamu galak sekali." Pria itu menatap Xue Shan Shan dengan senyum dan tatapan mesu.
__ADS_1
Xue Shan Shan menggertakkan giginya saat mengeluarkan cambuk berduri dari lengan baju dan mengayunkannya ke arah pria itu.
Detik berikutnya, leher pria berjubah hitam itu langsung terlilit dan ditarik dengan keras hingga dia tewas di tempat.
Pangeran Li Xian menatap segalanya dalam diam.
Sejak pertama kali bertemu dengan Xue Shan Shan, Pangeran Li Xian memang merasa gadis itu bukanlah gadis biasa.
Namun, dia tidak menduga Xue Shan Shan ternyata sangat luar biasa!
Bersamaan dengan itu, pria berjubah hitam lainnya memperhatikan Xue Shan Shan dan mulai mengepung.
"Pengawal bayangan!"
Ketika semua orang memusatkan perhatian mereka pada Xue Shan Shan, suara serak Pangeran Li Xian yang ada di sebelah langsung terdengar.
Dalam hitungan detik, tiba-tiba muncul segerombolan orang dari dalam kegelapan.
Mereka semua memakai baju besi dan penutup wajah, juga mengeluarkan aura membunuh di tubuh masing-masing.
Dengan jumlah lebih banyak daripada pria berjubah hitam yang tersisa, pengawal bayangan mulai mengepung dan membantai mereka satu per satu.
Tidak lama kemudian, hutan itu dipenuhi dengan aroma amis darah.
Xue Shan Shan menatap Pangeran Li Xian dengan tatapan tak percaya. "Ternyata, kamu punya pengawal tersembunyi?"
Pantas saja Pangeran Li Xian hanya membawa Wei Shu dan tetap tenang meski tengah berada di situasi yang menentukan hidup dan mati.
Pada saat itu, Xue Shan Shan juga merasa sedikit kesal pada Pangeran Li Xian.
Jika memang ada pengawak rahasia, kenapa baru mengeluarkan mereka pada detik-detik terakhir?
Namun, setelah dipikir-pikir lagi, Xue Shan Shan merasa Pangeran Li Xian juga ingin menggunakan senjatanya di saat yang tepat sama seperti dirinya.
Pangeran Li Xian menatap Xue Shan Shan dengan tatapan tak berdaya. "Nantinya kamu juga akan terbiasa."
"Terbiasa?" Xue Shan Shan merasakan firasat buruk.
Kemudian, Xue Shan Shan menyadari bahwa dirinya berada di bawah naungan Pangeran Li Xian karena status mereka. Jadi, tentu saja dia harus membiasakan diri dengan pertarungan seperti ini.
Ternyata, semua hal ada keuntungan dan kerugiannya.
"Ini untukmu." Xue Shan Shan mengeluarkan beberapa kue dari lengan baju dan memberikannya pada Pangeran Li Xian. "Kamu tidak ada makan sejak terakhir kali di restoran, jadi sebaiknya makan sedikit makanan yang manis."
Pangeran Li Xian menatap kue di tangan Xue Shan Shan dengan eskpresi ambigu, sebelum akhirnya menerima benda itu dan memakannya dalam diam.
Kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan tiba di Kota Gu setelah dua hari berlalu.
Xue Shan Shan yang tertidur dengan meletakkan kepalanya di pangkuan Pangeran Li Xian, akhirnya terbangun karena kedinginan.
"Dingin sekali." Xue Shan Shan mengusap lengan tangannya saat hawa dingin di sekeliling seperti mencukupi kulit hingga menembus dagingnya.
"Bangunlah, kita sudah sampai." Pangeran Li Xian yang sudah bangun sejak kereta kuda berhenti dua jam lalu, akhirnya membuka suara.
Sebelumnya, dia sengaja berdiam diri karena tidak ingin mengganggu tidur Xue Shan Shan.
Xue Shan Shan menatap Pangeran Li Xian sebentar, sebelum akhirnya dia membuang pandangannya ke sembarang arah dengan wajah memerah.
Dia ingat, situasi seperti ini bukan pertama kalinya terjadi.
Meski begitu, dia tetap saja merasa canggung.
Awalnya, Xue Shan Shan memang sesekali tidur duduk atau berbaring menggunakan bantal yang disediakan oleh Wei Shu.
Akan tetapi, dia tetap saja merasa tidak nyaman, terlebih ketika merasa lehernya terasa kaku dan sakit.
Pada akhirnya, Xue Shan Shan memberanikan diri meletakkan kepalanya di atas paha Pangeran Li Xian saat pria itu tertidur.
Beruntung, Pangeran Li Xian tidak keberatan dirinya menjadikan paha pria itu sebagai bantal.
Bahkan, pria itu juga tidak berkomentar sehingga dirinya hanya perlu bersikap santai seperti tidak ada yang terjadi.
Lagipula, perjalanan panjang yang melelahkan itu disebabkan oleh Pangeran Li Xian. Jadi, sudah seharusnya dia memberikan kenyamanan bagi Xue Shan Shan.
Xue Shan Shan membuka tirai kereta kuda dan yang pertama kali dilihatnya adalah pemandangan putih bersih di luar.
Xue Shan Shan mulanya tercengang, tetapi dia tampak senang sesaat kemudian.
__ADS_1
Bahkan, dia pun langsung melompat turun dari kereta kuda.
"Ya, Tuhan, ternyata ada salju setebal ini!"