
Aris mengantarkan Lucifer sendiri ke bandara.
“Tuan, apa Eva tahu kalau anda akan ke Singapura?” Tanya Aris yang mengemudi.
“Tidak. Aku sengaja. Tapi kalian tidak ada yang memberitahukan nya kan?” Tanya Lucifer.
“Tidak tuan.” Aris menjawab dengan fokus di jalan raya.
“Nanti kau bantu urus perusahaan. Aku harap tidak ada masalah lagi yang mengharuskan ku kembali ke Indonesia sebelum waktu nya.”
Suruh Lucifer.
“Berarti anda akan kembali ke Indonesia tuan?” Tanya Lucifer.
“Iya tentu saja. Setelah Eva melahirkan kami akan kembali.” Jawab nya santai.
Aris mengganggukkan kepala, tidak ada lagi yang ingin di tanyakan.
Beberapa jam di dalam perjalanan yang tidak terlalu macet itu, akhir nya Aris tiba di tujuan mengantar Lucifer. Masih memiliki waktu
untuk sedikit bersantai.
“Baiklah, aku akan melanjutkan lagi perjalanan ku. Kau dan yang lain nya hati-hati.” Pesan Lucifer.
“Tuan, apa nanti aku dan Hendra bisa menemui anda kalau kami rindu?” Tanya Aris.
“Apa???” Lucifer terkejut dengan pertanyaan asisten nya itu.
Lucifer menghela nafas, memegang kedua bahu Aris yang masih menunggu jawaban.
“Aku harap kau dan Hendra segera mendapatkan pasangan. Karena jujur saja, kalau kau nanti sudah menikah, mungkin kau tidak ingin berpisah dengan isteri mu dan sudah mulai tidak ada waktu lagi bersama
ku.”Lucifer memberi nasihat.
Aris hanya diam mendengar perkataan tuan nya. Mereka tidak pernah berpisah dalam waktu yang lama. Paling hanya beberapa jam dan masih berada dalam satu negara.
“Kau mengerti kan Aris?” Tanya Lucifer.
“Ya tuan, saya mengerti.” Aris menjawab dengan menundukkan wajah nya.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Kalau aku tidak ada, kalian jangan bertengkar, okey?” Lucifer tersenyum memberi nasehat lagi.
Aris membalas dengan tersenyum juga.
Lucifer tanpa berat hati segera melangkah untuk mengikuti prosedur berikut nya sebelum masuk ke pesawat.
Aris masih berdiri, melihat bos yang akan pergi.
“Jika aku nanti sudah menikah, rasa pengabdian ku pada mu tidak akan hilang tuan Lucifer. Aku akan tetap berbakti mengikuti dan melindungi anda dan keluarga anda.” Gumam Aris dengan mata berkaca.
***********
__ADS_1
Eva sibuk dengan ponsel nya, ingin berbicara dengan suami nya tapi nomor yang dituju tidak aktif.
“Kenapa nomor nya gak aktif ya? ” tanya nya khawatir.
Sedangkan Aris dan yang lain nya tidak mengangkat panggilan dari Eva. Mereka sengaja karena mereka tahu kalau Eva akan menanyakan Lucifer.
Lucifer sendiri sudah berada di pesawat. Penerbangan yang memakan waktu sekitar 1 jam an.
Sebelum nya dia sudah meminta Caons untuk menjemput nya di bandara dan langsung mengantar kan ke alamat Revand.
Dan saat ini mereka sudah menunggu kedatangan pesawat yang membawa Lucifer untuk mendarat.
“Tuan, itu tuan Lucifer sudah tiba.” Tunjuk anak buah Caons pada sosok Lucifer.
Caons melihat nya dan merasa senang sudah menemukan nya.
Lucifer berjalan kearah Caons.
“Selamat siang tuan Lucifer.” Pria itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Siang. Langsung antar kan aku ke sana Caons.” Suruh Lucifer yang sudah tidak sabar lagi.
“Mari tuan.” Pria itu mengajak Lucifer menuju mobil yang sudah di parkirkan.
“Seperti nya anda sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nyonya Eva.” Ucap Caons.
“Tentu saja. Karena itu aku segera datang kesini.” Jawab nya dengan tersenyum.
Caons melihat dari kaca kalau Lucifer tersenyum sendiri, dan melihat layar ponsel nya.
Eva merasa jengah di dalam kamar. Dia pergi ke ruang tamu untuk duduk santai seorang diri. Dia mengelus-ngelus perut nya yang sudah semakin membesar.
“Eva, apa yang kau lakukan dengan ponsel ku sebelum nya?” Tanya Revand yang muncul dari dapur.
“Ehhh….. Kak Revand, aku pikir kau lagi di luar.” Eva merasa gugup.
“Jawab. Apa kau yang kirim pesan dengan dokter Isabell?” Tanya Revand mengambil posisi duduk di samping Eva.
“Mmmm…. Iya.” Jawab Eva tersenyum kecil.
“Kenapa?” Tanya Revand.
“Ya gak kenapa-napa. Biar akrab aja gitu. Ngobrol.” Jawab Eva.
“Tapi jangan bawa nama ku donk Va. Aku nya gak enak sama dia.” Ucap Revand.
“Santai aja kali kak. Toh dia nya juga gak marah. Terus apa kalian melanjutkan obrolan lagi?” Tanya Eva mengalihkan topik.
Revand melihat adik nya yang sangat penasaran.
“Enggak.” Jawab Revand santai.
__ADS_1
“Kenapa gak di lanjutkan? Aku kan sudah membuka jalan, harus nya di manfaatin donk.” Oceh Eva.
“Biar apa sih?"Tanya Revand.
“Ya biar apa ya…. Siapa tahu kan kalian tuh berjodoh. Jangan kaku donk. Payah nih ah…..” gerutu Eva.
“Apa kakak gak capek ‘main’ di luar dengan cewek yang gak jelas? Apa gak mau gitu punya anak yang cantik-cantik atau yang ganteng gitu?” ledek Eva.
“Enggak. Kan udah ada anak kamu, dua lagi.” Jawab Revand santai.
“Ih gimana sih? Ya mana bisa kali. Ini anak aku dan Adam. Udah pas dia 1 aku 1.” Balas Eva.
“Ya kalian kan bisa bikin lagi.” Revand membalas dengan singkat.
Eva menghela nafas merasa kesal dengan jawaban kakak nya yang cuek dan ketus.
“Pokok nya terus lanjutkan komunikasi kalian. Jangan di kasih kendor.” Suruh Eva semangat.
“Enggak mau. Kalau kau mau kau saja yang mengobrol dengan nya.” Balas Revand cuek.
Eva mulai kesal.
“Oh…. Gitu ya. Okey…..” gumam Eva.
Tanpa sepengetahuan Revand, Eva mengirim pesan pada Isabella.
“Hallo dokter Isabella, ini aku Eva, adik nya Revand. Dok, kak Revand kata nya sangat rindu dengan kakak. Kata nya ingin mengobrol tapi gak berani, takut mengganggu kesibukan dokter. Sekarang kak Revand nya bingung, harus ngobrol dari mana.” Pesan WA Eva untuk dokter Isabella.
Pesan itu sudah terkirim. Eva tersenyum sudah melakukan aksi nya.
“Kenapa kau tersenyum?” Tanya Revand.
Eva melihat kakak nya.
“Aku sudah kirim pesan WA untuk dokter Isabell.” Jawab Eva.
Revand mengernyitkan dahi nya. Lalu mengabaikan.
“Kau tidak penasaran kak pesan seperti apa yang aku kirim kan pada dokter Isabella?” Eva menaikkan salah satu alis mata nya.
Revand seperti tahu maksud dari pertanyaan Eva.
“Jangan mulai deh Va.” Ucap Revand.
“Tapi emang udah mulai kak.” Ledek Eva.
“Apa yang kau tulis Va?” Tanya Revand merasa khawatir.
Revand segera mengambil ponsel Eva, dan membaca pesan WA yang terkirim ke nomor Isabella.
“Hallo dokter Isabella, ini aku Eva, adik nya Revand. Dok, kak Revand kata nya sangat rindu dengan kakak. Kata nya ingin mengobrol tapi gak berani, takut mengganggu kesibukan dokter. Sekarang kak Revand nya bingung, harus ngobrol dari mana.” Pesan WA Eva untuk dokter Isabella.
__ADS_1
“EEVVAAA…..” Revand kesal, ingin mencubit pipi Eva.
“Apa yang kau lakukan Revand?” Tanya seorang pria.