
Qing Yuyao memekik, sebelum akhirnya dengan cepat menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Namun, Yuan Jingye telah lebih dulu melihat wajah di balik cadar yang membuat orang merasa jijik.
Tidak masalah kalau salah mengenali orang, tetapi Qing Yuyao bahkan sangat jelek di mata Yuan Jingye.
Sungguh keterlaluan!
Yuan Jingye semakin murka hanya dengan melihat wajah menjijikkan itu.
"Qing Yuyao, apa kamu tahu akibat dari menipu Putra Mahkota?" Yuan Jingye melirik Qing Yuyao dengan kesal, kemudian menggenggam dengan erat plakat giok Keluarga Qing hingga hancur berkeping-keping.
Kalau bukan karena Qing Yuyao, dia tidak akan bersikap gegabah pada hari itu.
Sialan!
Qing Yuyao terkejut dengan tatapan yang sangat berbahaya itu, laku mundur beberapa langkah dan berkata dengan terbata-bata. "Aku tidak membohongimu, plakat giok itu memang milik Keluarga Qing dan orang yang melukai wajahku adalah Xue Shan Shan."
"Kamu ... kamu sendiri yang tidak bertanya dan langsung ingin mewakiliku membalas dendam."
Yuan Jingye mengingatkan kembali, sepertinya memang seperti itu.
Seketika, kepalanya terasa sakit seperti ingin meledak aku merasa kesal menyelimuti hatinya dan berteriak pada Qing Yuyao. "Apa kamu hanya menjawab ketika aku bertanya? Kamu si buruk rupa, apa kamu tidak punya mulut untuk bertanya kenapa aku bersikap baik padamu?"
Si buruk rupa!
Qing Yuyao membelalakkan matanya, belum pernah ada orang yang memanggilnya seperti itu selama ini.
"Luo Xiao, gantung si buruk rupa ini! Jangan dilepaskan kalau tidak ada perintah dari iku!" Mata elang Yuan Jingye melirik Qing Yuyao yang tampak sangat ketakutan
"Kenapa Anda memperlakukan aku seperti ini?"
"Siapa suruh kamu menjadi musuh dia?!" Yuan Jingye berbalik bertanya.
Jika sebelumnya menjadi orang terdekat Pangeran Li Xian adalah seorang pendosa yang wajib disiksa sampai mati, maka saat ini, menjadi musuh Xue Shan Shan adalah dosa besar.
Dia?
Qing Yuyao tidak tahu siapa yang dimaksud Yuan Jingye.
Namun dia yakin orang yang dimaksud Yuan Jingye bukanlah Xue Shan Shan.
"Tolong, tolong ... tolong!"
Setelah tangannya diikat dengan menggantung di atas pohon, Qing Yuyao pun berteriak tanpa henti.
__ADS_1
"Luo Xiao, dia terlalu berisik, sumbat mulutnya!" Yuan Jingye berteriak dengan kesal.
"Baik, Yang Mulia Putra Mahkota."
Beberapa saat w, suasana di luar telah menjadi tenang.
"Yang Mulia Putra Mahkota, apa yang harus kami lakukan pada wanita itu? Apa terus digantung di sini?" Untuk pertama kalinya, Luo Xiao melihat Yuan Jingye berbaik hati seperti ini.
Biasanya, dia langsung menghabisi musuh tanpa bertele-tele lagi.
Yuan Jingye memijit pelipisnya sambil berkata, "Aku belum memikirkannya, gantung saja dulu, nanti baru kita bicarakan lagi."
"Baik."
Beberapa saat kemudian, Yuan Jingye mengarahkan pandangannya pada Luo Xiao sambil berkata, "Cepat bereskan barang dulu, kita harus kembali ke Kerajaan Yuan Ding."
Luo Xiao melihat ke luar, mendapati langit sudah mulai senja dan gelap yang menandakan akan ada hujan badai.
"Aku akan menghitung dulu persediaan barang di gudang Putra Mahkota."
Seyelah satu jam, Luo Xiao dan Yuan Jingye pergi, tanpa menghiraukan Qing Yuyao yang masih bergelantungan seperti seekor kera. Hanya saja, dia tidak bisa bergerak bebas.
Begitu Yuan Jingye dan Luo Xiao pergi, hujan badai mulai turun.
Qing Yuyao masih tergantung, sekujur tubuhnya sudah basa, membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
Mwlihat dirinya ditinggalkan, Qing Yuyao tentu saja kembali memberontak.
Namun, baik Yuan Jingye atau pun Luo Xiao tetap pergi tanpa menoleh ke belakang.
Pada akhirnya, Qing Yuyao tidak bisa bertahan lagi hingga pingsan. Terlebih-lebih, dia juga tidak diberikan makan.
Setelah dua hari, Qing Yuyao baru ditemukan oleh Keluarga Qing dan langsung dibawa pulang dengan kondisi mengenaskan.
***
Sementara itu, Xue Shan Shan dan yang lainnya memulai perjalanan kembali ke ibukota.
Sebelum berangkat, mereka bertemu dengan kelompok Keluarga Kerajaan. Hanya saja, muncul anggota baru di kelompok Putra Mahkota.
Dia adalah Lu Ningyan.
Kereta kuda Putra Mahkota berhenti di depan kedai seberang penginapan, menunggu pengawal pergi membeli makanan untuk stok selama di perjalanan.
Selama menunggu, Putra Mahkota dan Lu Ningyan berdiri di depan kereta, mereka terlihat sedang berbincang.
__ADS_1
"Kali ini, kebetulan sekali, tidak disangka Nona Lu bersedia berangkat bersama kami." Entah disengaja atau tidak, suara Putra Mahkota cukup keras hingga mampu menembus pendengaran Xue Shan Shan dan yang lainnya.
Lu Ningyan terlihat tenang. "Awalnya, aku ingin kembali ke Kota Gu dulu, tapi aku mendapatkan surat dari keluargaku bahwa Selir Agung Mei belum lama ini merayakan ulang tahun. Aku berniat mengunjunginya untuk menyapa dan melihat keadaannya, sekalian memberikan hadiah."
"Ternyata begitu," sahut Putra Mahkota sembari melihat ke arah pintu penginapan.
Saat ini, Pangeran Li Xian berjalan keluar dari penginapan.
Begitu melihat Pangeran Li Xian, tatapan Lu Ningyan langsung mengarah ke penginapan. Tanpa menunggunya berjalan mendekat, Pangeran Li Xian langsung berbincang dengan Xue Shan Shan yang berada di sampingnya.
Entah apa yang Pangeran Li Xian katakan, Lu Ningyan dengan jelas melihat seulas senyum manja tersungging di wajah Xue Shan Shan, dia bahkan mengulurkan tangannya untuk memukul pria itu dengan pelan.
Akan tetapi, Pangeran Li Xian tidak terlihat kesal sedikitpun, dia bahkan merangkul pinggang Xue Shan Shan dan membawanya berjalan memasuki kereta.
Sampai kedua orang itu duduk di dalam kereta Lu Ningyan baru mengalihkan pandangannya.
Putra Mahkota melihat semua itu, dia pun tersenyum sambil berkata, "Kediaman Bangsawan Di berteman dengan Kediaman Bangsawan Agung, mungkin kamu bisa tinggal di ibukota pada kesempatan kali ini untuk saling mengenal lebih dalam."
"Hmmmmm." Lu Ningyan sudah tidak mendengarkan ucapan Putra Mahkota, lalu mencari alasan untuk pergi dan memasuki kereta kudanya.
Detik berikutnya, muncul tatapan meremehkan di mata Putra Mahkota seolah-olah telah melihat perperangan antara Lu Ningyan dan Xue Shan Shan.
Saat ini, Xue Shan Shan meninggalkan semua rombongannya untuk duduk di kereta kuda Pangeran Li Xian dan terus mengobrol dengannya.
"Aku dengar, Lu Ningyan datang untuk memberikan hadiah untuk ibu ...." Xue Shan Shan mengungkit pembicaraan antara Putra Mahkota dan Lu Ningyan yang masuk ke pendengarannya tanpa terkendali.
"Hmmmmm." Pangeran Li Xian menanggapi dengan tak acuh, dia sama sekali tidak peduli pada gadis itu.
Terserah saja jika ingin memberi hadiah, tidak ada hubungannya dengannya.
"Aku juga belum memberikan hadiah untuk ibu," tambah Xue Shan Shan saat mengingat bahwa dirinya juga belum memberikan hadiah pada Selir Agung Mei.
Setelah mengatakan itu, Xue Shan Shan tiba-tiba membeku.
Dia ingat, alasan dirinya belum memberikan hadiah adalah karena ....
Selir Agung Mei menginginkan hadiah cucu darinya!
Bagaimana bisa ada cucu, jika menikah saja belum?
Pangeran Li Xian menangkap ekspresi tak biasa di wajah Xue Shan Shan, dia pun tersenyum tipis dan berkata dengan menggoda. "Bagaimana kalau kita mempersiapkannya sari sekarang?"
***
Astaga, aku benar-benar keteteran hari ini karena ada masalah di dunia nyata kemarin malam sampai ditelpon terus, gak bisa fokus ngetik. Jadi, maafkan update hari ini agak lama dan dikit.
__ADS_1
Btw, jika berkenan, mampir ke novel baruku yang kubagikan di Ig ya.