
Ina melihat Lucifer yang sangat serius melihat nya. Sebenar nya dia takut dan tidak mau bertemu dengan mereka.
“Kalau begitu biar mereka yang datang kesini. Maurer, suruh mereka masuk.” Lucifer sengaja membiarkan paman dan tante nya Ina untuk masuk ke dalam rumah yang mewah itu.
“Baik tuan.” Maurer segera menghubungi bagian security yang memberitahu tentang mereka.
Semua anggota keluarga berkumpul di ruangan santai. Walaupun punya pekerjaan masing-masing, pegawai atau anak buah nya yang lebih sering melakukan tugas nya.
“Pa….. papa…. Ina tidak mau ikut mereka, nanti Ina di jual lagi.” Ina merasa kalau Lucifer akan melepas Ina.
Dia tahu, kalau paman dan tante nya bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang di ingin kan nya.
“Tenang saja.” Lucifer hanya menjawab sekilas, dia tahu kalau anak angkat nya sudah ketakutan.
***********
Security itu mengantarkan paman dan tante Ina untuk masuk.
Karena jarak nya sedikit jauh dari gerbang. Sepasang suami isteri itu merasa takjub, kepala nya berputar ke kiri dan ke kanan.
“Luas sekali pa, ada air mancur nya juga.” Isteri nya memuji tempat itu.
“Ma, sebaik nya kita harus bujuk anak itu agar membawa kita tinggal di sini. Dari pada kita tinggal di rumah kontrakan yang kecil itu.”
bujuk suami yang sama mata duitan nya dengan isteri nya dengan suara pelan.
“Iya, mama setuju. Ina kan gadis penakut, sama seperti kakak ku. Mama yakin, asal kita tekan sedikit, pasti dia akan mau membujuk mereka untuk mengijinkan kita tinggal di sini.” Mereka sepakat untuk mencari perlindungan tempat tinggal melalui Ina.
Hingga mereka sudah tiba di depan pintu, yang sudah di tunggu Maurer untuk membawa langsung kehadapan Lucifer.
“Tuan Maurer, ini adalah mereka yang mengaku keluarga dari nona Ina.” Security itu menunjuk pada mereka yang saling memegang tangan dengan senyum palsu.
“Hhmm…. Kalian ini, benar-benar tidak tahu diri.” Gumam Maurer yang tahu siapa dan apa tujuan mereka.
Maurer merasa ikut kesal juga. Tampak sekali dari mereka itu menginginkan sesuatu walaupun berusaha ramah.
“Tuan, kami adalah……..
“Silahkan ikuti aku.” Maurer yang tidak suka dengan basa-basi langsung menuntun mereka untuk segera menghadap.
“Wwwwwaaahhhhhh…… paaa….. rumah nya…… rumah nya besar sekali….” Isteri nya yang tanpa sadar membuka mulut dengan lebar.
“Benar ma, warna dinding yang putih seperti salju. Dan atap nya…….
“Tuan Lucifer, saya sudah membawa mereka ke hadapan anda.” Maurer menyerahkan mereka di hadapan Lucifer.
Lucifer dan lain nya bisa melihat jelas apa maksud dari kedatangan mereka. Ujung bibir Lucifer terangkat sambil menggelengkan kepala.
“Siapa kalian?” tanya nya yang sebenar nya sudah tahu.
__ADS_1
“Ka… kami adalah… keluarga satu-satu nya Ina. Paman dan tante nya.” Jawab suami nya yang merasa gugup.
“Oh ya, lalu mau apa kalian datang ke sini?” tanya Lucifer lagi.
“Kami… kami ingin membawa Ina kami untuk… untuk kembali pulang.” Jawab tante nya.
“Pulang? Ke mana?” tanya Eva yang ikut bertanya dan merasa gregetan.
“Ke rumah… kami. Kami akan…..
“kalian akan menjual nya lagi, begitu kan?” tebak Revand yang ada juga di situ.
“Siapa mereka? Kenapa mereka bertanya secara bergantian?” gumam paman nya Ina yang melihat satu-satu orang yang duduk dengan tatapan menyeramkan.
“Ina, tante dan paman mu sangat khawatir dengan mu, ayo kita pulang nak. Mama mu sudah menitipkan kamu pada tante. Tante akan merasa bersalah kalau menelantarkan mu…….
“Maafkan saya, tapi….. tapi… saya… tidak… tidak kenal….. dengan kalian…” Ina berbicara walaupun dengan nada yang gemetar.
“Ap…. Apa? Kamu…. Ini tante dan paman nak. Kami datang kesini untuk…..
“Saya sudah… bilang. Kalau…. Saya…tidak kenal dengan kalian. Jadi…. Jadi kalian harus pergi!” Ina perlahan berbicara dengan tegas, walaupun masih sedikit gugup.
“Sialan nih anak. Udah sombong sekarang ya, mentang-mentang sudah dapat keluarga yang kaya.” Ucap Tante nya dalam hati.
“Ina, kenapa kamu berbicara seperti itu? apa kamu mau mama dan papa mu…..
“Mama dan… papa ku ada di sini. Jadi……
“Breng**k! berani sekali kau teriak di rumah ku, cari masalah hah?” Revand berdiri di hadapan mereka.
“Bu…. Bukan begitu… kami…..kami hanya….
“Ina…hhhiiikksss…hhiikksss…hhhiikksss…. Kenapa kamu seperti ini…..hhhuuuhhhuuuhhuu….. apa salah kami nak..” tante nya berakting dengan pura-pura menangis.
Air mata nya memang mengalir, tapi bukan untuk Ina. Tante nya ini gampang mengeluarkan air mata.
“Ckckckckckck…. Menjijikkan…..” gerutu Lucifer.
“Tuan, tolong kembalikan anak kami. Orang tua kandung nya sudahmenitipkan nya…..
“Omong kosong! ” teriak Lucifer.
Dia berdiri mendekati mereka yang sedikit keberanian melihat mata Lucifer.
“Aku muak dengan orang yang masih berpura-pura. Merasa tidak bersalah dan masih melakukan kesalahan yang sama.”
“Maurer, lemparkan mereka keluar sebelum aku mengambil salah satu dari tubuh busuk nya.” Suruh Lucifer yang sudah tidak bisa menahan emosi nya.
“Baik tuan.”
__ADS_1
“Tuan, kenapa anda sangat jahat? Anda memisahkan kami dan….
BBBRRRUUUGGGGHHH….BBBRRRRRUUUGGGHHHH…..
Lucifer menendang wajah paman nya.
“Suami ku…” tante nya yang langsung memeluk suami nya.
“Masih kurang? Aku bisa saja langsung membunuh mu, karena aku sedang tidak ingin bermain-main.” Ancam nya berjongkok di depan wajah mereka.
“Kami akan melaporkan anda karena sudah berani menculik…….
SSSRREEETTTHHHHH…….
Dengan cepat Lucifer mengambil pisau yang di gunakan untuk memotong buah yang ada di atas meja.
Pisau itu di gunakan untuk melukai wajah tante Ina.
“Aaaakkkhhh…..apa yang kalian lakukan??” wanita itu memegang wajah nya yang sudah mengeluarkan darah.
“Kalian…. Kalian berani…. Menyakiti kami……
Sekarang suami nya itu terdiam saat melihat sepasang mata Lucifer memberikan kode pada nya untuk diam.
“Ina…. Ini balasan mu pada kami yang sudah…..
BBBRRRUUUGGHHH…… BBBRRRRUUGGHHH…….BBRRRUUUGHGHHHH…
“Berisik sekali, Maurer, cepat usir mereka dari sini! Membuat ku ingin muntah.” Revand memukul paman Ina dengan keras berkali-kali.
Maurer segera menarik dua orang itu dengan kekuatan nya.
“Tunggu dulu!” Lucifer menahan Maurer sebentar.
Mereka melihat dan menunggu apa yang akan di lakukan Lucifer.
Lucifer berjalan mendekati mereka.
“Sekali lagi kau datang ke sini dengan alasan ingin membawa anak ku, percaya lah…. Kalian tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup.
Kalau kalian tidak percaya…. Silahkan datang!” bisik nya di antara mereka berdua.
Mereka tampak ketakutan. Mata nya melihat ke arah Ina, yang masih berdiri melihat mereka.
“Ina, kau anak yang tidak tahu diri!” teriak paman nya dengan modal sedikit keberanian.
“Kami sudah merawat mu dan……
“Uuuuuhhhuuukkkkk…..uuuuhhhuuukkkkk…..” paman nya mendapat tusukan di bahu kanan nya.
__ADS_1
“Suami ku…..” isteri nya berteriak melihat darah yang keluar dari tubuh suami nya.