
"Tuan, ini adalah nomor telepon gadis itu. " ucap Jefry memberikan secarik kertas pada Richard.
"Hmmm.... dari mana kau mendapatkan nya? " tanya Richard.
"Dari papa angkat nya melalui Darmo. " jawab Jefry.
"Bagus. " jawab Richard.
"Apa yang selanjut nya akan anda lakukan tuan? " tanya Jefry.
"Hehehehehe..... kau lihat saja nanti. " ucap Richard sambil tertawa sinis.
******************************
"Iya sebentar. " ucap Lisna setelah mendengar bel rumah berbunyi.
"Anda sudah datang tuan? " ucap Lisna setelah melihat Lucifer dan dua anak buah nya di depan pintu.
Eva melihat ke arah pintu, Lucifer langsung melihat Eva. Eva memberikan senyuman nya. Lucifer mengabaikan.
Mereka bertiga masuk, Lisna menutup kembali pintu nya.
Lucifer duduk di sofa yang berada di hadapan Eva.
"Ah tuan... apa saya boleh menginap di sini tuan? " tanya Lisna.
Aris dan Hendra kaget dan saling menatap. Sementara Eva menunggu jawaban dari Lucifer.
Lucifer masih diam.
"Hhhmmmm.... kalau kau tidak keberatan, silahkan. " ucap Lucifer.
Eva lega dan tersenyum. Lucifer melihat nya.
"Terimkasih tuan, saya akan tidur di sofa saja, hehehehe. " ucap Lisna.
"Tidak, kau tidur dengan Eva di kamar. " ucap Lucifer.
Sekali lagi Eva lega dan tersenyum.
"Tapi tuan, apa anda.... " Lisna.
"Jangan membantah. " ucap Lucifer memotong kalimat Lisna.
"Hehehehehe" tawa Eva pelan.
"Baru kau tahu kan rasa nya berdebat dengan nya, hahahahaha. " gumam Eva untuk Lisna.
"Baik lah tuan.. " jawab Lisna.
"Kalau begitu, apa kita makan malam dulu atau membeli pakaian dulu? " tanya Lisna.
"Ah... tuan... sebaik nya, Lisna pulang saja, karena jarak dari sini ke rumah nya dan kost an saya tidak terlalu jauh. " ucap Eva.
Lucifer kembali berpikir lagi.
"Baik lah, kalian segera pergi, dan cepat lah kembali. " ucap Lucifer.
"Oke, kalian bisa makan duluan kok." ucap Lisna.
"Tidak, kami akan menunggu kalian. " jawab Eva.
"Ya udah, kami pergi dulu, oh ya... apa daleman mu juga perlu aku bawakan? " tanya Lisna.
Seketika wajah Eva memerah karena malu.
Aris dan Hendra menutup mulut menahan tawa.
Lucifer hanya diam.
__ADS_1
"Kenapa kau masih bertanya? " ucap Eva menekankan sedikit suara nya.
"Hahahahaha...... aku kan bertanya. " ucap Lisna.
Eva menggelengkan kepala nya.
"Sini, mana kunci kost mu. " pinta Lisna.
"Ambil di tas ku " jawab Eva.
Lisna segera mencari kunci dan menemukan nya.
"Ayo.. kita pergi... oh ya... daleman nya mau di bawa warna apa? hehehehehe" ucap Lisna sambil tertawa.
"Aaakkhhh..... Llliissnnnaa.... " teriak Eva melemparkan bantal sofa pada Lisna.
Eva sangat kesal dengan tingkah teman nya itu.
Lisna menangkis bantal itu sehingga mengenai wajah Lucifer.
"Ppuuuffttttthhh" tawa Aris dan Hendra.
Lucifer berusaha menahan emosi, masih diam.
"Aahhh.... sebaik nya kami pergi ya... bye... " ucap Lisna melaju cepat di susul Aris dan Hendra.
Tinggal lah Eva dan Lucifer. Suasana sangat sepi.
Lucifer memang hanya diam, tapi tatapan mata nya tidak lepas dari Eva. Sementara Eva merasa tidak nyaman di tatap seperti itu.
"Aaa... ada apa tuan, menatap saya seperti itu? " tanya Eva canggung.
Lucifer mengabaikan, hanya menatap saja.
"Aduh... kenapa dia diam dan terus menatap ku ya. " gumam Eva risih.
"Tuan... apa anda sudah lapar? " tanya nya lagi.
"Akhir nya dia bicara juga, huh... " gumam Eva.
"Belum kok tuan, hehehehehe. " ucap nya.
"Apa masih sakit? " tanya Lucifer.
"Tidak." jawab nya.
"Bagus lah. " ucap Lucifer.
Kemudian mereka kembali diam lagi.
"Tuan... "
"Apa? " ucap Lucifer.
"Kenapa anda mau menikahi saya?" tanya Eva.
Lucifer tidak menjawab.
"Apa anda melakukan nya karena saya menolong anda? dan anda hanya ingin.... " ucapan Eva berhenti setelah Lucifer berbicara.
"Tidak, bukan karena itu. " jawab nya cepat.
"Lalu?" tanya Eva.
"Apa itu penting? " tanya Lucifer.
"Tentu saja sangat penting sekali tuan. " jawab Eva tegas.
"Kenapa anda menikahi saya? " tanya nya lagi.
__ADS_1
"Karena.... karena... kau...unik... dan... dan... bodoh. " ucap Lucifer gugup.
"Hah? unik dan bodoh? jawaban macam apa itu? " gumam Eva.
"Hhhmmmm" Eva membuang nafas berat.
"Kau unik karena kau tidak takut nyawa mu dalam bahaya, dan kau bodoh karena tidak perduli dengan nyawa mu. " jawab Lucifer lagi.
"Kenapa kau melakukan itu? " tanya Lucifer.
"Saya juga tidak tahu tuan, pada saat itu, yang ada dalam pikiran saya adalah segera menyelamat kan anda. " jawab Eva serius.
"Apa kau tidak merasa sakit, saat pisau itu menusuk diri mu? " tanya Lucifer lagi.
"Hhhmmm.... tidak, untuk beberapa detik tidak sakit, tapi.. beberapa menit kemudian baru terasa sakit, hahaahahahaha. " ucap Eva tertawa kecil.
"Tuan, kata Hendra anda menangisi saya, sampai....sampai... hihihihi" Eva berusaha menahan tawa nya.
Lucifer mengernyit kan dahi nya.
"Apa? " tanya Lucifer.
Eva masih belum melanjutkan perkataan nya. Masih mencoba menghentikan tawa nya.
"Aakkhhh... aduh... " Eva menyentuh perut nya yang masih luka.
"Ada apa? sakit nya bertambah? " ucap Lucifer berpindah posisi duduk di samping Eva.
Lucifer melihat luka Eva. Dia mencoba mengangkat baju Eva bagian bawah untuk mengecek perban luka nya.
"Tuan, saya tidak apa-apa kok. " ucap Eva yang malu baju nya di naikkin sedikit.
"Diam lah." ucap Lucifer.
Dia masih tetap melanjutkan nya, dengan sedikit membungkuk dan melihat ada darah di perban nya.
" Hhmmm...... Seperti ini kau bilang tidak apa-apa? " ucap Lucifer kesal.
Luka tusuk yang dialami Eva berada di perut sebelah kiri nya.
"Apa yang kau lakukan sampai seperti ini? apa kau berlari-lari dan melompat-lompat sampai mengeluarkan darah? " tanya Lucifer.
"Ppuufffttthh" Eva menahan tawa nya.
"Kenapa kau tertawa" ucap Lucifer.
"Tuan, buat apa saya berlari-lari dan melompat-lompat, bodoh sekali saya melakukan itu, hahahahaha, aakkkhhhh. " ucap Eva menahan sakit.
"Kau kan memang bodoh. " ucap Lucifer.
Eva langsung diam, wajah nya berubah eksperesi. Dia tidak suka di bilang bodoh.
Lucifer melihat wajah Eva yang sedih itu. Melihat wajah nya seperti itu, tanpa di sadari dia tersenyum kecil.
"Ehh... anda tersenyum? anda bisa tersenyum juga? hehehehehe. " ucap Eva.
Jarak mereka sangat dekat. Lucifer masih belum melepas pandangan nya.
"Tadi kau mau bicara apa? " tanya Lucifer.
"Yang mana tuan? saya lupa" ucap Eva.
"Apa yang di katakan Hendra? " ucap Lucifer.
"Oohhhh.... yang itu, hehehehe" ucap Eva yang ingat.
"Kata nya, anda menangisi saya sampai air hidung anda keluar, hahahaha, apa benar itu tuan? " tawa Eva.
"Anda menggendong saya, sambil menangis dan bikin keributan di rumah sakit. " ucap Eva.
__ADS_1
Lucifer masih diam, melihat senyum tawa Eva. Dia masih membiarkan Eva berbicara dengan semangat.
LIKE..... VOTE.... LIKE..... VOTE.....