SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
Episode 284


__ADS_3

Pagi-pagi Stev sudah membuatkan sarapan untuk isteri nya Lisna.


Lisna sudah bangun dari tidur nya. Di lihat tidak ada suami di samping nya.


“Apa dia sudah berangkat kerja? Pagi sekali?” ucap nya menebak.


Tidak berapa lama, Stev datang membawa sarapan.


“Stev, kau masih di sini?” tanya Lisna terkejut.


“Iya, aku sengaja bangun pagi-pagi untuk membuatkan mu sarapan.” Di letakkan di atas meja, dan menghampiri Lisna.


“Apa kau tidak kerumah sakit?” tanya Lisna.


“Aku ada pasien nanti jam 1 siang. Jadi aku masih ada waktu untuk menemani mu. Apa kau mau langsung sarapan atau apa ada yang kau butuhkan lagi?” tanya Stev.


“Aku mau kekamar mandi dulu.” Lisna secara perlahan turun dari ranjang.


“Biar aku bawa kau kekamar mandi ya.” Stev tanpa menunggu jawaban dari Lisna, segera menggendong nya.


*************


Aris dan hendra bersama dengan pasangan mereka sedang berada.di sebuah café. Atas permintaan Citra yang sangat suka dengan kue-kue dan makanan yang manis-manis.


“Aku mau ke toilet dulu ya.” Ijin Aris.


“Tunggu Ris, aku juga mau ikut. Kalian tidak apa-apa kan di sini dulu?” tanya Hendra.


“Iya, gak apa-apa kok. Kalian pergi saja.” Jawab Rihana.


Aris dan Hendra meninggalkan sebentar pasangan nya.


“Rihana, kamu seorang guru ya?” tanya Citra.


“Iya, guru Biologi.” Jawab Rihana meminum minuman nya.


“Apa kegiatan mu biasa nya Cit?” sekarang Rihana yang bertanya balik.


“Aku hanya membantu keluarga ku bertani. Maklum lah anak desa.” Jawab Citra.


Rihana menganggukkan kepala nya.


Beberapa orang datang untuk mencoba menggoda Citra dan Rihana.


“Waawww… ada dua orang wanita di sini. Boleh kah kami duduk di sini menemani kalian?” tanya salah satu dari mereka.


“Tidak boleh.” Jawab ketus Citra.


Jawaban yang di berikan Citra membuat mereka marah.


“Sombong sekali nona manis.” Rekan nya mencubit pipi Citra.


Rihana melepaskan tangan orang itu secara paksa.

__ADS_1


“Hey, apa kalian tidak bisa sopan pada wanita?” tanya Rihana.


“Siapa yang tidak sopan di sini? Kami kan ingin duduk di sini menemani kalian yang kesepian.” Jawab mereka.


“Kami tidak butuh di temani orang-orang mesum.” Ucap Citra.


“Wah…. Kau sangat berani sekali ya.” Rekan nya ingin menyentuh pipi Citra.


Rihana segera mendorong orang tersebut hingga jatuh kelantai.


Jatuh tersungkur mengenai meja pengunjung yang ada di sana.


“Tolong, kalian jangan bikin keributan di sini ya.” Ucap pegawai café.


“Ohhh….kau berani melarang ku, hah..??” sekarang target sasaran mereka adalah si pegawai café yang sudah ketakutan.


Rihana mengambil gelas dan segera memukul kepala orang yang sedang memegang si pegawai café yang bertubuh kurus itu.


Gelas itu pecah di kepala si pengacau, membuat darah keluar dari bagian belakang kepala nya.


Semua pengunjung pun mulai ketakutan dan berusaha untuk segera keluar dari tempat itu. Agar tidak menjadi korban.


“Sialan kau, berani sekali kau memukul ku ya. Apa kau sudah bosan hidup?” orang yang di pukul Rihana memegang kepala nya yang berdarah, dia sangat marah sekali.


Di lepaskan nya pegawai itu dan menarik kerah baju Rihana.


“Lepaskan dia…” Citra berusaha melepaskan Rihana.


Salah satu dari rekan mereka malah menampar Citra.


Citra memegang pipi nya yang mendapat tamparan keras.


Aris dan Hendra melihat pasangan nya sedang di ganggu.


Dengan langkah cepat dia berlari dan segera menyerang 6 orang yang mencari masalah itu.


Perkelahian tidak bisa di elakkan lagi. Tempat itu pun sudah berantakan menjadi tempat medan perkelahian. Di antara 6 orang itu tidak ada yang bisa melukai Aris dan Hendra.


Sedangkan pasangan nya mengambil jarak agar tidak terkena pukulan nyasar.


Mereka melihat betapa hebat nya pasangan nya yang bertarung dengan gagah. Tidak ada rasa takut pada mereka. Ada perasaan bangga bisa menjadi pasangan nya.


Mereka kalah semua, beberapa gigi dan darah sudah keluar dari mulut mereka.


“Rasain….” Caci Citra.


“Ampun pak…ampun.. minta tolong kami pak.” Mereka memohon ampun dengan berlutut dan melipat tangan.


“Berani sekali kau memukul kekasih ku. Giliran mau mati baru minta ampun. Sebelum cari masalah gak mikir resiko nya dulu?” tanya Hendra yang marah.


“Aku hitung sampai 3 tapi masih ada di sini, aku bunuh ya.  Saaattuuu………


Semua nya berlari dalam hitungan pertama. Dengan tubuh mereka yang sudah terluka dan berdarah.

__ADS_1


“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Aris menghampiri kekasih nya yang masih memperhatikan.


“Tidak apa-apa kok.” Jawab Rihana.


“Sayang, kenapa pipi mu? Kok bengkak kayak bakpao? Apa kau menyembunyikan makanan di dalam mulut mu?” ledek Hendra.


“Ini aku di tampar mereka, mana sempat makan bakpao, lagi pula kan tidak ada bakpao di sini.” Jawab Citra kesal.


“Hahaha….maafkan aku. Nanti aku kompres ya, biar kempes.” Hendra mengusap kepala Citra.


Si pegawai café datang menghampiri mereka.


“Tuan dan nona, ini bagaimana café kami ini. Sudah berantakan. Kami bisa di marahi atasan kalau begini.” Ucap nya sedikit takut.


Aris dan Hendra saling melihat.


“Tenang aja pak. Akan di bayar untuk ganti rugi nya.” Ucap Hendra dengan yakin.


Si pegawai merasa lega.


“Memang nya kau punya uang Hend?” tanya Aris.


“Bagaimana kalau pakai uang ku saja. Karena kan ini ulah ku dari awal.” Rihana membuka dompet nya.


“Tidak usah Ri, kami masih punya uang kok. Simpan saja dompet mu itu lagi.” Ucap Aris menahan tangan Rihana.


“Jadi kau mau membayar nya Ris?” tanya Hendra seperti melempar tanggung jawab.


“Enak saja. Bagi dua donk. Kan kau juga ikut memukul mereka.” Ucap Aris.


“Aris, Hendra, tolong, biar kan aku membantu…..


“Ri, dengar kan aku. Kami tidak kekurangan uang, okey…. Aku hanya tidak ingin mengalah gitu saja dengan si kunyuk ini.” Ucap Aris memotong kalimat Rihana.


Hendra terkejut saat di katakan Kunyuk.


“Apa? Mau marah? Cepat keluarkan uang mu. Patungan kita bayar nya.” Ucap Aris.


“Tapi aku tidak punya uang cash. Gimana donk?” tanya Hendra melas.


“Total nya berapa sih pak?” tanya hendra.


Si pegawai melihat dan menebak harga kotor dari kerusakan nya. Beberapa meja yang hancur, etalase dan kursi.


“16 juta tuan.” Jawab nya.


“Waw………


Citra terkejut mendengar harga itu.


“Ris, aku tidak bawa kartu ATM nih. Gimana donk? Pake punya kamu aja dulu. Nanti di rumah aku transfer berapa yang harus aku bayar.” Bujuk Hendra memasang wajah melas nya.


“Tch…. Ubah ekspresi wajah mu itu. menyebalkan.” Aris mengeluarkan dompet dan mengambil salah satu kartu ATM yang di miliki nya.

__ADS_1


Dan segera melakukan pembayaran dengan nominal yang cukup besar. Aris menggandeng tangan Rihana dan pergi meninggalkan Café yang setengah hancur itu.


__ADS_2