
“Kalau Ina tidak mau dan tidak menyukai mereka, aku akan tetap membawa Ina. Tapi kalau mereka tetap memaksa, ya mau bagaimana lagi……” ucapan nya yang mengantung membuat Ina penasaran.
Ina merasa takut, kalau dia tidak akan lepas dari tante nya. Karena yang ada dalam pikiran gadis kecil itu adalah betapa jahat dan kejam nya tante nya itu.
“Ina, kamu mau kembali lagi ke tante kamu?” tanya Eva.
“Tidak ma, Ina tidak mau kembali pada mereka. Tapi mereka sangat jahat. Ina takut kalau mereka akan datang dan marah-marah pada mama dan papa.” Ucap Ina melihat Lucifer dan Eva dengan tatapan berharap.
“Lebih jahatan mana dengan paman… eh maksud ku papa Adam?” tanya Revand.
Eva dan Lucifer melirik Revand dengan tatapan tidak suka.
“Kalau kamu tidak mau, kamu gak usah takut dan khawatir lagi. Sekarang kamu adalah tanggung jawab kami. Lakukan apa yang kamu suka dan kamu pilih. Mengerti kan?” ucap Lucifer berbicara serius pada anak yang baru di angkat.
“Untuk menjadi anak-anak ku tidak boleh cengeng dan penakut. Harus berani, kalau selama benar. Kalau ada yang menyakiti mu, kau katakan saja pada ku, apa yang harus aku lakukan pada mereka. Tinggal pilih…….. kau mau mata, lidah, atau…..
“Adam, Lucifer….” Ucap Eva dan yang lain nya secara bersamaan.
Mereka memberikan kode agar Lucifer tidak berbicara sembarangan yang membuat Ina merasa ketakutan.
“Hahahahahha…. Iya papa. Ina tidak akan takut pada apapun karena Ina punya papa yang hebat dan kuat.” Ucap Ina dengan yakin dan sambil tertawa.
Tawa dan wajah Ina sekarang sudah tenang. Tidak ada kekhawatiran dan takut lagi. Sebenar nya yang paling dia takuti adalah Lucifer, tapi ternyata Ina tahu kalau pria dewasa itu hanya wajah nya yang seram.
Sebelum Ina dan anak-anak lain nya di bebaskan, Ina sempat melihat Lucifer yang menebas tangan dari salah satu si penjahat itu. Maka nya Ina jadi takut pada Lucifer.
*******
Sekarang sudah waktu nya mereka beristirahat tidur setelah makan malam. Shinta meminta tidur bersama Ina. Tidak ada yang keberatan dan Ina juga suka.
Sekarang Ina sudah bahagia. Mereka tidur dengan memeluk boneka kelinci berwarna pink yang di berikan Lucifer. Sebenar nya ingin membeli 3 boneka kelinci dengan warna yang sama, tapi Abraham menolak keras.
Abraham lebih suka dengan gadget, laptop dan alat-alat canggih lain nya.
********
__ADS_1
“Papa, untuk data diri Ina nanti bagaimana?” tanya Eva yang berdua di dalam kamar bersama Lucifer.
“Bisa di urus kok ma, nanti di Jakarta saja kita mengurus nya.” Jawab Lucifer yang sudah berada di atas tempat tidur.
“Terima kasih ya sayang, sudah mengijinkan Ina bergabung bersama keluarga kita. Aku sangat menyukai nya.” Eva naik ke atas tempat tidur, masuk ke dalam selimut tapi masih duduk di samping Lucifer yang senang membaca buku.
“Aku juga menyukai anak kecil itu. Tatapan mata nya seperti Aris waktu kecil, tapi kalau dia berbicara seperti Hendra, dan dia juga gampang nangis walaupun tidak bersuara.” Ucap Lucifer.
“Hahahaha…. Itu karena dia takut pada mu pa. tapi sekarang dia sudah tidak takut lagi. Tapi kenapa dia lebih memilih papa dari pada Kak
Revand?” Eva berpikir sempat kalau Ina akan memilih kakak nya.
“Entah lah. Sudah lah, kita harus tidur. Papa sudah sangat lelah..” Lucifer menutup buku nya dan masuk kedalam selimut.
Eva pun ikut masuk kedalam selimut juga.
“Sini masuk kedalam pelukan papa…. Biar mama tidak kedinginan.” Secara perlahan Lucifer menarik tangan Eva untuk berada di pelukan nya.
“Alesan, mama kan tidak kedinginan kok. Bilang aja pengen meluk.” Ledek Eva yang dengan senang hati berada di pelukan Lucifer.
3 hari sebelum keberangkatan Lucifer dan keluarga nya kembali ke Jakarta, sepasang suami isteri sedang berdiri di depan gerbang besar yang juga memiliki pos sekurity.
“Pa, menurut kabar, kalau Ina ada di rumah ini.” Ucap isteri nya sambil celingak-celinguk melihat mengintip di dalam.
“Enak sekali dia ya, bisa tinggal di rumah sebesar dan semewah ini. Kita harus mengambil bagian kita juga ma. Kita adalah satu-satu nya keluarga kandung yang di miliki Ina.” Ucap suami nya yang berusaha paksa
untuk masuk.
Sepasang suami isteri yang mata duitan dan sudah menjual Ina pada kelompok anak buah Shadow.
“Tolong buka gerbang nya, tolong kembalikan keponakan kami.” Teriak mereka berdua di depan gerbang.
Mereka sengaja membuat keributan agar bisa mengancam si pemilik rumah.
Seorang sekurity keluar dari dalam, menghampiri mereka yang hanya menggunakan motor.
__ADS_1
“Ada apa kalian datang ke sini?” tanya sekurity dengan seragam lengkap.
“Kami mau bawa pulang keponakan kami. Kalian pasti menculik nya kan? Kami dengar sedang ada penculikkan dan penjualanan anak-anak. Cepat kembalikan!” teriak suami nya berlagak perduli.
Kawasan perumahan orang-orang kaya di sana tidak terlalu perduli dengan urusan tetangga nya. Walaupun mereka melihat ada keributan, tapi tidak mau ikut campur, mereka hanya melewati begitu saja.
“Aduh…. Tolong jangan bikin keributan di sini. Pulang lah.” Suruh security yang tidak ingin ada keributan di rumah majikan nya.
“Kami tidak mau. Cepat panggilkan si pemilik rumah, kami mau bertemu dan membawa keponakan kami pulang.” Teriak isteri nya dengan yakin.
Security itu hanya menghela nafas, ingin sekali langsung melempar nya keluar. Tapi dia harus tanyakan dulu pada bos nya.
Dia kembali ke pos nya, membiarkan sepasang suami isteri itu menunggu di depan gerbang yang sengaja di tutup agar mereka tidak masuk.
Security itu menghubungi Maurer dalam telepon khusus pekerja.
“Ada apa?” tanya Maurier.
“Tuan Maurer, ada sepasang suami isteri yang sedang berteriak di depan gerbang, mereka bilang ingin membawa pulang keponakan mereka. Anak gadis yang masih kecil.” Security itu memberitahukan pada Maurer.
“Mereka bersikeras ingin masuk, kalau tidak mereka akan tetap di sini dan berteriak terus.” Ucap nya lagi.
“Sebentar.” Maurer meletakkan telepon dan menghampiri Lucifer yang duduk santai.
“Permisi tuan Lucifer. Di luar ada sepasang suami isteri yang ingin membawa nona Ina, kata nya Ina adalah keponakan nya.” Ucap Maurer dengan sopan.
“Apa? Tahu dari mana si mata duitan itu Ina ada di sini?” Revand merasa geram.
Ina merasa takut.
“Apa kau takut Ina?” tanya Lucifer pada Ina.
“Ti…. Tidak… pa.” jawab nya gugup.
“Sudah papa bilang, anak-anak papa tidak boleh takut dan pengecut, harus berani. Kamu mau bertemu dengan mereka? Kalau mau, papa akan menemani mu.” Tanya Lucifer.
__ADS_1
Ina melihat Lucifer yang sangat serius melihat nya. Sebenar nya dia takut dan tidak mau bertemu dengan mereka.