
Orang-orang di seluruh paviliun mendengar jeritan Qin Luoran yang mengenaskan.
"Aku belum memukul, tapi kamu sudah berteriak?" Xue Shan Shan bicara dengan nada sinis sambil memutar bola matanya.
Dia menghentikan gerakannya ketika kayu baru akan menyentuh kaki Qin Luoran, tetapi gadis itu sudah terkejut hingga tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Bahkan, cairan di bawah tubuhnya juga mengalir tanpa bisa dikendalikan.
"Cih, menjijikkan!" Fu Qingyue membuabg pandangannya ke sembarangan arah dengan ekspresi jijik.
Xue Shan Shan juga merasa jijik, dia pun membuang kayu di tangannya sambil berbicara pada Fu Qingyue. "Ayo, pergi."
"Kamu tidak jadi memukul dia?" Fu Qingyue agak terkejut, dia juga tidak senang jika Xue Shan Shan melepaskan Qin Luoran.
Xue Shan Shan mengerutkan bibirnya dan berbalik untuk melihat Qin Luoran yang duduk di lantai. "Kali ini aku melepaskanmu karena kamu seumuran denganku. Qin Luoran, kehidupanmu masih panjang, jadi aku beri lamu satu kesempatan untuk bertobat. Jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan mengampunimu!"
Pada akhirnya, Xue Shan Shan memilih untuk tidak mematahkan kaki Qin Luoran mengingat tujuannya hidup kembali hanya untuk membalaskan dendam pada orang-orang di masa lalu yang sudah menyakitinya dan keluargaku.
Qin Luoran bukan salah satu dari mereka, tetapi Qin Zigui termasuk!
Mengenai niatnya yang ingin memberikan hiburan kepada Selir Agung Mei melalui Qin Luoran, Xue Shan Shan akan memikirkan cara lain.
"Ayo, kita pergi saja, aku akan membawamu ke Kedai Teh Ruyi. Dengar-dengar, Kedai Teh Ruyi menawarkan banyak makanan ringan yang baru."
Fu Qingyue mendengus ke arah Qin Luoran, sebelum akhirnya dengan pasrah mengikuti langkah Xue Shan yang yang membawanya ke Kedai Teh Ruyi.
Begitu Xue Shan Shan dan Fu Qingyue pergi, Wei Shu yang datang entah dari mana muncul di lantai dua paviliun.
Qin Luoran masih bersimpuh di lantai, dia belum menanggapi dan baru mencerna apa yang telah terjadi.
Namun, seorang pengawal berbaju hitam justru tiba-tiba muncul di hadapannya, bahkan memandangnya dengan tatapan dingin.
Ketika melihat Wei Shu, Qin Luoran merasa wajah pria itu sedikit familier.
Bersamaan dengan itu, dia juga tidak bisa menahan rasa takut yang semakin menguasai dirinya.
__ADS_1
Setelah memaksa otaknya untuk berpikir, Qin Luoran berhasil mengingat bahwa Wei Shu adalah pengawal pribadi Pangeran Li Xian.
Seketika, keringat dingin semakin mengalir deras di punggung Qin Luoran.
"Putri Changning bisa saja melepaskanmu, tapi bukan berarti Yang Mulia akan mengampunimu!" Setelah bicara dengan nada ringan, Wei Shu langsung mengibaskan pedangnya.
Detik berikutnya, terdengar suara 'srekkk' saat kaki Qin Luoran dipotong tanpa bekas kasih hingga gadis itu jatuh pingsan.
Para pelayan di samping pun terkejut hingga ikut pingsan juga.
Setelah menyelesaikan tugasnya dari Pangeran Li Xian yang tidak ingin mengampuni Qin Luoran karena telah menyinggung dua wanita tercintanya, Wei Shu langsung menyimpan pedangnya dan memandang penampakan di depan matanya dengan dingin.
Selain melaksanakan tugas, Wei Shu juga baru saja melampiaskan dendamnya pada Qin Luoran.
Selama ini, kaki Selir Agung Mei bagaikan duri di hati sang selir dan merupakan hal yang paling dia sesali dalam kehidupan ini.
Orang lain tidak boleh menjadikan kekurangan Selir Agung Mei sebagai bahan perbincangan, jika tidak mereka akan berakhir tragis seperti Qin Luoran.
Setelah Wei Shu pergi, Qin Lang mendapat laporan dan segera memasuki kamar Qin Luoran.
Negara Yuzhou benar-benar keterlaluan!
Aku pasti akan membuatmu membayar seratus kali lipat dari apa yang kau lakukan hari ini!
Xue Shan Shan, aku bukan pria sejati jika tidak membalas penghinaan hari ini!
Saat ini, Qin Lang mengira bahwa putusnya kaki Qin Luoran disebabkan oleh Xue Shan Shan yang menagih taruhan sang adik sebelumnya.
Sementara itu, Xue Shan Shan yang sedang dibicarakan tampak sedang duduk di Kedai Teh Ruyi bersama Fu Qingyue.
Saat pelayan mengantarkan minuman dan beberapa cemilan ke meja yang ditempati oleh Xue Shan Shan dan Fu Qingyue, terdengar suara pendongeng di atas panggung.
"Hari ini mari kita bicarakan tentang Tuan Xue."
Seiring suara tepukan di meja yang disebabkan oleh si pendongeng, Fu Qingyue tiba-tiba tersentak dan segera menatap ke arah Xue Shan Shan. "Ayahmu?"
__ADS_1
Xue Shan Shan mengambil teh di atas meja dan menyesapnya, lalu menikmati makanan ringan sambil melihat ke arah pendongeng. "Ya, ayahku."
Saat ini, perhatian semua pengunjung Kedai Teh Ruyi juga sudah tertuju pada si pendongeng.
Berbeda dari kedai lain yang selalu menyewa pendongeng tua, Kedai Teh Ruyi justru memiliki cendikiawan tampan dan cantik untuk mendongeng.
Untuk menjadi pendongeng di Kedai Teh Ruyi, mereka tidak hanya harus mengetahui sejarah masa lalu dan meramal masa depan, tetapi juga harus sangat pintar berbicara.
Tentu saja, mereka juga harus memiliki karakteristik tersendiri.
Awalnya, mereka dibagi dalam kelompok beranggotakan tiga orang dan harus mengikuti ujian setiap tujuh hari, hanya orang-orang yang mendapat nilai bagus yang bisa lanjut menjadi pendongeng.
Hari ini, Bu Nan yang berusia tiga puluh tahun dan merupakan pendongeng top di Kedai Teh Ruyi menjalankan tugas mendongeng.
"Tuan Xue?" Salah satu tamu mengangkat sebelah alisnya sambil berkata, "Bu Nan, kamu sungguh berani sampai-sampai membicarakan pejabat kerajaan!"
"Benar, meskipun orang sering membicarakannya juga, tapi mereka selalu menggunakan nama ganti. Kali ini, kamu malah menyebut nama aslinya!" Tamu yang berbicara kali ini menggelengkan kepalanya.
"Iya, menurutku Kedai Teh Ruyi ini pasti memiliki dukungan kuat. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka begitu berani?"
"Aku setuju!"
Dengan wajah tersenyum, Bu Nan menangkupkan tangannya dan berkata secara perlahan. "Semuanya ... harap tenang! Bahkan, jika aku salah ... pejabat hanya akan menangkapku. Hanya saja, karena aku sudah tahu berita tentangnya, maka tentu saja aku harus menyebarkannya pada kalian!"
"Xue Jinggou atau Tuan Xue baru saja dipromosikan menjadi Kepala Kementerian Pertahanan kelas kedua. Namun, membiarkan orang seperti itu menjadi pejabat penting di negara kita sama saja menimbulkan kemalangan besar bagi rakyat jelata seperti kita!"
"Apa maksudmu?"
"Iya, aku pernah mendengar bahwa Tuan Xue meninggalkan adik kandung Perdana Menteri hanya demi seorang selir. Aku kira dia adalah pria yang setia, tak disangka dia malah menikahi putri angkat Keluarga Zhang."
"Iya, aku juga mendengar bahwa selirnya itu sangat kejam. Dia meracuni seluruh Keluarga Xue dan sepertinya, dia ingin menguasai Keluarga Xue. Pada akhirnya, Nona Kedua Xue berhasil menyingkirkan momok itu untuk kepentingan keluarganya."
"Namun, siapa sangka Nona Kedua Xue juga tidak lebih baik dari selir ayahnya. Memang benar apa kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya dan ibu adalah guru terbaik bagi anaknya."
"Hmmmm, tapi tindakan Tuan Xue hanya menunjukkan bahwa dia salah memilih orang."
__ADS_1
"Benar, apa hubungannya masalah ini dengan kita? Malahan, aku mendengar bahwa Tuan Xue telah melakukan banyak hal untuk rakyat jelata."