
"Tuan, ada apa, apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap Eva menghampiri Lucifer dan ibu-ibu itu.
"Nona, apa kau kenal dengan laki-laki tampan ini?"Tanya ibu pengunjung.
Eva hanya menganggukkan kepala nya.
"Seperti nya tuan ini kesulitan memilih pembalut untuk pasangan nya." Ucap Rekan nya.
"Pembalut? " Ucap Lucifer.
Dia pun melihat dia berdiri di mana.
"Oh my god." Gumam Lucifer setelah sadar dia ada di mana. Dia memegang kening nya.
"Apa jangan jangan laki-laki ini suami anda ya, terus dia mau membeli pembalut buat anda? Apa kalian sedang bertengkar? Nona, jangan bersikap seperti itu pada suami nya." Tanya ibu itu.
"Hhhaaaa.... Apa?" Jawab Eva kaget.
Wajah nya pun ikut memerah.
"Ti.. Ti.. Tidak.. Tidak bu, saya bukan isteri nya." Ucap Eva gugup.
Dia melihat ke arah tuan nya, Lucifer pun sudah memerah wajah nya.
Karena Lucifer sudah sangat malu, apalagi keberadaan nya sudah di ketahui, dia pun berinisiatif untuk meninggalkan Eva dan ibu ibu itu.
"Tuan.. Tuan mau kemana? " Tanya Eva.
Lucifer mengabaikan nya. Dia terus berjalan keluar. Sampai dia naik mobil nya.
Sementara Eva bingung dengan bos nya itu.
"Sialan... Apa yang aku lakukan tadi??? " Ucap Lucifer di dalam mobil.
"Apa yang sekarang ada di dalam pikiran si bodoh itu." Ucap nya lagi.
"Ada apa dengan diri ku, ngapain aku ada di situ.. .. Aaaakkkhhh.... Bodoh.. Bodoh.. Bodoh.. ." Ucap Lucifer memukul kemudi mobil nya.
Lucifer pulang kembali ke apartemen nya. Yang seharus nya dia mau pergi ke club, tapi karena kejadian yang memalukan itu, dia pulang ke apartemen nya.
Dia duduk di sofa kesayangan nya, di temani dengan minuman dan rokok favorite nya.
Lama dia terdiam, sesekali dia memegang kening nya.
Eva sudah selesai berbelanja dia pun melanjutkan perjalanan nya pulang ke kost an nya.
"Aneh, apa yang di lakukan tuan Lucifer di situ, dan sejak kapan? Apa benar kata ibu ibu itu kalau tuan Lucifer sedang mencari pembalut untuk pacar nya? Atau isteri nya, apakah tuan Lucifer sudah menikah? " Tanya Eva penuh dengan banyak pertanyaan.
"Aku tidak terlalu banyak mengetahui tentang tuan Lucifer." Ucap nya lagi.
"Kalau tuan Lucifer sudah menikah atau memiliki kekasih, lalu kenapa dia beberapa kali bertemu, selalu berganti wanita?, atau dia seorang playboy? " Ucap nya lagi.
"aaakkhhh... Sudah lah, bukan urusan ku, aku hanya lah karyawan nya." Ucap nya lagi.
Eva kembali sibuk dengan merapikan barang belanjaan yang dia beli dari minimarket itu.
*********************************
Ke esokkan pagi hari nya.....
"Aaakkkhhhh... Kembali beraktifitas lagi, hari ini bekerja, besok weekend." Ucap Eva.
__ADS_1
Eva berangkat dengan memakai celana panjang dan sendal jepit. Agar tidak kesulitan membawa motor nya.
Eva berangkat dengan sedikit lebih cepat dari waktu sebelum nya, karena dia harus menggantikan celana nya menjadi pakaian kantor.
"Mudah mudahan tidak ada masalah di kantor, tiap hari aku selalu deg deg an kalau bekerja, takut kalau aku melakukan kesalahan." Gumam nya.
Akhir nya Eva sudah sampai di parkiran motor. Dia memarkirkan motor nya, mengganti sendal jepit nya, dia tidak lanjut langsung ke ruangan nya, dia pergi ke toilet yang ada di parkiran. Toilet itu berada di sebelah parkiran motor nya, yaitu parkiran khusus mobil.
"Permisi pak, numpang ke toilet ya." Ucap Eva pada petugas parkir di situ.
"Iya mba." Jawab petugas parkir itu.
Eva segera menggantikan pakaian nya.
"Ahhh... Selesai... Hhmmm.. Jadi feminim nih, hehehehe, cuss lah." Ucap nya.
"Wah mba, jadi cantik banget." Goda petugas parkir itu.
"Ah.. Si bapak bisa aja, emang sebelum nya gak cantik? " Tanya Eva.
"Cantik sih mba, hehehehe." Ucap Petugas itu.
"Kalau begitu permisi dulu ya pak, biar gak telat." Ucap Eva.
"Iya mba, hati-hati." Ucap Petugas itu.
Eva berjalan perlahan melewati area parkiran mobil.
Kebetulan Edward dan Beny baru memarkirkan mobil nya.
"Beny, apa menurut mu, Eva sudah curiga pada kita? " Tanya Edward pada Beny.
"Apa kau ingat waktu tangan nya memerah seperti kena air panas? " ucap Edward.
"Aku rasa itu dia mendengar obrolan kita." Ucap Edward lagi.
"Eh... Seperti suara nya si Beny dan temen nya." Gumam Eva.
Eva perlahan mengintip dan mencoba mendengar obrolan mereka.
"Iya benar, apa yang sedang mereka omongin, seperti menyebut nama ku."Gumam nya.
"Lebih baik aku rekam, biar aku bisa tunjukkan pada tuan." Gumam nya lagi.
Eva mengeluar kan hp nya, masuk ke bagian rekam video. Eva merekam Edward dan Beny, memperbesar gambar mereka.
"Kau yang bodoh sekali, sudah aku bilang jangan melakukan hal hal yang mencurigakan." Ucap Beny.
"Ruangan kita sangat dekat dengan pantry. Dan asisten baru itu paling sering ke pantry untuk bikin kopi, dan tangan nya kena air panas, mungkin itu karena dia tahu obrolan kita, lalu terburu buru pergi?" Ucap Edward.
"Apa menurut mu dia tahu kalau kita lah yang sudah menggelapkan dana perusahaan?" Tanya Edward.
"Jaga mulut mu Edward, pelankan suara mu." Ucap Beny.
"Apa? jadi mereka yang mencuri uang perusahaan? " Gumam Eva.
"Hahahaha.... Dia tidak memiliki bukti-bukti terhadap kita." Ucap Beny.
"Kau tahu kan, kalau si Eva itu bodoh." Ucap Beny.
__ADS_1
"Tapi kita harus tetap hati-hati Ben, apa kau ingat kemarin dia gugup ketika bertemu dengan kita?" Ucap Edward.
"Apa kita harus lenyapkan si asisten itu? " Ucap Edward.
"Apa... Dia.. Maksud nya... ?" Gumam Eva.
"Jangan gegabah, kita lihat saja dulu apa yang akan di lakukan asisten baru itu, tidak mungkin tuan Adam langsung percaya dengan nya, sedangkan William saja tidak bisa bertindak, apa lagi dia yang masih baru." Ucap Beny santai.
"Ini saja sudah bisa menjadi bukti buat mengadukan kalian." Gumam Eva.
Eva selesai merekam mereka, dia membuka sepatu nya, merangkak berjalan pelan keruangan nya.
Dia segera berlari lari setelah memasuki area kantor.
"Tunggu... Tunggu... Tunggu.. Lift nya jangan di tutup dulu ! " Ucap Eva sambil berlari membawa sepatu nya yang masih di tangan nya, dia berlari dengan telanjang kaki.
Dia berhasil masuk dengan nafas terengah engah.
"Hhhhuuufffttt... Hhhhaaa... Tadi itu sangat... Sangat... Sangat menakutkan... Hhhuuufftt... Oh jantung kesayangan ku berdetak lah dengan normal, kalau tidak aku bisa mati muda." Ucap Eva sambil mengelus dada nya.
Eva pikir kalau di dalam lift itu hanya ada diri nya seorang.
"takut..takut... . Aku sangat takut sekali, kalau mereka tahu aku mengintip mereka, habis lah aku.. Hhohoohh." Ucap Eva lagi.
"Apa yang kau takut kan Va? " Ucap seseorang yang berada di belakang nya.
"Aku takut....... " Ucap Eva sambil melihat kebelakang nya.
"Aaakkhhh... A.. A.. Ada.. Tuan Lucifer, Willi, Aris? Hehehehe... Kenapa kebetulan sekali seperti ini." Ucap Eva merasa salah tingkah.
Mereka melihat ke arah Eva. Aris tersenyum sambil menutup mulut nya. Lucifer merasa canggung karena teringat kejadian malam itu.
"Ada apa dengan mu, pakaikan dulu sepatu mu itu, apa kaki mu tidak sakit? " Ucap William.
"Oh iya.. Aku.. Aku lupa.. ." Ucap Eva.
Dia meletakkan sepatu nya dan memakai nya. Tidak di sadari bahwa dia memegang lengan Lucifer lagi sebagai pegangan dia saat memakai sepatu agar tidak jatuh. Kebiasaan Eva yang terjadi secara berulang ulang.
"Seperti nya kau sangat kelelahan, ada apa? " Tanya William.
Eva melepaskan pegangan nya. .
.
.
.
.
.
.
HAHAHAHA.... EVA BODOH ATAU CEROBOH YA... MASA GAK SADAR SIAPA YANG DIA SENTUH SIAPA... TAPI.. SEBENAR NYA AUTHOR JUGA DEG DEG AN INI MENULIS NYA.
.
.
.
__ADS_1
.
LIKE, VOTE, COMENT....GRACIAS...