
Melihat bagaimana Selir Agung Mei dan Pangeran Li Xian saling menatap, Xue Shan Shan yang ada di tengah-tengah merasa ada panah beracun yang keluar dari tatapan mereka.
Selir Agung Mei menatap tajam pada Pangeran Li Xian karena merasa putranya itu tidak ingin membiarkannya berbicara dengan calon menantunya.
Di sisi lain, Pangeran Li Xian bukannya mengkhawatirkan Selir Agung Mei akan mengancam atau membuat Xue Shan Shan mundur dari pernikahan yang dianugerahi oleh Kaisar, seperti ibu-ibu mertua pada umumnya.
Karena bagaimanapun, dia yang paling tahu bahwa di dunia ini ibunyalah yang paling khawatir dirinya tidak mendapatkan jodoh dan tidak akan menikah seumur hidup.
Jadi, Selir Agung Mei pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyayangi menantunya itu.
Hanya saja, Pangeran Li Xian takut pertemuan antara Xue Shan Shan dan ibunya akan membuat sang ibu membicarakan yang seharusnya tidak dibicarakan.
Pada akhirnya, Xue Shan Shan hanya menundukkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaan Pangeran Li Xian, dia memutuskan berpura-pura mati.
Dia pergi terburu-buru dari Istana Wanshou bukan karena ingin pergi ke Istana Bunga Persik, dia hanya ingin mencari tempat bersembunyi.
Bagaimanapun, dia merasa malu karena sudah membuka aibnya sendiri di depan Pangeran Li Xian dan Wei Shu.
Namun, siapa yang menduga ternyata dia tiba-tiba dipanggil oleh Selir Agung Mei begitu dirinya keluar dari Istana Wanshou.
Pangeran Li Xian mendekati Xue Shan Shan dan menunduk untukrlihat gadis itu. "Bisu?"
'Plak!'
Selir Agung Mei langsung menggebrak meja dan menatap putranya dengan penuh kemarahan.
Apa-apaan bocah tengik ini?!
Tidakkah seharusnya dia bersikap dan berbicara lebih lembut agar calon istrinya itu tidak pergi?
Sudahlah memiliki mulut beracun, dia bahkan tidak lembut dan perhatian!
Bagaimana mungkin dia membiarkan calon istrinya pulang malam-malam hanya ditemani oleh seorang pengawal saja?
Seharusnya, Pangeran Li Xian mengantarkan Xue Shan Shan pulang!
Selir Agung Mei menghela nafas kasar, dia hanya bisa berharap Xue Shan Shan akan tetap bersabar membersamai putranya yang bodoh itu.
"Memangnya, kenapa kalau Shan Shan ke sini?" Selir Agung Mei masih saja melemparkan tatapan sengit pada putranya
Cara Selir Agung Mei menyebut nama 'Shan Shan' seakan mereka berdua menjalin hubungan yang baik, bahkan Xue Shan Shan juga merasa wanita itu tidak sedang memusuhinya.
Benarkah?
Entahlah, Xue Shan Shan sendiri ragu akan hal itu.
Pangeran Li Xian sama sekali tidak takut melihat aura yang menyebar dari tubuh ibunya, dia bahkan berbicara dengan datar. "Sudah malam, dia harus pulang dan beristirahat."
"Meskipun harus pulang, kamu tidak boleh bicara begitu kasar. Kamu akan menakutinya." Selir Agung Mei memasang wajah cemberut saat memperingati putranya.
Mendengar penuturan Selir Agung Mei, Xue Shan Shan langsung memasang ekspresi menyedihkan seolah-oleh dirinya sudah tertindas. "Betul, Selir Agung sangat bijaksana. Jantungku bahkan hampir berhenti hanya karena melihat tatapannya."
Semula, Pangeran Li Xian mengangkat alisnya ketika kata menakuti keluar dari mulut Selir Agung Mei. Akan tetapi, dia langsung mengerutkan kedua keningnya saat mendengar kata-kata Xue Shan Shan.
Pada akhirnya, Pangeran Li Xian hanya bisa menatap tak percaya pada Selir Agung Mei dan Xue Shan Shan.
Belum menikah saja mereka sudah berani dan begitu kompak menganiaya dirinya, bagaimana setelah menikah nanti?
Dasar rubah betina!
"Shan Shan, jangan takut. Jika dia menggangguku, kamu bisa langsung mencariku. Aku bisa membantumu melampiaskan kekesalanmu." Selir Agung Mei yang melihat Xue Shan Shan menundukkan kepalanya, mengira gadis itu benar-benar ketakutan.
Dia pun mengulurkan tangan dan memegang tangan Xue Shan Shan hingga membuat gadis itu terkejut dan mengedip-ngedipkan mata padanya.
Ada yang salah, kan?
Tidak bisa memahami situasi dan sikap Selir Agung Mei, Xue Shan Shan tidak bisa duduk lebih lama lagi. Dia berdiri dan berkata dengan wajah yang sangat manis. "Kalau begitu, hamba tidak akan mengganggu Selir Agung dan Pangeran lagi. Hamba mohon pamit."
Seketika Selir Agung Mei langsung panik.
__ADS_1
Dia sudah susah payah mengundang Xue Shan Shan hanya untuk membangun hubungan antara mertua dan menantu agar tidak ada kecanggungan lagi.
Bagaimana dia bisa membiarkan Xue Shan Shan pergi?
"Jangan terburu-buru, aku sudah memerintahkan pelayan untuk meminta koki menyiapkan makanan. Pergilah setelah makan." Selir Agung Mei berbicara sambil menatap Xue Shan Shan dengan wajah penuh senyuman manis.
Sebagai seorang wanita, Xue Shan Shan merasa tidak bisa menolak ketika melihat wajah cantik Selir Agung Mei saat tersenyum.
Dia lebih tidak bisa menolak lagi karena mendengar wanita itu menyebutkan makanan.
Baru saja Xue Shan Shan ingin menyetujui kata-kata Selir Agung Mei, Pangeran Li Xian sudah lebih dulu menyela.
"Dia sudah makan di kediamanku."
Xue Shan Shan menundukkan kepalanya. "Aku hanya makan kue dan itu tidak membuatku kenyang."
Dalam hitungan detik, wajah Xue Shan Shan langsung cemberut hingga membuat Selir Agung Mei sakit hati.
"Apa masalahmu? Kenapa kamu ingin Shan Shan cepat-cepat pulang?" Selir Agung Mei mengerutkan wajahnya, menunjukkan ekspresi tak senang. "Biarkan Shan Shan makan dulu, baru pulang!"
Sementara itu, Pangeran Li Xian tampak tercengang.
Setelah menghabiskan dua piring kue, Xue Shan Shan masih mengatakan dirinya tidak kenyang?
Luar biasa!
Apakah perut gadis itu tercipta dari karet hingga membuatnya begitu elastis?
Akhirnya, Pangeran Li Xian tidak lagi membantah dan hanya membiarkan ibunya melakukan apa pun, selama itu masih dalam batas wajar.
Saat makan, Xue Shan Shan menelan ludah sambil melihat meja besar yang penuh dengan makanan lezat.
Padahal, meja bundar sebesar itu hanya ada mereka bertiga.
Sayang sekali jika tidak dihabiskan.
Namun, begitu melihat Selir Agung Mei tengah menatapnya, Xue Shan Shan membuang jauh-jauh niatnya itu.
Dia menelan ludah dengan susah payah dan memutuskan untuk makan hanya sedikit demi menjaga citranya di depan ibu mertua.
"Shan Shan, coba ayam cincang kenari ini. Rasanya sangat enak." Selir Agung Mei berbicara sambil menyumpitkan daging ayam ke piring calon menantunya.
Xue Shan Shan tersanjung dan berulang kali mengucapkan terima kasih.
Setelah mencicipi sedikit, Xue Shan Shan merasa seleranya terpuaskan.
Makan sedikit atau banyak sudah tidak dia hiraukan lagi, yang penting perutnya terisi penuh.
Begitu saja, Xue Shan Shan seperti hantu kelaparan yang makan gigitan demi gigitan.
Tanpa Xue Shan Shan sadari, tingkahnya itu sama sekali tidak membuat Selir Agung Mei merasa risih seperti yang dia pikirkan sebelumnya.
Bahkan, Pangeran Li Xian juga tidak merasa cara makan Xue Shan Shan sangat tidak sopan.
Bagaimanapun, mereka sudah terbiasa melihat sekelompok anak gadis yang makan dengan perlahan seolah-olah sangat takut mengunyah makanan.
Justru, mereka merasa cara makan Xue Shan Shan sangat sederhana dan tidak dibuat-buat.
Selir Agung Mei juga yakin, gadis dengan nafsu makan besar pasti memiliki kondisi fisik yang kuat.
Lihat saja, Xue Shan Shan bahkan masih berkeliaran dengan tubuh bugar, padahal baru beberapa waktu lalu dia pingsan karena racun di tubuhnya bereaksi.
Seketika, Selir Agung Mei kembali terbayang beberapa cucu meramaikan suasana Istana Bunga Persik.
Sementara itu, Pangeran Li Xian merasa nafsu makannya menjadi sangat baik saat melihat Xue Shan Shan membenamkan kepalanya di dalam mangkuk seperti seekor tupai.
Apa seenak itu?
Pangeran Li Xian mengambil sepotong jamur putih dengan sumpit, lalu menggigitnya secara perlahan.
__ADS_1
Benar, sepertinya jamur itu lebih enak dari yang pernah dia makan sebelumnya.
Bahkan, Selir Agung Mei dan Pangeran Li Xian tanpa sadar makan lebih banyak dari biasanya hanya karena melihat cara Xue Shan Shan makan.
Setelah selesai makan, Xue Shan Shan tidak peduli lagi pada tanggapan Selir Agung Mei atau pun Pangeran Li Xian.
Dia hanya ingin segera pulang agar Xue Jingguo dan Nyonya Tua Xue tidak membuat keributan jika tahu dirinya pulang larut.
Selir Agung Mei menghela nafas pasrah, dia juga tidak bisa menahan anak gadis orang lebih lama lagi bersamanya.
"Aku sangat menyukaimu. Kalau ada waktu senggang, datanglah lagi ke sini untuk menemaniku."
Tunggu sampai Xue Shan Shan menikah ke Istana Wanshou, dia pasti akan mengundang menantunya itu untuk pergi ke Istana Bunga Persik.
Eh, tidak bisa!
Selir Agung Mei langsung menggelengkan kepalanya begitu pemikiran seperti itu melintas di kepalanya.
Jika Xue Shan Shan datang setiap hari ke Istana Bunga Persik, kapan menantunya itu punya waktu berduaan dengan putranya?
Lalu, kapan pula dia akan menimang cucu.
Tidak bisa, tunggu sampai Xue Shan Shan melahirkan cucu-cucu yang menggemaskan saja.
Xue Shan Shan mengedip-ngedipkan matanya dengan bingung.
Xue Shan Shan merasa Selir Agung Mei seharusnya melihatnya dengan cara yang merendahkan dan mengatakan tidak ingin lagi melihatnya karena begitu kasar.
Namun, kenapa sikap dan tindakan Selir Agung Mei malah melenceng dari jalur pemikirannya?
Xue Shan Shan masih terus berpikir dan tanpa sadar bertukar pandang dengan Pangeran Li Xian, tetapi dia segera mengalihkan pandangannya dan berbicara dengan Selir Agung Mei.
"Ya, terima kasih atas keramahan Selir Agung hari ini. Kalau begitu, Hamba pamit dulu."
"Baik." Selir Agung Mei mengangguk dengan penuh senyuman, lalu menatap Pangeran Li Xian. "Xian'er, antarkan Shan Shan pulang."
"Tidak, jangan!" Xue Shan Shan dengan cepat menyela hingga membuat Selir Agung Mei dan Pangeran Li Xian menatapnya dengan alis berkerut.
Xue Shan Shan tersenyum canggung, lalu menjelaskan, "Selir Agung, terima kasih atas perhatianmu, aku bukannya ingin menolak kebaikanmu dan Pangeran. Jika Pangeran mengantarkanku pulang, pasti akan menarik perhatian orang-orang dan mereka juga pasti akan embicarakan kami. Jadi, biarkan aku pulang bersama Minglang saja."
Selir Agung Mei terdiam, merasa penjelasan Xue Shan Shan cukup masuk akal.
Jika seorang gadis berjalan bersama pria di malam hari, itu hanya akan menjadi malapetaka bagi sang gadis.
Karena itu, Selir Agung Mei setuju
Setidaknya, dia memang harus menjaga reputasi calon menantunya itu!
Lagipula, Minglang ada bersama Xue Shan Shan. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Pada saat yang sama, Pangeran Li Xian justru tidak senang karena merasa Xue Shan Shan begitu ingin menghindar darinya.
Padahal, sebelumnya gadis itu yang lebih dulu mengejarnya.
Apa sekarang dia ingin main tarik ulur?
Pangeran Li Xian cemberut, dia mengabaikan Xue Shan Shan dan menatap Selir Agung Mei. "Hmmmm, biarkan dia pulang bersama Minglang. Aku juga memiliki beberapa hal untuk dibicarakan padamu."
Selir Agung Mei menatap Pangeran Li Xian dengan alis berkerut dalam hingga terlihat hampir menyatu, terlebih saat melihat ekspresi serius di wajah sang putra.
Jarang sekali dia bisa melihat Pangeran Li Xian memasang wajah serius saat ingin bicara dengannya, bahkan mereka sudah sangat jarang mengobrol bersama.
Ada apa sebenarnya?
***
Guys, maaf ya hanya bisa update satu. Akhir² ini aku agak sibuk di real life karena baru buka usaha kecil²an, aku juga sambil momong bayi. Jadi, tolong dimaklumi dan jangan lupa tetap support ya.
Makasih, ya, semoga kalian semua sehat selalu
__ADS_1