
Di kediaman Mahesha. Eva dan Isabell sedang mengurus anak-anak nya. Isabell yang tidak ada jadwal atau pasien, bisa santai di rumah dengan anak nya Rafhael. Sementara untuk para suami bekerja di luar.
Mahesha yang masih kuat, membiarkan Arshinta duduk di pangkuan nya sambil memakan cokelat.
Abraham berada di taman seorang diri.
“Ma, Vano di mana?” tanya Arshinta.
“Panggil kakak donk nak.” Suruh Eva dengan sangat pelan.
“Iya, kak Vano kemana?” tanya Arshinta sambil memonyongkan bibir nya.
“Lagi ada di taman. Mau nangkap kupu-kupu kata nya.” Jawab Eva sambil mengusap pipi Rafhael yang sangat menggemaskan.
“Kalau begitu, Shinta mau nyusul kak Vano dulu.” Arshinta turun dari pangkuan kakek nya.
Berlari kearah taman.
“Sayang kamu jangan lari, nanti jatuh. Pelan-pelan saja jalan nya.” Teriak Eva.
Arshinta yang sudah tidak bisa mendengar suara mama nya lagi karena jarak yang sedikit jauh.
Taman yang luas, banyak bunga dan ayunan anak-anak. Batu-batu kecil tertata rapi untuk jadi pijakan. Selain itu juga ada dua perosotan berwarna kuning dan merah, tentu saja sangat aman di gunakan karena di titik akhir ada bantalan untuk menghindari rasa sakit di kaki dan pan**t.
Di ujung taman ada pagar kecil yang bisa di buka dan di tutup. Tidak jauh dari pagar, ada pos satpam untuk berjaga-jaga.
Abraham, yang suka meneliti dan memperhatikan beberapa objek, seperti tanaman, cacing, bahkan batu pun di teliti. Layak nya seperti professor atau detektif.
Lucifer selalu memberikan apa yang di inginkan putera dan putri nya itu, termasuk kelengkapan observasi seperti kaca pembesar.
“Kakak, apa yang kamu lakukan? Apa lagi yang sedang kamu teliti?” tanya Arshinta yang muncul di belakang Abraham.
“Sssstt… diam lah. Nanti cacing nya tahu dan kabuy…” bisik Abraham.
“Mana? Shinta tidak lihat ada cacing?” tanya Arshinta yang berjongkok sama seperti Evano.
“Itu, lihat tidak? Di dalam tanah.” Tunjuk Abraham pada bagian ujung cacing.
“Ih.. gak lihat. Itu cuma tanah saja kok. Mana ada.” Ucap Arshinta yang memang tidak melihat apa-apa.
“Ck…. Ish…. Jangan beyisik, nanti cacing nya kabuy.” Abraham menunjukkan jari telunjuk di bibir nya.
Arshinta sudah capek dan lelah mencari sosok cacing yang di bilang kakak nya. Hingga dia pun bermain sendiri.
Gadis kecil itu mengumpulkan bunga-bunga seorang diri.
Di pos satpam…..
“Aduh… aku mau kekamar mandi dulu ya. Kau jaga di sini dulu.” Ucap salah satu satpam.
Di pos satpam sekarang hanya ada satu satpam yang berjaga.
Arshinta sedang asik mengumpulkan bunga hingga mendekati gerbang berwarna hitam itu.
__ADS_1
“Ini nanti bunga nya mau aku beyikan untuk papa dan mama. Bunga nya sangat cantik sekali. Pasti meyeka sangat senang.” Ucap Arshinta sendiri.
“Ssssssttt… gadis kecil.” Panggil seorang pria pada Arshinta.
Arshinta melihat asal suara itu.
“Aku punya bunga yang sangat indah sekali. Kamu mau?” pria itu menunjukkan bunga anggrek dan mawar di tangan nya.
“Kamu siapa?” tanya Arshinta.
“Aku pedagang bunga. Aku juga sangagt suka sekali dengan bunga. Lihat lah, ini bunga nya sangat indah kan?” tunjuk nya pada Arshinta.
“Apa kamu mau dengan bunga ini? Ambillah.” Pria itu memanggil Arshinta agar mendekati nya.
Gadis kecil itu diam sejenak. Tapi karena suka nya pada bunga membuat nya berjalan mendekati pria itu.
“Cepat kemari lah. Maka aku akan menjadi kaya raya.” Gumam pria itu dengan tatapan jahat.
Perlahan Arshinta berjalan dengan kaki kecil nya.
“Shinta, kamu mau kemana?” teriak Abraham yang melihat adik nya berjalan hampir keluar pagar.
“Cepat kemayi…. Mama bilang jangan main jauh-jauh.” Ucap Abraham khawatir.
Arshinta segera kembali mundur dari pria itu. Dia ingin menghampiri kakak nya.
“Cepat layi…. Sini…” teriak Abraham karena melihat pria itu berjalan ingin menangkap Arshinta.
Abraham pun berlari ingin menyelamatkan adik nya sambil berteriak memanggil mama nya.
Pria itu sudah menangkap Arshinta dengan cepat.
Abraham mengambil batu dan melempar satu pria berbadan besar yang membawa Arshinta.
“Shinta……mama…. Ada yang bawa Shinta….” Teriak Abraham sambil melemparkan batu pada pria itu.
Arshinta yang sudah tidak sadarkan diri itu sekarang berada dalam gendongan pria yang ingin pergi meninggalkan lokasi.
Abraham masih berteriak. Bunga yang ada dalam genggaman tangan Arshinta terjatuh semua.
“Sayang, kamu kenapa? Mana Shinta?” tanya Eva yang berlari ke taman.
Satpam yang bertugas pun segera menghampiri Abraham yang sudah menangis.
“Mama…. Ada yang bawa Shinta ma…. Shinta di bawa orang ma.” Ucap Abraham sambil menangis kencang.
“Apa?” Eva terkejut.
Isabell sambil menemui Eva, sedangkan Rafhael berada dalam pelukan Mahesha.
“Ada apa Va?” tanya Isabell.
“Isabell, Shinta di culik. Aku harus menghubungi Adam.” Ucap Eva yang panik.
__ADS_1
“Evan, ayo kita masuk dulu ya.” Ajak Isabell.
“Gak mau, Shinta di bawa peygi…. Mama…… oyang itu bawa Shinta…” Abraham meraung-raung, menangis dan berteriak.
**********
“Apa? Shinta di culik?” teriak Lucifer.
“Tunggu sebentar ma, papa akan pulang sekarang. Kalian tenang ya.” Lucifer segera pulang dengan panik.
“Pantas saja perasaan ku tidak enak. Ternyata ini arti nya.” Gumam Lucifer.
Lucifer segera mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangan nya.
“Kau mau kemana Lucifer?” tanya Revand.
“Revand, Arshinta di culik. Aku harus pulang dulu.” Ucap Lucifer yang sangat panik.
“Apa? Tunggu, aku ikut dengan mu.”Revand yang terkejut dan khawatir pun segera mengikuti Lucifer.
***********
Sekarang di dalam kediaman Mahesha sudah ada beberapa polisi. Seluruh satpam pun sudah di kumpulkan. Eva yang tidak bisa menghentikan ketakutan dan kekhawatiran nya pun tidak bisa tenang.
Evano yang menangis di peluk erat Eva.
“Sayang..” Lucifer yang sudah tiba dirumah segera menghampiri Eva.
“Papa… Shinta di culik ama oyang jahat pa..” teriak Evano berlari kearah papa nya.
Lucifer memeluk putera nya.
“Sayang, kamu tenang dulu ya.” Lucifer mengusap air mata anak nya.
“Kenapa bisa terjadi seperti ini?” tanya Revand.
Evano menceritakan kejadian yang dia tahu dan ingat.
“Kemana satpam yang bertugas di pos dekat gerbang?” tanya Lucifer emosi.
Dua orang satpam maju kedepan menghampiri Lucifer.
“Hhhmm…. Kemana kalian saat kejadian?” tanya nya dengan sinis.
“Sa…. Saya sedang kekamar mandi tuan. Dan dia yang menjaga sendiri.” Ucap si satpam.
“Lalu kau tidak bisa melihat dan menjaga nya? Apa yang kau lakukan?” tanya Lucifer yang sudah emosi.
Kedua satpam itu menjadi target pukulan dari Lucifer.
“Menjaga anak kecil saja kalian tidak becus!!!!!!” teriak Lucifer memegang kepala nya.
Evano dan Rafhael yang melihat emosi Lucifer menjadi takut.
__ADS_1
Dan mereka pun menangis bersama.