
Setelah Permaisuri datang ke Taman Hecha bersama Putri Amber, semua orang secara serentak memberi hormat.
Putri Amber yang sangat cantik dengan mengenakan gaun brokat lima warna adalah putri pertama, dia hanya mengundang para nona bangsawan pada perjamuan kali ini hingga orang-orang yang hadir tidak begitu banyak.
Namun, tetap saja taman didekorasi dengan sangat indah, membuat semua orang takjub dengan keindahannya.
Bahkan, banyak hidangan lezat juga yang tersaji.
Karena identitas Selir Agung Mei yang terhormat, dia ditempatkan di samping kursi utama, tidak jauh dari Permaisuri Xuan.
Namun, Selir Agung Mei malah menolak dengan alasan ingin berbincang dengan Xue Shan Shan.
Jadi, dia duduk di tempat yang disediakan untuk Keluarga Xue, tepat di sebelah Xue Shan Shan. Bahkan, dia juga memanggil Fu Qingyue untuk duduk bersama, padahal seharusnya tempat itu diduduki oleh Xue Yuwen.
Saat Putri Amber berjalan melewati Xue Shan Shan, dia berhenti sejenak untukenatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Kemudian, sang putrielirik Selir Agung Mei yang ada di samping Xue Shan Shan dengan alis berkerut dalam.
"Kenapa Ibu Mei duduk di sini? Siapa yang begitu lalai?" Saat berbicara, Putri Amber melirik ke sekeliling.
Permaisuri Xuan juga melirik Selir Agung Mei, diantidak ikut berkomentar ketika melihat ada Xue Shan Shan di sebelah wanita itu.
Permaisuri Xuan yakin, pastilah Selir Agung Mei yang bersikeras duduk di sebelah Xue Shan Shan karena bagaimanapun, tempat khusus sudah disediakan untuk wanita itu.
Lagipula, tidak mungkin ada yang berani bersikap lalai atau tidak hormat pada Selir Agung Mei dengan mengatur sembarangan tempat duduknya.
Jadi, Permaisuri Xuan hanya tersenyum tipis dan menatap Selir Agung Mei dengan tatapan cemburu.
Dia masih menginginkan Xue Shan Shan menjadi menantunya!
Selir Agung Mei tentu saja tahu isi hati dan pikiran Permaisuri Xuan, dia pun tersenyum saat berkata, "Aku sendiri yang ingin duduk di sini. Tuan Putri tidak perlu menyalahkan orang lain."
Putri Amber terdiam sejenak.
Sekarang, setelah Selir Agung Mei membuat keputusan untuk berpindah tempat duduk, tidak ada siapa pun yang berani membantah.
Putri Amber juga tidak berani membuat keributan dengan ibu selirnya yang dicintai oleh Kaisar, terlebih saat ini adalah hari bahagianya.
Karena itu, dia hanya bisa meminta para pelayannya untuk mengatur kembali tempat duduk untuk Xue Yuwen yang akhirnya duduk dua harus di belakang Xue Shan Shan bersama seorang putri murba.
Hal ini tentu saja membuat Xue Yuwen kesal hingga dia hampir pingsan, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain menelan bulat-bulat kekesalannya itu.
Setelah beberapa saat, tatapan Putri Ambe tertuju pada Xue Shan Shan. "Apa kamu adalah Istri Pangeran yang dipilih oleh adik Xian?"
"Benar." Selir Agung Mei yang menjawab, dia menatap calon menantu idamannya. "Shan Shan, ayo ke sini. Beri salam pada Tuan Putri."
"Saya Xue Shan Shan, Putri Pertama Keluarga Xue, memberi salam pada Tuan Putri Amber." Xue Shan Shan memberi salam dan hormat dengan patuh.
__ADS_1
Putri Amber menunjukkan senyuman menawan yang mengandung makna terselubun. "Kalau kamu adalah orang yang dipilih oleh Adik Xian, maka kami pasti orang yang memiliki banyak bakat. Hari ini aku harus menilai sendiri apakah kamu layak untuk menjadi istri Adik Xian."
"Layak atau tidak itu tidak penting, yang penting Xian'er menyukai Shan Shan. Lagi pula, dia bukan menikah denganmu." Selir Agung Mei berbicara sambil tertawa seolah-olah dia sedang bergurau, padahal tidak demikian.
Xue Shan Shan yang menjadi topik pembicaraan antara Putri Amber dan Selir Agung Mei, hanya diam dan berkata di dalam hatinya. 'Kenapa pembicaraan di antara mereka mengandung maksud lain?'
Xue Shan Shan tidak habis pikir, kenapa orang-orang di sekitarnya lebih suka berbicara berkelit-kelit daripada langsung mengatakan pokok permasalahannya.
Pada saat semua orang berpikir bahwa putra-putri Permaisuri Xuan dan Selir Agung Mei tidak akur sama seperti ibu mereka, Xue Shan Shan malah berpikir sebaliknya.
Bagaimanapun, dia pernah menyaksikan bagaimana Permaisuri Xuan dan Selir Agung Mei saling menghargai dan menyayangi satu sama lain, meskipun mereka berbagi suami yang sama.
Jadi, Xue Shan Shan yakin bahwa itu pasti hanya hubungan antar saudara yang kurang rukun, seperti dirinya dan Xue Yuwen.
Setelah Putri Amber duduk di tempatnya bersama Permaisuri Xuan, dia berkata dengan anggun. "Acara hari ini daripada disebut perjamuan, lebih baik disebut acara minum teh. Hari ini aku sudah mempersiapkan acara yang menarik, apakah kalian semua tertarik untuk berpartisipasi?"
Setelah mendengar kata-kata Putri Amber, Selir Agung Mei berpaling dan berbisik pada Xue Shan Shan. "Dia memang suka mengadakan acara yang membosankan dan tidak bermakna seperti ini. Oleh karena itu, hanya putri-putri pejabat istana yang suka menghadiri acaranya. "
"Bagaimana dengan Tuan Putri lainnya?" Xue Shan Shan berbalik berbisik pada Selir Agung Mei.
"Mereka tidak menyukainya." Selir Agung Mei mencebik saat menjawab pertanyaan calon menantunya.
Xue Shan Shan mengangguk, dia juga menyadari acara yang diadakan oleh Putri Amber terasa sangat membosankan.
Mungkin, itulah sebabnya banyak Tuan Putri yang tidak menghadiri acara perjamuan tersebut.
"Dalam beberapa tahun ini, acara perjamuan terasa sangat membosankan karena hanya diisi dengan menebak teka-teki dan menulis puisi, juga mengadu bakat. Beberapa waktu lalu saat aku dalam perjalanan kembali ke istana, aku melihat banyak permainan rakyat menyenangkan. Bagaimana kalau kita mencoba memainkannya?"
Meskipun ada suara Putri Amber sedikit dingin, orang yang mendengarnya malah merasa tenang.
Xu Miaohua segera menimpali dengan penuh semangat. "Sepertinya sangat menarik."
"Benar!"
Guo Yangyang juga tidak ingin ketinggalan, begitu juga dengan nona bangsawan lainnya.
Xue Shan Shan mengerutkan bibirnya.
Ternyata, masih ada gadis yang lebih penjilat dari dirinya.
Memangnya, apa yang begitu menarik dari kata-kata Putri Amber?
Xue Shan Shan memutar bola matanya.
Bagaimana jika nanti dia menyuruh kalian menghancurkan batu dengan dada atau menelan pedang panjang?
Aku ingin lihat, apa kalian masih bisa merasa senang seperti saat ini?
__ADS_1
Pada saat ini, beberapa pengawal istana dari kediaman Putri Amber membawa sebuah kotak yang panjang dan besar.
Setelah kotak tersebut diletakan di tengah-tengah, Ibu Pelayan Wu yang berdiri di samping Putri Amber membuka mulutnya untuk menjelaskan, "Di dalam kotak ini terdapat sepuluh kotak rahasia yang sudah tertulis nomor satu sampai sepuluh. Para peserta yang ingin berpartisipasi bisa memilih satu angka, lalu memasukkan tangannya ke dalam dan menerima apa yang akan didapatkan."
Ibu Pelayan Wu berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi. "Untuk saat ini, aku hanya bisa memberitahu bahwa di dalam sepuluh kotak itu terdapat pada pusaka dan hukuman. Kalau memiliki nyali, silahkan mencoba."
Ketika mendengar permainan ini, Xue Shan Shan pun merasa tertarik dan tertantang.
"Apa ada yang ingin maju duluan?" Ketika berbicara, Putri Amber sengaja melirik Xue Shan Shan.
Sama seperti Xue Shan Shan, putri-putri pejabat lainnya juga berpikir permainan yang dibuat oleh Putri Amber sangat menarik hingga mereka merasa penasaran dan takut di dalam hati masing-masing.
Mendapatkan benda pusaka adalah hal baik, tapi jika hukuman yang didapatkan, maka itu pasti sangat memalukan!
"Shan Shan, permainan ini kedengarannya sangat menantang, aku ingin mencobanya." Gu Lingling yang dapat posisi duduk di sebelah Xue Shan Shan, berbicara dengan suara rendah pada gadis itu.
"Kalau begitu, coba saja. Lagipula, tidak akan ada yang memakanmu." Meskipun berbicara dengan tak acuh, Xue Shan Shan menyetujui keinginan Gu Lingling untuk maju terlebih dahulu.
Setelah mendapatkan dukungan dari Xue Shan Shan, Gu Lingling jadi bersemangat dan langsung menawarkan diri. "Tuan Putri Amber, saya ingin mencobanya."
"Baik." Putri Amber melirik Gu Lingling dengan tak acuh.
Detik berikutnya, Gu Lingling sudah berjalan ke depan kotak, dia pun menyadari kotak tersebut tertutup rapat sehingga tidak bisa melihat isi di dalamnya.
Itu sebabnya, dia menarik nafas dalam-dalam dan memilih salah satu kotak.
"Aku pilih nomor tujuh." Gu Lingling menunjuk kotak nomor tujuh menggunakan jari telunjuknya.
Lagi-lagi, Putri Amber hanya mengangguk dan berkata dengan tak acuh. "Masukkan tanganmu ke dalam."
"Baik." Meskipun mengangguk sebagai persetujuan, Gu Lingling merasa gugup.
Dia tidak tahu isi di dalam kotak, tetapi harus memasukkan tangan ke dalamnya.
Perasaan seperti ini sangat menakutkan.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Gu Lingling menarik nafas dalam-dalam dan memasukkan tangannya ke dalam kotak nomor tujuh.
"Ahhh!"
Segera saja, suara jeritan yang mengejutkan semua orang di perjamuan pun bergema ....
Tak lama setelah Gu Lingling memasukkan tangannya ke dalam kotak, dia tiba-tiba melompat dengan sebuah benda bulat yang masih berada di dalam genggamannya.
Semua orang juga terkejut oleh reaksi Gu Lingling.
Setelah tenang, mereka melihat benda di tangan Gu Lingling dengan teliti ....
__ADS_1