Peri Racun Kesayangan Pangeran

Peri Racun Kesayangan Pangeran
Mata Dibalas Dengan Mata


__ADS_3

Di saat yang sama, tempat berbeda ....


Saat memasuki kamarnya, mata Pangeran Li Xian menangkap sepucuk surat di atas meja. Dia pun mendekat dan meraih surat itu, bahkan membaca isi di dalamnya.


"Yang Mulia Pangeran Li Xian tercinta, malam ini adalah acara lentera dan aku sangat ingin melihat lentera bersamamu. Mari bertemu di Jembatan Angsana Maggie kota selatan pukul 7 nanti."


Setelah melihat mama pengirim surat itu adalah Xue Shan Shan,


Ketika melihat dan membaca tulisan. 'Dari kekasihmu tercinta, Xue Shan Shan', wajah Pangeran Li Xian langsung buram.


Saat itu, Pangeran Li Xian tidak curiga bahwa surat tersebut bukan ditulis dan dikirim oleh Xue Shan Shan karena gadis itu pernah beberapa kali mengirimkan surat yang isinya lebih menjijikkan dari pada ini.


Terlebih, tulisan yang tertera di sana juga sangat mirip dengan surat sebelumnya.


Lagipula, Xue Shan Shan memang segila itu.


Jadi, Pangeran Li Xian tidak berpikir dirinya sedang dijebak.


Pada akhirnya, Pangeran Li Xian dengan wajah datar menyimpan surat itu di sebuah kotak yang dia sediakan khusus untuk surat-surat dari Xue Shan Shan.


Malam harinya, Selir Agung Mei sedang duduk di sebuah ruang privat di kedai teh Jembatan Angsana Maggie.


Dia duduk di dekat jendela dan terus-menerus menjulurkan lehernya untuk melihat ke bawah, sebelum akhirnya menatap Ibu Pelayan Chu dengan tidak sabar.


"Di mana mereka? Ini sudah pukul tujuh lewat, tapi kenapa masih tidak kelihatan? Apakah suratnya benar-benar diantarkan pada Shan Shan dan Xian'er?"


"Sudah dipastikan." Ibu Pelayan Chu mengangguk, lalu kembali berkata, "Bahkan Mu Lao yang mengantarkannya sendiri dan dia pergi setelah memastikan surat itu dibaca oleh Putri Changning dan Yang Mulia Pangeran Li Xian."


"Lalu, ada apa ini? Kenapa satu pun dari mereka tidak ada yang datang?" Selir Agung Mei berbicara sambil menatap ke arah luar hanya untuk memastikan keberadaan putra dan calon menantunya.


Banyak orang yang menghadiri acara lentera, tetapi Xue Shan Shan dan Pangeran Li Xian tidak ada di antara keramaian.


Melihat kegundahan Selir Agung Mei, Ibu Pelayan Chu mencoba menghiburnya. "Mungkin, Yang Mulia Pangeran dan Putri Changning bertemu di tempat lain."


Mendengar itu, mata Selir Agung Mei langsung berbinar. "Benar juga, acara lentera ini sangat bagus. Mungkin, rasa cinta akan menghampiri mereka setelah malam ini ... hehehe."


Padahal, kedua insan yang sedang dinanti-nanti saat ini tengah berada di dalam selimut masing-masing dan sudah melupakan sepenuhnya perihal surat yang mereka terima dengan tertidur lelap.


Keesokan paginya ketika ingin menikmati sarapan seperti biasa, Xue Shan Shan merasa ada yang aneh dengan makanannya.


Dia pun langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Lin Mei dan Qing Ke.


"Siapa yang menghidangkan makanan ini?"


Seketika, Lin Mei dan Qing Ke merasa gugup karena tidak biasanya Xue Shan Shan mempertanyakan siapa yang menghidangkan makanan.


"Saya dan Lin Mei yang menghidangkannya." Qing Ke buka suara dan menatap Xue Shan Shan dengan ekspresi serius. "Nona, apa ada yang salah?"


"Makanan ini sudah diracuni," sahut Xue Shan Shan dengan datar


Detik berikutnya, Lin Mei dan Qing Ke, bahkan seluruh pelayan yang ada di dekatnya langsung berlutut dengan ekspresi ketakutan.


"Nona, kami bersumpah, kami tidak pernah meracuni makanan Anda."


"Bangunlah,." Xue Shan Shan tersenyum datar. "Makananku memang sudah diracuni, tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa kalian yang sudah meracuni makananku dan aku yakin, kalian tidak mungkin melakukannya."


Bagaimanapun, Xue Shan Shan tidak meragukan semua pelayan Kediaman Perdana Menteri yang setia dan loyalitas tanpa batas.


Kecuali, jika saat ini dia berada di Kediaman Xue. Dia pasti sudah mencurigai siapa pun yang ada di sisinya.


Meski bisa menarik sedikit nafas lega karena dipercayai oleh Xue Shan Shan, mereka belum bisa tenang selama pelaku yang sebenarnya belum tertangkap.


Salah satu pelayan memberanikan diri untuk bertanya, "Nona, apa Anda yakin ada racun di makanan itu?"


Xue Shan Shan mengangkat sebelah alisnya. "Apa kamu ingin mencobanya?"


Seketika, pelayan itu bungkam. Mana mungkin dia berani mengambil resiko dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk membuktikan Xue Shan Shan tidak salah menebak ada racun di dalam makanan.


Di sisi lain, Lin Mei dan Qing Ke yang tidak meragukan Xue Shan Shan sedikit pun, hanya diam sembari memikirkan siapa kira-kira yang berpotensi menjadi pengkhianat di dalam Kediaman Perdana Menteri.

__ADS_1


Jangan tanyakan dari mana Xue Shan Shan bisa tahu ada racun di makanannya karena sudah tentu dia mengetahuinya adalah dari gelang giok hijau yang masih melingkar indah di pergelangan tangannya.


Selain itu, indera penciumannya juga cukup tajam dan sensitif terhadap racun.


Karena itu dia bisa mendeteksi adanya racun hanya dengan menghidu aroma makanannya.


Meskipun racun itu tidak mematikan, tetap saja itu adalah racun dan pelakunya berniat mencelakai dirinya.


Jadi, dia harus menangkapnya hidup-hidup dan menginterogasi untuk mengetahui motif si pelaku.


"Qing Ke, pergilah temui Bibi Merry. Cari tahu apakah ada pelayan baru di kediaman ini, khususnya yang ditugaskan di paviliunku."


Segera, Qing Ke langsung beraksi. "Baik, Nona."


"Tunggu dulu." Suara Xue Shan Shan menghentikan langkah Qing Ke. "Pastikan kamu tidak membuat keluargaku curiga saat kamu menemui Bibi Merry."


"Baik." Qing ke mengangguk patuh, sebelum akhirnya beranjak pergi dari hadapan Xue Shan Shan.


Begitu Qing Ke hilang dari pandangannya, Xue Shan Shan beralih pada Lin Mei dan berkata dengan tegas. "Lin Mei, siapkan makanan lain untukku. Aku ingin kamu sendiri yang menyiapkannya!"


"Baik, Nona." Lin Mei juga dengan patuh pergi dari hadapan Xue Shan Shan.


Dalam sekejap, Paviliun Siew yang dihuni oleh Xue Shan Shan menjadi hening hingga suasana di sekitar terasa begitu mencengkam.


Terlebih, saat Xue Shan Shan menatap semua pelayan di hadapannya yang masih berlutut.


"Apa kalian mau terus berlutut sampai aku berhasil menangkap pelakunya?"


"Kami tidak berani, Nona." Pelayan yang mulanya meragukan Xue Shan Shan, menundukkan kepala sambil berbicara untuk mewakili semua rekannya yang tidak berani berdiri.


"Bangunlah, aku tidak akan menghukum seseorang tanpa sebab. Kalian bisa kembali bekerja seperti biasa, tapi kalian tidak diizinkan membicarakan masalah ini lagi!"


Xue Shan Shan berhenti sejenak sembari menatap semua pelayan itu dan berkata dengan datar, tetapi menyiratkan ketegasan. "Jika kalian membicarakannya lagi dan keluargaku, terutama ibuku mengetahui perihal makananku diracuni, maka aku tidak bisa memastikan hukuman apa yang akan kalian terima nantinya!"


Begitu saja, semua pelayan itu hanya bisa mengangguk patuh dan bertekad mengunci mulut masing-masing agar tidak menimbulkan masalah.


Bagaimanapun, mereka pernah mendengar bahwa Nona Besar Xue yang sangat disayangi oleh seluruh tuan dan nyonya di Kediaman Perdana Menteri, tidak bisa disinggung!


Dia juga dengan setia menemani sang majikan makan sampai selesai.


Pada siang harinya, Qing Ke baru kembali dari menjalan tugas yang diberikan oleh Xue Shan Shan.


Dia tidak hanya berhasil menemukan pelayan baru di Paviliun Siew, tetapi juga menangkap pelaku yang meracuni makanan Xue Shan Shan.


Saat menemui Xue Shan Shan yang menikmati pemandangan di taman, Qing Ke langsung melemparkan pengkhianat itu hingga tersungkur tepat di bawah kaki sang majikan.


"Nona, ini dia pelakunya."


Xue Shan Shan melirik sedikit pelayan yang menangis dengan begitu menyedihkan di bawah kakinya, lalu menatap Qing Ke saat bertanya, "Kamu yakin itu dia?"


"Iya, Nona." Qing Ke mengangguk dengan penuh keyakinan. "Dia adalah keponakan Ibu Pelayan Wu, dayang istana yang berada di sisi Putri Amber dan baru saja meninggal kemarin malam."


Mendengar itu, Xue Shan Shan pun sudah bisa menyimpulkan segalanya dengan sempurna. Akan tetapi, dia tetap bertanya, "Bagaimana kamu bisa yakin dia memang pelakunya? Apa hanya karena hubungannya dengan Ibu Pelayan Wu?"


"Dia sudah sejak lama ingin menjadi pelayan di istana, tetapi tidak pernah memiliki kesempatan. Saat mengetahui Ibu Pelayan Wu meninggal, dia mendatangi Putri Amber untuk meminta pekerjaan. Namun, tidak disangka dia dipekerjakan dan dikirim ke sini untuk meracunimu."


Xue Shan Shan mengangguk mengerti, dia menatap pelayan yang masih berlutut dengan tubuh gemetar. "Benar yang dia katakan?"


Pelayan itu bungkam, membuat Qing Ke meradang. "Jawab!"


"I-iya, Nona ...." Pelayan itu terkejut dan menjawab dengan tergagap. "Nona, saya terpaksa melakukannya."


Detik berikutnya, pelayan itu menjelaskan secara singkat alasan dirinya menerima tawaran Putri Amber adalah karena sangat membutuhkan uang.


Bagaimanapun, selama ini dia dan ibunya yang merupakan ibu tunggal mengharapkan uang dari Ibu Pelayan Wu.


Namun, Ibu Pelayan Wu sudah meninggal, sementara ibunya masih sangat membutuhkan uang untuk berobat.


Jadi, dia tidak punya pilihan lain untuk mendatangi Putri Amber, bahkan menerima perintah jahatnya.

__ADS_1


"Nona, hamba pantas mati." Pelayan itu bersujud hingga kepalanya membentur tanah dengan keras sampai mengeluarkan darah. "Nona, kamu bisa menghukummu sesuka hatimu, tapi sebelum itu bisakah saya mengajukan satu permintaan padamu?"


"Cih, tidak tahu diri!" Qing ke mendengus sinis, dia juga hampir saja menendang pelayan itu jika saja Xue Shan Shan tidak ada di hadapannya saat ini.


"Nona, jangan dengarkan dia." Lin Mei juga ikut bereaksi. "Aku tidak yakin dia benar-benar menyesali perbuatannya dan menerima hukuman dengan senang hati."


Xue Shan Shan mengabaikan pendapat kedua pelayan setianya, dia hanya fokus menatap pelayan itu. "Apa yang kau inginkan."


Mendengar pertanyaan Xue Shan Shan, wajah pelayan itu tampak sedikit berseri seolah-olah dia memiliki secercah harapan.


"Nona, sebelum hamba mati, izinkan hamba menemui Putri Amber untuk mengambil upah hamba dan memberikannya pada ibu hamba agar dia bisa berobat." Pelayan itu menatap Xue Shan Shan dengan penuh harap, sebelum akhirnya kembali berkata dengan cepat. "Nona, percayalah hamba pasti akan kembali ke sini lagi untuk menerima hukuman setelah bertemu dengan Putri Amber dan ibu hamba."


"Nona, jangan mudah terperdaya dan merasa kasihan." Lin Mei yang mengetahui Xue Shan Shan memiliki hati lembut, segera menasehatinya.


Memang benar Xue Shan Shan berhati lembut dan mudah luluh saat melihat air mata seseorang, tetapi itu dulu.


Sekarang, dia sudah bisa membedakan yang mana tulus dan tidak.


"Tenang saja, aku tahu apa yang harus kulakukan." Xue Shan Shan menatap Lin Mei dan Qing Ke, mencoba menenangkan mereka.


Kemudian, dia kembali menatap pelayan yang masih berlutut di bawah kakinya. "Aku bisa memaafkanmu, tapi kau harus melakukan sesuatu untukku."


Pelayan itu terdiam, tidak tahu harus bagaimana bereaksi.


"Kamu tidak bersedia?" Xue Shan Shan mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu, tentu saja hamba bersedia, Nona ...." Pelayan itu dengan cepat mengangguk dan terlihat panik saat menjawab pertanyaan Xue Shan Shan. "Nona, berikan perintahmu, hamba akan melakukannya."


Xue Shan Shan tersenyum dingin. "Racun yang kamu berikan padaku, berikan juga pada Putri Amber!"


Awalnya, Xue Shan Shan memang ingin membuat perhitungan atas perbuatan Putri Amber yang sudah menjebaknya dengan raja ular kobra saat di acara perjamuan.


Namun, begitu mengetahui Kediaman Putri Amber terbakar hanya sehari selepas perjamuan diadakan, Xue Shan Shan mengurungkan niatnya karena berpikir langit sudah mewakilinya untuk memberi pelajaran berharga pada sang putri.


Hanya saja, sepertinya Putri Amber tidak jera dan masih menganggap remeh dirinya seolah-olah dia.bisa ditindas kapan saja.


Kalau sudah begitu, bukankah seharusnya dia bertindak?


Mata dibalas dengan mata, racun pun begitu!


"Nona, ini ...." Pelayan itu sangat terkejut, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi perintah Xue Shan Shan.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" Xue Shan Shan mengangkat alisnya lagi dengan aura mencengkam yang menguar dari tubuhnya hingga membuat pelayan itu semakin ketakutan.


Xue Shan Shan tersenyum miring, dia menatap Qing Ke dan berkedip sekali. "Kalau begitu, kamu saja ...."


"Nona, tidak ... jangan!" Pelayan itu segera memotong kata-kata Xue Shan Shan. "Saya akan melakukannya."


Qing Ke yang sudah hendak beranjak membawa semangkuk air ke hadapan Xue Shan Shan untuk diteteskan rabun dan diberikan kepada pelayan itu, menghentikan langkahnya.


"Aku ingin kamu meracuninya malam ini juga!" Xue Shan Shan melemparkan sebuah botol kaca berukuran kecil yang terdapat bubuk putih ke hadapa pelayan itu, nada suara dan ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak menerima bantahan dan kegagalan. "Jika kamu mengkhianatiku lagi, aku akan mengirimkan ibumu pergi ke neraka bersamamu!"


Setelah beberapa saat menghadapi pelayan itu, Xue Shan Shan menyadari bahwa ibunya adalah kelemahannya. Jadi, tentu saja dia harus menggunakan kelemahannya untuk menekannya.


"Lin Mei, antarkan dia pergi!"


Saat malam hari di Istana Angin, tempat tinggal Permaisuri Xuan, tiba-tiba saja terjadi keributan saat Putri Amber memaksa menerobos masuk.


Padahal, dayang istana sudah memberitahukan.l padanya bahwa sang permaisuri dan Kaisar sedang beristirahat.


Namun, Putri Amber mengabaikannya dan berteriak dengan keras."Ayah, Ibu, ... kalian harus mendapatkan keadilan untukku."


"Masalah apa lagi yang dia timbulkan?"


Melihat Kaisar yang memasang ekspresi kesal, Permaisuri Xuan khawatir suaminya itu akan menghukum Putri Amber yang bersikap lancang.


"Kaisar, jangan marah." Permaisuri Xuan mencoba membujuk dan menenangkan Kaisar.


Pada akhirnya, Kaisar pun mencoba mengatur nafasnya hanya untuk menelan kekesalannya.

__ADS_1


Kemudian, dia berkata dengan datar. "Biarkan Putri Pertama masuk!"


__ADS_2