
“William, Novelina dan Lisna segera ke ruangan tuan Lucifer sekarang.” Aris menyampaikan pesan langsung.
“Okey.” Lisna menjawab di susul William.
“Aku akan keluar beli makanan, tuan Lucifer menyuruh ku. Apa kalian ada yang mau di pesan?” Aris menawarkan.
“Aku mau Ris. Nitip kebab dan lemon tea.” Lisna memesan pada Aris.
“Aku brownies sama kopi latte. Kamu apa sayang?” William memesan juga.
“Sayang?” gumam Aris.
William bertanya hal yang sama juga untuk Novelina yang ada di samping nya.
“Aku lemon tea dan kebab juga. Sama seperti pesanan Lisna.” Novel menjawab pertanyaan William.
Aris masih ingin bertanya tentang hubungan William dan Novel, tapi dia tidak ingin Lucifer menunggu pesanan nya lama.
“Baik lah aku akan membeli nya. Sekarang kalian bisa langsung kedalam.” Suruh Aris.
“Aris, apa kamu bisa membawa nya? Mau aku bantu?” Novel menawarkan bantuan.
“Tidak usah. Aku akan bersama dengan Hendra. Dia sudah menunggu di bawah.” Setelah menjawab pertanyaan rekan nya, Aris pun pergi meninggalkan mereka.
Di dalam ruangan Lucifer sangat serius bekerja. Terlihat sangat letih, lelah dan sibuk.
Pintu yang sudah beberapa kali di ketuk tidak ada jawaban dari Lucifer. Hingga akhir nya mereka berinisiatif untuk membuka sendiri.
“Tuan Lucifer.” William menyapa atasan nya.
Lucifer melihat asal suara.
“Masuk dan duduk lah.” Dia menyuruh karyawan nya untuk duduk di tempat yang sudah di tunjuk.
Pria itu tidak langsung berdiri atau berbicara lagi. Masih fokus pada laporan yang ada di tangan nya. William dan lain nya duduk di sofa dan menunggu arahan dari bos nya.
Mereka tidak ingin mengganggu atau bertanya, hanya diam dan menunggu saja. Karena mereka takut itu akan membuat Lucifer kesal dan marah.
30 menit kemudian, Lucifer menutup laporan dan memindahkan di sisi kanan nya yang ternyata sudah ada beberapa laporan di situ. Dan di sisi kiri nya adalah laporan yang belum di periksa.
Dia berdiri, pakaian yang lusuh, dasi yang sudah longgar kemeja yang sudah setengah keluar dari celana nya. Sangat bekerja keras.
Berjalan menghampiri dan ingin duduk bersama dengan karyawan yang sudah menunggu nya.
****************
Aris bersama Hendra sedang mengantri pesanan teman-teman nya. Hendra hanya menunggu di dalam mobil sambil bermain dengan ponsel nya.
Berada dalam antrian untuk membeli kopi Latte, lemon tea dan jeruk dingin. Hari itu pengunjung banyak, membuat antrian menjadi panjang. Aris paling tidak suka menunggu.
Di depan nya seorang gadis sedang sibuk dengan ponsel dan tentu juga ikut mengantri. Hanya Aris yang berdiri diam tanpa melakukan apapun.
Merasa seperti ada yang dekat dengan nya, gadis itu menoleh kebelakang, yang ternyata membuat Aris spontan melihat nya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum ramah. Aris diam hanya mengabaikan. Dia lebih fokus melihat menu yang ada di layar atas kasir.
Karena merasa di abaikan, wanita itu memutar tubuh menjadi membelakangi Aris. Terasa sedikit malu karena di cuekin.
Beberapa detik kemudian, dia memutar tubuh nya lagi dan melihat Aris dengan tatapan dan tersenyum kembali.
Sekali lagi Aris diam dan masih mengabaikan. Karena pria itu tidak mengerti maksud dari wanita cantik itu.
“hai, apa kabar?” Tanya wanita itu ramah membuka obrolan.
Aris mengernyitkan dahi nya.
“Dengan siapa dia berbicara?” Tanya Aris di dalam hati.
Aris melihat belakang nya.
“Aku berbicara dengan mu. Kenapa kau malah melihat ke belakang?” Tanya wanita itu masih mencoba tersenyum lagi.
“Dengan ku?” Aris bertanya dengan jari telunjuk menunjuk diri nya sendiri.
“Iya.” Wanita itu menganggukkan kepala.
“Oh.” Aris hanya menjawab singkat.
“Eh..?” wanita itu heran dengan jawaban pria cuek itu.
“Kau Aris kan?” Tanya nya mencoba mengajak ngobrol.
Aris mengernyitkan lagi dahi nya.
“Waktu itu kita satu pesawat dari Singapur. Dan aku tahu nama mu dari Hendra, teman mu.” Jawab nya.
Aris hanya merespon dengan anggukkan yang pelan.
Antrian mulai berjalan satu persatu, hampir mendekati mereka.
“Aku Rihana.” Wanita itu mengulurkan tangan agar dapat bersalaman dengan Aris.
“Aku Aris.” Jawab nya tanpa menerima uluran tangan dari Rihana yang masih di ulurkan.
“Ehheemm…” Rihana menarik kembali tangan nya karena merasa di abaikan lagi.
Rihana kembali melihat arah kasir, membelakangi Aris. Saat itu Aris ternyata melihat puncak kepala wanita itu.
“Apa yang kau pesan?” Tanya Aris dan Rihana secara bersamaan.
Rihana tersenyum kecil.
“Kenapa bisa barengan sih.” Gumam nya sambil tersenyum kecil.
“Aku sedang memesan lemon tea dan kopi latte. Kau? Pesan apa?” Tanya Aris.
“Aku lemon tea.” Rihana menjawab dengan sedikit gugup.
__ADS_1
Aris tidak berbicara lagi. Kembali diam. Namun menganggukkan kepala nya.
“Apa kau bekerja di sekitar sini?” Tanya Aris dan Rihana bersamaan lagi.
Mereka tertawa kecil bersama. Aris menggarukkan kepala nya yang tidak gatal.
“Iya, aku mengajar di salah satu sekolah.” Jawab Rihana.
“Mengajar? Apa kau seorang guru?” Tanya Aris.
Rihana menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Aku guru Biologi.” Jawab Rihana.
Sekali lagi Aris menganggukan kepala.
“Dan ini sudah pulang mengajar?” Tanya Aris lagi.
“Iya, aku haus dan mampir ke sini.” Jawab nya.
“Aku rasa kau harus maju ke depan.” Suruh Aris.
“Maksud nya?” Rihana bingung dengan kalimat Aris.
“Antrian nya sudah giliran mu.” Ucap Aris.
“Ohh….maaf.” Rihana segera maju kedepan dan segera memesan.
Aris tersenyum kecil saat wanita itu membelakangi nya. Hanya beberapa menit, pesanan Rihana sudah selesai dan melakukan pembayaran. Dan di lanjutkan giliran Aris.
Rihana sengaja berjalan dengan pelan. Pura-pura duduk dan bermain ponsel. Sementara Aris sibuk dan menunggu pesanan nya datang.
Aris melihat kebelakang, seperti ada yang sedang memperhatikan nya. Dan ternyata benar, arah mata nya langsung tertuju pada mata Rihana yang juga sedang menatap nya. Membuat mereka menjadi salah tingkah.
“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku masih di sini?” gumam Rihana merasa canggung.
“Ternyata dia masih di sini. Sedang apa? Menunggu seseorang kah?” gumam Aris.
Pesanan Aris pun sudah selesai di buat. Kedua tangan Aris penuh dengan pesanan teman nya.
“Sini biar aku bantu.” Rihana reflex berdiri dan menawarkan bantuan nya.
Aris belum memberikan jawaban namun Rihana sudah mengambil dari tangan nya. Mau tidak mau dia mengalah.
“Terimakasih.” Ucap Aris.
Rihana hanya tersenyum. Dan mereka berjalan bersama hingga keluar dan sudah ada Hendra yang menunggu.
Hendra melihat Aris yang sudah datang, dia turun dan membantu membuka pintu.
“Hai… kau Rihana kan?” Tanya Hendra ingat.
“Iya, apa kabar Hendra.” jawab Rihana mengulurkan tangan agar bisa berjabatan.
__ADS_1
“Baik. Aku senang bisa bertemu kembali dengan mu.” Ucap Hendra menerima uluran tangan Rihana dan melirik Aris yang masih berdiri di samping nya.