
Dokter Steven keluar dari ruangan IGD.....
"Bagaimana keadaan nya Steven? " tanya Lucifer berdiri menghampiri Steven.
Steven tidak langsung menjawab nya, tapi hanya melihat mata Lucifer.
"Aku tidak pernah melihat nya begitu panik seperti ini. " gumam Steven.
"Hhmmm... Pisau nya sudah di keluarkan, dia kehilangan banyak darah. Tubuh nya sangat lemah. Tapi dia sudah melewati masa kritis nya. " ucap Steven.
"Syukurlah. " ucap Lucifer menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Lucifer, bisa kau jelas kan semua nya? Kenapa dia bisa ada dengan mu? " tanya Steven penasaran.
Lucifer membuang nafas nya berat.
Dia menatap wajah sahabat nya.
"Nanti aku jelaskan pada mu, sekarang apa aku bisa melihat keadaan nya? " tanya Lucifer.
"Tidak, pasien masih belum bisa menerima kunjungan, itu akan mengganggu istirahat nya. " ucap Steven.
"Beberapa jam lagi dia mungkin akan sadar. " ucap nya lagi.
Lucifer menganggukkan kepala nya tanda mengerti.
"Ayo aku ajak kau minum kopi, sekalian kau jelaskan kejadian ini. " ajak Steven.
"Baik lah. " ucap Lucifer.
Lucifer menghubungi Aris dan Hendra ke rumah sakit.
"Kalian segera ke rumah sakit, jaga Eva. " suruh Lucifer.
"Baik tuan. " jawab Aris.
Aris memasukkan Hp nya.
"Hendra, ayo kita kembali kerumah sakit. " ajak Aris.
"Kalian jaga ******** ini, jangan sampai kabur. " suruh Hendra.
Aris dan Hendra pergi meninggalkan markas mereka.
"Aneh. " ucap Aris.
"Ada apa? " tanya Hendra.
"Tadi tuan Lucifer menelpon ku, baru kali ini dia menyebutkan nama Eva, bukan gadis bodoh. " ucap Aris.
"Kau salah Ris, sebelum nya waktu di parkiran dia sudah menyebut nama gadis itu. " ucap Hendra.
"Tapi kenapa? " tanya Aris bingung.
"Mungkin tuan Lucifer sudah berubah. " jawab Hendra.
Steven masih menunggu cerita dari Lucifer di depan meja. Sambil melipat tangan nya menunggu. Sementara Lucifer masih bingung untuk memulai pembicaraan.
"Apakah kita akan seperti ini terus sampai lebaran Idul Fitri tahun depan? " tanya Steven.
"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Lucifer.
__ADS_1
"Semua... " jawab Steven.
"Hhmmm..... Sebenar nya aku bertemu lagi dengan gadis itu di club biasa, dia di jual papa angkat nya kepada Darmo, anak buah nya James. " ucap Lucifer.
"Terus? " tanya Steven.
"Ya aku kasihan dengan nya, karena aku lihat dia ketakutan, jadi aku menggantikan uang yang di terima papa angkat nya kepada Darmo. " ucap Lucifer.
"Lalu? " tanya Steven lagi.
Lucifer menyandar kan diri nya di kursi sambil menatap Steven. Steven hanya membalas dengan senyuman meledek.
"Dia bilang, dia mau menggantikan semua hutang-hutang nya, karena dia ngotot, ya aku kasih dia pekerjaan. " ucap Lucifer.
"Hhhmmm.... Aku pikir kau merindukan nya, dan kau menghubungi nya untuk menemani mu, hahahahahaha. " ledek Steven lagi.
"Ternyata tidak sia-sia aku menyimpan kan nomor gadis itu di Hp mu. " jawab Steven meminum kopi nya.
Lucifer mengernyitkan kening nya.
"Apa maksud mu? " tanya Lucifer.
"Aku tidak tahu atau lupa nama gadis itu siapa, jadi aku menyimpan nya dengan nama ' jodoh ku ' ." ucap Steven.
"Apa? Jadi kau yang memasukkan nomor itu? " ucap Lucifer kaget.
"Iya, kau pikir apa alasan ku meminjam Hp mu waktu itu, ternyata berguna juga ya, hahahaha. " tawa Steven.
"Berarti kalian memang berjodoh, padahal aku asal sembarang bikin nama loh, hahahahaha. " tawa Steven lagi.
"Secara tidak langsung aku sudah jadi mak comblang buat kalian, dan aku juga kan yang mempertemukan kalian? Hahahahaha. " tawa Steven.
Lucifer kaget, menatap Steven dengan marah. Tapi Steven tidak takut, malah semakin tertawa.
Lucifer menarik nafas nya lagi.
"Sebenar nya ini semua salah ku Stev, aku sudah membuat nyawanya terancam dua kali. " ucap Lucifer serius.
"Kenapa? " tanya Steven.
"Aku sengaja mempekerjakan nya di perusahaan ku, untuk... Untuk... " Lucifer tidak melanjutkan bicara nya.
"Untuk apa? Ayo lah Lucifer, jangan main tebak kata dengan ku, aku lagi sibuk. " ucap Steven.
"Untuk sebagai ' umpan' ." jawab nya.
"Umpan? " tanya Steven lagi.
"Awal nya kata-kata itu muncul tiba-tiba dari mulut ku. " ucap Lucifer.
"Ada penggelapan dana dalam perusahaan ku, aku menyuruh nya bekerja sebagai asisten ku, supaya tersangka nya muncul dan...dan.. Mengejar nya. " ucap Lucifer.
BBBRAAAKKK....
Steven memukul meja sambil berdiri.
Lucifer kaget, tetap berusaha tenang.
"Kenapa kau begitu kejam? Apa kau tidak menghargai nyawa manusia? Lagi pula kau tidak pernah melibat kan wanita atau anak kecil dalam masalah mu kan? " ucap Steven kesal.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini, dan aku pikir si tersangka nya hanya mengancam saja." ucap Lucifer.
__ADS_1
"Kau bilang sudah dua kali, yang pertama nya bagaimana? " tanya Steven kembali duduk.
"Yang pertama, ternyata gadis itu mengetahui siapa pelaku nya dan merekam video nya, dan dia di culik, hampir di bunuh. " ucap Lucifer.
"Kau tahu siapa yang melakukan nya? " tanya Steven.
"Aku tahu. " jawab nya.
"Dan yang kedua ini? " tanya Steven.
"Seseorang di bayar untuk membunuh ku, tapi gadis itu malah berlari dan menggantikan ku, sehingga dia yang terkena pisau itu." ucap Lucifer
Steven menatap Lucifer.
"Apa menurut mu dua kejadian ini saling terhubung? " tanya Steven.
"Ya, aku yakin itu." jawab Lucifer.
Giliran Steven yang membuang nafas nya berat.
"Kau tidak boleh seperti itu Fer, aku rasa nyawa gadis itu selanjut nya akan terancam bahaya" ucap Steven.
"Aku tahu, dan aku tidak ingin itu terjadi lagi. " ucap Lucifer.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? " tanya Steven.
"Aku akan menjaga nya. " jawab Lucifer.
"Menjaga nya? Seumur hidup ku dan seumur hidup nya, tidak pernah dia menjaga wanita. " gumam Steven.
"Bagaimana? " tanya Steven.
"Hhhmmm.... Aku punya cara ku sendiri Steven, yang jelas aku tidak akan membiarkan nya mengalami hal ini lagi. " jawab Lucifer.
"Baiklah, aku harap kau bisa menjaga nya. " ucap Steven.
"Aku rasa gadis itu gadis yang baik, walaupun sedikit bodoh dan ceroboh. " ucap Steven menganggukkan kepala nya.
"Dia memang bodoh. ...gadis yang bodoh. " ucap Lucifer.
Steven dan Lucifer saling menatap, dan tiba-tiba mereka saling tertawa bersama.
"Bagaimana ini Beny? " ucap Edward.
"Rencana kita gagal lagi" ucap Edward lagi.
"Kurang ajar, gadis itu memang benar-benar mengacaukan segala nya." ucap Beny.
"Lalu bagaimana? " tanya Edward panik.
"Sebaiknya kita kabur saja. " ucap Beny.
"Tapi Si pria bertatto itu sudah di tahan si Lucifer, bagaiamana kalau dia mengakui yang sebenar nya? " tanya Edward.
"Uang kita juga sudah di serahkan pada nya walaupun hanya setengah." ucap Edward lagi.
"Sialan.... " ucap Beny yang juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan pikirkan orang tidak becus itu, sebaiknya kita pergi menjauh dulu. " ucap Beny.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? " tanya Edward.
__ADS_1
"Aku dengar dia di rumah sakit, apa tidak kita habisi saja dia di sana? aku takut polisi akan mempertanyakan kasus ini pada nya. " ucap Edward.
Beny masih bingung.......