SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
EPISODE 185


__ADS_3

Novelina dan ke dua rekan nya yang di panggil Aris, kembali ke satu ruangan dengan Heriawan dan yang lain nya.


Heri melihat kondisi Novelina yang tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa.


Tidak lama, Aris pun menuyusul, di lihat William dan Lisna.


"Apa sudah semua di interview awal?" tanya Aris.


"Sudah." jawab William.


"Akhiri semua hari ini, suruh mereka pulang." suruh Aris.


Wiiliam dan Lisna mengerti.


"Baiklah, untuk hasil berikut nya akan di hubungi ya. Jadi karena ini juga sudah sore, kita akhiri di sini dulu. " ucap William.


"Berapa lama kami harus menunggu hasil nya pak?" tanya salah satu calon.


"Seminggu ." jawab William senyum ramah.


Semua menganggukkan kepala.


Satu persatu keluar dari ruangan. Aris, William dan Lisna memperhatikan ke sebelas orang yang di curigai.


Heri memberi kode pada Novelina dan rekan nya.


**************


"Hend, bersiap lah, mereka sudah keluar dari gedung." ucap Aris.


"Okey." jawab Hendra yang sedang menunggu di dalam mobil.


Sebelas orang itu berpencar, ada yang menggunakan mobil, dan motor.


Tentu saja Heri berada dalam mobil bersama Novel.


Hendra dan beberapa anak buah nya mengikuti Heri dan Novel.


Ada tiga mobil yang mengikuti mobil Heri. Target mereka adalah Heri.


Heri membawa mobil nya masuk kedalam sebuah rumah kosong.


"Her, apa yang kita lakukan di sini?" tanya Novelina.


Heri menatap sinis pada Novel.


"Turun." suruh Heri.


Novel segera turun, di susul Heriawan.


"Ada apa Her?" tanya Novel.


"Dengan siapa kau tadi berbicara?" tanya Heri mengintrogasi Novel.


"Aku tidak tahu nama nya siapa. Tapi dia bagian Personalia gitu. Kenapa?" ucap Novel.


"Kau berbicara bohong kan? kau bertemu dengan Lucifer. Benar kan?" tanya Heri menyudutkan.


Novel menelan ludah, gugup, panik dan ketakutan.


"Novel, aku akan menyelamatkan mu dan keluarga mu. Jadi berbicara yang jujur, agar aku tahu cara membela mu di hadapan tuan." bujuk Heri.


Tampak keraguan dalam diri Novel.


"Apa yang mereka bicarakan dengan mu?" ucap Heri.


"A....aku..aku tidak bertemu dengan nya Her, percaya lah." ucap Novel menggelengkan kepala.


PPPLLAAAKKK......


Heri menampar keras pipi Novel.


Novel menyentuh pipi nya, menahan sakit.


"Jawab Novel!!!!! " teriak Heri.


"Aku berkata yang benar. Aku tidak bertemu dengan nya." jawab Novel menangis.

__ADS_1


PPLLAAKKKK.....PPLLAAAKKK.....PPPLLAAAKKK.....


Beberapa kali Heri menampar Novel. Walaupun gadis itu menjerit kesakitan dan menangis, Heri membabi buta menampar nya.


"Kau mau diri mu dan keluarga tersayang mu itu mati semua? termasuk kakak mu yang sedang hamil itu? Hah??" tanya Heri menarik rambut Novel secara paksa.


"Jangan Her, ku mohon. Kalau kau membunuh ku, aku tidak apa-apa, tapi tolong, jangan sakiti keluarga ku. Ku mohon Her." mohon Novel menangis.


****************


"Ckckckck....Psyco..." ucap Aris.


Aris dan yang lain nya mendengar dan melihat semua obrolan video antara Heri dan Novel.


Lisna sangat gregetan sekaligus kasihan dengan wanita itu.


"Kasihan banget. Aku yakin wajah nya sudah membengkak." ucap Lisna mengusap air mata nya.


Lucifer tidak terpengaruh. Masa bodoh! itu yang ada di dalam pikiran nya.


Hendra dan anak buah yang di bawa nya menunggu di luar, tentu saja mereka juga bisa melihat dan mendengar.


Flashback on....


"Pakai ini." Lucifer memberikan dua alat sadap, penangkap suara dan video.


Novel menerima nya.


"Bagaimana cara memakai nya pak?" tanya Novel bingung.


Lucifer melirik Aris.


"Begini." Aris membantu memakai alat sadap itu.


Alat sadap yang pertama berbentuk Bross kecil. Di pasangkan di kancing baju Novel di urutan yang kedua.


Novel sangat gugup ketika mereka berdekatan. Sesekali Aris melirik nya.


Alat sadap berikut nya di pasangkan di tas bagian depan milik Novel.


"Ba....baik pak." jawab Novel.


Aris mengembalikan botol kaca yang di berikan Heriawan.


"Ambil itu. Isi nya sudah di ganti. Jadi kau tidak usah khawatir. Tidak akan mati. Tapi saat dia menyuruh mu meminum nya, kau berpura-pura lah pingsan dan mengeluarkan busa." ucap Lucifer.


"Terimakasih pak. Terimakasih." Novel bersujud di hadapan Lucifer dengan sungguh-sungguh dan menangis.


"Lalu....bagaimana dengan keluarga ku?" tanya Novel.


Lucifer menatap nya tajam.


"Semua tergantung pada mu! Kalau kau bisa bekerja sama dan menyakin kan dia, maka aku bisa menyelamatkan keluarga mu." ucap Lucifer.


"Drama yang kau mainkan akan menentukan nasib mu dan keluarga mu. Dialog sudah ku berikan pada mu, tinggal cara mu berimprovisasi." ucap Lucifer dengan sinis.


"Kau mengerti kan?" tanya Lucifer.


"Saya mengerti pak." jawab Novel dengan pasti.


"Bagus. Sekarang keluar lah. Jangan buat rekan mu mencurigai mu. Ingat! jangan beritahu mereka kalau kau berbicara dengan ku." ucap Lucifer.


Novelina menganggukkan kepala nya.


Flashback of.....


*************


Novelina menangis menahan kesakitan. Rasa nya benar-benar sangat sakit.


"Mana botol yang ku berikan itu?" tanya Heri.


"Ada di dalam tas." tunjuk Novel.


"Ambil." suruh Heri.


Novel tanpa ragu mengambil botol kaca di dalam tas nya.

__ADS_1


"Ini." tunjuk Novel.


"Minum." perintah Heri.


"Tapi Her, aku tidak...


"MINUM!!!!" teriak Heri.


Dengan tangan gemetaran dan mengeluarkan air mata, dia meminum isi dalam botol kaca itu. Botol kaca berwarna silver.


Heri memperhatikan dengan teliti.


Novel sudah meminum cairan itu sampai habis.


Beberapa saat kemudian, kepala nya pusing, mengeluarkan busa di mulut nya.


BBBRRRUUUGGHHH......


Novel terjatuh, menggelepar, sesekali memegang leher nya erat.


**************


"Waw....acting nya bagus sekali." ucap Lisna polos.


"Ppffuutthhh..." Aris dan William menahan tawa akibat kalimat Lisna.


"Apa itu benaran racun?" tanya Lisna.


"Bukan. Itu hanya sabun cair pencuci piring." ucap Aris.


"Lalu kenapa berbusa seperti itu?" tanya Lisna.


"Aku menyuruh nya, saat memasukkan kedalam mulut, dia harus menggerakkan mulut seperti berkumur-kumur, supaya busa nya keluar." ucap Aris.


"Hanya saja aku tidak berpikir dia akan berakting seperti itu." ucap Aris memijit kening nya.


"Wah....Daebak...Daebak Oppa." Lisna mengacungi jempol tangan nya.


Aris bangga, menaikkan salah satu alisnya.


***********


Heri memperhatikan pergerakan Novel. Busa semakin banyak keluar dari mulut Novel.


Heri menerima panggilan telepon.


"Hallo tuan." jawab nya.


"Bagaimana? apa dia sudah mati?" tanya Marvel.


"Dia baru saja meminum racun itu tuan. Dan sekarang sudah mati." ucap Heri.


"Tidak ada yang mencurigakan?" tanya Marvel.


"Tidak tuan." jawab nya yakin.


"Bagus, bakar mayat nya." suruh Marvel.


"Baik tuan." jawab Heri.


Panggilan pun berakhir.


"Sayang sekali. Kau sangat cantik tapi harus mati dengan cara yang mengenaskan." ucap Heri.


Heri memperhatikan tubuh Novel, dari ujung kaki hingga kepala nya.


"Tunggu.... Apa itu?" ucap Heri melihat sesuatu di tubuh Novel.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2