
Saat tiba di cafe tempat mereka biasa makan siang.
"Kamu mau makan apa Va?" Tanya William.
Eva tidak menjawab, dia masih terdiam.
"Va, halloww " Ucap William sambil melambaikan tangan nya di hadapan Eva.
"Eh.. Ada apa? " Tanya Eva sadar.
"Kamu mau makan apa? " Tanya nya ulang.
"Seperti biasa nya aja deh" Jawab nya.
"Ok. Ini pesanan kami" Ucap William pada pelayan cafe.
"Kamu kenapa, kok bengong mulu, kamu kena marah sama tuan lagi? " Tanya William yang heran melihat Eva bengong.
"Mm... Iya, aku cuma heran aja, kok ada gitu ya, laki-laki suka bentak-bentak orang, apalagi cewek loh" Ucap Eva.
"Emang nya dia ngomong apa sama kamu? " Tanya William lagi.
"Aku gak tahu awal nya bagaimana, tapi dia marah-marah karena tangan aku yang kena air panas. Terus dia bilang aku mau bikin malu perusahaan nya, padahal kan aku gak ada niat begitu" Curhat Eva.
"Kamu sabar aja, bos kita emang begitu, tapi asli nya baik kok." Bela William.
"Mmmm... Baik dari mana nya" Ucap Eva.
Sejenak Eva teringat ketika beberapa kejadian yang memang Lucifer muncul untuk menolong nya. Setiap dalam keadaan bahaya.
"Iya sih, dia memang baik." Ucap nya pelan.
"apa? " Tanya William.
"Mmm... Gak apa-apa, hehehehe." Jawab Eva.
"Tuan Lucifer, saya rasa ada yang aneh dengan nona Eva ketika bertemu dengan Beny." Ucap Aris.
"Terus? " Tanya Lucifer.
"Nona Eva seperti takut dengan Beny, apakah dia tahu kalau..."
"Biar kan saja Aris, kan aku sudah bilang dari awal, aku suruh si bodoh itu bekerja di sini hanya sebagai 'umpan' saja". Jawab nya.
"Umpan? " Ucap Aris.
"Bukan kah itu bahaya tuan? " Ucap Aris khawatir.
"Bahaya atau tidak itu resiko nya" Jawab nya santai.
"Aku tidak mengerti maksud pikiran tuan ku ini, tapi yang aku yakin, kalau dia tidak akan membiarkan nona Eva dalam bahaya" Gumam Aris.
*******************************
__ADS_1
Tttuuuttt.... Tttuuuttt....
"Hallo Al" Jawab Eva.
"Hallo kak Va, kakak ada di mana sekarang? " Tanya Aldo.
"Oh.. Kakak lagi bekerja, ada apa? " Ucap Eva.
"Kata ayah, kakak lagi sakit dan masuk rumah sakit, dan gak bisa bayar biaya rumah sakit." Ucap Aldo.
"mmm... Sebenar nya.. Ahhh... Kakak berbohong" Ucap Eva melas.
"Hhaaa... Maksud nya, kakak gak sakit? Gak masuk rumah sakit? " Tanya Aldo.
"Iya Al, maafin kakak ya, waktu itu entah kenapa kakak gak enak perasaan ketika papa menelpon kakak." Jawab Eva memberi alasan.
"Ooohh... Al tahu kak, ya udah kalau begitu, syukurlah kalau kakak sehat sehat aja, Aldo sangat khawatir" Ucap Aldo.
"Kamu tenang aja, gak usah takut, Al, kakak tutup dulu ya telepon nya, kakak lagi mau makan siang ini" Ucap Eva.
"Iya kak, hati-hati ya kak" Ucap Aldo.
Kedua nya pun menutup telepon nya.
"Adik mu ya Va?" Tanya William.
"Iya, hehehehe" Jawab Eva.
"Seperti nya adik mu sangat sayang padamu" Ucap William.
"Maksud nya? " Tanya William.
"Mmmm..... Sebenar nya waktu aku masih kecil, aku di adopsi orang tua nya dari panti asuhan, gitu." Jawab Eva.
"Jadi kamu...."
"Iya, aku anak yatim piatu Willi" Ucap Eva sedih.
"Udah.. Udah.. Gak usah di pikirin, sekarang kita makan aja dulu" Ucap William. William sengaja mengalihkan topik pembicaraan, dia tidak mau Eva merasa sedih lagi.
Tak lama pelayan pun datang membawa pesanan mereka.
"Jadi kakak sudah bekerja, bagus lah, sebaik nya aku gak usah kasih tahu papa dan mama. Kalau bisa Mereka jangan sampai tahu, kalau mereka tahu, pasti kakak akan di mintai uang terus" Gumam Aldo.
"Kakak udah sangat baik, aku harus menjauh kan papa dan mama dari kak Eva" Gumam Aldo lagi.
Jam istirahat makan siang pun sudah berlalu. Mereka kembali melakukan aktifitas kerja nya.
Eva menuju ruangan nya, tidak berapa lama kemudian Aris dan Lucifer juga muncul.
"Selamat siang tuan" Ucap Eva sambil sedikit membungkukkan badan nya.
Terlihat dari wajah dan tatapan mata Eva masih tersimpan rasa sakit hati dan kesedihan. Lucifer mengabaikan, hanya Aris yang membalas dengan senyuman.
__ADS_1
"Hanya Aris yang merespon, hhhmmm... Aris memang tidak lebih tampan dari tuan Lucifer, tapi aku yakin semua wanita lebih suka dengan laki-laki yang ramah " Gumam Eva.
"Menurut ku, tuan Beny dan teman nya ini ada hubungan nya dengan korupsi deh" Gumam Eva.
Eva mencatat dan menghitung nominal yang selisih itu, di setiap laporan yang di berikan, masih terdapat juga selisih angka nya. Beberapa kali Eva geleng kepala.
"Jahat banget sih ini yang melakukan korupsi, emang nya gaji nya gak cukup apa? " Ucap Eva.
"Ehem... Ehem.. " William muncul dari belakang.
"Eh.. Willi, ada apa? " Tanya Eva.
"Siapa yang korupsi? " Tanya William.
"Aku sih belum yakin banget, tapi aku curiga sama mereka" Ucap Eva.
"Curiga sama siapa? " Tanya William penasaran.
"Apa aku kasih tahu sama William saja, tapi, apakah dia termasuk dalam kerja sama si Beny gak ya? " Gumam Eva sambil melihat William dengan tatapan curiga.
"Kau percaya lah pada ku, aku bukan salah satu dari mereka kok" Ucap William yang tahu maksud dari tatapan mata rekan nya itu.
"Hehehe, kau tahu rupa nya pikiran ku" Ucap Eva.
"Tentu saja, ngomong-ngomong kau curiga pada siapa? " Tanya William lagi.
"Aku.....Aku curiga sama Beny dan teman nya itu loh, aku gak tahu nama teman nya" Ucap Eva.
"Beny? " Ucap William.
"Aku juga curiga pada mereka, tapi aku gak ada bukti buat di tunjukkan sama tuan Lucifer" Ucap William.
"Aku udah dua kali denger kalau mereka ini bicara tentang keuangan perusahaan." Ucap Eva lagi.
"Aku mengerti, tapi sebaik nya kau hati-hati, kau tahu kan resiko bekerja di perusahaan itu bagaimana " Ucap William mengingat kan.
"Iya aku tahu, tapi aku akan merasa bersalah kalau aku diam saja, akan aku cari bukti untuk tuan Lucifer." Ucap Eva.
"Aku akan bantu kamu." Ucap William.
"Terimakasih." Ucap Eva sambil tersenyum.
"Berarti benar dugaan ku, Eva sudah curiga pada mereka" Gumam William.
"Apa nanti kau mau pulang bareng dengan ku? " Tanya William.
"Tidak usah, aku bawa motor kok." Jawab William.
"Apa kau tidak kepanasan? " Tanya William.
"Tidak, lagi pula sudah terbiasa kok, hehehehe" Jawab Eva.
"Ya udah kalau begitu, aku kembali ke ruangan ku" Ucap William.
__ADS_1
"Mmmmm " Ucap Eva menganggukkan kepala nya.