
Revand melihat arah wanita yang barusan bertabrakan dengan nya. Wanita itu berlari menuju arah seorang pria yang seperti sedang melakukan panggilan telepon.
“Itu Lucifer, aku yakin itu Lucifer. Dan…… itu….adalah….Eva..” gumam nya.
Revand mengikuti dan mengamati pergerakan mereka berdua.
“Kau di sini?” Tanya Eva saat menemukan nya.
Lucifer membalikkan tubuh nya kea rah Eva.
“Kau sudah selesai dari toilet?” Tanya Lucifer langsung mematikan ponsel nya.
“Iya, apa kau menunggu ku terlalu lama? Maaf ya, banyak yang mengantri.” Tanya Eva.
“Tidak, tidak terlalu lama kok. Kau mau kemana?” Tanya Lucifer.
“Enggak tahu, kau pernah ke sini kan? Ajak aku keliling saja.” Pinta nya.
“Baik lah, tempat yang seperti apa yang ingin kau temui sekarang?” Tanya Lucifer.
“Mmmmm…. Makanan.”jawab nya tersenyum.
“Aku sangat lapar.” Ucap nya.
“Aku juga lapar sayang. Ayo, aku bawa kau ke sana.” Lucifer menuntun Eva menuju stand makanan.
Tidak jauh dari mereka, sepasang mata Revand mengamati nya. Beberapa kali mengambil foto mereka berdua.
“Kenapa aku merasa sangat dekat sekali dengan wanita itu?
Rasa nya aku ingin….memeluk nya?” gumam nya.
“Tidak! Aku tidak boleh lengah, target ku adalah menghancurkan kebahagiaan Lucifer. Aku harus membunuh gadis itu, biar dia
merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan.” Gumam nya mengepalkan kedua
tangan nya.
***********************
“Apa kau mau kita makan di sini?” Tanya Lucifer.
Eva berpikir sebentar.
“Iya, kita makan di sini saja. Lagi pula sudah dari tadi kita keliling-keliling mencari tempat yang sesuai. Sangkin banyak nya pilihan
yang bagus, jadi bingung memilih nya.” Ucap Eva.
“Baiklah, ayo kita masuk. Kau tidak boleh sampai terlambat makan. Gak baik buat baby twins kita.” Ajak suami nya.
Eva tersenyum menganggukkan kepala nya.
“welcome to our food stall (selamat datang di warung makan
kami).” Seorang waiters datang membawakan menu makanan Singapura.
Waiters memberikan buku menu makanan yang dia bawa. Lucifer memberikan nya pada Eva, biar dia yang lebih dulu memilih.
Eva sangat bersemangat memilih makanan apa yang dia pilih.
__ADS_1
“Adam, aku mau makan yang ini…yang ini.... dan yang ini, terus minum nya ice jeruk.” Tunjuk nya.
“Kamu pesen apa?” Tanya nya pada Lucifer.
“Di samakan saja.”jawab nya.
“I want to order chicken drumstick set, laksa, sambal sotong set and to drink it ice orange juice.” Ucap Lucifer memesan makanan.
“ okey, please wait.” Waiters sudah mencatat pesanan Lucifer. Dan meninggalkan mereka.
“Sayang, kau dulu pasti pintar ya saat belajar. Bahasa inggris mu kental banget. Aku saja harus mikir dulu untuk ngatur kalimat nya.”
Puji Eva.
“Biasa aja. Aku malah malas belajar waktu itu, tapi selalu mendapat kan nilai yang bagus. Jarang masuk kelas, selalu berkelahi, kena SP,
badung lah pokok nya.” Jawab nya mengusap rambut Eva.
Eva tersenyum.
“Kau kepanasan? Wajah mu berkeringat. Apa kau mau aku bantu mengikat rambut mu?” Tanya Lucifer.
“Boleh.” Jawab nya.
Eva memberikan ikat rambut nya kepada Lucifer. Lucifer langsung mengikat rambut Eva dalam satu ikatan, seperti ekor kuda, sehingga tampak jelas leher jenjang Eva.
“Rasa nya aku ingin mencium leher mu ini.” Ucap nya sambil mengelap keringat Eva.
“Jangan, lagi banyak keringat nya.” Ucap Eva.
“Sekarang, kau harus lebih menjaga kesehatan mu. Apa yang ingin kau makan, makan lah. Jangan di tahan.” Ucap Lucifer mengusap keringat di wajah Eva.
“Nanti aku gemuk. Kalau aku gemuk, apa kau akan mencari wanita untuk menemani mu?” Tanya Eva.
“Iya ya, barisan mantan-mantan mu sangat banyak. Sedangkan aku tidak ada mantan, tidak pernah pacaran sih, hehehhe.” Ucap Eva.
“Seorang pria akan lebih bahagia bila memiliki isteri yang tidak pernah pacaran. Tidak takut kalau CBLK.” Ucap Lucifer.
“CBLK?......CLBK?” Tanya nya.
“Ya…itu maksud ku.” Ucap Lucifer.
“Tanda itu? Apa aku salah lihat?” Tanya Revand melihat tanda biru di belakang leher Eva.
Revand duduk tidak terlalu jauh dari tempat itu.
“Aris dan Hendra kemana?” Tanya Eva.
“Biarkan saja, mereka sudah dewasa, mungkin sedangbermain.” Jawab nya sedikit mengabaikan.
Tidak ada obrolan, Lucifer menggenggam kedua tangan Eva yang berada di atas meja. Saling senyam-senyum.
“Lama sekali pesanan nya datang. Aku akan menemui waiters tadi ya.” Ucap Lucifer berdiri.
“Jangan, tunggu sebentar lagi.” Tahan Eva.
Lucifer tidak jadi pergi.
“Tapi kau pasti sudah sangat lapar. Aku tidak mau membiarkan mu kelaparan.” Ucap Lucifer kesal.
“Aku masih bisa menahan nya kok. Tunggu ya sayang..” bujuk Eva membelai kedua pipi suami nya yang sedikit kesal itu.
__ADS_1
Tidak berapa lama beberapa waiters datang membawa pesanan mereka.
“Tanx for waiting.” Ucap salah satu dari mereka.
“Too long.” Jawab Lucifer sinis.
Waiters itu gugup dan panic. Eva sadar, dan menyenggol pelan pinggang Lucifer yang masih menatap si waiters dengan sinis.
Semua makanan sudah di letakkan di atas meja. Pesanan nya sangat banyak, yang makan hanya berdua. Pengunjung di situ melihat sambil menggelengkan kepala nya.
Eva sangat tergiur dengan pesanan yang datang.
“Makan lah.” Suruh Lucifer.
“Sebelum makan, pimpin doa dulu, seperti biasa.” Suruh Eva.
“Di sini? Tapi banyak orang, kalau di rumah aku tidak masalah.” Ucap Lucifer.
Eva memasang wajah melas nya.
“Baiklah sayang, kita berdoa dulu ya.” Akhir nya Lucifer mengalah.
Saat mereka bedoa, tidak sedikit yang melihat kegiatan mereka. Bahkan Revand pun melihat.
“Bahkan si iblis ini pun bisa berdoa? Memang nya doa nya akan terkabul? Hahahaha……lucu sekali. Kau mau bertobat bagaimana pun, akan tetap menjadi penghuni neraka.” Gumam Revand sinis.
“Aku semakin tidak sabar untuk merebut isteri kesayangan mu itu.” Gumam nya lagi.
***************
Aris dan Hendra berdua saja mengelilingi lokasi yang terkenal itu. Bahkan kompak memakan ice krem rasa cokelat.
“Apa seharus nya kita mencari mereka Ris?” Tanya Hendra menjilat ice krim nya.
“Tidak usah. Biarkan saja mereka. Mungkin tuan Lucifer tidak ingin kita mengganggu mereka.” Jawab Aris.
“Kalau gitu kita cari makan, aku sudah sangat lapar.” Ajak Hendra.
Aris setuju, dan pergi ke stand makanan juga.
“Hey, lihat. Itu kan tuan Lucifer?” tunjuk Hendra.
Aris melihat nya, dan ternyata benar, apa yang di tunjuk Hendra.
“Bukan kita mengganggu mereka, tapi memang kita berjodoh dengan mereka. Ayo…paman Aris.” Ajak Hendra.
“Paman?” Tanya Aris bingung.
“Iya, karena kita sebentar lagi akan menjadi paman.” Ucap Hendra.
“Ck… kalau anak nya tuan Lucifer yang memanggil ku paman, tidak masalah. Tapi kau yang memanggilku seperti itu, aneh dan geli dengar nya.” Ucap Aris.
“Hahahahahaha…..” Hendra hanya tertawa lucu.
Dan mereka berjalan menuju tempat Eva dan Lucifer.
.
.
.
__ADS_1