
Dalam sekejap, Xue Shan Shan merasa dirinya akan gila.
Xue Shan Shan menatap Pangeran Li Xian saat bertanya, "Yang Mulia, apa kamu ingin minum bersama kami?"
Dia pikir, Pangeran Li Xian akan menolak.
Bagaimanapun, teh di kedai itu tidak lebih nikmat dari teh yang ada di Istana Wanshou.
Namun, Xue Shan Shan tidak menduga bahwa Pangeran Li Xian justru mengangguk untuk mengiyakan ajakannya, bahkan duduk tanpa sungkan.
Untuk sesaat, Xue Shan Shan tidak bisa berkata-kata hingga dia bergumam di dalam hatinya. "Aku hanya basa-basi saja, kenapa kamu malah menganggapnya serius?"
Pada akhirnya, Xue Shan Shan dengan pasrah menuangkan teh untuk Pangeran Li Xian.
Setelah mengeggaj seteguk teh dengan ekspresi datar, pandangan Pangeran Li Xian jatuh pada Yan Yi. "Katanya, Tuan Muda Yan sedang bersiap mengikuti ujian sastra kenegaraan tahun ini."
"Ujian kenegaraan ini sulit atau tidak? Jika ada ujian sastra, apa ada ujian bela diri juga?" Xue Shan Shan memotong pembicaraan sambil menatap Pangeran Li Xian dengan rasa ingin tahu.
"Kenapa? Apa kamu mau ikut?" Pangeran Li Xian mengangkat alisnya. "Sayangnya, ...."
Pangeran Li Xian berhenti sejenak sembari menatap Xue Shan Shan dengan tatapan mencemooh saat dia menyindir, "Ujian bela diri tidak beradu tenaga, tidak beradu porsi makan. Lebih tidak mungkin lagi menerima seorang wanita."
"...." Xue Shan Shan memutar bola matanya, Pangeran Li Xian sungguh tidak bisa diajak berbincang-bincang.
Melihat interaksi antara Pangeran Li Xian dan Xue Shan Shan, Yan Yi merasa mereka sangat harmonis.
Seketika, hatinya terasa nyeri.
Tidak ingin membiarkan hatinya menderita lebih lama lagi, Yan Yi pun berdiri. "Pangera, Putri Changning, aku ada urusan, aku pergi dulu."
Meski menyadari sikap dan sapaan Yan Yi tidak sehangat sebelumnya, Xue Shan Shan tidak merasa aneh. Dia melambaikan tangan sembari berkata, "Sampai jumpa, Yan Yi."
Setelah mengangguk, Yan Yi berjalan keluar.
Begitu Yan Yi menghilang dari pandangannya, Pangeran Li Xian menatap Xue Shan Shan dengan tatapan misterius dan berbicara dengan datar. "Xue Shan Shan, sekarang statusmu adalah calon istri Pangeran Li Xian. Aku harap kamu bisa menjaga jarak dengan semua pria."
"Kenapa? Kamu cemburu?" Xue Shan Shan tidak berpikir Pangeran Li Xian benar-benar cemburu, dia juga merasa hal itu sangat mustahil.
Namun, dia tidak berharap Pangeran Li Xian akan terlalu jujur saat berkata dengan ekspresi sinis. "Atas dasar apa aku cemburu padamu? Aku hanya tidak ingin kamu merusak nama baikku."
Sekali lagi, Xue Shan Shan memutar bola matanya. Bahkan, ekspresinya juga terlihat sinis. 'Sejak kapan Raja Neraka Hidup memiliki nama baik?'
Xue Shan Shan mendengus. "Aku tidak sengaja bertemu dengan Yan Yi ketika berada di Kediaman Putri Amber."
Detik berikutnya, ekspresi Xue Shan Shan seolah-olah menunjukkan dia baru teringat sesuatu. "Oh, iya ... apa kamu sudah dengar masalah kebakaran di Kediaman Putri Amber?"
Mulanya, Pangeran Li Xian merasa telinganya gatal saat Xue Shan Shan menyebut nama Yan Yi tanpa embel-embel tuan muda atau sejenisnya. Dia merasa hubungan mereka terlalu dekat.
Hanya saja, begitu mendengar gadis itu mengungkit soal kebakaran di Kediaman Putri Amber, Pangeran Li Xian tidak ingin mempermasalahkan ketidaknyamanan di hatinya.
Setelah terdiam sejenak, Pangeran Li Xian menjawab dengan datar. "Aku baru mendengarnya darimu."
Begitu mendengar pengakuan Pangeran Li Xian, Xue Shan Shan merasa dirinya terlah berpikir terlalu banyak.
Bagaimanapun, Pangeran Li Xian tidak bisa langsung membakar Kediaman Putri Amber, terlepas seganas apa pun dia!
Terlebih, Putri Amber adalah putri yang paling disukai oleh Kaisar.
Sepertinya, langit memang sudah tidak tahan menyaksikan tingkah laku Putri Amber hingga langsung memberikan ulti padanya.
Tiba-tiba, Xue Shan Shan merapatkan kedua tangannya dan beroda pada langit lagi.
"Kenapa bertindak aneh seperti itu?" Pangeran Li Xian menatap Xue Shan Shan dengan alis berkerut, merasa gadis itu sungguh aneh.
"Memohon pada langit agar membuatku jadi lebih cantik, lebih kaya dan postur tubuhku bisa lebih bagus lagi ...."
Sebelum Xue Shan Shan selesai bicara, Pangeran Li Xian langsung memotong ucapannya dengan sarkas. "Mimpimu cukup tinggi juga."
Xue Shan Shan menatap Pangeran Li Xian dengan tajam sembari memaki pria itu beratus-ratus kali di dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, Xue Shan Shan berhasil menenangkan dirinya dan menatap Pangeran Li Xian. "Bagaimana Yang Mulia tahu aku ada di sini?"
Pangeran Li Xian terdiam lagi, lalu berkata dengan datar. "Aku lewat dan mendengar suaramu yang ribut."
Xue Shan Shan kembali menatap Pangeran Li Xian dengan sinis. 'Aku menyesal karena kemarin tidak menusukku dengan seratus buah jarum perak.'
"Kalau begitu, aku yang ribut ini pergi dulu. Aku tidak akan mengganggu ketenangan Yang Mulia lagi." Melihat sikap Pangeran Li Xian, Xue Shan Shan juga tidak bersedia berduaan dengannya.
Xue Shan Shan sudah melambaikan tangan pada Pangeran Li Xian dan bersiap ingin pergi.
__ADS_1
"Tunggu." Pangeran Li Xian memanggil Xue Shan Shan untuk menghentikannya.
Xue Shan Shan berbalik dan menoleh pada Pangeran Li Xian.
"Kapan menawarkan racun selanjutnya?" Pangeran Li Xian mengangkat sebelah alisnya.
Xue Shan Shan memutar bola matanya, tetapi dia tetap dengan sabar menjelaskan. "Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan bahwa racunmu akan didetoks seminggu sekali? Kemarin baru saja aku melakukan detoks kedua, jadi detoks ketiga masih butuh tujuh hari lagi."
Sebenarnya, Pangeran Li Xian tahu jadwal detoksifikasi, tetapi dia sengaja bertanya lagi hanya untuk mencari topik pembicaraan dengan Xue Shan Shan agar tidak usai begitu cepat.
"Lima hari lagi aku akan pergi keluar kota." Pangeran Li Xian menatap Xue Shan Shan, dia bisa menangkap ekspresi senang gadis itu saat mendengar kata-katanya.
Benar saja, Xue Shan Shan memang merasa sangat senang karena bagaimanapun, berduaan dengan iblis di hadapannya itu hanya akan membuatnya merasa panik tanpa alasan yang jelas.
Seketika, Pangeran Li Xian menjadi tidak senang.
"Kalau begitu ...."
"Kamu ikut denganku!"
Belum Xue Shan Shan mengutarakan pendapatnya, Pangeran Li Xian sudah memotong dengan nada dan ekspresi yang tidak ingin dibantah.
"Ikut bersamamu? Ke mana?" Xue Shan Shan langsung merasa tidak enak hati.
Sejak awal, dia tidak begitu familiar dengan ibukota karena jarang keluar rumah.
Jika harus pergi ke luar kota dengan Pangeran Li Xian, bukankah dirinya akan dikuasi sepenuhnya selama dalam perjalanan?
"Kota Gu," sahut Pangeran Li Xian singkat, padat dan jelas.
Xue Shan Shan mengerutkan alisnya, dia pernah melihat peta yang menunjukkan Kota Gu berada di area paling Utara Negara Yuzhou, tempat itu cukup jauh.
"Bolehkah aku tidak usah ikut? Sebenarnya, tidak masalah jika pengobatannya telat sekali ...."
Sekali lagi, Xue Shan Shan tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Hanya saja, kali ini bukan disela oleh Pangeran Li Xian, melainkan karena tatapan tajam pria itu.
Xue Shan segera menutup mulutnya dengan patuh. "Baiklah. Kalau begitu, kita pergi saja."
"Tapi ...." Xue Shan Shan segera membuka mulutnya kembali sebelum Pangeran Li Xian menanggapinya.
"Aku harus membuat sebuah kesepakatan dulu bersamamu. Pertama, tidak boleh menindasku di perjalanan. Kedua, kamu yang menanggung semua biaya perjalanan. Ketiga, aku belum memikirkannya. Setelah terpikirkan nanti, baru kita bahas lagi." Xue Shan Shan merasa harus mengatakan segalanya dengan jelas.
Pangeran Li Xian tertawa. "Kamu sungguh tidak ingin dirugikan sama sekali."
"Tentu saja, kamu yang memintaku menemanimu keluar kota. Tidak mungkin membiarkanku menanggung biayanya sendiri, kan?"
Bagi Xue Shan Shan, jika bukan saat untuk menggunakan uang, maka dia tidak akan menggunakannya.
Terutama, dalam hal dinas seperti ini.
Tentu saja, harus atasan yang menanggung biayanya.
Setelah selesai berbincang dengan Pangeran Li Xian, Xue Shan Shan meninggalkan kedai teh dan berencana pulang ke Kediaman Perdana Menteri untuk merencanakan perjalanan ke Kota Gu.
Mulanya, ibunya berencana membawanya pindah ke Kota Gu pasca pertengkaran dengan Xue Jingguo terakhir kali.
Namun, seluruh Keluarga Perdana Menteri tidak membiarkan hal itu terjadi sehingga mereka membatalkan rencana Nyonya Diana.
Hanya saja, siapa yang menduga bahwa Xue Shan Shan akan tetap pergi ke Kota Gu, bahkan bersama Pangeran Li Xian.
Benar-benar tidak terduga!
Meski demikian, Xue Shan Shan yakin bahwa Pangeran Li Xian akan sibuk sendiri dengan urusannya, sementara dianhanya bertugas menawarkan racun di hati ke tujuh saja.
Dia bisa menentukan waktu yang tersisa bebas.
Xue Shan Shan berjalan dengan ceria selama dalam perjalanan menuju ke Kediaman Perdana Menteri, tetapi dia tiba-tiba menyadari jalanan yang dia lewati sudah dihiasi dengan ribuan lentera yang bergantungan.
Padahal, saat pergi dia sama sekali tidak melihat adanya satu pun lentera.
Kini, kios-kios di jalanan juga sudah mulai menjual lentera.
Xue Shan Shan singgah di sebuah kios, lalu memegang satu lentera berbentuk kelinci yang sangat lucu dan manis sambil bertanya, "Bibi, acara apa yang akan diselenggarakan?"
Bibi penjual melihat Xue Shan Shan dengan ramah. "Nona, malam ini adalah acara lentera yang diselenggarakan setengah tahun sekali."
Xue Shan Shan mengangguk mengerti. "Begitu ya ...."
__ADS_1
Dia melihat lagi lentera di tangannya dan langsung membelinya karena merasa sangat menggemaskan. Bahkan, dia juga membeli beberapa lentera berbentuk ikan koi dan burung kuica karena merasa satu lentera saja tidak cukup.
Saat tiba di kediamannya, Xue Shan Shan melihat Lin Mei dan Qing Ke sedang berbincang.
Begitu melihat sang majikan mendekat, mereka pun langsung datang untuk menyambutnya.
"Nona."
"Nah, ini untuk kalian." Xue Shan Shan menyodorkan lentera ikan koi kepada mereka.
Tentu saja, Lin Mei dan Qing Ke merasa senang dan tidak menyangka mereka akan mendapatkan lentera.
"Benarkah ini untuk kami?" Qing Ke bertanya dengan rasa haru.
Dia pikir, seumur hidup tidak akan pernah bisa bermain lentera.
"Benar." Xue Shan Shan mengangguk, lalu berbicara dengan penuh kebanggaan. "Jangan terlalu terharu, nona kalian ini memang sangat baik."
Meski merasa Xue Shan Shan terlalu percaya diri, Lin Mei dan Qing Ke juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa Xue Shan Shan memang gadis yang baik.
Detik berikutnya, Xue Shan Shan melihat Minglang yang berada tidak jauh dari sana. Dia pun memanggil dan langsung memberikan lentera burung kuica pada pria itu.
Minglang mengerutkan keningnya. "Apa ini?"
"Untukmu," sahut Xue Shan Shan apa adanya.
"Aku tidak butuh." Minglang menatap lentera di tangan Xue Shan Shan dengan tatapan tak suka, dia benar-benar tidak menyukai sesuatu yang terlalu berwarna.
Xue Shan Shan memajukan bibirnya dan berpikir di dalam hati. 'Benar-benar orang yang dibimbing oleh Pangeran Li Xian.'
"Apa kamu tidak merasa lentera ini sangat menggemaskan? Sekarang, langit sudah gelap dan pasti akan sangat cantik jika lentera ini dihidupkan. Lagipula, lentera burung kuica ini sangat mahal." Xue Shan Shan berbicara sambil meletakkan lentera burung kuica ke dalam genggaman Minglang, sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu kamar.
Di luar, Minglang menatap lentera di tangannya dan mendengar pembicaraan Lin Mei bersama Qing Ke. Dia pun menoleh pada lentera ikan koi yang ada di tangan Lin Mei dan Qing Ke .
Sepertinya, lentera di tangannya memang jauh lebih cantik daripada milik Lin Mei dan Qing Ke.
Pada akhirnya, Minglang membawa lentera itu kembali ke kamarnya sendiri dan menggantungnya.
Begitu masuk ke dalam kamar dan meletakkan lentera kelincinya di atas meja rias, Xue Shan Shan mendapati ada sepucuk surat di sana.
Xue Shan Shan mengerutkan keningnya, lalu meraih dan membuka, serta membaca isi surat itu.
"Shan Shan yang manis, aku berharap kamu menemaniku menikmati lentera malam ini. Temui aku di Jembatan Angsana Maggie kota selatan pukul tujuh."
Mata Xue Shan Shan melebar, bahkan dia hampir saja muntah darah saat membaca kata pembuka yang begitu menjijikkan di dalam surat.
Shan Shan yang manis?
Siapa pengirim surat itu? Apa dia sudah kemasukan air atau pasir hingga membuatnya dungu?
Dalam sekejap, Xue Shan Shan meremas surat di tangannya hingga membentuk bola kertas.
Tunggu ....
Sepertinya, ada yang aneh
Xue Shan Shan kembali membuka kembali surat di tangannya, dia pun langsung kebingungan saat mendapati nama penerima di dalam surat tersebut.
Rangkaian huruf yang membentuk nama Pangeran Li Xian dan ditulis besar-besar membuatnya terlihat jelas.
Apa-apaan ini?
Pangeran Li Xian menuliskan surat itu untuknya?
Sebenarnya, siapa yang sudah kemasukan air sampai menjadi gila? Dia atau Pangeran Li Xian?
Xue Shan Shan benar-benar tidak menyangka iblis seperti Pangeran Li Xian bisa menulis surat menjijikkan itu padanya. Bahkan, mengajaknya pergi ke acara lentera.
Bukankah mereka baru saja bertemu di kedai teh?
Apa harus kembali bertemu pada malam harinya?
Jangan-jangan, Pangeran Li Xian sudah terpesan pada kecantikannya?
Astaga, bagaimana bisa begini?
Xue Shan Shan tidak ingin terlibat perasaan apa pun pada siapa pun!
Tidak bisa, malam ini dia tidak boleh datang untuk menghilangkan keinginan aneh Pangeran Li Xian.
__ADS_1