
Xue Shan Shan ingin mengatakan tidak ada hadiah yang diganti, tetapi Pangeran Li Xian sudah lebih dulu membuka mulutnya tanpa rasa malu.
"Dia ingin memberikanmu cucu."
Seketika, wajah Xue Shan Shan langsung Semerah tomat rebus, sementara wajah Selir Agung Mei menunjukkan binar bahagia yang tidak pernah terlihat.
Meski ulang tahunnya diselenggarakan hari ini dan hadiah cucu dari menantu dan putranya akan hadir beberapa bulan lagi, Selir Agung Mei sama sekali tidak keberatan.
"Shan Shan, tidak masalah jika hadiahnya terlambat sedikit, tapi Ibu sangat tersanjung dan menantikannya." Selir Agung Mei berbicara pada Xue Shan Shan yang menundukkan kepalanya sambil merutuki Pangeran Li Xian.
Dasar tidak tahu malu!
Aku tidak menyangka Pangeran Li Xian ternyata adalah orang yang tidak tahu malu.
Bagaimana bisa dia bicara begitu di depan banyak orang?
Saat ini, Xue Shan Shan rasanya ingin mencari sebuah lubang untuk menyembunyikan dirinya dari orang-orang yang menatapnya dengan berbagai tatapan.
"Xian'er, Ini benar-benar hadiah yang paling istimewa dan tidak pernah Ibu dapatkan sebelumnya." Selir Agung Mei berbalik menatap Pangeran Li Xian yang tersenyum tipis.
Dengan kata-kata Selir Agung Mei, itu artinya Pangeran Li Xian terbebas dari tuntutan sang ibu yang menginginkan hadiah istimewa darinya.
"Nanti kirimkan tonik dan ginseng ke Kediaman Perdana Menteri untuk Shan Shan. Oh, jangan lupa pindahkan koki di dapurku ke sana agar Shan Shan dan cucuku setiap hari bisa makan enak dan sehat." Selir Agung Mei berbicara pada Ibu Pelayan Chu dengan penuh semangat.
Eh, tunggu dulu!
Xue Shan Shan mengerutkan keningnya saat memikirkan kata-kata Selir Agung Mei yang menyebut 'cucuku.'
Selir Agung tidak mengira cucunya sudah ada di perutku, kan?
Pangeran!
Xue Shan Shan rasanya ingin menangis, dia juga sangat ingin memukul wajah sang pangeran yang terlihat tidak ada rasa bersalah sedikitpun.
Ah, terserahlah!
Xue Shan Shan yang masih menundukkan kepalanya karena malu, segera menggeleng.
Dia tidak ingin terlalu banyak berpikir.
Setidaknya, Selir Agung Mei berniat mengirimkan koki istana sehingga dia bisa makan enak setiap hari.
Dan itu semua berkat Pangeran Li Xian.
Xue Shan Shan sangat menantikannya.
__ADS_1
"Ibu, sudahlah. Jangan dibicarakan lagi, kamu membuat Shan Shan malu." Pangeran Li Xian dengan lembut membujuk ibunya agar tidak terus membahas masalah cucu.
Jika tidak, mungkin Xue Shan Shan akan melarikan diri karena tidak tahan menanggung malu.
Selir Agung Mei melihat ke sekeliling, lalu berlatih menatap wajah merah Xue Shan Shan. Dia pun tersenyum saat berkata, "Baiklah, baiklah. Ibu tidak akan membicarakannya lagi."
Bagaimanapun, hamil duluan memang agak memalukan.
Namun, siapa yang berani membicarakan menantu kesayangannya?
Meski begitu, Selir Agung Mei berbisik di telinga Xue Shan Shan. "Kamu harus menjaga kesehatanmu dan cucu Ibu. Tenang saja, Ibu pasti akan mengirimkan banyak makanan dan tonik ke Kediaman Perdana Menteri, kamu juga bisa pergi ke Istana Bunga Persik kapan saja."
Detik berikutnya, Selir Agung Mei sedikit menjauh dari Xue Shan Shan sambil berkata, "Pesta perjamuan akan segera dimulai, sudah saatnya kita ke sana."
Xue Shan Shan hanya mengangguk, sebelum akhirnya berjalan menuju lokasi perjamuan.
Di dalam perjalanan, Xue Shan Shan berjalan bersama Pangeran Li Xian, tetapi mereka hanya diam di sepanjang perjalanan.
Meski demikian, angin sepoi-sepoi meniup ujung pakaian mereka hingga saling bertautan.
Mereka terlihat serasi dan bahagia di mata Selir Agung Mei yang berjalan bersama Fu Qingyue, juga mata siapa pun yang memandang.
Ketika tiba di lokasi perjamuan, hampir semua menteri dan anggota keluarga yang sebelumnya masih berbaris di depan gerbang, saat ini sudah duduk.
"Yang Mulia, aku akan duduk di sana." Setelah selesai bicara, Xue Shan Shan melambaikan tangannya dan berjalan ke tempat duduk Kediaman Perdana Menteri.
Fu Qingyue juga berpamitan pada Selir Agung Mei yang kali ini duduk di sisi Kaisar karena bagaimanapun, hari itu adalah harinya.
Di hadapan mereka merupakan tempat duduk para pangeran dan putri, tapi bedanya kali ini ada tempat duduk utusan Kerajaan Qin.
Setelah Xue Shan Shan duduk, Li Xuanji yang duduk di tempat duduk para putri, beserta tiga bersaudara Qin yang duduk di tempat utusan Kerajaan Qin, menatap gadis itu dengan tatapan berbeda.
Xue Shan Shan pura-pura tidak melihat, dia hanya berbalik dan berbicara dengan Fu Qingyue.
"Shan Shan, tadi aku melihat Yang Mulia Pangeran Li Xian tersenyum padamu." Fu Qingyue mengedip-ngedipkan matanya pada Xue Shan Shan dengan nakal.
Xue Shan Shan tertegun sejenak lalu berkata dengan sedikit malu. "Mana ada, kamu pasti salah lihat."
"Aku tidak buta, bagaimana mungkin aku salah lihat," balas Fu Qingyue keras kepala. "Aku juga tidak tuli dan mendengar semua kata-kata Yang Mulia Pangeran Li Xian."
Perkataan Fu Qingyue membuat Xue Shan Shan semakin malu, dia pun kembali teringat pada kaya Pangeran Li Xian sebelumnya di depan Selir Agung Mei dan banyak orang lainnya.
Melihat Xue Shan Shan yang malu-malu seperti itu, Fu Qingyue merasa senang dan ingin terus mengganggunya.
Namun, netranya tidak sengaja bertemu dengan tiga pasang netra Qin bersaudara.
__ADS_1
"Orang-orang utusan Kerajaan Qin terus memelototimu," ucap Fu Qingyue memberitahu sambil melirik ke arah tempat utusan Kerajaan Qin.
"Biarkan saja selama melototiku masih gratis," sahut Xue Shan Shan tak acuh.
Fu Qingyue mengangguk setuju, sebelum akhirnya dia berbisik ke telinga Xue Shan Shan. "Aku katakan padamu bahwa pangeran paling jelek di antara utusan Kerajaan Qin ternyata bisu."
Yang paling jelek?
Xue Shan Shan diam-diam menoleh untuk melihat tempat duduk utusan Kerajaan Qin, di sana ada dua pangeran dan seorang putri, juga beberapa menteri.
Pangeran yang paling jelek ....
Qin Zigui?
"Bisu? Kamu yakin?" Xue Shan Shan teringat saat di Istana Bunga Persik tadi, Qin Zigui memang tidak berbicara.
Fu Qingyue mengangguk tanpa keraguan.
Seketika, Xue Shan Shan sangat ingin berdoa kepada langit yang sangat sakti, bisa memberikan pembalasan secepat itu.
Namun, kenapa dia bisa bisu?
Xue Shan Shan tidak bisa menahan tawanya, dia baru berhenti dan menutup mulut ketika Xue Jinggou yang baru saja diangkat menjadi Kepala Kementerian Pertahanan, memelotoinya dengan ganas.
Di depan, Pangeran Li Xian sepertinya juga menyadari sesuatu dan langsung memusatkan perhatiannya pada Xue Shan Shan.
Saat melihat senyuman di wajah Xue Shan Shan, suasana hatinya menjadi semakin baik.
Tidak lama kemudian, terdengar suara yang mengumumkan kedatangan Kaisar.
Begitu saja, semua orang langsung berdiri dan memberi hormat sebagai mana mestinya.
Dan seperti biasa, perjamuan selalu saja diisi dengan berbagai macam tarian, permainan musik dan pertunjukan lainnya yang membosankan versi Xue Shan Shan.
Hanya saja, dia tetap berada di tempatnya demi menghormati Selir Agung Mei, sang pemilik acara.
Ketika para penyanyi dan penari tampil, Xue Shan Shan selalu merasa bahwa ada beberapa mata yang melirik ke arahnya dari waktu ke waktu.
Dia pun melihat sekelilingi dan tidak sengaja mendapati begitu banyak mata yang tertuju padanya.
Li Xuanji, tiga bersaudara Qin, bahkan Xue Yuwen juga tidak berhenti menatapnya.
Ada apa?
Apakah mereka aliansi pembalas dendam?
__ADS_1
***
Jangan lupa like, komen dan follow ya man-teman : )