SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
EPISODE 187


__ADS_3

Hendra membawa Novel ke tempat yang di arahkan Aris, ruangan rahasia yang berada di perusahaan Lucifer.


"Hhaadduuhhh....." Hendra meletakkan Novel yang masih pingsan di atas sofa.


"Di lihat aja kurus, ternyata berat juga." ucap Hendra mengatur pernafasan.


"Ke mana tuan Lucifer?" tanya Hendra melihat sekeliling nya.


"Sudah pulang." jawab Aris yang masih mengamati Novel.


"Kenapa dia pingsan? kau apakan dia?" tanya Aris.


"Aku hanya bercanda, tapi dia nya malah anggap serius." jawab Hendra santai.


"Bercanda?" tanya Aris yang juga penasaran.


"Iya, aku bilang mau kosongin perut nya, jual organ dalam nya juga. Terus pingsan deh..." jawab nya.


PPPLLLEETTAAAKKKKK.......


Aris menjitak kepala Hendra.


"Aakkkhhh....sakit tahu...." komplein Hendra memegang kepala nya.


"Sekarang mau kita apakan dia?" tanya Hendra.


"Apa si Heri sudah di tahan?" tanya Aris.


"Sudah, yang lain yang membawa nya ke markas." ucap Hendra.


Hendra meminum air mineral yang ada di ruangan itu. Sesekali melihat ke arah Aris yang memperhatikan gadis yang di gendong nya tadi.


"Biasa aja ngeliat nya. Jangan sampai biji mata keluar tuh." ledek Hendra.


"Memang biasa aja kok. Aku hanya sedikit kasihan dengan nya. Wajah nya babak belur di tampar." ucap Aris duduk di samping Hendra.


"Terus ini mau sampai kapan kita di sini? aku lapar mau makan." ucap Hendra.


"Kata tuan Lucifer, kita bawa dia ke rumah sakit tempat Steven." ucap Aris.


"Ooouuhh....ya udah, kau yang gendong ya. Aku tunggu di luar. Gantian." Hendra berdiri dan meninggalkan mereka.


Tanpa menunggu jawaban dari Aris, Hendra langsung keluar.


Aris mendekati Novel yang masih belum sadar.


"Kasihan banget sih kamu." gumam nya.


Aris menggendong Novel, sementara Hendra sudah menunggu nya di mobil.


Novel di letakan di kursi belakang, sementara Aris duduk di samping Hendra.


"Ayo jalan. Cengengesan mulu." ledek Aris.


"Cie elah yang jomblo. Jiwa mu meronta-ronta ya?" ledek Hendra yang sedari tadi bermain di Hp nya.


Aris melempar tatapan sinis pada sahabat nya.


"Kok kau duduk di sini? di belakang donk. Kalau nanti tuh cewek ngegelinding jatuh ke bawah gimana? tambah memar aja entar wajah nya." ucap Hendra agar Aris duduk di belakang.


"Ck..." Aris turun dari mobil pindah ke belakang. Tidak mau lama berdebat dengan Hendra.


Hendra tersenyum bercanda.

__ADS_1


"Pegang baik-baik Ris, tapi tangan nya di kondisi kan." ledek Hendra dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


*******************


"Jadi ada beberapa orang yang menyamar sebagai pelamar kerja di tempat Lucifer?" tanya Steven.


"Iya, kira-kira ada sebelasan gitu." jawab Lisna.


"Tapi kamu juga harus hati-hati sayang. Jangan terlalu ikut campur." nasehat Steven.


"Aku gak mau kamu nanti terancam bahaya." ucap nya lagi.


"Gak kok. Tuan Lucifer juga bilang begitu. Mereka gak tahu kalau kami sudah curiga dengan mereka." jawab Lisna meminum minuman nya.


Steven mengajak Lisna makan di salah satu restaurant seafod.


"Musuh nya Lucifer itu banyak. Kebanyakan yang 'tidak terlihat'. Orang-orang di sekitar nya. Dan mereka sangat sadis." ucap Steven.


"Aku tahu. Karena aku pernah langsung melihat bagaimana perbuatan si Richard pada kami. Dan melihat bagaimana pembalasan Lucifer pada mereka." Lisna mengingat ingatan yang mengerikan itu.


"Tapi aku heran, kenapa dia mau aja di hajar si Richard? kan dia bisa langsung membunuh mereka?" tanya Lisna.


"Itu karena ada orang yang dia cintai. Kalau Eva tidak ada di sana, kemungkinan dia tidak akan perduli dengan hidup mu." ucap Stev.


"Ih...kok ngomong nya begitu. Sahabat sendiri loh." ucap Lisna sedikit tidak senang.


"Sayang, ini fakta. Seorang mafia apalagi bos, tidak menganggap nyawa orang lain itu berharga. Bahkan orang tua pun bisa di korbankan." ucap Steven.


"Berarti, dia sangat mencintai Eva ya." tebak Lisna.


Steven menganggukkan kepala.


********************


Heriawan dalam kondisi terikat, terbangun.


"Di mana aku? kenapa aku terikat seperti ini?" gumam Heri memperhatikan sekitar nya.


"Tempat apa ini? dan siapa mereka?" gumam nya lagi.


*****************


Novelina segera di rawat seorang suster.


"Di mana dokter Steven, sus?" tanya Aris.


"Sebentar lagi akan datang pak." jawab nya.


Suster membawa Novel ke ruangan pasien. Aris dan Hendra menunggu di depan pintu.


"Udah, tenang aja, dia gak bakal mati kok. Cuma pingsan aja." Hendra masih meledek Aris.


Aris cuma membalas dengan tatapan sinis.


DDDRRRTTTDDD.....DDDRRRTTTDDD....


Hp milik Heriawan yang berada di dalam saku Hendra berbunyi.


"Ris, panggilan dari Marvel......?" Hendra kaget dengan nama yang tertera di layar Hp.


Mereka saling melihat. Merasa terkejut dan tidak percaya.


"Angkat Hen." suruh Aris.

__ADS_1


"Bagaimana? apa semua sudah beres?" tanya Marvel.


"Sudah tuan." jawab Hendra menyamarkan suara nya.


"Bagus, aku akan mengirimkan bonus untuk mu." ucap Marvel tanpa curiga.


Marvel mengakhiri panggilan nya.


"Apa kau berpikir sama seperti yang aku pikirkan Ris?" tanya Hendra.


"Apa menurut mu...Marvel Lee?" tanya balik Aris.


"Sebaik nya kita kembali ke markas." ucap Aris.


"Kita beritahu tuan Lucifer?" tanya Hendra.


Aris sempat ragu untuk memberitahu nya.


"Kita kasih tahu saat di jalan saja." Aris langsung mengajak Hendra untuk ke markas.


Sementara Steven baru tiba di rumah sakit karena panggilan dari Aris.


"Loh, kemana mereka? kata nya ada di sini?" tanya Steven.


"Tolong jaga wanita yang bernama Novelina, kami akan ke markas dulu." isi pesan WA Aris untuk Steven.


***************


"Hallo Ris, ada apa?" Lucifer menjawab panggilan dari anak buah nya.


"Tuan, orang yang berada di atas Heriawan adalah Marvel." ucap Aris.


"Tapi, kami tidak yakin apakah Marvel Lee atau bukan." tambah nya lagi.


"Kalian di mana sekarang?" tanya Lucifer.


"Menuju ke markas dengan Hendra tuan." jawab Aris.


"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Lucifer.


"Sudah di rumah sakit tuan. Steven akan memeriksa nya." jawab Aris.


"Bagus, aku akan segera ke sana." Ucap Lucifer mengakhiri panggilan.


Eva yang melihat ekspresi wajah Lucifer menjadi penasaran.


"Adam, ada apa? apa ada masalah?" tanya Eva.


"Tidak ada apa-apa kok sayang." Lucifer memberikan senyum manis dan mengusap kepala Eva.


"Apa kamu sedang ada urusan? tidak apa-apa, kamu pergi saja." ucap Eva.


Lucifer menatap isteri nya. Dia berjanji sebelum nya tidak akan menyimpan rahasia apapun dari Eva.


"Sayang, aku ingin membawa mu ke markas. Apa kamu mau?" tanya Lucifer.


"Kalau dia mau, aku akan membawa nya, kalau tidak, aku akan mengantar nya pulang lebih dulu." gumam Lucifer.


"Ke markas? bukan kah sudah ambruk ya?" tanya Eva.


"Sudah pindah tempat." jawab Lucifer santai.


"Okey...aku mau ikut." ucap Eva dengan sangat senang.

__ADS_1


Sementara Lucifer heran, mengernyitkan dahi nya.


__ADS_2