Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Iblis Berwajah Imut


__ADS_3

"Kamu mengeluarkan ingus."


Kata-kata Pangeran Li Xian membuat wajah Xue Shan Shan semakin merah, ingin rasanya dia mencari sebuah lubang hanya untuk bersembunyi.


'Ah, memalukan sekali!' Xue Shan Shan menutup matanya dan bergumam di dalam hatinya dengan rasa frustasi yang mendalam.


Ketika Yan Shu keluar dari kamarnya, dia melihat Xue Shan Shan dan Pangeran Li Xian sedang berbicara.


Di mata orang lain memang tidak aneh, tetapi cukup aneh bagi Yan Shu yang merasa ekspresi dan tindak-tanduk Pangeran Li Xian dan Xue Shan Shan saat itu terlihat sangat santai.


Bahkan, mereka terlihat seperti sedang bercanda.


Yan Shu merasa hal itu sangatlah asing.


Dia menggelengkan kepalanya dan menatap Pangeran Li Xian dengan takjub. "Ini benar-benar mukjizat, Li Xian bahkan sudah bisa menjahili wanita?"


Setelah beberapa saat, Yan Shu berjalan mendekati sepasang sejoli itu dan berkata, "Yang Mulia, waktunya sudah tiba."


Mendengar itu, Pangeran Li Xian langsung menatap Xue Shan Shan. "Aku ada urusan di luar, kamu bermainlah sendiri."


Xue Shan Shan mengangguk sambil melambaikan tanpa pada Pangeran Li Xian, memintanya untuk cepat pergi.


Melihat sikap acuh tak acuh Xue Shan Shan, Pangeran Li Xian juga tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya berjalan keluar dari paviliun bersama Yan Shu.


Begitu Pangeran Li Xian pergi, Xue Shan Shan segera mengetuk pintu kamar Lin Mei. "Lin Mei, apa yang sedang kamu lakukan?"


"Nona, masuk saja, kenapa harus mengetuk pintu?" Suara Lin Mei terdengar dari dalam, sebelum akhirnya gadis itu muncul di depan pintu.


"Ayo, temani aku bermain keluar." Xue Shan Shan berjalan memasuki kamar Lin Mei dan duduk di sebuah kursi dengan santai seolah-olah ruangan itu adalah kamarnya.


"Nona, kamu mau bermain apa dingin-dingin begini?" Lin Mei mengerutkan kening sembari menggosok telapak tangannya.


Melihat Lin Mei memasang wajah enggan, Xue Shan Shan cemberut. "Kamu tidak mau, ya?"


Sebelum Lin Mei memberi tanggapan, Xue Shan Shan kembali melanjutkan kata-katanya. "Kalau kamu tidak mau, aku pergi sendiri saja. Namun, ...."


Xue Shan Shan sengaja berhenti sejenak, sebelum akhirnya menatap Lin Mei dengan mata bulatnya. "Bagaimana jika aku dalam bahaya karena pergi sendirian?"


Lin Mei mengerutkan keningnya saat berkata, "Nona, bahaya apa yang bisa kamu temui? Kalau ada yang mengganggu dan membuatmu marah, kamu bahkan bisa membunuhnya dengan tangan kosong. Sudah bagus kalau orang tidak bersembunyi ketika bertemu denganmu."


"Huh!" Xue Shan Shan mendengus dan menatap tak senang pada Lin Mei. "Ya sudah, aku pergi sendiri saja."


Setelah berbicara, Xue Shan Shan langsung berdiri dan beranjak pergi.


Melihat itu, Lin Mei gelagapan dan langsung menyusul Xue Shan Shan sambil berlari kecil dan berkata, "Nona, saya ikut."


Meskipun tahu Xue Shan Shan memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri, Lin Mei tidak bisa tidak merasa khawatir.


Bagaimanapun, Xue Shan Shan adalah majikannya. Jadi, sudah kewajibannya untuk melindungi sang nona meski dia tidak memiliki kemampuan yang hebat.


Setidaknya, dia masih bisa berteriak atau berlari meminta pertolongan jika sesuatu terjadi.


Setelah keluar dari paviliun, Xue Shan Shan berjalan ke arah berbeda dengan jalan yang dia lalui saat ingin berbelanja.


Kali ini, dia berniat pergi ke pinggiran kota untuk belain perang bola salju.


Setelah berjalan cukup lama dan jauh, Xue Shan Shan melihat ada gunung salju yang tidak ada batasnya dan dipenuhi dengan tumpukan salju, terlihat sangat indah.


Saat melihat jejak kakinya yang membentuk sebuah lubang ketika dirinya mendekati gunung salju, Xue Shan Shan merasa itu sangat menyenangkan.


Bersamaan dengan itu, Lin Mei yang mulanya enggan mengikuti Xue Shan Shan, kini justru merasa bahagia.


Ternyata, bersenang-senang di tengah turunnya salju bukanlah ide buruk.


Tanpa disadari, Xue Shan Shan dan Lin Mei sudah berjalan setengah gunung dan mulai menemui banyak semak.


Baru melangkah beberapa langkah lagi, Xue Shan Shan tiba-tiba saja tersandung. Dia melihat ke bawah dan menemukan sesuatu yang tertutup salju.


"Nona." Lin Mei terkejut dan segera mendekati Xue Shan Shan untuk membantu sang majikan berdiri. "Apa kamu baik-baik saja?"


Xue Shan Shan mengabaikan Lin Mei, dia justru duduk di atas salju dan mulai menggali salju, sebelum akhirnya dia menemukan sesuatu yang langka dan berharga.


"Astaga, Bunga Pelangi!" Xue Shan Shan berseru dengan ekspresi takjub seolah-olah apa bunga di hadapannya adalah harta Karun yang sudah terkubur ribuan tahun.


Karena ragu, Xue Shan Shan sekali lagi menelisik bunga tersebut dengan lebih teliti dan memastikan bahwa itu benar-benar Bunga Pelangi yang sangat langka dan mahal.


Bunga Pelangi bukan lagi harta Karun, tetapi adalah obat dewa untuk mengobati penyakit kronis.


Memikirkan bertapa berharganya Bunga Pelangi, Xue Shan Shan semakin gembira karena merasa dirinya akan segera menjadi kaya.


Di sisi lain, Lin Mei hanya menatap Xue Shan Shan dalam diam dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Lin Mei memang tidak pernah melihat bunga yang terlihat cantik karena berwarna-warni, tetapi dia tidak mengira bahwa itu sangat berharga hingga membuat nonanya terlihat seperti orang gila.


Setelah beberapa saat, Xue Shan Shan berhenti berlonjak dan kembali mendekati Bunga Pelangi untuk memetiknya dengan berhati-hati.


Kemudian, dia mengamati Bunga Pelangi dengan seksama hingga tidak menyadari ada suara langkah kaki yang berjalan mendekat diringi dengan suara obrolan.


"Sungguh sial! Kita sudah berjalan berhari-hari, tapiasih belum menemukan Bunga Pelangi. Apa kamu yakin di tempat ini benar-benar ada Bunga Pelangi? Jika tidak ada, nyawa kita akan dalam bahaya."


"Tentu saja, Bunga Pelangi hanya tumbuh di tempat yang dingin. Beberapa tahun lalu, aku pernah melihat sekelompok orang menggali Bunga Pelangi di sini. Kali ini, kita harus merebut kesempatan ini terlebih dahulu."


"Tunggu sebentar, coba lihat wanita itu. Apa yang sedang dia pegang?"


Beberapa orang itu berjalan semakin dekat, tatapan mereka sudah tertuju pada benda yang ada di telapak tangan Xue Shan Shan.


Xue Shan Shan menatap lima orang yang berjalan bersama dengan langkah dan tatapan tertuju padanya.


Oh, bukan. Mereka sedang melihat Bunga Pelangi di tangannya!


Setelah beberapa pria itu melihat Bunga Pelangi untuk sesaat, tatapan mereka beralih pada wajah Xue Shan Shan.


Seketika, tatapan mereka terlihat terkejut dan serakah.


Di hamparan salju putih ini, mereka melihat seorang gadis berpakaian merah muda yang terlihat sangat menawan seperti peri dari langit.


Bunga Pelangi yang ada di tangan Xue Shan Shan membuatnya terlihat semakin cantik, sedangkan Lin Mei yang sejak tadi berdiri kaku di tempatnya seakan menjadi pelengkap hingga membuat


para pria itu merasa mereka sangat beruntung.


"Nona-nona, apa kalian hanya berdua?"


Xue Shan Shan mengerutkan dahinya sambil bergumam di dalam hati. 'Apa aku harus membunuh orang dengan tangan kosong?'


Sementara itu, Lin Mei langsung berdiri di depan sang nona muda untuk menjadi tameng.


"Jangan begitu, kamu akan menakutinya. Biarkan aku saja." Seroang pria yang lebih tinggi berjalan mendekat dan kembali berkata dengan penuh kelembutan, tetapi terlihat mesyum. "Nona, ini adalah hutan belantara. Kamu tinggal di mana? Bagaimana kalau kami mengantarmu pulang?"


Xue Shan Shan mengabaikan mereka semua, sebaliknya dengan hati-hati meletakkan Bunga Pelangi ke dalam ruang dan waktu pada Gelang Giok Hijau.


Kemudian, Xue Shan Shan dengan santai meraih pergelangan tangan Lin Mei dan hendak menyeretnya pergi.


Melihat Xue Shan Shan dan Lin Mei ingin pergi, beberapa pria langsung mengepung mereka.


Xue Shan Shan memutar bola matanya, di mana saja pasti ada pria brengsek!


"Oh, benar-benar membuatku ketakutan." Xue Shan Shan berbicara sambil meletakkan kedua tangannya di dada, terlihat seperti orang yang tengah ketakutan.


Padahal, para pria itu bahkan tahu bahwa Xue Shan Shan hanya sedang berpura-pura.


"Kalian tenang saja, kami pasti akan menyayangi kalian." Tatapan pria itu terlihat licik, sebelum akhirnya dia terbang untuk menerkam Xue Shan Shan.


Saat pria itu mengudara, Xue Shan Shan langsung mengangkat kaki dan menendangnya hingga terbang menjauh darinya.


Pria itu ditendang ke sebuah pohon yang terjatuh ke dalam salju hingga dia tidak bergerak lagi seolah-olah sudah pingsan.


Melihat kemampuan Xue Shan Shan cukup hebat, beberapa pria lainnya jadi sangat ketakutan.


"Gadis kecil, asalkan kamu mau menyerahkan Bunga Pelangi itu tanpa perlawanan, kami pasti akan melepaskan kalian." Seorang pria yang gendut dan pendek mengambil alih pembicaraan.


"Kenapa kalian menginginkan Bunga Pelangi? Untuk obat atau ingin menjualnya?" Xue Shan Shan menatap mereka dengan tatapan menyelidik.


Pria gendut dan pendek itu mendengus. "Bunga itu adalah barang yang diinginkan Tuan Bangsawan Di. Kalau kalian ingin hidup, maka serahkan bunga itu!"


Dia tidak percaya kalau mereka tidak dapat melawan dua orang gadis kecil.


Sementara itu, Xue Shan Shan justru terfokus pada kata-kata 'Tuan Bangsawan Di ' yang disebutkan oleh pria gemuk pendek itu.


Seingatnya, salah satu Keluarga Selir Agung Mei yang ada di Kota Gu adalah Keluarga Bangsawan Agung.


Kalau begitu, Tuan Bangsawan Di pasti adalah orang lain. Akan tetapi, pasti juga bukanlah orang yang baik, makanya memiliki bawahan tidak berpendidikan seperti mereka.


Selain itu, Tuan Bangsawan Di juga mencari Bunga Pelangi. Itu artinya, dia juga tahu bahwa bunga itu sangat berharga.


Jika sudah begitu, mana mungkin Xue Shan Shan akan menyerahkannya dengan senang hati, kecuali dia menjadi begitu bodoh!


"Tidak mau." Xue Shan Shan hanya mengatakan dua kata itu, sedangkan Lin Mei tampak ketakutan.


Lin Mei ingin membujuk Xue Shan Shan agar menyerahkan Bunga Pelangi pada para pria itu demi keselamatan mereka, tetapi begitu melihat tatapan sang nona penuh keyakinan, dia memilih diam dan tetap mendukung apa pun yang akan dilakukan oleh nona mudanya itu.


Setelah mendengar kata-kata Xue Shan, para pria itu langsung marah besar. Mereka saling bertatapan, sebelum akhirnya salah satu dari mereka berkata, "Bagaimanapun, kami harus mendapatkan Bunga Pelangi. Kalau tidak, bagaimana kami akan menjelaskannya pada Tuan Bangsawan Di?!"


Xue Shan Shan menatap pria itu dengan sinis, lalu mendengus. "Aku tidak peduli bagaimana caranya kalian menjelaskan pada tuan kalian. Bukan urusanku!"

__ADS_1


"Sialan!" Pria itu semakin berang. "Cepat lepaskan pakaian mereka, lalu habisi. Kita lihat, apakah gadis kecil ini akan menyerahkan Bunga Pelangi itu atau tidak!"


Selesai pria itu berbicara, para rekannya langsung menyerbu ke arah Lin Mei dan Xue Shan Shan.


Melihat Lin Mei semakin ketakutan, Xue Shan Shan memegang pergelangan tangan sang pelayan dan dengan gerakan cepat membawanya ke sebuah pohon. "Kamu tunggu di sini!"


"Tapi Nona ...."


"Jangan membantah!"


Xue Shan Shan tidak memberikan kesempatan pada Lin Mei untuk membantah, sementara salah satu pria bergerak cepat dan melayangkan tinju ke arahnya.


Namun, Xue Shan Shan berhasil menghindar dan berputar ke belakang, lalu memukul lehernya dengan kuat.


Setelah itu, sebuah tendangan Xue Shan Shan layangkan pada pria itu.


Hanya dalam hitungan menit, para pria itu terbaring di tanah. Semuanya babak-belur, di antara mereka ada yang kaki patah, tangan dan, bahkan leher ikut terkilir.


Xue Shan Shan mengambil sebuah tali dari Gelang Giok Hijau, lalu melepaskan seluruh pakaian pria itu dan menggantung mereka di sebuah pohon seperti komedi putar.


Angin dingin yang bertiup membuat para pria itu gemetaran tanpa henti.


Di dalam hati, mereka menyesali pujian yang sempat merekam layangkan untuk Xue Shan Shan.


Gadis yang terlihat seperti peri itu ternyata adalah iblis berwajah imut.


Benar-benar sangat mengerikan!


Setelah mengatasi mereka, Xue Shan Shan meletakkan tangan di pinggang dan menganggukkan kepalanya dengan puas sambil berkata, "Baiklah, kalian diikat di sini saja sampai ada orang baik hati yang bersedia membantu."


Ekspresi Xue Shan Shan tampak sinis, dia berbicara dengan santai tanpa beban seperti sedang tidak menyiksa orang lain.


Pria seperti mereka yang suka menyakiti wanita, lebih baik mati kedinginan. Jika tidak, mereka pasti akan menyakiti wanita lain.


"Nona, Nona, ampunilah kami. Kami sudah tahu salah."


"Benar, kami juga hanya melakukan sesuai perintah Tuan Bangsawan Di."


Para pria itu berteriak mohon ampunan dan belas kasih Xue Shan Shan karena hutan tempat mereka berada saat ini sangat jarang didatangi orang.


Terlebih, cuaca saat ini sangat dingin. Jadi, jika semalaman terperangkap di sini, mereka tidak mungkin masih hidup pada keesokan harinya.


Bahkan, Xue Shan Shan dengan kejam menyumbat mulut mereka semua menggunakan kain.


Jika sudah begitu, mereka hanya bisa meminta belas kasihan dari para dewa di langit.


"Semuanya, sampai jumpa lagi!"


Selesai berbicara dan melambaikan tangannya, senyuman di wajah Xue Shan Shan langsung hilang tanpa jejak.


Kemudian, dia menghampiri Lin Mei yang masih memiliki sisa-sisa ketakutan di dalam dirinya.


Setelah itu, mereka pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan tertahan dari para pria yang menggantung di pohon.


Ketika Xue Shan Shan sampai di depan gerbang kediaman, dia melihat Pangeran Li Xian sedang berdiri di pintu sembari menatap keluar dengan tatapan khawatir.


Apa dia salah lihat?


Begitu melihat Xue Shan Shan berjalan mendekat bersama Lin Mei, Pangeran Li Xian diam-diam menghela nafas lega.


Menyadari kekhawatiran Pangeran Li Xian, Yan Shu tersenyum tipis dan berkata dengan cara yang menggoda. "Akhirnya Putri Changning sudah pulang, Yang Mulia pun sudah bisa tenang."


"Diam!" Pangeran Li Xian menatap tajam pada Yan Shu, lalu menghampiri Xue Shan Shan. "Sudah malam begini, kamu ke mana saja?"


Entah sadar atau tidak, Pangeran Li Xian membantu membersihkan salju-salju yang menempel di tubuh Xue Shan Shan.


Tindakan Pangeran Li Xian tidak hanya membuat Xue Shan Shan tercengang, bahkan Lin Mei, Wei Shu dan Yan Shu seperti tidak mempercayai penglihatan mereka.


Benarkah pria itu adalah Pangeran Li Xian yang mereka kenal?


Pria yang terkenal kejam dan tidak punya hati, benarkah dia saat ini sedang berdiri di hadapan mereka?


Saat menyadari tindakannya, Pangeran Li Xian bersikap santai seperti tidak terjadi sesuatu. Dia membawa Xue Shan Shan masuk ke dalam rumah, mengabaikan semua orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Pangeran Li Xian menatap Xue Shan Shan dengan tatapan menuntut penjelasan.


Xue Shan Shan mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap Pangeran Li Xian.


Pada saat bersamaan, dia tidak bisa memiliki pemikiran bahwa Pangeran Li Xian mengkhawatirkannya dan sudah terpesona pada kecantikannya.


Melihat tatapan Xue Shan Shan, Pangeran Li Xian memasang ekspresi datar saat berbicara, "Jangan salah paham, aku bukan mengkhawatirkanmu. Aku hanya tidak ingin disusahkan untuk mencarimu dan memberi penjelasan pada keluargamu jika kamu hilang."

__ADS_1


__ADS_2